Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Hidup Bersama


__ADS_3

"Sebaiknya kita hidup masing-masing saja. Jalan hidup kita berbeda."


"Bukankah kita selalu bersama? Dulu sewaktu kamu kecil, kita tinggal di panti asuhan bersama. Saat kau mulai dewasa, kau juga ikut berpetualang denganku dan kini, kenapa kita tidak bisa bersama lagi?" Ken beranjak berdiri dari duduknya. Ia menyentuh pipi Mira dan mulai menghapus sisa-sisa air matanya. "Kalau kita tak bersama lagi, siapa yang akan menghapus air matamu?"


Keduanya terdiam dan hanya saling memandang. Pandangannya yang begitu dalam membuat Gojo merasa salah tempat. Pria gondrong itu berdehem pelan sambil menggaruk-garuk kepala, membuat kedua sejoli Ken dan Mira, tersadar dan saling tertunduk dengan tatapan menghindar. Mira tersipu dan pria Jepang itu mengusap belakang kepalanya.


"Eh, aku mau ke kamar. Silahkan diteruskan." Gojo mempersilakan. Belum juga pria gondrong itu bergerak, Ken menarik tubuh temannya itu menjauh dari kamarnya.


"Eh, sebentar, Gojo."


"Apa?"


-------+++---------


Gojo cemberut. Ia memandangi punggung Ken dengan wajah kesal. "Aku yang punya rumah, kenapa aku harus bersempit-sempit tidur denganmu?"


Sang pria Jepang memutar tubuhnya menghadap sahabatnya itu. "Dia 'kan perempuan, sudah seharusnya perempuan yang dapat kamar. Kamu, salahmu sendiri kenapa buat rumah sekecil ini. Kamar hanya satu pula lagi!" Ia mencerca.


"Aku 'kan buat rumah untuk diriku sendiri, kenapa aku yang disalahkan?"


"Ya kalau begitu, terimalah nasibmu, selesai 'kan?" ujar Ken lagi.


Gojo kembali cemberut, tapi ia kembali mengomel walau dalam hati. Ken kembali memutar tubuhnya menghadap kamar Gojo dan pikirannya riuh. Ada rasa tak suka tapi tidak benar-benar benci. Ada rasa tak nyaman tapi benar-benar suka dan ini membingungkannya.


Wajah gadis itu terbayang terus di pelupuk mata. Semakin hari melihat perubahan gadis itu yang kini beranjak dewasa membuatnya gila. Gila karena dirinya dikepung perasaan lain yang hampir menenggelamkan dirinya dalam imajinasi dewasa. Imajinasi yang memabukkan.


Berulang kali ia mengingatkan dirinya bahwa Mira hanya adik kecil miliknya yang harus ia jaga dan pahami sebagai kakak, tapi berulang kali juga pahatan wajah menggiurkan yang cantik itu muncul di benaknya. Pahatan maha sempurna seorang anak setengah dewa. Wajar wanita itu mirip dewi kayangan karena wanita itu memang keturunannya, tapi wajarkah kalau ia, sebagai pria jatuh cinta?


Itu tidak boleh terjadi karena Mira adalah adik kecil kesayangannya. Namun tetap saja, setiap ia mengaminkan penyangkalan hati. Pahatan bibir, mata, hingga mulut gadis itu saat merancau marah atau pipi yang tersipu-sipu saat malu, muncul dan mengganggu kerja jantungnya. Alhasil, Ken baru bisa tertidur saat menjelang pagi.

__ADS_1


---------+++---------


"Kakak ...."


Ken membuka mata dan merasa aneh dengan apa yang dilihat. Ada seorang dewi cantik tersenyum dan berdiri di hadapan. Pria itu sampai menyipitkan mata memastikan. Namun kemudian otaknya bekerja. Yang berdiri di hadapan adalah ... Ken segera terduduk dari tidurnya. "Ho!"


Mira mengganti baju berwarna hitamnya dengan yang berwarna biru cerah, membuat wajahnya yang putih terlihat semakin halus lembut. Kulitnya serupa buah persik yang berwarna putih kemerah-merahan. "Kak, aku sudah cuci dan jemur pakaian. Aku ingin pergi dulu berburu untuk bisa makan daging."


"Oh, aku akan menemanimu!" Pria itu mengucek-ngucek matanya.


"Oh, tidak usah. Kakak 'kan belum mandi. Apa Kakak masih mengantuk? Ya sudah, tidur lagi saja. Aku akan pergi dengan Gojo saja ke hutan."


"Oh, maaf ya?"


