
"Pak, sudah terlihat, Pak," seru pria yang bekerja di dekat layar monitor, langsung menunjuk ke arah dinding kaca yang ada di depannya.
Ya, kini semua orang bisa melihat di ujung sana ada sebentuk benda di atas air yang tengah terbakar.
"Lihat, Ken. Apa rencanamu?" tanya Kapten yang kini menoleh pada pria itu.
"Rencana?"
"Iya, operasi penyelamatannya."
"Eh, kalau itu. E ...." Ken mencari akal. Sebab ia tidak tahu menahu mengenai hal ini sama sekali. "Eh, begini saja. Kapal yang terbakar itu 'kan panas, jadi usahakan tidak terlalu dekat juga saat menolong penumpang yang selamat agar anggota kita tidak terkena masalah. Kapal juga jangan terlalu dekat. Mungkin kita perlu perahu karet untuk mendekat dan penumpang yang selamat kita bawa dengan perahu itu, bagaimana?"
"Mmh, tapi kita tak punya banyak perahu karet."
"Tidak apa-apa, kita maksimalkan saja. Bila ada yang tak bisa berenang, paling tidak kita bantu agar bisa mengambang di air cukup lama, selagi menunggu giliran untuk bisa naik perahu karet, bagaimana?"
"Mmh, aku setuju. Yang lain dengar, 'kan? Ya sudah, kalian bisa berganti pakaian," ucap pria berpangkat Kapten itu pada anak buahnya.
"Siap, Kapten," ucap yang lain serempak.
Berganti pakaian apa ya?
"Kapten Higarashi, penumpang sudah banyak yang terjun dari kapal yang terbakar itu, Pak," sela pria yang berada di dekat monitor. Ia menunjuk gambar di monitor di mana ada gambar titik besar yang dikelilingi titik-titik kecil.
"Kalau begitu, kau langsung saja Letnan," perintah Kapten itu pada Ken.
"Siap, Pak!" Ken keluar mengikuti yang lain. Ia pusing memikirkan bagaimana caranya berenang. Kalau ia tak bisa melakukan itu, berarti, dialah berikutnya yang akan ditolong. Pura-pura sakit juga percuma, karena ini bukan sekolah di mana ia bisa berbohong dan tugasnyalah menolong orang dengan berenang ini. Pria ini benar-benar pusing tujuh keliling memikirkannya.
Ternyata mereka turun lewat sebuah lubang dengan tangga besi. Di bawah sana, perlengkapan mereka sudah tersedia. Baju berenang dan oksigen. Ken pernah melihat ini di televisi tapi baru kali ini melihatnya secara langsung.
"Ayo, Letnan. Ini bajumu." Seorang anak buahnya menyerahkan sebuah setelan baju berenang padanya.
"Oh, iya. Terima kasih." Ken berganti baju dari melihat anak buahnya berganti pakaian.
"Bapak mau bawa oksigen?"
__ADS_1
"Oksigen?" tanya Ken heran.
"Iya, karena tabung oksigennya tidak banyak."
Yang namanya tabung pasti berat. Kalau berenang saja aku tidak bisa, berarti memakai tabung itu bunuh diri. "Eh, yang lain saja pakai."
"Oh, terima kasih, Pak."
Mereka kemudian naik ke atas. Mereka pergi ke geladak di mana perahu karet itu tersimpan. Ada 5 perahu karet yang berukuran kecil yang kemudian langsung diturunkan. Anggota tim satu persatu terjun seiring perahu itu turun satu-satu.
Ken kebingungan karena anak buahnya terjun ke air yang jauh di bawah. Namun melihat kapal itu yang hampir sebagian besar terbakar, dan melihat seorang anak kecil yang tak bisa berenang, ia lupa dirinya tak bisa berenang dan meloncat ke laut.
Padahal jaraknya masih jauh tapi pria itu lekas naik dan mengejar anak itu dan tanpa disadari ia telah berenang untuk mencapai anak kecil itu. Setelah dapat ia membawa anak itu mendekati perahu. Anak itu terlihat pucat dan ketakutan lalu menangis. "Ibuuu."
"Nanti dicari ya, ibunya di mana," bujuknya pria itu dalam bahasa Indonesia.
Anak itu mengangguk. Ia diam saja saat Ken membawanya sampai ke perahu karet. Salah satu anak buahnya yang berada di atas perahu mengangkat bocah itu masuk, lalu Ken mencari korban lainnya.
