Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Sirkus


__ADS_3

Pemuda itu berlari melewati toko-toko. Aku harus lari ke mana ini? Astaga .... Ken kebingungan. Kalau lari terlalu jauh, ia takut tak bisa kembali pada Mira, tapi ia harus berusaha untuk tak tertangkap. Aduhh ... aku harus ke mana?


Dalam kebingungannya, ia masuk kembali ke daerah pertokoan, dan asal berbelok agar Hugo dan Vicky tak bisa lagi melihatnya.


Sialan! Lari ke mana lagi itu orang. Vicky sibuk mencari-cari Ken yang berlari masuk ke gang-gang di daerah Chinatown (perkampungan orang cina) itu.


Hugo menemukan Ken. "Hei, kau!"


Pemuda itu terkejut dan kembali lagi berlari. Ken melihat seseorang yang memakai kostum badut di dekat pintu kereta bawah tanah sedang menari-nari. Ah, seandainya aku bisa meminjam pakaian kostum badut ini untuk bersembunyi ....


Tengah berpikir begitu, kaki pemuda itu seperti tersandung sesuatu dan ia terjatuh ke arah tangga menuju stasiun kereta bawah tanah. Ia kaget. "Ah ...."


Matanya memejam seketika karena membayangkan akan jatuh ke bawah di setiap anak tangga dan itu pasti menyakitkan. Namun alih-alih ia merasakan itu, Ken merasa telah jatuh tertelungkup ke atas sebuah tanah berumput liar. Ia mendengar keramaian dan suara musik yang ramai. Pria itu membuka mata dan mengangkat wajahnya lalu melongo. Di mana ini?


Di depannya terpampang sebuah gambar yang berbeda. Sebuah sirkus dengan tenda besar di bawah langit malam. Apa kini ia sudah berpindah lagi? Sirkus? Di mana ini? Ia masih melongo.


Pelan-pelan pandangannya terusik. Ada dua orang anak kecil yang tengah berbisik sambil mengintip, dari celah sambungan dinding tenda besar sirkus di depannya. Mereka berbicara dalam bahasa Perancis yang langsung dimengerti Ken.


Pria itu segera berdiri. Ia langsung tahu bahwa anak-anak nakal itu tengah menonton sirkus dari celah itu tanpa bayar. Ia lalu mendekatinya. "Nah ya, kalian!" Ken berusaha mengagetkan kedua bocah bule itu yang terkejut lalu lari kocar-kacir dari tempat itu. Ia tergelak.


Pria itu kemudian mengalihkan pandangan pada celah yang sedikit terbuka itu. Suara musik yang khas menarik matanya untuk mengintip, sedang ada acara apa hingga penonton begitu riuh terdengar soraknya. Oh, macan yang mau melewati lingkaran api! Oh, keren sekali ...


Ken yang mengintipnya bahkan terpukau. Apalagi posisinya itu dekat dari panggung sehingga ia bisa melihat kehebatan macan itu dari dekat.


"Hei, apa yang kau lakukan?" Seorang pria bertubuh tinggi besar, menarik kerah bajunya dari belakang dengan kasar.


Ken terkejut.


"Kau mengintip ya? Tidak mau bayar!" tuduh pria itu.


"Eh, bukan gitu. A-aku baru saja mengusir anak-anak yang menonton di sini tadi," terang Ken tergagap. Pasalnya pria itu masih mencengkram kerah bajunya kuat-kuat.


"Bohong! Kamu pasti maunya menonton acara kami dengan gratis, iya 'kan?"


"Eh, tidak-tidak. Bukan begitu ...."

__ADS_1


Namun, sia-sia saja ia bicara karena pria itu tak percaya. "Kamu ini, sudah dewasa tapi bukannya memberi contoh yang baik pada yang muda tapi malah begitu."


"Aku tidak begitu. Aku tidak seperti yang kau kira!" Ken berusaha melepaskan diri tapi tak bisa karena pria itu menarik kerah bajunya lebih tinggi, hingga pemuda itu tak bisa berkutik. "Hei, dengar dulu kata-kataku!"


"Dasar pelit! Kalau kulaporkan kamu ke polisi, kau akan didenda dengan uang yang tidak sedikit. Apa kau mengerti itu?!" Pria itu mengguncang-guncang tubuh pemuda itu saking geramnya.


"Hei, tunggu dulu. Aku tidak begitu!"


