
"Apanya?" Ken semakin heran.
"Sudah jangan banyak tanya! Selesaikan saja makan malammu dan beristirahatlah." Pria itu kembali meninggalkan Ken sendirian di kamar itu.
Setelah pria itu pergi, Ken memeriksa isi bungkusan itu. Ada burger dan kentang goreng yang merupakan makanan favoritnya, tapi ia menoleh pada tangannya yang terikat. Dibanding makan, ia lebih memilih kabur dari tempat itu. Karena simpul ikatan ada di atas ia mencoba membuka simpul itu dengan giginya. Aku bodoh kalau gak bisa buka ini, batinnya.
Di tempat lain, wanita itu mendatangi ruang tengah di mana ada beberapa orang pria tengah beristirahat di sana. Seorang pria berkulit hitam yang terlihat paling senior sedang duduk di kursi meja makan menikmati kopinya, sedang seorang lagi pria bule dengan codet di pipinya, asyik bermain dart(melempar panah kecil ke target yang digantung di dinding) dengan seorang lagi pria bule lainnya.
"Irish, bagaimana dengan pemuda itu?" tanya pria kulit hitam itu pada wanita yang sedang mendatanginya itu.
"Yang pasti ini sulit," jawab wanita satu-satunya di dalam tim itu. Ia berkulit sedikit kuning karena dia peranakan Cina Amerika.
"Sulit mengajarkannya? Tapi kita cuma punya waktu 3 hari untuk melatihnya."
"Bukan. Kalau itu pasti tidak sulit. Aku pernah melihat dia memanjat dinding panti hanya dengan berpegangan dengan pohon rambat dan tubuhnya cukup kurus. Dia pasti bisa melewati pipa itu dan mengambil permata itu."
"Lalu apa masalahnya?" Pria itu melepas kacamata dan meletakkannya di atas meja.
"Dia bukan pencuri. Dia tidak mau melakukannya."
Pria itu terdiam sebentar. "Itu urusanmu. Kau yang memilihnya, kau harus pastikan anak itu melakukan apa yang kita inginkan."
Irish sampai ke meja makan. "Ok, Jack. Jangan khawatirkan itu."
"Wow Vicky, kau hebat." Pria bule yang sedang duduk itu memperhatikan pria bule bercodet yang beberapa kali melempar panah kecil tepat sasaran sampai 3 kali. "Kenapa aku tidak pernah bisa mengalahkanmu?"
"Karena keahlian kita beda Ben. Kau adalah penembak jitu sedang aku pelempar pisau yang handal."
"Seharusnya aku juga bisa 'kan, Vick?"
Vicky melirik ke arah wanita itu yang melangkah menaiki tangga. "Mungkin." Kemudian ia menyudahi dengan pergi dari situ dan melangkah menaiki tangga menyusul Irish.
Wanita itu melewati pintu kamar Ken dan melirik sekilas. Ia kemudian melangkah menuju kamarnya.
"Irish!"
Wanita itu menoleh. Pupil matanya berubah, seakan ia terganggu.
__ADS_1
Pria itu mendatanginya. "Bagaimana kalau kita keluar bermotor, mmh?"
"Maaf, aku sedang malas."
"Biasanya kamu suka itu, Sayang." Vicky meraih tangan wanita itu dan mengecup punggung tangannya.
Dengan cepat wanita itu menarik tangannya. Dengan senyum misterius yang sedikit angkuh, ia mengangkat sedikit wajahnya. "Jangan ganggu konsentrasiku kali ini." Ia kemudian meninggalkan pria itu begitu saja.
Pria itu geram. Ia melirik ke pintu kamar Ken. Sejak dia memata-matai pemuda itu sampai menculiknya, dia hanya fokus pada pemuda itu. Awas saja kalau pemuda itu berani menggodanya. Vicky mengepalkan tangannya erat.
Sementara itu Ken berhasil melepas simpul ikatan tangannya. Ia begitu senang dan turun dari ranjang. Bergegas ia mendatangi pintu dan membukanya. Terkunci!
Astaga, bodohnya aku. Mereka tidak sebodoh itu, meninggalkan aku di kamar tanpa penjagaan. Pastinya mereka akan mengunci kamar itu, iya 'kan? Ken bersandar ke dinding dan dengan lemas merosot turun ke lantai. Ah ... bodoh, bodoh, bodoh! Ia menepuk dahinya berulang kali.
