Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Latihan Akrobat


__ADS_3

Ken mengingat lagi kejadian beberapa jam yang lalu. Ia hanya meminta bianglala itu untuk berhenti bergerak tapi benda besar itu mengikuti perintahnya. Benda besar itu! Padahal ia cuma spontan mencoba dan ternyata ia bisa menghentikan benda besar itu. Sungguh luar biasa. Apa ia sanggup memerintahkan benda apa saja untuk berhenti? Benarkah? Apa ini sihir?


Pria Jepang itu mengangkat kedua tangannya. Kedua tangannya ini mampu menyembuhkan luka, dan pikirannya mampu membuat benda berhenti bergerak, lalu apa lagi? Apa ini sungguh-sungguh? Ah, rasanya dia hidup di dalam buku cerita dongeng anak-anak yang belum selesai. Lalu apa lagi kemampuannya? Ini benar-benar kekuatan dewa. Ya, tidak aneh, karena ia memang keturunan dewa.


Ah, aku akan menanyakan lagi hal ini pada Mira. Mira datanglah. Aku merindukanmu.


Bill masuk tatkala Ken telah tertidur. Ia menatap pria yang tidur di depannya dengan bertelak pinggang. Mmh, orang ini ... cepat sekali tidurnya, seakan sudah bekerja keras seharian saja.


Baiklah, aku biarkan kau menikmati mimpi indahmu kini, karena besok, kau akan bekerja lebih keras lagi. Kau sudah dituntut untuk tampil lebih cepat, karena itu, kau harus sempurna.


----------+++-----------


Ken terkaget bangun, karena seseorang telah menendang kakinya. "Agh ...!"


"Bangun pemalas, ini bukan di rumahmu! Kau harus bekerja keras!"


Pria Jepang itu mengernyit dahi sambil membuka matanya yang menyipit. Ia memegangi kakinya yang sakit ditendang pria itu. "I-iya."


"Cepat keluar dan sarapan karena sepagi ini semua orang sudah bekerja," titah Bill. Pria itu mengambil beberapa pakaiannya dan dibawa keluar.


"I-iya." Ken menyusul. Di luar udara sedikit dingin walau cuaca cerah. Beberapa orang sudah berlalu lalang dengan urusannya masing-masing. Meja makan pun terisi beberapa orang yang sedang sarapan.


Ken mengucek-ngucek matanya sambil menguap. Ia merentangkan tangannya mengeliat.


"Ken, sini!" Dari arah meja makan, tangan Lisa melambai-lambai.


Pria Jepang itu akhirnya menyambanginya. Seorang pemuda di samping gadis itu memberi tempat duduk. Ken menganggukkan kepala sebelum ikut duduk di meja itu. Meja itu penuh dengan anak-anak muda yang terlihat lebih muda darinya.


"Teman-teman, ini Ken si anak bawang. Walaupun wajahnya lebih tua dari kita tapi dia belum bisa apa-apa."


Orang-orang yang ada di meja itu menahan tawa mendengar perkenalan Lisa tentang Ken. Bahkan meja lainnya karena suara gadis itu yang lantang membuat pria Jepang itu tersenyum kecut.


"Jadi tolong bantu dia ya teman-teman," ujar Lisa lagi.


"Ok!" Yang lain kompak menjawab dan memandangi pria itu dengan tersenyum.

__ADS_1


Kemudian gadis itu memperkenalkan yang lain pada Ken. "Ini Costa, dia akan jadi teman kita di tim akrobat nanti."


Pemuda bule merambut coklat yang memberinya kursi tadi, tersenyum ke arah Ken.


"Ini Sin Hye dan Sinna, si kembar dari tim akrobatik bola dan kuda."


Dua gadis kembar berambut panjang dari Korea itu menganggukkan kepala pada Ken.


"Dan ini, Jin Li, asisten Bill."


Seorang pria China yang duduk berhadapan, hanya melirik Ken sambil makan.


"Oiya, Ken. Kamu mau sarapan?" Sebelum dijawab, gadis itu sudah berjalan mendatangi wanita yang mengurus dapur di sirkus itu. "Bibi Berta ...."


Seusai sarapan, Ken buru-buru kembali ke karavan Bill karena takut pria itu mencarinya. Benar saja. Pria bule itu selesai menjemur pakaian dan melihat Ken kembali pulang. "Sudah sarapan?" tanyanya dengan bertelak pinggang.


"Eh, sudah, Pak." Pria Jepang itu mengangguk.


