
Danzo pria Meksiko yang berkulit putih, menarik sebuah kereta makanan ke dekat meja besar itu. Ke sanalah makanan itu dipindahkan. Goras dan Ken membantunya memindahkan makanan yang baru selesai di masak ke sana.
Ramira menyediakan kopi dan teh panas serta perangkatnya sedang Ifanez menyediakan cake, pie dan kue-kue kecil di wadah kue yang cantik.
Pelayan wanita lebih dulu datang ke meja makan untuk menata kue-kue itu di atas meja. Setelah itu mereka meninggalkan meja makan. Dilanjutkan pelayan pria mendatangi meja makan ketika pemilik rumah sudah duduk di sana.
Goras mendorong kereta makanan sedang Ken dan Danzo mengikuti dari belakang.
"Ah, Mami! Kita punya pelayan baru," seru seorang wanita dari meja makan.
Ken yang merasa sedang dibicarakan menatap ke arah orang-orang yang ada di atas meja. Ia terkejut dengan apa yang dilihatnya. Seorang wanita dengan ibu dan kakek neneknya, sebagai anggota keluarga yang ada di meja, tapi yang mengejutkan adalah wanitanya. Wanita yang tentu sangat ia kenal. Namun kemudian Ken menjatuhkan pandangannya karena tidak seharusnya ia memandangi majikan kecuali ketika sedang ditanyai.
Kenapa wanita sialan ini ada di sini? Dia pemilik rumah? Ini benar-benar gila!
Pria Jepang itu kemudian memilih untuk melayani kakek wanita itu ketika wanita itu merajuk ingin dilayani oleh Ken.
"Kakek, aku ingin dilayani oleh pelayan baru itu, Kek."
"Oh, ya sudah," ucap kakek tua yang masih terlihat gagah di tubuh rentanya.
Ken mau tak mau pindah ke samping kursi wanita itu. "Iya, Nona. Nona mau makan makanan pembuka yang mana dulu?"
"Mmh." Wanita berambut merah itu meletakkan telunjuknya di dagu. "Aku ingin salad yang berisi sayur hijau dan jagung saja, beserta smoke beef."
Pria itu memeriksanya. "Maaf, Nona. Ada tambahan bawang bombay di atasnya."
"Tolong keluarkan, sebab aku ingin makan yang itu."
Ken terpaksa mengeluarkan bawang bombay itu satu-satu dari piring yang sudah disediakan, dengan berusaha untuk tidak merusak bentuk yang sudah dibuat sejak awal dengan sebuah capit makanan. Setelah itu, ia meletakkannya di hadapan wanita itu. "Nona mau minum apa? Teh, kopi?"
"Tunggu dulu." Wanita itu mengambil garpu dan memperhatikannya sebentar. "Kau bisa ganti garpuku dengan yang lain?"
Dia bilang dia berusaha jadi orang baik? Sejak pindah ke sini, ia sudah membuatku dongkol berkali-kali. Ken merapatkan geraham. "Kenapa, Nona? Garpu itu baru saja diletakkan di sana dan masih baru."
"Aku tidak ingin tiba-tiba keracunan, iya 'kan? Jadi ganti saja dengan yang baru." Ia tetap menyerahkan garpu itu pada Ken.
__ADS_1
Pria itu sempat pucat tapi melihat wajah wanita itu, Ken tahu, Lucille hanya berbicara asal, tapi sungguh, ia berharap wanita itulah yang sebenarnya harusnya ia racuni. Ia kemudian menyerahkan garpu yang baru pada wanita itu.
"Terima kasih, eh, siapa namamu?"
"Ken, Nona." Pertanyaan basa basi apa ini?
"Oh, Ken. Nama yang bagus. Aku Lucille dan ini ibuku, serta kedua kakek nenekku. Ingat namaku ya, awas kalau kau salah sebut," terang wanita itu sambil menunjuk dengan garpunya.
Suasana yang pura-pura tidak mengenal itu serasa ingin cepat ia lewati, tapi ia bisa apa. Ia harus menunggui wanita itu dan keluarganya makan malam di meja makan, sebab ia harus melayani mereka hingga mereka beranjak dari meja makan.
--------------+++------------
Di dapur, ada beberapa wanita yang saling berbisik saat ia meletakkan piring kotor dari kereta makanan ke tempat cuci piring.
"Eh, hebat tuh dia. Baru jadi pelayan di sini, sudah jadi kesayangan, Nona," ujar Ifanez si rambut pirang.
