
Wanita itu menekan tombol yang dipasang di dinding. Kali ini terlihat dari dinding, ada banyak lampu sorot yang menyorot secara bergantian ke arahnya dan bergerak sistematik. Ken baru menyadari ada banyak lampu di sana karena sedari tadi ruang itu sedikit remang. Lampu sorot yang banyak dan dan bergerak itu mengingatkannya pada night club.
"A ... pa ini?" Pemuda itu masih melongo.
"Kau hanya tak boleh terkena sinarnya," terang Irish.
"Eh?" Dengan cepat Ken menekan tombol dan tubuhnya bergerak naik.
Otak dan refleknya sejalan. Bagus. Wanita itu tersenyum senang.
"Lalu aku harus apa?"
Mmh, pria cerdas. Irish mematikan lampu sorot itu dan kemudian meletakkan permen cokelat yang masih dibungkus di lantai, tepat di bawah tubuh pemuda itu. Lalu ia menyalakan kembali lampu sorot itu. "Tugasmu hanya mengambil permen cokelat itu tanpa terkena sinar sekalipun."
"Hanya?" Pemuda itu mempertanyakan kalimat wanita itu. "Itu lampu sorotnya begitu banyak. Curang," protesnya.
Sorot mata Irish tiba-tiba tajam ke arah pemuda itu, dan kembali memukul tiang besi itu dengan tongkat keras-keras, membuat Ken terkejut dan menutup telinga saking nyaringnya.
"Aku tidak terima penolakan!" ucapnya tegas.
"Eh, iya ...." Pemuda itu menghela napas pelan.
Ken mulai mencobanya. Ia masih bingung dengan arah lampu yang kadang datang kadang pergi lalu keluar bersilangan. Ia memperhatikannya sambil menurunkan tubuh. Kemudian pemuda itu bergumam. "satu dua, dua tiga satu."
Lalu ia kembali mengulang kalimat itu yang ternyata untuk berusaha mengingat urutan lampu yang keluar dari samping. Setelah memperhatikan dengan kosentrasi, ia menurunkan tangannya perlahan, lalu ... hap, ia mendapatkannya.
Terdengar tepuk tangan dari wanita itu. "Bagus! Ok, selanjutnya."
"Masih? Eee ...." Nada suara Ken terdengar kecewa.
Wanita itu mengutak-atik sesuatu di dekat tombol yang berada di dinding dan tiba-tiba lampu sorotnya datang dari berbagai arah membuat Ken terkejut. Terlebih lagi, sinar lampu ini setinggi manusia, sehingga Ken harus naik lebih tinggi lagi agar tak terkena sinar lampu.
Pemuda itu dengan sigap menekan tombol dan tubuhnya segera naik. "Gila! Ini bunuh diri namanya," teriak Ken kesal. "Aku tidak mau!" Ia kemudian mencari pengikat pinggangnya agar bisa turun.
Seketika tongkat Irish menyambar kaki pemuda itu.
"Awh!" teriak Ken.
__ADS_1
"Kau membantah, akan kusiksa!" Wanita itu bicara tajam seraya menunjuk dengan tongkatnya.
"Kenapa kamu tidak cari orang lain saja, sih!" teriak Ken kesal.
Irish memukul punggung Ken dengan tongkatnya.
"Agh! Pukul saja aku, biar puas!" teriak Ken sudah tak tahan.
"Ho, kamu menantangku ya? Baik!" Wanita itu mencoba memukul punggung pemuda itu dengan tongkat hingga 3 kali dan Ken berusaha bertahan dalam kesakitan. Dahinya sampai berkerut sambil memejamkan mata.
Ken kini mencari pengikat tubuhnya untuk dilepaskan tapi Irish mulai mengancamnya.
"Akan aku buang kalung itu!"
Ken seketika diam karena geram. Ia langsung meliriknya dengan wajah kesal. "Kau jahat! Kau benar-benar jahat!" Matanya mulai mendung.
"Selesaikan latihanmu atau kau tak akan menemukan kalung itu lagi!"
"Baik, akan aku lakukan!" Ken menghapus air matanya yang terlanjur jatuh melewati dahi. Kini ia berusaha berkonsentrasi agar bisa segera menyelesaikan tugasnya.
Mata elang pemuda itu kemudian mengintai kesempatan dan ... ia menekan tombol hingga tubuhnya turun dengan diatur. Kadang turun dan dan kadang berhenti dengan konsentrasi ke arah permen. Sempat berhenti di tengah jalan lalu tangan mengarah turun dan hap ... ia mendapatkannya. Ia berhenti sejenak sebelum naik kembali hingga ia tak terkena sinar lagi saat naik.
