Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Penyerangan


__ADS_3

Mereka menunggu. Ken pun begitu. Ingin ia lari saja saat itu tapi tak bisa. Kepala Perampok itu pasti menahannya karena butuh lebih banyak orang saat melakukan penyerangan.


Terdengar suara suitan panjang.


"Ah, ketahuan lagi!" ujar Kepala Perampok itu kesal. "Ayo kita serang." Ia menghela kudanya mendekati pintu diikuti yang lain. 2 orang perampok mendekati dinding dengan kuda di kanan kiri pintu gerbang dan mulai memanjat. Sambil mengintip ke bawah, mereka langsung turun dan menyerang penjaga di balik pintu gerbang. Sesudahnya, pintu gerbang itu dibuka oleh mereka.


Kawanan perampok yang diikuti oleh Ken mulai masuk ke dalam dan melihat situasi. Ada beberapa bangunan terpisah dan di hadapan mereka berdiri beberapa penjaga yang bersiap menyerang.


Kedua perampok yang lebih dulu datang tengah melakukan perlawanan dengan penjaga yang lain. Ken berusaha berada di belakang gerombolan perampok itu agar ia tidak melakukan penyerangan dan hanya melakukan bela diri.


Perang tak bisa dihindari. Begitu masuk mereka langsung diserang penjaga tempat itu yang berjumlah banyak. Perampok menyerang dari atas kuda dengan menangkis serangan yang datang dengan pedang mereka. Ken pun demikian. Ia terpaksa menghunus pedang demi menghindari serangan dari bawah berupa pedang yang sama. Terdengar bunyi pedang yang saling bergesekkan dan suara orang-orang yang terkena pedang itu. Darah berceceran di mana-mana.


"Agh!"


"Uh!"


Ini pertama kali ia melawan dengan pedang. Ilmu bela diri yang ia pelajari sebelumnya sangat membantunya untuk melakukan pertahanan. Namun lama-lama ia juga harus berani menyerang karena keganasan para penjaga rumah itu menyerang dirinya.


"Terus, serang penyusup ini!" teriak seseorang.


Tiba-tiba, saat masih melakukan penyerangan, ada serangan anak panah menuju kelompok mereka. Tentu saja ini membuat kelompok itu kelimpungan karena serangan penjaga saja sudah terlanjur banyak, ditambah lagi serangan anak panah yang berjumlah puluhan membuat pertahanan mereka melemah.


"Agh!"


"Ah!"


Satu persatu kelompok perampok itu terkena anak panah dan Ken bisa melihat potensi kekalahan yang lebih besar. Daripada tertangkap, ia memilih melarikan diri. Di saat ia mencapai pintu gerbang, sebuah anak panah menembus bahunya dari belakang tanpa sanggup ia hindari.


"Agh!"

__ADS_1


Ia melirik sekilas ke belakang dengan menyipitkan mata menahan sakit. Para gerombolan perampok itu mulai tumbang. Sekarang waktunya ia harus bisa kabur sebelum tertangkap sebagai kaki tangan penjahat, tapi kemudian di depannya ia dihadang 3 orang penjaga yang sudah bersiap dengan pedang mereka.


Ken yang tadinya mengangkat pedang dengan kedua tangannya, sekarang sudah kesulitan mengayunkan pedang, karena nyeri dibahunya itu. Ah, sial! Bagaimana ini?


Sebuah pedang hampir saja mengenai tubuhnya jika saja sebuah pedang panjang lain tidak melindunginya. Ken terkejut. Seorang pria misterius dengan pakaian ninja berwarna hitam dan wajah tertutup kain telah melindunginya.


"Cepat pergi! Aku akan menahan mereka," teriak pria itu.


"Mmh. Terima kasih." Ken melarikan kudanya menyusuri tepi hutan dengan kencang. Ia berlari sejauh yang ia bisa hingga ia merasa sudah jauh dari tempat itu dan tidak ada yang mengikutinya. Ia kemudian berhenti.


Di sebuah pohon besar ia menepi dan turun dari kuda. Ia melihat bahunya yang terluka. Dengan keberanian yang tinggi ia mencoba mencabut anak panah itu. "Agh!"


