Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Pesan Ibu


__ADS_3

"Mmh. Bukankah para pendekar yang kemarin datang bersamamu, akan ikut membantumu lagi? Mereka telah diminta untuk datang kembali siang ini untuk mulai bergerak, menunggu instruksi darimu," sahut Menteri itu seraya ingin menuang teh ke cangkirnya tapi kemudian Ken merebut tekonya dan menuangkan teh untuk Menteri itu.


"Tapi aku juga butuh pengawal untuk memberi tanda bahwa ini resmi dari Kerajaan."


"Baiklah, aku akan memberikannya, berapapun pengawal yang kau butuhkan. Kau butuh berapa?"


Pria berambut pendek itu juga menuang ke cangkirnya. "Mmh, aku ingin tahu, kasus pembunuhan itu timbul di daerah mana saja?"


Kemudian semuanya mengalir. Mereka sibuk dengan diskusi hingga melahirkan kata sepakat.


"Hah ... kau masih muda dan pemikiranmu sangat cemerlang ditambah pengalamanmu yang membuatmu terampil. Kau pasti akan menjadi pemimpin besar di masa depan," sahut pria itu sambil merapikan jenggotnya. "Apa kau tidak ingin bekerja untuk Raja?"


"Untuk sementara ini, aku ingin kembali ke hutan untuk meneruskan belajar ilmu bela diri yang belum aku selesaikan, setelah menuntaskan masalah wabah dlakula ini di sini. Aku belum berpikir untuk melakukan hal lain."


"Tapi aku bersedia menampungmu bila kau tertarik untuk melayani Raja."


"Saya hanya rakyat biasa. Pekerjaanku pun belum dimulai. Mungkin saja setelah bekerja, Saya bukan orang yang Tuan harapkan," ucap Ken merendah. Ia meminum teh hangat dari cangkir kecil yang dipegangnya.


Menteri itu tertawa lepas sambil merapikan jenggotnya. "Ya, ya, ya, ya, kau benar. Kita harus menuntaskan masalah ini dulu, sebelum kita membicara masalah yang lainnya."


------------+++-----------


Ejiro masuk ke kamar Ken. Ia mengambil pakaian pria itu sesuai perintah gurunya sebelum mereka berangkat ke rumah Menteri Pertahanan. Namun tanpa disadari, Cia mengikutinya.


Pintu ditutup ketika pria bercodet itu memasukkan pakaian Ken ke dalam kain pembungkus. Ia menoleh. "Cia, ada perlu apa? Mau titip pesan pada Ken?" ucapnya ringan seperti tidak pernah ada apapun yang terjadi di antara mereka.


Cia masih berdiri merengut di depan pintu. "Lalu apa yang terjadi kalau seandainya aku hamil karenamu?" Sepertinya gadis itu ingin menangis.


Pria itu berhenti sebentar lalu meneruskan tugasnya tanpa menoleh. "Jadi kau maunya apa?"


"Kau benar-benar pria tak punya perasaan! Kau tega melakukan itu saat aku rapuh." Cia sendiri tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya saat itu, karena tiba-tiba saja ia menuruti permintaan pria itu dan terjadilah malam panas itu.


Ejiro kembali berhenti merapikan barang-barang Ken dan mulai serius menatap gadis itu. Ia sebenarnya ingin tertawa. "Kalau seandainya yang menidurimu malam itu bukan aku, tetapi Ken, apa yang akan kau lakukan sekarang? Minta pertanggungjawabannya? Heh! Kalau aku? Kau mau denganku?"


"Tapi kau telah merusakku. Kau tahu aku menyukai Ken, kenapa kau lakukan itu? Kau jahat!" Gadis itu mulai menangis.


Ejiro telah selesai memasukkan pakaian Ken dalam kain itu lalu mengikatnya. Ia kemudian membawa bungkusan kain itu dan melangkah ke arah pintu tempat gadis itu berdiri. "Dengar ya, aku bukan orang jahat. Kau yang pertama datang ke kamarku dan menyerahkan dirimu padaku. Kalau kau ingin aku bertanggung jawab, aku pun siap. Kau ingin aku menikahimu juga akan aku lakukan tapi jangan bilang aku jahat sebab kaulah yang jahat karena telah memasukkan obat tidur ke dalam apel itu tadi malam. Iya 'kan?"


Bukannya menjawab, tangis Cia malah makin menjadi. Akal bulusnya ketahuan dan ia tidak bisa menjatuhkan pria itu lagi.

