
Keringat mengucur, karena latihan pedang itu banyak menggerakkan tubuh, di udara yang sedikit panas sore itu membuat Ken harus melepas baju kimononya dan hanya mengenakan hakama selagi latihan. Kucing Suchan sebagai penontonnya.
"Hahh, panas sekali ...." Pria itu menjatuhkan diri duduk di tanah dan meletakkan pedang itu di sampingnya. "Huh, panas rasa terpanggang padahal tidak terik, tapi benar-benar ... hahh."
Kucing itu mendekat.
"Jangan dekat-dekat aku, Suchan. Aku berkeringat."
Kucing itu lewat di bawah kaki Ken yang ditekuk lebar.
"Aku jadi ingin main air lagi nih, kalau begini. Apa latihan meringankan tubuhnya sore saja? Kalau latihan pedang bisa pagi-pagi, lebih sejuk," gumamnya sendiri. Ia mencabuti rumput yang ada di sampingnya. Keringatnya mengucur di sela-sela rambutnya yang kini mulai basah. Sesekali ia menyeka keringat itu, menunggu suhu badan reda.
Tak lama ia berdiri. Ia kemudian pergi ke tempat penyimpanan ulat sutra, sebuah gubug kecil di belakang rumah. Kembali ia memperhatikan ulat sutra itu membuat kepompong. Kali ini banyak ulat sutra yang sudah gemuk membuat kepompong. Ia mengambil dua yang sudah tebal dan tidak bergerak lagi. Kemudian ia membawanya keluar.
Di luar, sambil celingukan kiri kanan, ia membuka genggaman tangannya di mana kedua kepompong itu berada, kemudian mulai mencobanya.
Benang sutra. Bersatulah dan naik ke atas. Seketika benang sutra itu keluar dan bersatu lalu naik ke atas. Dua benang itu terus saja naik dan Ken sedang melihat sepanjang apa keseluruhan benang itu bila dikeluarkan. Ia sengaja menggunakan dua benang agar ia bisa melihat benang itu saat tinggi, tapi tidak. Ternyata benang itu terlalu tipis untuk bisa terlihat, sehingga ia mencari akal.
Pria itu mengambil selembar daun dekat kakinya dan meminta ujung benang itu kembali dan memegang daun itu. Kemudian ia menyuruh benang itu kembali naik. Benang itu menurut saja seperti yang diminta Ken. Kini ia bisa melihat benang itu hingga benang habis di tangan, meninggalkan ulat bergerak-gerak karena kehilangan tempat tinggal. "Maaf ya ulat aku pinjam dulu," ucapnya pada ulat-ulat yang kebingungan.
Pria itu mendongak. Ia tidak tahu pasti apa benang itu telah sampai ke tepi atas lubang besar itu, tapi yang ia bisa lihat, jangkauan benang itu cukup tinggi, tinggal mungkin ia bisa naik ke atas pohon agar ia bisa naik lebih tinggi lagi dan mencapai tempat itu. Setidaknya ia mencoba. Hanya itu jalan satu-satunya.
"Meong."
Ken terkejut. "Suchan, kau bikin jantungku ingin meledak." Ia mengurut dada. Segera ia meminta benang itu untuk turun dan memintal tubuh ulat itu seperti sedia kala. Kemudian ia mengembalikan kepompong itu kembali ke tempatnya.
Ia membungkuk dan menyodorkan tangannya pada kucing itu. Suchan melompat pada gendongan Ken. "Suchan, jangan bikin aku kaget terus dong ya?" Ia mengusap lembut tubuh kucing itu.
__ADS_1
-----------+++-------------
Waktu pun berganti malam. Ken nekat ingin kabur malam itu juga. Ia kemudian bangun dan mengendap-endap keluar rumah. Ia mendatangi tempat ulat sutra dan mengambil kepompong dalam jumlah banyak lalu memasukkannya ke dalam sebuah kain berbentuk persegi. Kain itu diikat dan dibawa bersamanya.
Pria muda itu yang telah mengenakan hakama dan membawa pedang di pinggangnya, mendatangi sebuah pohon yang paling tinggi di antara pohon-pohon yang ada.