"Oh, tidak apa-apa. Aku berangkat ya, Kak!" Mira terlihat begitu bersemangat. Ia keluar rumah bersama Gojo.


"Hati-hati ya?" Ken melambaikan tangan. Ia kemudian menyadari ia telah bangun sedikit siang. Mungkin melihat tidurnya yang nyenyak, wanita muda itu tidak berani membangunkan hingga menjelang siang, dan Mira harus pergi berburu.


Ken mengutuk pikirannya dan beranjak berdiri untuk pergi mandi. Setelah itu, ia melangkah ke halaman belakang. Belum lama ia berdiri di sana seraya melihat jemuran, ia mendengar teriakan wanita itu dari pintu depan. Wanita itu membuka pintu dan berlari-lari masuk menemuinya sambil menggendong buruannya yang cukup besar.


"Kakak, aku berhasil! Aku mendapatkan macan, Kak!"


Namun bukan itu yang menjadi perhatian Ken. Tangan wanita itu dibebat kain hingga lengan dengan noda darah terlihat pada robekan kain tersebut. "Mira, tanganmu kenapa?"


"Tangannya digigit macan!" teriak Gojo yang datang kemudian.


"Mira ...." Sang pria Jepang menautkan alisnya menatap ke arah wanita itu.


"Gak papa kok, Kak. Cuma serasa digigit kucing saja kok."

__ADS_1


"Masa? Sini coba aku obati. Gojo, tolong binatangnya!" teriak Ken dengan wajah serius.


Wanita itu terlihat antusias melihat Sang pria menarik dirinya untuk duduk di dipan luar. Gojo mengambil binatang buruan Mira. Ken membuka kain yang menutup tangan itu pelan-pelan dengan serius dan Mira memperhatikan wajah pria itu.


Wajah serius sang pria yang menandakan ia peduli. "Ah, Mira! Apa ini? Ini parah, Mira. Tidak ada tangan seburuk ini untuk wanita secantik dirimu!" Namun Ken terkejut dengan kalimatnya sendiri dan meralatnya. "Eh, maksudku, adik cantik dan manis seperti dirimu." Ia sendiri salah tingkah takut wanita itu berpikir macam-macam.


"Eh, iya, Kak." Wajah Mira pipinya memerah dan tersipu-sipu.


"Eh, biar Kakak obati." Ken coba berkonsentrasi. Ia menutup luka gigitan di tangan wanita itu dengan tangannya.


Wanita itu hanya menggigit bibir saat merasakan nyeri tapi kemudian rasa nyeri itu menghilang. Ia terus memperhatikan wajah Ken ketika pria itu memindahkan tangannya ke sisi luka yang lain. Ia terus memandanginya dan melihat setiap perubahan di mimik wajahnya.


Kak Ken, kapan aku sadar kau memang benar-benar tak bisa kumiliki. Melihatmu menyodorkan tangan saja, aku luluh. Mendapatkan pelukanmu saja, aku diam. Melihatmu dari dekat seperti ini saja aku bahagia. Aku sepertinya masih saja mencintaimu. Melupakanmu hanya melukaiku tapi tak pernah bisa kulupakan. Beri aku hantaman keras agar aku sadar, Kak Ken. Kau bukan untukku. Coba ... sedikit saja ... sakiti aku ....


"Sudah, lukamu sudah hilang. Sekarang biarkan saja Gojo yang memotong macan itu untuk dimasak. Sekarang, kau istirahat saja di sini."


"Mmh."


Mereka duduk berdua berdampingan di dipan itu menatap jemuran yang melambai-lambai ditiup angin. Gojo yang berada di dapur mendengar percakapan mereka, dan terlihat kesal karena tak ada yang membantunya di sana.


Ken dan Mira mengobrol sambil bercanda berdua dan terlihat sekali mereka bahagia. Kaki Mira yang menggantung di goyang-goyangkannya tanda senang, dan pria itu banyak tersenyum saat berbicara dengan sang wanita, membuat Gojo merasa iri.


"Kenapa aku terjebak dengan orang kasmaran di sini sih!" Pria berambut gondrong itu menancapkan pisau pada daging macan yang berhasil ia kuliti. "Harusnya aku cepat-cepat cari pacar sebelum keduanya mendahuluiku!" Dengusnya kesal.


"Mira, bagaimana kalau kita pergi ke pasar? Koleksi pakaianmu pasti kurang banyak. Biar Kakak belikan yang baru. Bagaimana?" tanya Ken dengan mata berbinar berbicara dengan mataharinya.


__________________________________________


__ADS_1


Visual Mira di rumah Gojo dengan tangan terluka. Salam, ingflora💋


__ADS_2