Oh, ternyata aku bisa berenang. Syukurlah. Ken mengurut dada. Ia kini bisa melihat kapal yang tidak besar itu tengah terbakar dengan api yang cukup besar. Tentunya hawanya sangat panas sehingga Ken mencoba melihat lebih teliti jika ada yang terjebak di dalam kapal, dari jarak aman. Ia tidak melihat ada yang berteriak minta tolong kecuali dari yang berasal dari luar.
Beberapa perahu karet sudah bergerak kembali ke kapal angkatan laut Jepang dengan membawa beberapa penumpang yang terselamatkan. Para penumpang itu kemudian naik ke kapal itu dengan tangga tali.
Perahu karet berhasil menyelamatkan banyak penumpang. Jumlahnya hampir 300 orang dari anak kecil hingga orang dewasa tapi banyak juga yang jadi korban kapal terbakar itu karena menurut keterangan, di kapal itu terdengar bunyi ledakan sebelum terjadi kebakaran.
Kapal penyelamat dari pihak Indonesia pun datang walau terlambat. Kapal yang terbakar itu mulai padam sehingga mereka mencari sisa-sisa penumpang atau orang yang tenggelam hingga ke dasar laut sambil menunggu kapal itu tak lagi panas.
Kapal angkatan laut Jepang segera bergerak ke pantai terdekat agar bisa menurunkan korban kapal itu agar segera mendapat perawatan. Ken yang lelah, kembali ke kamar.
Pria itu terkejut ketika mendapati seorang wanita berdiri di depan kamarnya memunggunginya. Siapa ya ini? Perasaan anggota kapal ini semuanya laki-laki. Kalau penumpang yang tadi kuselamatkan, kenapa pakaiannya kering? Sambil berpikir ia mendekat wanita itu. Seketika wanita itu menoleh.
"Ibu?"
"Kenzie, ibu menengokmu."
Ken hampir saja memeluk ibunya ketika menyadari dirinya masih dengan pakaian renang yang basah. "Sebentar, Ibu. Aku mandi dulu." Ia mempersilakan ibunya masuk. Ia mengambil pakaian ganti dan handuk dan pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Seusai membersihkan diri, ia mendatangi ibunya sambil mengerikan rambut. Wanita itu mendekat dan mencoba membantu Ken mengeringkan rambutnya.
"Ibu sudah, Bu. Aku bisa sendiri," sahut Ken.
"Ibu selalu merasa bersalah bila ini menyangkut tentangmu."
"Ibu, sudah."
Wanita itu masih terus saja mengusap rambut pria itu dengan handuk. Ken terpaksa diam. Ia menikmati rasa sayang yang diberikan walau hanya sekedar mengusap rambutnya yang basah. Setelah dianggap cukup, barulah wanita itu berhenti.
"Kalau ibu bisa ke sini, berarti Mira bisa ya, Bu," tanya Ken yang tiba-tiba teringat pada gadis itu.
"Anak itu ibu skors karena sudah menghilangkan bola kristal itu."
Pria itu kaget. "Ibu jangan hukum dia, Bu. Dia mencoba menolongku ketika bola itu dicuri! Itu juga sebagian salahku, Bu."
"Dia bekerja padaku. Kalau salah ya dihukum!" ucap ibu tegas.
"Ibu jangan begitu, Bu. Lalu siapa yang akan menolongku nanti?"
"Ibu akan carikan orang lain lagi. Ibu lagi memikirkan untuk memecatnya, karena dia tidak bisa menolongmu dan menghilangkan bola kristal itu. Levelnya juga akan ibu turunkan."
Ken syok. "I-ibu jangan lakukan itu, Bu. Dia tidak tidak salah. Di umurnya yang masih begitu muda dia diberi beban seperti itu jelas tidak mungkin."
"Karena itu ... Dia sudah tahu resikonya, jadi wajar kalau sewaktu-waktu harus keluar dari pekerjaan ini," ucap Ibu berapi-api.
Pria itu panik. "Ibu, jangan begitu, Bu. Aku memang terluka tapi lukaku sudah sembuh. Lagipula, perkara bola kristal itu, 'kan masih banyak cadangannya 'kan, Bu?" bujuknya lagi.
"Kata siapa? Bola kristal itu adalah bola kristal ajaib milikku dan hanya punya 3 buah di dunia ini. Satu sudah dicuri dan satu lagi dihilangkan Mira. Kalau ia menghilangkan bola kristal itu sekali lagi, bagaimana lagi caranya ibu mencarimu, Ken?"
Ken menelan salivanya. Hanya tinggal satu?
__________________________________________
__ADS_1