Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Sekolah


__ADS_3

Ken masuk. "Nona, kamu bisa menyetir?"


Gadis itu menyalakan mesin. "Mengapa tidak? Di mana banyak pria tidak bisa diandalkan."


Seketika, pria itu bungkam, tapi ia harus menyelamatkan sesuatu. "Kau sungguh-sungguh bisa menyetir, Nona. Atau kupanggilkan supir untuk ...."


"Bisa, berisik!" Gadis itu mulai menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi. Setelah keluar dari area halaman rumahnya yang cukup besar, gadis itu membelokkan mobil itu ke jalan raya dengan ugal-ugalan.


"Nona, ini menarik perhatian polisi, Nona. Lebih baik perlambat jalan mobilnya!" ingat pria itu.


"Tidak bisa, nanti aku terlambat masuk sekolah!" Gadis itu mempercepat laju mobilnya.


"Nona ini bahaya."


"Yang bahaya itu mulutmu, cerewet!" Gadis itu menyetir dengan lihai. Memutar stir, memindahkan gigi atau menghindari sebuah truk di persimpangan.


"Ya ampun, Nona ...." Keduanya terpaksa harus memiringkan tubuhnya saat berbelok. "Bagaimana kalau polisi mengejar kita?"


"Untungnya belum ada 'kan?"


Ken terpaksa menggaruk-garuk kepalanya. Mobil akhirnya masuk ke dalam halaman sebuah sekolah ketika pintu gerbang sedang bergerak untuk ditutup. Dengan cepat, gadis itu memarkir mobil dengan rapi di antara mobil-mobil lain yang terparkir di sana.


"Lihat, kalau aku tidak ngebut, apa aku bisa masuk sekolah tepat waktu?" ejek gadis itu pada Ken. Ia pun keluar dari mobil.


"Tapi kalau kau tidak bangun terlambat, tidak akan begini jadinya, Nona." Pria itu mengekor.


Gadis itu mengulurkan tangan meminta tasnya. "Tapi kalau kau bisa menyetir, tidak begini jadinya, iya 'kan?" Kembali Ken kalah telak berbicara dengan Freya pagi itu. Benar-benar anak mafia!


--------+++---------


Gadis itu memperhatikan Ken dari kaca jendela di sampingnya. Pria itu tengah duduk-duduk di pinggir lapangan terbuka.


"Freya, kamu lihat apa?" tanya teman sebangkunya, Lily.


"Oh, Papa memberiku seorang bodyguard, tapi penampilannya sangat bodoh."


"Oh, masa? Yang mana orangnya?" Tubuh gadis itu condong ke jendela. Ia melihat di lantai bawah di lapangan, seorang pria duduk sendirian di sana. "Mmh, kelihatannya manis. Wajahnya juga dewasa. Aku suka tipe cowok seperti ini. Kenalkan aku padanya, Freya." Gadis itu memohon sambil memegang lengan teman sebangkunya itu.


Freya menghempas tangan gadis bermata biru itu. "Enak saja, dia milikku. Dia hadiah ayah untukku. Tidak ada yang boleh mengambilnya dariku!" rengut gadis itu sambil mengerucutkan mulut.


"Freya, ada apa?" tanya ibu guru yang sedang menulis di papan.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, Bu. Maaf."


"Mmh, fokus dengan yang Ibu tulis ya? Ibu kasih waktu 10 menit untuk membaca, setelah itu ibu akan bertanya secara acak, jadi siap-siap saja."


Kelas kembali hening.


-----------+++----------


Bel istirahat berbunyi. Melihat anak-anak yang berlarian keluar membuat Ken teringat saat-saat waktu sekolah di Jepang, dulu. Panti asuhan, anak-anak panti dan ayahnya, Ryu. Sebenarnya sekarang tahun berapa? Sepertinya tidak jauh jamannya dengan saat ia meninggalkan Jepang. Kalau tiba-tiba ia pergi ke Nagoya, apa ia bisa menemukan mereka?


Ken melihat saja saat Freya turun dari tangga dan pergi ke kantin. Ia cukup heran melihat gadis itu dikelilingi teman perempuan yang menatap ke arahnya. Karena jengah, ia menatap ke arah lain.


"Ih, beneran manis sekali wajahnya. Aku tak percaya kau seberuntung itu punya bodyguard."


"Orang Jepang ya? Apa dia ninja?"


"Aduh, dia jadi pacarku saja. Tidak cocok jadi bodyguard."


"Pria itu tipeku. Boleh aku jadi pacarnya?"


"Freya, kenalkan aku padanya."