Ia kemudian memanjat pohon itu dengan hati-hati hingga mencapai dahan tertinggi yang bisa ia naiki, kemudian ia membuka kain yang berisi kepompong di sana. Benang bersatulah dan naik ke atas secara bersama-sama, batinnya.
Benang itu perlahan-lahan naik ke atas dan kemudian bersatu membentuk sebuah tali. Lalu tali itu kemudian juga bergerak ke atas. Pelan tapi pasti benang yang menjadi tali itu naik terus hingga benang itu habis dari tubuh ulat sutra. Kini tinggal ulat-ulat gemuk itu yang kebingungan karena kehilangan tempat tinggalnya.
"Maaf ya ulat, tapi sepertinya kamu harus bikin benang baru lagi," gumam pria itu yang kemudian menggantung kain itu di dahan. Ia kemudian beralih pada tali yang sudah jadi. Ia menyandarkan tali itu pada sebuah dahan.
Ken mendongak ke atas. Apakah talinya melebihi lubang besar di atas itu, ia tidak tahu. Ia melapisi tangannya dengan kain karena tidak ada sarung tangan dan kemudian mulai memanjat.
Tali itu sungguh licin karena itu ia sempat menggulungnya di tangan agar bisa memanjat, tapi dengan itu talinya jadi memendek. Setelah itu ia mulai memanjat lagi.
Ia bisa saja mencoba melakukan lompatan dengan ilmu meringankan tubuh tapi ilmu itu belum ia kuasai benar. Kemungkinan jatuh sangat besar. "Hiih!" Ken geram sendiri. Padahal tinggal sedikit lagi, ia bisa keluar dari tempat itu.
"Ken?"
"Hah?" Pria muda itu mengangkat wajahnya. Terlihat seseorang yang dikenalnya sedang melongo ke dalam lubang besar itu.
"Ejiro? Ah Ejiro ...." Wajahnya yang kusut kembali cerah.
"Ken, kau di sana ternyata. Kau naik apa?" Pria bercodet itu memperhatikan benda berbentuk tali yang dinaiki Ken.
"Eh, tali. Aku membuatnya berdiri. Tolong, bantu aku Ejiro."
__ADS_1
"Tunggu sebentar." Pria berambut panjang dikuncir ke belakang itu pergi sebentar. Ternyata ia mengikat tubuhnya dengan tali tambang yang dibawanya. Ia kemudian mengaitkan ujung tali itu pada sebuah pohon dan kemudian membawa ujung tali tadi ke arah lubang besar itu. "Ini, Ken, tangkap ya?"
Ejiro melempar ke arah Ken tapi pria itu tak bisa menangkapnya.
"Tunggu, tunggu sebentar."
"Apa?"
"Biar aku yang panggil talinya."
"Apa?"
Ken berkonsentrasi menatap ke arah tali yang dipegang pria bercodet itu dan benar saja, tali yang dipegang pria itu bergerak ke arahnya. Ejiro terkejut melihatnya.
Ken meraih tali itu sedang pria bercodet itu menarik tali yang ada di tubuhnya sehingga perlahan-lahan pria berambut pendek itu tertarik. Akhirnya Ken bisa sampai ke tepi lubang dan ditarik naik ke atas.
"Terima kasih, Ejiro. Ternyata kau masih mencariku." Ken terharu.
"Tentu saja. Tadi pagi bahkan aku sempat bertemu dengan orang yang menculikmu itu tapi ia bersikukuh tak mau melepaskanmu."
"Oh, Odagiri Sensei. Ayo, cepat kita pergi dari sini, sebelum ia menyadari aku sudah kabur darinya!" seru pria berambut pendek itu.
"Ayo!"
Sementara itu, Odagiri tentu saja tahu, Ken pergi pergi keluar walaupun ia sedang berbaring di pembaringan kamarnya, tapi ia tak tahu apa yang terjadi.
Kenapa lama sekali ia tak kembali? Ia pun bangkit dari dipan itu dan pergi keluar. Tak sengaja saat ia membuka pintu rumahnya, ia melihat pohon di depannya mengeluarkan cahaya. Apa itu?
__ADS_1