__ADS_1


Ejiro menghela napas pelan. Ia mulai bicara lembut pada gadis itu. "Cia, aku akan kembali. Pikirkan ini baik-baik. Kalau kau mau aku bertanggung jawab, aku akan siap menikah denganmu. Aku bukan orang jahat, Cia. Aku tidak sejahat pikiranmu." Setelah itu pria itu meninggalkannya.


Dan gadis itu, ia masih menangis terisak di sana.


-----------+++----------


Sambil menunggu para sukarelawan datang membantu, Ken kembali ke kamar. Saat itu ia sempat melihat sepintas kamar anak Menteri Pertahanan itu dan masih sepi. Ia kemudian masuk ke dalam kamar.


Sekarang aku mau apa ya? Ia kemudian duduk di tepi ranjang. Baru berpikir begitu, tiba-tiba pintu kamar dibuka. Seorang wanita masuk dengan membawa baki berisi teko teh dan cangkirnya.


"Bao Ki, aku belum ingin minum." Namun kemudian ia kaget ketika wanita itu mengangkat wajahnya. "Ibu?"


"Halo, anakku." Wanita itu meletakkan baki itu di atas meja.


"Bagaimana ibu bisa melewati mereka?" Netra Ken membulat sempurna.


"Oh, biasa. Menghentikan waktu."


"Benarkah?" Pria itu keluar dan melihat semua orang telah jadi patung. "Ibu, kau benar."


"Ayo, sini temani ibu minum teh. Ibu bawa kue ini untukmu."


Wanita itu meletakkan kue di piring di hadapan pria itu. Juga menuangkan teh hijau di cangkir kecil. Mereka menikmati kue itu sambil mengobrol bersama.


"Apa kabar, Ibu?" tanya Ken dengan wajah cerah.


"Baik."


"Mmh, Ibu tak pernah menengok Ayah lagi?"


Tiba-tiba pertanyaan itu membuat Ibu sulit memulai. "Ibu lupa."


Ken melihat perubahan di wajah ibu yang terlihat berbeda. "Ibu tidak bertengkar dengan Ayah, 'kan?" Pria itu menyuap kuenya.


"Oh, tidak. Hanya ... mungkin Ibu egois. Ibu sekarang hanya memikirkanmu." Pelan, Ibu memotong kue di piringnya.


"Ibu, tengok Ayah. Mungkin dia kesepian. Ibu 'kan sudah tidak punya alasan lagi sebenarnya, pisah dari Ayah. Ayah mungkin tidak berani memaksa tapi dia pasti kesepian dan rindu pada Ibu."


"Kenapa tiba-tiba kau teringat soal Ayah?"

__ADS_1


Ken menyelesaikan kunyahannya. "Aku ingin bertemu Ayah, tapi tak bisa. Setidaknya kalau Ibu bisa tengoklah, Bu. Aku tidak ada di sana untuk menemaninya."


"Ya sudah." Terlihat netra wanita itu yang berkaca-kaca.


"Ibu juga rindu sama Ayah, 'kan?" Pria itu coba menebak bahasa air mata ibunya.


"Mmh." Wanita itu mengangguk pelan.


"Lupakan aku sejenak, temui Ayah, Bu."


"Ya."


Mereka kembali meneruskan makan kue itu.


"Ngomong-ngomong, Mira mana, Bu?"


"Oh, itu yang ingin Ibu katakan."


"Apa, Bu?" Ken mulai memperhatikan wanita itu bicara.


"Kasus drakula ini. Sekarang kau harus menebas kepalanya."


"Apa? Maksud Ibu aku harus memisahkan kepala dan tubuh orang yang terjangkit racun drakula?" Netra pria itu membulat, seiring mendengar pernyataan wanita itu. "Ibu, kenapa aku harus melakukan hal yang keji seperti itu. Membunuh saja sudah cukup mengerikan bagiku, tapi ibu minta aku menebasnya. Bagaimana keluarga atau anak-anak yang melihatnya, Bu?"


"Ini untuk menghindari ada yang menghisap darahmu atau darah drakula itu. Drakula itu sudah meminum darahmu jadi dia bisa abadi. Begitu pula mereka yang tak sengaja meminum darah drakula itu atau darahmu, bila kalian terluka, dan cara satu-satunya untuk membunuh mereka adalah memisahkan tubuh dari kepalanya. Mereka bisa sembuh dari luka apapun bila darahnya abadi."


"Benarkah itu, Ibu?"


"Itu yang ada dipikiran Ibu, tapi sebenarnya, Ibu juga tidak tahu."


"Oh, bagaimana dengan yang aku bunuh di hutan?"


"Sedang dilakukan oleh Mira dan Gojo."


"Syukurlah."


Keduanya menghela napas pelan dan menunduk.


____________________________________________

__ADS_1



__ADS_2