Gadis cantik itu mendengarkan saja komentar teman-temannya. Sedikit bangga tapi kemudian membuatnya jadi posesif. "DIA PUNYAKU, jadi awas jangan ganggu-ganggu dia," ancam Freya dengan mata menyorot tajam.


Ken segera berdiri dengan sopan. "Oh, maaf, Bu, Saya bodyguard-nya Freya."


"Oh, begitu?" Wanita itu melongo sambil memperhatikan penampilan Ken yang jauh dari kata bodyguard atau preman. Ia hampir tak percaya.


Melihat Ken berbicara dengan seorang ibu guru muda, apalagi guru itu memperhatikan pria itu dengan seksama, membuat Freya dongkol bukan main. "Ken! Sini!" panggil gadis itu.


Seketika pria itu menoleh dan pamit pada guru itu. Ken mendekati gadis itu.


Teman-teman Freya tersenyum senang, tapi bukannya dikenalkan, gadis itu menggandeng pria itu masuk ke kantin berdua sehingga teman-teman yang lain mengekor di belakangnya.


"Freya tunggu!"


"Aku ikut."


Ken yang bingung, menoleh ke belakang di mana teman-teman gadis itu mengikuti. "Nona, teman-temanmu."


"Jangan berisik!" Freya dengan wajah cemberut dan tangan pria itu kini dijepit di ketiak gadis itu.

__ADS_1


Pria itu semakin heran. Ada apa ini sebenarnya?


Gadis berwajah bule Itali ini berhenti di depan sebuah etalase makanan yang dia inginkan. "Ayo, kau mau makan apa, aku teraktir."


Namun tak lama, teman-teman gadis itu mengepungnya membuat kepala pria itu penuh dengan tanda tanya.


Gadis itu bertelak pinggang. "Bisa gak sih, gak ganggu orang pacaran?"


Kini teman-teman gadis itu merengut dan pergi satu-satu.


"Pacaran? Kapan kita ...."


"Berisik, aku bilang ...," potong gadis itu. "Kau mau ditanya macam-macam oleh mereka? Ngak mau 'kan? Jadi dengarkan saja perintahku."


"Ditanya apa sih," gumam pria itu mengerut dahi. "Ya sudah, sekarang bagaimana?"


"Ya, tadi 'kan aku sudah tanya, kamu mau makan apa," ucap gadis itu yang berubah manja.


Pria itu kembali mengerut dahi. Ia tidak mengerti apa yang diinginkan gadis itu sebenarnya. Ia kemudian melihat makanan yang ada dan memesan sushi sebagai makan siangnya.


Setelah membeli makanan, Freya memilih meja dipojok ruangan. Mereka duduk dan makan berdua di sana. Banyak pasang mata melihat pada Ken. Seorang pria asia yang berwajah ramah dan lembut, hingga membuat iri bukan saya teman Freya, tapi gadis-gadis lain di sekolah mahal tersebut.


"Ayah Freya dapat dari mana sih cowok kayak gitu. Bisa ok jadi bodyguard, asyik juga buat pacaran," keluh Lily pada teman-teman yang lain. "Bodyguard-ku serem-serem di rumah. Itu saja aku tak mau dekat-dekat. Akhirnya mereka hanya jadi sopir yang berani antar jemput saja, karena tak enak dipandang mata."


Gadis-gadis lain tertawa. Ken sebenarnya segan makan berdua dengan gadis galak itu, tapi ia bisa apa? Ia memang dipekerjakan untuknya. Lagipula, Don telah menebusnya dari Lucille, jadi kini ia merasa berhutang pada pria paruh baya itu.


"Nona, kenapa tadi Nona bilang kita pacaran? Kalau terdengar ayah Nona bagaimana?"


"Ih, siapa juga yang mau sama pria bodoh sepertimu? Aku juga anak orang kaya ya, yang tidak bisa sembarangan memilih cowok jadi pacarnya."


Mendengar itu, Ken jadi malu.


"Aku ini sedang menyelamatkan wajahmu! Ingat itu!" ucap gadis itu dengan pedas.


"Eh, iya. Maaf, Nona." Pria itu akhirnya makan dengan tertunduk.


Tiba-tiba gadis itu menggenggam tangan pria itu yang berada di atas meja. Ken terkejut. Dia melihat sekeliling di mana masih ada beberapa pasangan mata melirik pada mereka.


Ken berusaha menarik tangannya tapi gadis itu tak lepaskan. "Sudah, Nona. Tak usah berusaha melindungiku," katanya tak nyaman.


"Karena dengan itu, kau juga melindungiku."

__ADS_1


Pria itu benar-benar tak mengerti pikiran rumit wanita. Ia terlalu naif untuk itu.


__ADS_2