Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Terpenjara


__ADS_3

"Eh, siapa namamu? Oya, Ken ya? Aku mendengar temanmu memanggil namamu." Pria berpakaian lusuh itu, mengusap tubuh kucing berwarna putih itu, pelan. "Namaku Odagiri. Odagiri Minamoto. Namamu Ken ya, Ken apa?"


Seketika Ken teringat sesuatu. "Ken Tachibana. Oya, temanku itu juga orang Jepang, namanya Ejiro."


"Aku tak tertarik," ucap pria berpakaian lusuh itu singkat. Kemudian ia melirik kucingnya. "Suchan." Kembali ia mengusap kepala kucing itu.


Pria muda itu merengut. "Barangkali saja, ia mau belajar bersamaku. Dia guruku ...."


Belum selesai bicara, pria itu pergi membawa kucingnya, membuat Ken kesal sambil menggigit Bakpao di tangan. Tak lama, pria itu kembali. Ia membawa wadah panjang dari bambu pada Ken. "Di sini ada air mineral yang menetes ke bawah jadi aku hanya menampungnya saja. Ini minumlah."


Pria muda itu yang memang haus, meminumnya. "Aku tak kuat makan banyak pagi hari. Nasinya belum aku sentuh."


"Simpan saja." Pria berpakaian lusuh itu kemudian pergi ke kamar lain.


Saat itulah Ken keluar. Ia memeriksa tempat itu. Tempat itu sangat sempurna untuk pengasingan. Tidak ada cela untuk tempat keluar. Dinding di tempat itu bahkan hampir rata dan tak ada tempat untuk bisa dipanjati. Ia bahkan memeriksa pohon-pohon yang tingginya di sana tapi tetap saja kalah jauh dari lobang di atas tempat mereka masuk.


Ken jatuh terduduk di tanah karena lemas. Ia meninju tanah karena kesal. Aku benar-benar tak bisa keluar tanpa bantuannya. Bagaimana ini?


Odagiri mengintip pria itu dari pintu rumah. Ia tersenyum melihat Ken kehilangan akal karena tak bisa keluar dari tempat itu. Maaf, Ken, tapi ini cara satu-satunya agar kamu mau belajar padaku. Kau orang baik dan aku berharap kau bisa jadi salah satu pemimpin dunia yang bisa membuat dunia ini menjadi lebih baik lagi.


Ken kemudian menghabiskan waktunya di pinggir danau dan duduk di sana hingga sore. Tak juga beranjak, pria berpakaian lusuh itu kemudian memancing di danau.


Pria itu kini telah mengganti pakaiannya dan memakai kimono. Ia melempar ujung kaitnya ke dalam air dan menancapkan pancingan itu ke tanah. Ia duduk di tanah tak jauh dari Ken.


Pria muda itu hanya melihatnya sekilas, kemudian menatap ke arah danau. Kucing berwarna putih itu lalu keluar dari balik pakaian Odagiri. Ia menatap Ken. Kemudian ia menggesekkan tubuhnya pada pria berambut pendek itu.


Ken meraih kucing itu, dan memangkunya. Ia mengusap-usap kucing itu dengan lembut.


"Kau duduk di sini terus, apa kau tak ingin makan?" tanya Odagiri pelan.


Pria berambut pendek itu tak menjawab.


"Kau belum makan siang tapi sebentar lagi malam."


Ken beranjak berdiri dan meninggalkan tempat itu.


"Ken! Apa kau tak ingin jadi kuat, jadi yang tak terkalahkan? Apa kau ingin hidupmu begitu-begitu saja? Dengan sifatmu itu, kamu akan terus bersinggungan dengan orang lain dan pertengkaran itu takkan terelakkan. Aku di sini memberimu solusi, agar kamu bisa tetap menegakkan prinsip-prinsipmu dan tidak akan direndahkan oleh orang lain. Apa kamu masih merasa dirugikan oleh tawaranku itu?"

__ADS_1


Pria muda itu berhenti melangkah demi mendengar kata-kata Odagiri. Walaupun ia masih kesal pada pria itu tapi apa yang dikatakan pria itu benar adanya. Ia memang ingin menjadi kuat agar tidak selalu dianggap pria lemah di mana seringkali ia dicap seperti itu. Dan ia memang lemah. Ia kini ragu untuk melangkah.


"Bagaimana kalau kau menunggui pancingan ini. Aku ingin melihat ulat sutraku dulu, mungkin mereka sudah kehabisan makanan."


Ken menurut. Ia berbalik dan duduk di samping pria itu sementara pria itu berdiri. Odagiri tersenyum menatap pria muda itu walaupun Ken masih belum mau bicara.


Setengah jam kemudian Odagiri kembali dan mendapat kejutan ketika pria muda itu berteriak-teriak memanggilnya.


