Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Penjagaan


__ADS_3

Ken terkejut saat melihat Don masuk ke dalam kamarnya beserta seorang bodyguard yang membawakan sebuah tas kain. Bodyguard itu meletakkan tas yang berisi pakaian Ken itu di lantai.


Pria Jepang itu segera berdiri menyambut Don yang datang tertatih-tatih dengan tongkat satu di ketiaknya.


"Jadi bagaimana? Aku sudah menyelesaikan urusanmu dengan mereka dan mereka sudah melepasmu."


Pria Jepang itu terlihat kaget.


"Aku juga telah membayar dendamu, jadi mereka tidak akan mengganggumu lagi."


"Tapi, kalau mereka menipu ...." Ken menghentikan ucapannya karena kalau tidak membayar, apa Lucille akan melepaskannya?


"Kau akan bekerja jadi bodyguard anakku mulai hari ini." Pria itu memberi perintah.


"Baik, Pak," ucap Ken sedikit menunduk dan itu membuat Don lega.


"Oya, anakku sekolah dari Senin hingga Jum'at jam 7 pagi. Pastikan kau mengikutinya di sekolah juga."


"Eh, baik, Pak." Ken masih menunduk hingga pria itu keluar dari kamarnya.


------------+++------------


Ken mendatangi dapur yang luas itu di mana banyak sekali pegawai wanita yang bekerja di situ, baik yang muda maupun yang tua. "Eh, maaf nona-nona, apa boleh aku mengambil satu roti ini?" Di hadapannya ada sekeranjang roti yang di taruh begitu saja di atas meja.


Para wanita itu menoleh ke arah pria Jepang itu dan kemudian menoleh lagi ke arah seorang wanita paruh baya. Sepertinya wanita itu yang memimpin seluruh pegawai wanita di sana. "Mmh, kau pasti bodyguard Nona Freya ya?"


"Oh, namanya Freya? Aku tidak tahu."


"Mmh, kalau bodyguard sebenarnya mejanya di sana." Wanita itu memberi tahu sebuah ruangan lain dari tempat itu.


"Oh, jadi aku tidak boleh datang ke dapur ya? Maaf." Ken hendak bergerak ke ruangan itu tapi kemudian wanita itu memanggilnya.


"Tunggu, siapa namamu?"


"Ken, Bibi."


"Kau mau makan apa?"


"Apa saja, Bibi, tidak masalah."


"Oh, ya sudah." Namun untuk kedua kalinya, wanita itu menghentikannya. "Tunggu, Ken!"

__ADS_1


"Ya?" Langkah pria itu terhenti.


"Kamu terlihat sopan. Kamu boleh makan di meja kecil itu kalau kamu mau," ucap wanita yang rambut hitamnya sudah banyak bercampur dengan rambut putih dan digelung ke atas dengan rapi.


"Benarkah?" Netra Ken membulat sempurna. Ia begitu senang. "Tentu saja aku mau, Bibi." Ia kemudian duduk di salah satu sudut ruangan di dapur itu yang mempunyai meja kecil untuk yang ingin makan di dapur.


Selama ini, yang makan di dapur adalah pekerja dapur atau pengurus rumah yang memang didominasi oleh wanita. Sedang bodyguard dipisah di ruangan lain karena bodyguard itu rata-rata cenderung kasar dan suka memerintah.


Namun melihat Ken yang sopan dan berbeda dengan para bodyguard lainnya, kepala rumah tangga itu mengizinkan pria itu makan di sana.


"Ini makan malammu." Seorang wanita muda membawakannya untuk Ken.


"Terima kasih."


"Dan ini minumnya." Seorang lainnya membawakan minuman.


"Mmh, terima kasih." Ken menganggukkan kepala dengan senang. Sebentar saja, Ken akrab dengan mereka di dapur.


Sementara itu, ruang makan bodyguard mulai terisi. Satu persatu bodyguard mulai datang untuk makan. Mereka melihat Ken makan di dapur dan mulai mengganggunya. Untung saja, pria Jepang itu sudah selesai makan.


"Hei, kau! Kenapa malah makan di sana, seperti perempuan saja," ujar salah seorang bodyguard yang berambut putih pendek, yang melihatnya di sana. Ia tertawa mengejek.


Ken mendatangi mereka. "Oh, karena sepi. Aku makan di sana. Oh, ya. Namaku Ken." Ia menyodorkan tangan tapi tak ada yang menyambutnya, karena itu ia tarik tangannya kembali. Bahkan ketiga bodyguard itu terlihat acuh.