"Paling ujung-ujungnya jadi pelampiasan," sahut Ramira yang diiringi gelak tawa keduanya.
Ken tentu saja mendengar, tapi ia malas menanggapi wanita yang sedang bergosip, walaupun yang digosipkan adalah dirinya. Karena biar bagaimanapun ia membantahnya, tetap ada saja mungkin yang percaya. Karena itu ia tidak ingin terlalu memusingkan gosip yang beredar di sekeliling dirinya. Setelah makan malam di meja kecil di salah satu sudut dapur itu, ia kembali ke kamar.
Kemudian ia memeriksa pakaian itu satu-satu. Lumayan sih, daripada tidak ada. Kelihatannya masih baru dan sepertinya pas dengan ukuranku.
Pria itu kemudian memilih pakaian dan mencobanya. Ah, syukurlah. Sesuai dengan ukuran tubuhku.
Ia lalu naik ke atas ranjang dan berbaring. Tubuh serasa begitu lemas. Bukan apa-apa. Ia heran pada wanita itu yang bisa dengan mudahnya menguasai keadaan. Bagaimana bisa?
Ken melirik pakaian kerjanya itu yang ia letakan di atas meja sambil membayangkan Mira yang tengah disekap. Sabar ya, Mira. Aku sedang berusaha membebaskanmu dari sana. Maafkan aku yang membuatmu masuk dalam semua kekacauan ini.
-------------+++----------
Pagi itu setelah jalan kaki sejenak di taman belakang, Ken menemukan seekor kucing gemuk berwarna kuning dan putih berjalan sendirian menuju dapur. Ia berjongkok mendekatinya. "Halo, Pus." Pria itu mengusap bulu pendek di tubuh kucing itu. Kucing itu mengingatkannya pada Gojo jika berubah jadi kucing. Hanya kucing Gojo berbulu panjang. Hah ... Gojo. Apa kabar.
Kucing itu kemudian digendongnya. Tiba-tiba seorang pelayan wanita lewat di sana. "Oh, kau sedang bersamanya."
"Iya, kenapa?"
__ADS_1
"Kau dicari Ibu Kepala. Sebentar lagi waktunya sarapan."
"Oh, iya, iya." Ken berdiri dan membawa kucing itu tapi pelayan itu menghentikannya.
"Oh, kucing itu tidak boleh dibawa. Dia harus di sini."
"Oh, gitu?"
"Iya cepat."
Ken melepas kucing itu dan bergegas ke dapur. Sebentar kemudian ia melakukan tugasnya dengan mengurus sarapan pagi di ruang tamu. Pria itu mulai terbiasa dengan pekerjaannya dan cekatan dalam bekerja.
Sehabis mengurus meja makan, ia merapikan meja dan membawa piring kotor ke dapur. Setelah meletakkan semua cucian piring di bak cuci piring, ia mengambil sarapannya dan makan di sana.
Ia makan sambil memperhatikan orang-orang bekerja. Seorang tukang cuci piring, mencuci piring-piring itu dan ada juga yang membersihkan dapur. Sebagian juga ada yang seperti Ken, sarapan di sana.
Seusai sarapan, ia berniat untuk kembali ke taman belakang untuk melihat kucing itu, tapi Ibu Kepala memintanya untuk mengganti
seprei ke empat orang pemilik rumah itu. Jadilah Ken membawa ketiga seprei itu ke lantai atas. Ia mengetuk pintu pertama yang ditemuinya dan pemilik kamar itu adalah ....
"Halo, Ken," sapa Lucille dengan senyum manisnya.
"Eh, aku ingin mengganti sepreimu, kalau kau tak keberatan." Sebenarnya pria itu tidak berharap bertemu dengan wanita itu lagi secepat itu tapi sudah terlanjur.
Lucille membuka pintu kamarnya lebar-lebar. "Ayo, Ken. Silakan masuk."
Sedikit enggan ia terpaksa masuk. Untuk mempersingkat waktu, ia segera membuka selimut yang menutupi ranjang di kamar itu.
Wanita itu menutup pintu. Sedikit tidak nyaman dengan perasaan hati, Ken berusaha fokus. Ia mulai membuka seprei dan sarung bantal di ranjang itu. Wanita itu kemudian duduk di kursi memperhatikan pria itu bekerja. Baru saja Ken merasa lega wanita itu tidak membuat masalah, ocehannya kembali membuatnya kesal.
"Apa kau tahu, aku menyembunyikan bola kristal itu di sini?"
___________________________________________
__ADS_1