Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Tumpas


__ADS_3

Odagiri melompat mendatangi pohon itu, kemudian memanjatnya. Setelah melihatnya dari dekat, ia makin tak mengerti. Ia menyentuh tali berwarna putih itu yang tegak berdiri. Bagaimana caranya tali ini bisa berdiri tegak begini? Ini 'kan kumpulan benang dari ulat sutraku, bagaimana ini bisa ....


Ia menoleh ke samping. Ada sebuah kantong kain tersangkut di dahan pohon dan ia melihat ulat-ulat sutra tengah keluar dari situ dan mulai memakan daun yang ditemuinya.


Ia menoleh pada tali tadi dan kembali menyentuhnya. Bagaimana caranya benang ini bisa keras begini? Kenkah yang melakukan semua ini, tapi bagaimana caranya? Apakah dia punya ilmu lain yang aku tidak tahu? Sungguh hebat ilmu ini, tapi ini semacam sihir. Apa dia bisa ....


Pria itu menengadah ke atas dan menatap tali yang bisa tegak lurus berdiri. Aku harus mencari tahu, apa benar Ken yang melakukan ini semua. Ia pun melompat turun.


Sementara itu di atas, Ken dan Ejiro bergegas ke pinggir jurang.


"Kau hebat, Ken. Kau bisa membuat tali jadi keras begitu?" tanya Ejiro tak percaya.


"Eh, tidak ada waktu untuk bercerita. Sebaiknya kita bergegas saja. Soalnya kalau sampai Sensei bangun, dia akan secepat kilat sampai ke sini. Percayalah."


Mereka kemudian bergegas ke tempat Ejiro turun. Di sana pria bercodet itu meninggalkan tali yang masih tergantung ke bawah agar mereka bisa menaiki tebing jurang yang dalam itu. "Ayo, naik!"


Ken lebih dulu naik disusul Ejiro, tapi pada saat mereka sampai ke atas mereka menemukan kenyataan lain yang mengejutkan. Keduanya dikepung oleh orang-orang yang tidak dikenal dengan pakaian mereka masing-masing. Petani, pedagang, buruh, tukang masak dan seorang lagi yang Ken amat kenal dengan wajahnya.


"Ivan?"


Seorang pria bule dengan rambut hitam kecoklatan itu tersenyum padanya. Wajahnya masih tetap sama, pucat. "Halo, Ken." Ia tersenyum senang karena ia bisa bertemu lagi dengan pelayannya itu.


"Kau ... kenapa kau bisa menyusulku ke sini?" tanya Ken dengan tatapan nanar.


Sebenarnya pada saat Ken meninggalkan keluarga drakula itu, Lucille membunuh semua orang dalam keluarga itu termasuk Ivan, tapi ia lupa mengecek pria itu dengan benar. Ivan saat itu terluka parah tapi ia pura-pura mati, dan saat wanita itu mengecek keberadaan Ken berikutnya pada bola kristal, Ivan diam-diam mendekatinya.


Tepat pada saat wanita itu melakukan pemindahan dimensi, Ivan menyentuhnya. Jadilah ia terbawa Lucille ke dunia beberapa ratus tahun sebelumnya mengikuti wanita itu. Dan saat ia menyadarinya, ia kemudian kabur dari Lucille.


"Siapa dia, Ken?" bisik Ejiro tepat di telinga pria setengah dewa itu.


"Eh ... nanti kuceritakan."

__ADS_1


"Sepertinya transformasi itu tidak berubah padamu ya?" ujar Ivan yang mulai memperlihatkan taringnya di antara deretan gigi depannya.


Saat itu, pria bercodet itu bergidik melihatnya. Juga saat ia melirik ke orang-orang lain yang datang bersama pria berwajah pucat itu. Mereka juga sama, berwajah datar dan pucat.


"Karena aku telah terselamatkan dari racun di tubuhmu itu."


Pria bule berwajah pucat itu tidak senang mendengarnya. "Ayo, cepat tangkap dia!" titahnya pada orang-orang yang datang bersamanya itu.


Orang-orang itu kini mulai bergerak dengan tangan terangkat ke arah Ken. "Baik, Tuan," sahut mereka beramai-ramai.


Ejiro langsung pasang kuda-kuda. "Ken, ada apa ini?"


"Usahakan jangan sampai tergigit oleh mereka, atau mereka akan menularimu!" Ken memperingatkan.


Keduanya menghunus pedang ketika sekumpulan orang itu mendekati mereka.