"Sensei, Sensei, aku dapat ikan!!" Ken mengangkat tali pancing yang ujungnya sudah tertambat oleh ikan yang lumayan besar. Ikan itu bergerak-gerak ingin melepaskan diri karena mulutnya tersangkut kail.


"Oh, ayo kita panggang." Odagiri pun senang, pria muda itu ternyata sudah bisa melupakan kekesalan hatinya.


-----------+++-----------


Hari-hari pun berlalu. Ken mulai belajar dengan latihan pernapasan. Di pinggir danau ia duduk bersila sambil mengatur pernapasan dengan memejamkan mata. Ia sering melakukannya di pagi hari saat udara masih segar.


Lalu kemudian ilmu meringankan tubuh. Ia di ajarkan cara meringankan tubuh dari bobot asalnya dengan latihan berjalan di atas air.


"Mana bisa, Sensei," keluh pria muda itu.


"Itu lihat." Odagiri menunjukkan potongan kayu yang mengambang di atas danau. "Kau hanya perlu berjalan di atasnya dan tak boleh jatuh." Pria itu kemudian mencontohkan. Ia berjalan di atas kayu-kayu yang mengambang itu tanpa pernah terjatuh sekalipun. Bahkan ia berdiri di potongan kayu terakhir dan diam di sana. "Bagaimana?"


"Ayo coba dulu." Odagiri kembali ke tepi danau.


Pria muda itu mencoba menjejakkan kakinya pada potongan kayu.


"Tunggu. Latihan pernapasan kemarin itu dipakai dulu. Itu membantu membuat tubuhmu semakin ringan."


Ken mencoba melatih pernapasan sebelum menginjakkan kaki pada kayu itu, tapi ketika ia mencoba menapakinya, kakinya tenggelam ke dalam air. "Tidak bisa, Sensei."


Odagiri tertawa. "Ya sudah. Latihan terus. Kamu pasti bisa." Pria itu kemudian meninggalkan Ken sendirian.


Pria muda itu mulai berlatih. Di awal, ia berlatih penapasan dulu walau ia tak yakin tubuhnya bisa ringan. Kemudian ia berpikir untuk berlari di atas kayu-kayu itu. Ternyata ia bisa berlari di atas kayu-kayu yang mengambang itu walau pada akhirnya ia jatuh tenggelam pada pijakan terakhir.


Ken berenang kembali ke atas dan bersorak karena gembira. "Yeiii!"


------------+++------------

__ADS_1


Ken sedang memberi makan ular sutra dengan daun murbei yang baru dibawanya ketika guru bela diri itu datang ke tempat itu melihat Ken bekerja.


"Mmh, sensei mau ke kota. Kamu butuh apa?"


"Mmh? Sensei, aku mau ikut," seru pria berambut pendek itu.


"Tidak bisa."


"Lho, kenapa?"


"Kau boleh keluar tapi harus bisa dengan ilmu meringankan tubuhmu sendiri. Kalau belum, kamu tak boleh keluar dari sini."


"Sensei!" gugat Ken.


"Itu sudah peraturannya dari awal, jadi ... cobalah sendiri."


"Sensei ... kenapa kamu terus memenjarakan aku di sini." Pria muda itu merengut.


"Berlatihlah yang rajin. Kelak kau akan keluar dari sini." Odagiri mengacak-acak poni pria itu. Ia kemudian meninggalkannya sendirian.


"Ck!"


"Jangan lupa, titip Suchan." ucap pria berambut panjang di belakang itu tanpa menoleh.


-----------+++----------


Ejiro telah sebulan lebih mencari Ken tapi ia tak bisa menemukannya. Ia yakin pria itu belum berpindah dimensi.


Ia tidak mengerti kenapa pria itu seperti ditelan bumi, tidak ada jejaknya sama sekali, padahal ia sudah mencarinya sampai ke tengah hutan. Apa ia harus mencarinya ke kota lain? Kalau Ken benar dibawa ke kota lain, berarti ia harus meninggalkan usahanya di penginapan itu untuk mencari keberadaan pria itu.


Tak sengaja ia melihat pegawainya Li Nuo sedang memperhatikan seseorang. Ia mencoba melihat apa yang sedang diperhatikannya. "Li Nuo, kau sedang lihat siapa?"


"Pria itu, Pak. Pria itu mirip siapa ya? Rasanya aku mengenalnya." Pegawai itu menunjuk ke seorang pria dengan pakaian Jepang yang sedang berbelanja di toko yang sama dengan mereka.


Mmh ... kalau dibilang kerabat rasanya tak mungkin. Pria itu orang Jepang sedang Li Nuo orang Cina.


"Ah, aku tahu. Pengemis palsu!"

__ADS_1


___________________________________________



__ADS_2