Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Pelayan


__ADS_3

"Aku akan membebaskan gadis itu kalau kau telah selesai menunaikan tugasmu."


"Tapi ... kenapa harus aku?"


Pria itu tersenyum lebar. Ia merapikan jasnya. "Karena aku percaya, kau pasti akan melakukan tugasmu dengan baik." Ia kemudian mengarahkan pandangan pada anak buahnya. "Ayo, tutup lagi matanya dan bawa ia ke sana."


"Baik, Bos," sahut anak buah pria bule itu.


"Ingat, kau sudah kudaftarkan sebagai pelayan baru di sana. Jangan sampai kau mengecewakanku yang sudah susah payah membunuh seorang pelayan di sana," ucap pria itu dengan suaranya yang berat tanpa rasa bersalah.


Ken tak bisa berbuat apa-apa ketika matanya di tutup kembali dan dibawa pergi. Pria ini sanggup melakukan apapun demi ambisinya, bahkan menghilangkan nyawa orang sekaligus. Sebaiknya aku tidak gegabah menghadapinya. Apa ini sebuah organisasi, atau sebuah ambisi pemiliknya yang aku tidak tahu sebabnya? Entahlah.


Dengan perjalanan memakan waktu sekitar 15 menit, mobil kemudian berhenti. Penutup mata dan ikatan tangannya kemudian dibuka. "Coba lepas pakaian luarmu itu," ujar pria yang melepas ikatannya itu.


Ken menurut. Ia melepas pakaian orang Arab yang telah membuatnya kepanasan. Setelah itu mobil bergerak menyeberang jalan. Di depannya, sebuah rumah besar dan megah mirip istana dengan taman yang luas dan indah. Mobil kemudian parkir di dekat pintu masuk.


Ia kemudian turun bersama pria itu dan mendatangi pintu depan. Setelah menekan bel, seseorang datang membuka pintu. Seorang wanita muda dengan pakaian pelayan muncul dari balik pintu.


"Bisa Saya bertemu kepala pelayan? Saya membawa pelayan yang dia minta," ucap pria yang membawa Ken itu.


Wanita itu melirik pada pria Jepang itu dan kembali pada pria itu. "Baik, sebentar."


Tak butuh waktu lama, pelayan yang lain datang. Dari wajahnya yang tak lagi muda, terlihat bahwa ia cukup senior karena sopan dan tegas. "Apa dia bisa bekerja dengan baik?" Ia meragukan Ken karena wajah orientalnya yang tak biasa. Ia memang meminta pelayan yang berwajah bersih tapi ia tak menyangka bila ditawari orang asia. "Apa dia orang China? Bisa berbahasa Inggris?"


"Dia orang China dan bisa berbahasa Inggris dengan lancar."


Ken melirik pria bule yang membawanya. Orang China? Apa semua orang asia di dunia ini hanya orang China saja? Sempit sekali pengetahuan orang ini, batinnya kesal.


"Baiklah, tapi di mana barang-barangnya?" Wanita itu melihat pria Jepang itu yang tak membawa tas sama sekali.


"Oh, tasnya ketinggalan. Nanti akan dikirim," kilah pria bule itu.


"Mmh, begitu. Ok. Ia kuterima dulu. Kirimkan barang-barangnya secepatnya."


"Baik, akan kami lakukan." Pria itu kemudian mengundurkan diri.

__ADS_1


Ken kemudian dibawa masuk oleh wanita itu.


Sambil mengunci pintu, wanita itu mengomel. "Kenapa badanmu bau sekali seperti baru keluar dari pasar, mmh?" Ia mengerut kening.


Ken mencoba mencium bau tubuhnya. Tentu saja bau tubuhnya sedikit menyengat karena ia habis berlari-lari dengan pakaian berlapis, setelah itu ia juga melakukan perjalanan jauh. "Maaf." Hanya kata itu saja yang bisa keluar dari mulutnya sambil tertunduk.


Pria itu dibawa ke sebuah kamar dengan ukuran sedang, berjendela menghadap taman dengan kamar mandi sendiri di dalamnya. Ranjang single yang nyaman dengan sebuah lemari pakaian dari kayu yang kokoh, juga dengan tambahan sebuah meja kecil dengan kursinya. Ini sebuah kamar yang bagus untuk hanya seorang pelayan! "Ini kamarmu. Tunggu sebentar, aku akan ambilkan pakaian pelayanmu." Wanita itu kemudian pergi.