Irish menggeleng-gelengkan kepalanya. Pemuda itu sangat jenius karena memperhitungkan semua gerak lampu. Kalau diperhatikan, sebenarnya tidak banyak sorot lampu yang menghalangi tapi itu letaknya di tempat-tempat strategis dan Ken bisa melihatnya. Sungguh pintar pemuda ini!
Padahal Irish menargetkan akan mengajari pemuda itu seharian tapi Ken mampu menyelesaikan tanpa perlu diajari. "Ok."
"Sudah, aku lelah," pinta pemuda itu. Ya, ia belum pernah diberi pekerjaan yang menguras pikiran dan perasaan sehingga ia cepat merasa lelah, apalagi ia tidak terbiasa dengan pekerjaan semacam itu. Ia hanya bekerja sebagai OB(office boy, petugas kebersihan) di sebuah perusahaan swasta. Itu saja, dengan pekerjaan seperti itu, ia dipecat.
Ken mengingat lagi saat-saat awal ia mengetahui Mimi kecelakaan mobil dan itu membuat pikirannya kembali kacau. Ia hanya menunduk saat diturunkan dan diam saja saat dibawa lagi ke kamarnya.
Pemuda itu langsung naik ke ranjang dan membaringkan tubuhnya di sana membelakangi wanita itu. Irish sudah merasakan ada yang berbeda sejak ia menyinggung masalah kalung itu pada Ken. Pemuda itu seperti kehilangan semangat hidup.
"Ken."
Ken tidak tahu sejak kapan wanita itu tahu namanya, tapi ia sangat membenci wanita itu. Tiba-tiba ia merasa sakit di punggungnya karena wanita itu menyentuh bekas pukulannya. "Ah!" Ia menoleh sedikit. "Bisa tidak, kau tinggalkan aku. Aku ingin sendiri. Aku mohon," pinta Ken lirih.
"Punggungmu sebaiknya diobati."
__ADS_1
Ken kembali menatap ke arah jendela membelakangi Irish. Ia sudah tak peduli lagi dengan yang dikatakan wanita itu. Toh, apa yang dikatakannya tak pernah dipedulikan.
Wanita itu mengerti kesedihan Ken dan lalu meninggalkannya. Saat ia kembali lagi membawa makan siang, Ken tetap dalam posisi yang sama seperti tadi, tak bergerak. "Ken." Ia mengintip. Ternyata pemuda itu tidak tidur sama sekali, berarti selama itu ia melamun?
Sedasyat apa kenangan yang mencabut kesadaran pemuda itu, Irish tidak tahu tapi pasti sangat dalam hingga mampu membuat pemuda itu tak ingin melakukan apapun selain berkubang dalam kesedihan. "Ini makan siangmu, Ken."
Pemuda itu tetap bergeming. Irish menghela napas pelan. Sebenarnya ia tak tega melihat pemuda itu acapkali menyerah karena kalung itu tapi ia harus melakukan tugasnya kalau tidak, pemuda itu pasti sudah berusaha kabur lagi entah untuk ke berapa kalinya.
Wanita itu tak lagi menggangu hingga malam tiba. Ia kembali dan mendapati pemuda itu masih dalam posisi yang sama. Bahkan makan siangnya pun tak disentuhnya. Ia kesal hingga membanting plastik yang berisi makan malam ke atas ranjang. Pemuda itu bergeming.
"Ken, ayo turun."
Pemuda itu masih tak bergerak.
"Ken, mau kuhajar, hah!"
Masih diam.
Irish sudah tak sabar hingga menarik lengan pemuda itu hingga pemuda itu tersadar. "Ayo ikut aku!"
Ken masih terdiam. Pandangannya kosong. Irish mencengkram lengan pemuda itu hingga Ken mengaduh.
"Ah!"
"Kamu dengar aku bicara?"
Pandangan pemuda itu terlihat bertanya-tanya.
Irish segera mengambil salah satu bungkus makanan dan memberikannya pada Ken. "Pegang ini." Kemudian ia menarik pemuda itu ke luar kamar. Bahkan menuruni tangga dan pergi ke arah luar.
Orang-orang yang melihat dari ruang tengah hanya memperhatikan kepergian keduanya dari meja makan. Mereka tengah makan dari bungkus makanan yang mereka dapatkan. Kecuali seorang Vicky yang geram melihat kedekatan mereka hingga berdiri.
___________________________________________
Kuy, intip novel ini.
__ADS_1