"Di sini semua dikerjakan sendiri, kecuali memasak. Aku akan sarapan. Kau bisa mencuci bajumu lalu setelah itu aku tunggu kau di dalam tenda sirkus."


"Oh, iya."


Sinar mentari pagi itu tidak terlalu hangat karena musim yang mau mendekati musim dingin. Pria Jepang itu melangkah memasuki tenda besar yang sedikit hangat di dalam.


Pria Itali itu telah menunggunya di tengah-tengah arena sirkus itu. Ada Sin Hye dan Sinna yang sedang latihan akrobat dengan kuda. Juga ada Lisa dan Costa yang sedang latihan, bergelayutan di atas.


Ken datang menyambangi Bill. "Aku harus apa, Pak?"


Bill menunjuk ke arah sebuah bambu yang di letakkan melintang dengan tinggi sekitar 10 senti dari permukaan tanah. Ujungnya hanya ditahan oleh tumpukan batu bata. Ia kemudian menyerahkan satu bambu lagi pada Ken. "Ini buat penyeimbang. Kau jalan di atas bambu itu dari ujung ke ujung, jangan sampai jatuh. Kalau kau jatuh kau harus ulangi lagi jalan dari titik awal. Kau mengerti? Ayo, kerjakan."


Pria Jepang itu masih bingung tapi mencoba melakukan sesuai instruksi Bill. Ia naik ke atas tumpukan bata dan mulai berjalan di atas bambu tapi langsung jatuh. "Ah! Bambu ini berputar saat diinjak," keluh Ken.


"Cari akal, masa gak bisa!"


Begitu dimarahi, pria Jepang itu terdiam. Ia melirik Bill karena kesal, keluhannya tak ditanggapi. Ia kembali menaiki bambu itu. Pelan-pelan kakinya menginjak bambu yang melintang itu, meraba-raba posisi aman untuk berdiri lalu melangkah.

__ADS_1


"Bambunya jangan dipegang begitu saja. Dijadikan penyeimbang!" ingat Bill.


Pria Jepang itu hanya mendengarkan karena sedang berusaha menyeimbangkan langkah kakinya agar tidak jatuh.


"Tongkatnya!" teriak pria itu agar Ken mendengar.


Saat Ken mencoba mengangkat bambu di tangan, ia kembali jatuh. Wajahnya kelihatan kesal.


Bill meraih bambu yang jatuh itu. "Sini, aku kasih tahu." Ia kemudian menaiki bata dan pria Jepang itu melihat dari tempat ia jatuh. "Pikirkan kau menginjak tempat datar dan hanya perlu menyeimbangkan badan sedikit." Ia mulai melangkah. "Kakimu ... harus dijadikan tangan. Dia harus menggenggam bambu di telapak kaki agar kau bisa berjalan dengan mantap."


Kening Ken berkerut. Kaki menggenggam? Namun pria berdarah Itali itu memang benar memperlihatkan bahwa ia bisa berjalan di atas bambu itu sambil memegang bambu melintang di tangan.


Bahkan ketika bambu itu sedikit berputar di tengah jalan, ia hanya mengikuti bambu itu berputar lalu berjalan lagi, hingga ujung. Begitu mudahnya, seolah-olah bambu itu tak bisa mempersulit hidupnya. Ken bertepuk tangan melihat pertunjukan yang luar biasa itu.


Bill menatap pria Jepang itu tajam.


"Eh, tapi itu benar-benar bagus," ucap Ken. Ia heran, pria itu diberi tepuk tangan malah terlihat tidak senang.


"Serius, Ken!"


"I-iya, aku serius."


"Coba angkat kakimu satu."


"Apa?" Namun pria Jepang itu mengangkat juga satu kakinya ke belakang.


"Ok, terus begitu sampai aku kembali."


"Apa?"


Namun Bill meninggalkan Ken begitu saja. Ia kemudian mendatangi Sin Hye dan Sinna yang sedang latihan. Ia memeriksa latihan mereka.


Ken hanya bisa diam dan bertahan agar tak jatuh. Selama mungkin tapi saat pria Itali itu kembali, Ken terjatuh.


"Maaf," jawab pria Jepang itu sambil menunduk.

__ADS_1


Bill mendekat. "Cepat berdiri dan ganti kaki," ucapnya dengan tegas.


Ken menurut. Kembali pria Itali itu meninggalkannya. Ia naik tangga ke atas memeriksa latihan Lisa dan Costa.


__ADS_2