Ken kemudian menatap ke arah dinding yang berjendela kaca. Apa di luar ada beranda? Pemuda itu bangkit dan mendekati jendela. Ia mengintip dari balik kaca. Ah, tak ada apapun ... tapi ini lantai 2, aku bisa melompat dari jendela. Tidak terlampau tinggi. Paling, jatuh biru-biru.
Ken menatap keluar, mengumpulkan tekad dan memberanikan diri membuka jendela. Di luar angin berhembus sedikit dingin. Ia mengeluarkan tangannya.
Yang pemuda itu tidak tahu, di sebelah adalah kamar Irish. Saat itu, wanita itu pun berdiri di depan jendela dan melihat keluar. Ia merasa aneh ketika melihat ada bayangan yang bergerak seperti tubuh manusia dari arah kiri. Ia menoleh dan terkejut melihat pemuda itu yang sudah hampir mengeluarkan tubuhnya dari jendela.
"Ah!"
Irish tak kalah cerdik. Ia berlari ke tangga dan berteriak. "Ken, pemuda itu! Dia kabur lewat jendela!"
Orang-orang yang berada di ruang tengah segera berhamburan keluar. Hugo, pria Meksiko itu yang pertama kali menemuinya langsung memukulnya. Ken yang masih setengah sadar ditendang berkali-kali oleh pria berbadan kekar itu.
"Agh! Agh! Agh!"
"Hentikan! Dia tak berguna kalau sampai cidera," terang Irish yang datang menyusul. "Bawa dia kembali ke kamar!" perintahnya.
Hugo segera memanggul Ken yang sudah tidak berdaya itu dan membawanya masuk, diikuti Irish. Vicky dan Ben hanya menyaksikan, sedang Jack melihat dari kursi duduknya di ruang tengah, Ken dibawa ke lantai 2.
Pemuda itu kembali dibaringkan di atas ranjang. Ia berusaha duduk walaupun sempoyongan.
"Tinggalkan kami berdua!" seru wanita itu.
Hugo menurut dan kemudian keluar.
__ADS_1
Irish perlahan mendekati Ken dengan mata dipenuhi amarah membuat pemuda itu bergerak mundur dengan wajah ketakutan. Wanita itu terus mengejar bahkan menaiki ranjang membuat pemuda itu terkejut. Ken menarik tubuhnya ke belakang tapi gagal hingga kembali jatuh terlentang.
"Ah ...."
Saat itulah tanpa sengaja Irish melihat tanda merah kebiruan di tubuh pemuda itu yang tak sengaja tersingkap pada bajunya yang robek. Seketika itu amarahnya hilang, tapi ia masih kesal. Ia menarik kedua tangan Ken dan mengikatnya ke besi di kepala ranjang menggunakan tali tadi.
"Tolong lepaskan aku, aku tidak mau mencuri. Tolong. Kenapa kau memaksaku untuk melakukan ini?"
"Ini bukan untuk kamu pilih," ucap wanita itu acuh.
"Aku tetap tidak mau."
Tiba-tiba wanita itu mencengkram rahang pemuda itu dengan satu tangan membuat pemuda itu kesakitan.
"Ah ...." Ken sulit bicara.
"Dengar baik-baik. Kalau kau tidak mau bekerja sama, kau akan kusiksa. Kau mengerti!" Sekilas wanita itu melihat kalung Ken yang berupa koin. Ia melepasnya dengan paksa.
"Hei, jangan kau ambil itu. Itu kalungku!" teriak Ken.
Melihat reaksi yang berlebihan pemuda itu pada kalung itu, Irish malah menyitanya. Ia membawa kalung itu keluar tanpa bicara.
"Hei, jangan kau ambil kalung itu! Hei!" Ken tak mampu mengejar karena tangannya terikat ke ranjang.
----------+++--------
Ken terlelap. Ia tak sadar seseorang masuk ke dalam kamar.
Orang itu mendatangi dan duduk di tepi ranjang. Ia mengeluarkan sesuatu yang diusapkan ke sekitar perut pemuda itu dengan hati-hati, bekas pukulan yang mulai membiru.
"Ah ...." Ken terbangun karena merasakan sakit di sekitar perutnya.
____________________________________________
Yuk kepoin novel yang satu ini.
__ADS_1