Darah mengucur keluar dari luka itu di mana di saat bersamaan ia harus menahan sakit akibat mengeluarkan paksa anak panah itu. Segera ia mengobati luka dengan menutup luka itu dengan tangannya. "Egh!" Keringat dingin keluar karena ia terus menahan rasa sakit. Ia terus menekan hingga hilang rasa sakit itu dari bahunya.


"Ahh ...." Ia akhirnya bisa bernapas lega. Ia menjatuhkan diri di rumput karena kelelahan.


Terdengar langkah kaki kuda yang berpacu kencang di kejauhan. Ken segera terduduk dan melihat seekor kuda berlari kencang ke arahnya. Ia panik. Bagaimana ini? Bergegas ia menaiki kuda tapi kali ini ia memacu kudanya ke arah hutan.


Ia jatuh terguling dan untungnya tidak tertindih kuda yang juga jatuh di sampingnya tapi kepalanya sempat terbentur kepala kuda yang membuat kepalanya kini pusing. "Aduhh ...."


Terdengar derap langkah kuda yang berlari mendekat. Ken yang masih pusing, berusaha merangkak untuk melarikan diri. Terdengar lagi suara kuda yang berhenti di belakangnya dan seseorang turun. Ken yang ketakutan bergegas mempercepat diri merangkak menjauh hingga orang itu menyentuh belakang lehernya.


"Ken!"


Suara itu. Pria berambut pendek itu mengenali suara itu tapi ... ia harus kabur darinya. Ia segera berdiri dan berlari tanpa menoleh.


Pria berpakaian ninja itu tentu saja terkejut. Ia mengejar Ken dan menjatuhkannya ke tanah.


"Ah!"

__ADS_1


Pria itu menindihnya dan menatap wajah pria berambut pendek itu. "Ken! Apa kau tak mengenaliku?" Ia kemudian membuka kain penutup wajahnya. "Ini aku!"


Ken bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. "Oh, Pak Ejiro ...," ucapnya sambil tersenyum. "Terima kasih telah menolongku."


"Eh, bagaimana dengan bahumu?" Baru saja Ejiro hendak menyentuh bahu pria berambut pendek itu, pria itu memiringkan bahunya dan berusaha menutupinya dengan tangan.


"Ahh ...." Ken berpura-pura kesakitan. "Eh, tidak apa-apa, Pak."


"Biarkan aku memeriksanya." Pria bercodet itu hampir menyentuh bahu itu lagi kalau saja tidak ditahan oleh tangan Ken.


"Eh, tidak apa-apa, Pak. Sungguh."


Suasana hutan yang remang-remang membuat pria itu tidak bisa melihat luka di bahu Ken dengan jelas. Ia hanya bisa melihat bercak noda darah di bahu pria berambut pendek itu. "Kau sudah mencabut panah itu ya? Biarkan aku lihat lukamu."


Kembali Ken menggerakkan bahu itu menjauh hingga membuat pria bercodet itu mengerut kening. "Aku berniat pergi. Aku tidak ingin merusak nama baikmu sebagai seorang pengusaha. Terima kasih, atas pertolonganmu tapi biarkan aku pergi."


Ejiro menatap lekat pria itu. Dia seperti orang yang berbeda dari sebelumnya. Dia terlihat cerdas. Dia menyembunyikan sesuatu, tapi apa? Apa ... aku hipnotis saja dia. Lama pria itu memandangi Ken.


"Pak, tolong ...," ucap pria berambut pendek ini membuat Ejiro tercengang.


Dia bisa tidak terpengaruh hipnotisku, luar biasa! Pria bercodet itu pun akhirnya berdiri. "Maaf."


"Eh, tidak apa-apa." Ken membersihkan diri dari tanah dan daun dengan menepuk-nepuk bajunya.


Tiba-tiba Ejiro menyerang dengan memiting tangannya ke belakang. "Ahh! Lepaskan ...."


Pria itu memeriksa bahu Ken dan terkejut. Tidak ada luka di tempat itu padahal jelas-jelas ada bekas lobang panah di bajunya, begitu juga noda darah yang masih segar membasahi baju kimono itu tapi luka itu seperti hilang ditelan bumi. "Di mana luka itu? Kamu bisa menghilangkan lukamu sendiri dengan sangat ajaib. Siapa kau sebenarnya? Penyihir atau manusia setengah dewa?"


"Ah, apa?"

__ADS_1


__________________________________________



__ADS_2