Ken memandangi kamar itu dengan senang. Padahal tadinya ia berniat menyewa kamar tapi kini ia dapat tempat tinggal dengan kamar yang nyaman. Setidaknya kebahagiaan kecil ini bisa menghiburnya. Ia kemudian duduk di tepian tempat tidur dan teringat lagi pada gadis itu.


Maafkan aku, Mira, usahaku tidak berhasil, tapi setidaknya tidak ada yang berani mencelakaimu saat ini. Namun begitu, pria itu tetap merasa bersalah karena tak sanggup membelanya. Bahkan mereka malah tertangkap berdua. Itu membuat hatinya sedih.


Tak lama wanita itu datang dengan mengetuk pintu. Ia memberikan 2 pasang pakaian pelayan pada Ken. "Kau harus segera mandi dan mengenakan pakaian ini sebab kau harus mulai bekerja hari ini. Segera datang ke dapur selesai kau berpakaian."


"Baik eh ...." Pria itu melirik wanita itu.


"Ibu Kepala."


"Ibu Kepala," ulang Ken.


"Ok, aku tak suka menunggu." Wanita itu keluar tanpa basa basi.


Ibu Kepala itu segera melihat Ken dan memanggilnya. "Ke sini," katanya memanggil dengan tangan.


Ken setengah berlari mendatanginya. Wanita itu memperhatikan pria itu dari bawah hingga atas, penampilannya.


"Apa ada yang salah?" tanya pria itu dengan polosnya.


"Tidak. Kau sedikit berbeda dengan orang Cina lainnya."


"Berbeda? Maksudnya?"


"Orang Cina itu berwajah serius, tapi bertindak santai."


"Lalu aku?"

__ADS_1


"Kamu itu kaku tapi berwajah polos seperti anak-anak."


Sebagian besar orang di sana yang merupakan kaum hawa tertawa mendengarkan komentar wanita itu.


Ken sedikit kesal karena ia bukan anak-anak lagi tapi dianggap punya wajah yang tak dewasa, tapi ia berusaha mensyukuri. Untung saja ia tak menyebutku punya wajah seperti orang bodoh seperti yang lainnya. Ia menahan mulutnya yang hampir saja merengut, mengingat keadaan Mira yang masih disandera.


"Tapi justru kau cocok jadi pelayan di meja makan. Pelayan di meja makan dibutuhkan yang kaku sepertimu."


Entah itu pujian atau tidak tapi Ken berusaha untuk berpikir positif dengan berusaha bekerja sebaik mungkin di sana.


"Tapi kau harus tahu Table Manner(tata cara makan) dan cara melayani orang-orang yang makan di meja makan. Apa kau tahu itu?"


"Eh, tidak," jawab Ken jujur.


"Ya, aku bisa melihat dari wajahmu."


Beberapa dari wanita di dapur itu tersenyum mendengarnya. Mulailah Ken belajar dari wanita itu bagaimana melayani tamu di meja makan dan itu sangat susah ternyata, tidak seperti kelihatannya.


Apalagi Table Manner yang dibicarakan wanita itu. Ia harus mengingat yang mana sendok sup, sendok makan, dan sendok untuk makan makanan penutup. Lalu sikap tubuh saat menuang Champagne, menghidangkan makanan di depan para tamu, atau saat bicara dengan para tamu atau pemilik rumah. Ia tidak tahu bahwa peraturannya begitu banyak. Dan benar saja, sikap tubuhnya sebagai orang Jepang banyak membantunya memahami pekerjaan ini.


"Hidangan sudah selesai, Ibu Kepala," ucap Kepala Koki memberi tahu.


Hidangan yang dimaksud, sudah tertata rapi di atas meja besar itu. Terlihat hidangan itu dihias sedemikian rupa sehingga cantik dan berkelas.


"Ok, sekarang, Danzo, Goras dan Ken. Kalian sajikan makan malam ini di atas meja makan," ucap Ibu Kepala.


"Apa?" Ken terkejut.


"Aku kan sudah bilang padamu, kalau kau akan mulai bekerja hari ini." Wanita itu mengingatkan dengan nada suara yang tegas.


Pria itu tak berani bicara lagi. Ia harus bisa, tidak bisa tidak. Padahal ia baru saja mempelajarinya.


"Ramira dan Ifanez. Kalian juga ikut membantu mereka menghidangkan makanan di sana."


"Baik, Ibu Kepala," sahut kedua wanita muda itu.

__ADS_1


____________________________________________



__ADS_2