"Hiah!" Ejiro mulai menyerang dan menebas mereka satu-satu.


"Ah, bagaimana ini? Kenapa mereka begitu banyak?" Ken mendengus kesal. Namun kemampuan bermain pedang Ken membaik dibanding Ejiro sejak berguru dengan Odagiri. Bahkan ia membantu pria bercodet itu, ketika mulai ada yang bisa menyentuh tubuh pria itu. "Ejiro!"


Dengan sekali tebas, ia membuat angka delapan di angkasa yang mengitari tubuhnya dan juga membebaskan pria itu dari kerumunan drakula anak buah Ivan, mendekat.


"Terima kasih," sahut Ejiro dengan mimik terkejut. Tentu saja, baru sebulan lebih tidak bertemu dengan Ken membuat ia pangling dengan perubahan ilmu bela dirinya yang meningkat pesat, bahkan melampaui dirinya.


Namun tetap saja, mereka kewalahan. Terlalu banyak orang yang mereka hadapi walaupun orang-orang itu tak bersenjata. Orang-orang itu seperti makhluk yang pasrah jika harus mati demi memenuhi perintah drakula itu.


Tiba-tiba datang bantuan dari belakang, yang melompat mendatangi keramaian sehingga orang-orang itu mundur saat orang itu menendang semua orang yang mendekati kedua orang itu.


"Sensei ...!" teriak Ken.


"Ada apa ini?" tanya pria berambut kaku itu keheranan. Di tengah malam seperti itu, sangat mengherankan melihat sekumpulan manusia datang menyerang kecuali memang sudah mengintainya dan bersiap untuk menyergap keduanya.

__ADS_1


"Sensei, jangan sampai tergigit oleh mereka karena gigi mereka beracun!" teriak muridnya itu.


"Baiklah. Ayo, kita tuntaskan bersama!"


Mereka bertiga kemudian kembali menyerang. Perlawanan kali ini sungguh seimbang, bahkan unggul karena ada Odagiri di dalam formasi itu dan dalam waktu singkat orang-orang itu habis tak tersisa. Pakaian mereka juga penuh dengan cipratan darah orang-orang yang telah mereka bunuh.


Pria berambut kaku itu hanya butuh sepertiga dari kekuatannya untuk menghabiskan orang-orang itu sementara Ken dan Ejiro terlihat kelelahan setelah membunuh seluruh anak buah drakula itu. Bahkan Ivan menghilang seiring habisnya anak buahnya dibantai ketiga orang itu.


Ken dan Ejiro masih mengatur napas sementara Odagiri memasukkan pedangnya ke dalam sarung dengan santainya.


"Kau bisa menjelaskan hal ini, Ken?" Pria berambut kaku itu melipat tangan di dada. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung lengan. Wajahnya terlihat sangat serius hingga dahinya berkerut.


"Eh, Ivan. Ia mengejarku. Ia tak mungkin bisa pindah ke sini kecuali seseorang telah membawanya. Ah, itu pasti Lucille. Sialan!"


"Lucille? Siapa dia?" tanya Ejiro penasaran.


"Dia penyihir."


"Lho, bukankah kau juga penyihir, Ken?" tanya Odagiri lagi.


"Bukan. Aku hanya ...." Namun kemudian Ken ingat Odagiri tidak tahu siapa dirinya. Ia panik. Haruskah ia mengatakan siapa dirinya pada manusia, karena ia ingat betul nasihat ibunya agar ia tak boleh membocorkan identitasnya ke sembarang orang, agar ia tidak dimanfaatkan oleh orang atau makhluk lain. Ia kemudian bersembunyi berdiri di belakang Ejiro.


Pria bercodet itu seketika tahu, pria itu pasti sedang berusaha menyembunyikan identitas tentang dirinya. Pembawaan Ken sebagai pria lugu membuat dirinya sulit berbohong, dan itu juga mungkin yang menyebabkan ia takut salah bicara.


"Kenapa kau sembunyi di belakang temanmu. Ayo, sini, ceritakan padaku siapa kau sebenarnya." Odagiri memanggil Ken dengan tangannya. "Kau adalah muridku dan laki-laki. Bertanggung jawablah sedikit dengan semua kekacauan ini."


Ken menunduk dan mulai menampakkan diri tapi kemudian pria bercodet itu malah menutupi dengan tubuhnya.


"Hei, kenapa kau menghalanginya!" teriak pria berambut kaku itu marah.


"Karena aku tidak mengizinkan dia bercerita!" sahut Ejiro tegas.

__ADS_1


__ADS_2