Namun pria itu telah menyeret Ken untuk mengikutinya. Berapa kali pemuda itu coba terangkan, tapi pria itu tak percaya. Ia dibawa ke sebuah tempat yang letaknya sedikit jauh dari sirkus itu. Sepertinya itu adalah tempat para orang-orang sirkus itu tinggal.


Tempat itu dipenuhi oleh hal-hal aneh. 2 orang pria kerdil dengan baju kurcacinya, kandang gajah, seorang wanita dengan dandanan aneh mengalungkan seekor ular besar di lehernya, dan beberapa lagi lainnya. Namun Ken hanya bisa melihat sekilas saja, karena ia ditarik paksa ke sebuah karavan yang letaknya di pinggir dekat sebuah lapangan. Pria itu mengetuk pintu karavan itu.


"Siapa?"


"Ini aku, Bos."


"Bing, ada apa?" Pintu terbuka. Seorang wanita muda berambut merah muncul dari balik pintu. Parasnya yang sangat cantik tak bisa ditutupi walau dengan pakaian penyihirnya sekali pun.


"Ini. Orang Jepang ini, penonton gratisan!" terang Bing.


Wanita itu menatap wajah pria Jepang itu.


"Benar. Aku tadi mengusir 2 anak kecil yang mengintip di sana," terang pria itu membela diri.


"Bing, bawa dia masuk!"


"Baik, Bos."


Wanita itu duduk dibalik sebuah meja yang menghadap keduanya. Kemudian ia menatap Bing. "Bagaimana ceritanya tadi, Bing?"


"Dia kupergoki sedang mengintip dari cela tenda sirkus, Bos."


"Itu tidak benar," sangkal Ken.


"Yang benar apa?" tanya wanita itu lagi.

__ADS_1


"Aku baru saja mengusir 2 orang anak kecil yang sedang mengintip di sana." Cerita pria Jepang itu lagi.


"Apa kau melihat ada anak kecil di sana, Bing?"


"Tidak ada."


"Tapi benar, aku mengusir anak kecil itu dengan ngagetkannya, jadi anak kecil itu lari," terang Ken kesal.


Cara berceritanya yang lucu seperti anak kecil membuat wanita itu senyum di kulum. "Tapi tidak ada anak kecil, kau mau bantah bagaimana?"


Ken mengerucutkan mulutnya.


"Lalu, kenapa kau ada di sana?"


"Dia, jelas-jelas mengintip, Bos," sahut Bing.


"Benarkah?" tanya wanita itu pada Ken. Ia melihat kerah baju pria Jepang itu yang masih dicengkram Bing. "Tolong, lepaskan dia."


Bing melepaskan pria itu.


Pria Jepang itu bingung bagaimana menceritakannya. Ia menggenggam tepian kemeja dengan kepala tertunduk. "Aku hanya ... aku hanya ingin tahu apa yang dilihatnya, itu saja. Sayang, tidak ada yang melihat aku mengusir anak kecil itu, padahal aku benar-benar telah melakukannya."


"Sebentar atau lama, kau telah mengintipnya. Memangnya untuk apa kau berada di belakang tempat sirkus itu, mmh?"


Ken tak bisa menerangkan itu. Bahkan tak terlintas bagaimana cara berbohong mengenai hal itu, tapi ia juga tidak bisa mengiyakan apa yang tidak ia kerjakan. Sungguh dilema.


"Kalau begini caranya, kami harus menyerahkanmu pada polisi dan keluargamu harus membayar denda untuk mengeluarkanmu dengan biaya yang tidak murah. Apa kau kini tahu, kerugianmu malah lebih besar dari pada kau membeli tiket masuk sirkus kami?"


Pria Jepang itu mengangkat wajahnya. "Tapi anda juga rugi kalau membawa aku ke kantor polisi karena tidak ada keluarga yang mau membayar denda itu. Aku hanyalah seorang anak yatim piatu yang tak punya tempat tinggal," ucapnya dengan rasa menyesal. "Aku minta maaf, kalau apa yang kulihat dianggap mengintip tapi aku tidak berbohong soal kedua anak kecil itu."


Wanita itu terdiam sejenak. "Kau tidak bohong soal dirimu yang yatim-piatu itu 'kan?"


Ken mengangguk. Ia yakin di tempat yang ia datangi itu, ia tak punya orang tua.


Wanita itu melirik Bing. "Bagaimana kalau dia menggantikan Alden?"

__ADS_1


"Mmh?" Bing mengangkat kedua alisnya.


__ADS_2