"Dia, katanya habis menyelamatkan Bos dari orang yang ingin membunuhnya. Hah, seberapa heroiknya sih?" ejek si rambut pirang masih bicara dengan temannya dan mengabaikan Ken.


"Ya, memang. Itu hanya kebetulan saja, sih," jawab pria Jepang itu datar.


Namun kalimat itu memicu kemarahan si rambut pirang. Ia tiba-tiba berdiri dan menarik kasar kerah baju Ken. "Kamu itu jangan sok hebat di sini ya, mentang-mentang orang baru dan langsung jadi perhatian Bos. Kamu itu gak ada apa-apanya, tahu!" Ia melepas pria Jepang itu. "Otot gak punya, tampang bodoh!" Ia mendorongnya dengan kasar.


Ken tak terima. Ia ingin protes tapi saat itu juga, datang seorang lagi bodyguard yang merupakan pimpinan para bodyguard di situ. "Oh, Ken. Bos mencarimu."


"Apa? Oh, ya." Ken kemudian mengikuti pria itu.


"Mmh, aku Jhon, pimpinan bodyguard di sini." Pria bule dengan rambut hitam itu menyodorkan tangannya pada pria Jepang itu. "Kalau ada apa-apa, kau tinggal bilang padaku."


Ken menyambut uluran tangan Jhon. "Oh, Ken." Oh, untunglah kau datang, kalau tidak aku sudah bertengkar dengan anak buahmu. Lain kali aku tidak usah dekat-dekat dengan mereka lagi, daripada bikin masalah, karena aku di sini juga bukan atas permintaanku. Mmh.


Mereka kemudian masuk ke dalam kamar Don dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Masuk!"

__ADS_1


Pria dengan rambut tengahnya sedikit beruban itu, tengah duduk di sofa dekat jendela. Ken dan Jhon mendatangi pria itu.


"Mmh, apa kau bisa memakai senjata, Ken?" tanya pria paruh baya itu langsung pada intinya.


"Senjata?"


Pria itu memperlihatkan sebuah pistol yang di letakkan di atas meja di sampingnya. "Ini buatmu."


Ken membulatkan matanya. "Oh, aku tidak pegang pistol." Ia menggoyang-goyangkan tangannya.


"Kenapa?"


"Aku tidak saja, kalau pistol. Aku tidak mau."


"Jadi kau pegang apa untuk melindungi anakku? Pisau? Kau bisa pegang pisau?"


"Kalau itu, tidak apa-apa."


Don tersenyum karena merasa lucu pada pria ini. "Lho, bukannya dengan pistol lebih cepat tuntas masalahnya? Aku baru saja akan meminta Jhon untuk mengajarimu menggunakan pistol."


"Ah, tidak," tolak pria Jepang itu pelan.


Don terdiam sambil menatap Ken. Ia masih belum sepenuhnya bisa membiarkan pria satu ini tanpa memiliki kemampuan untuk menggunakan pistol, karena mengingat apa yang terjadi dengannya kemarin. Kalau penjagaan bisa lolos untuk dirinya, bukan tidak mungkin sasaran berikutnya adalah putrinya. "Bagaimana kalau kau belajar menggunakan pistol pada Jhon. Mungkin sewaktu-waktu dibutuhkan."


Ken menoleh pada Jhon di sampingnya. "Ok, baiklah."


Setidaknya hati pria paruh baya itu lega.


----------+++---------


Freya terkejut ketika mendengar suara ketukan di pintunya. Padahal ia sedang serius mengerjakan tugas sekolah. "Siapa?"


Pintu terbuka dan kepala Ken muncul. "Eh, maaf, Nona. Kamu sedang tidak butuh Saya 'kan? Saya mau keluar sebentar."


Gadis itu merengut kesal. Tentu saja, karena konsentrasinya pecah hanya karena pertanyaan yang tak berguna itu. Ia mengambil bantal dan melemparnya ke arah Ken. "Berisiiik!"


"Oh, maaf, maaf. Iya, iya, aku sudah mengganggumu." Ken terpaksa menutup pintu.


Namun terdengar lagi suara teriakkan dari balik pintu. "Hei! Kau!!"


Pria itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Aduhh, apa lagi ini .... Ken mencoba membuka pintu kembali dan menengok ke dalam. "Ya?"

__ADS_1


"Kembalikan bantalkuu!" teriak gadis itu dalam amarahnya.


__ADS_2