Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Dicuri


__ADS_3

"Oh, benarkah?" Ken melirik pada cermin kecil di depannya. Gadis itu tersenyum senang. "Iya, aku khawatir juga melihat dia sendirian di sana. Kalau bisa tinggal bersama, alangkah melegakannya."


"Ok, jangan khawatir. Aku rasa, Bos pasti setuju ada adikmu di rumah, jadi pikiranmu tidak bercabang."


Mobil kemudian sampai ke rumah Don. Saat mereka keluar, mereka terkejut Freya ternyata telah menunggu kedatangan mereka. Namun yang lebih terkejut lagi adalah Freya, karena melihat kedatangan Mira di sana. "Siapa dia?" tanyanya sambil menunjuk ke arah wajah gadis itu.


"Oh, dia adikku," sahut Ken mewakili. Ia langsung menggandeng tangan Mira masuk ke dalam rumah.


"Tunggu!"


Ken dan Mira menoleh.


Freya mendekat. Ia merasa aneh melihat Ken dan Mira yang tidak mirip satu sama lain. "Eh, kau harus membantuku mengerjakan tugas sekolah."


"Oh, ya sudah. Sekarang?"


"Iya." Gadis itu masih melirik pada Mira yang berdandan manis dan feminin. Kalau dilihat dari wajahnya, Freya lebih tua dari gadis itu.


"Ok. Di kamarmu ya?"


Ketiganya melangkah ke kamar Freya. Gadis cantik itu masih melirik Mira yang ikut masuk ke dalam kamarnya. "Eh, adikmu itu ...."


"Oh ya, sebentar." Ken menarik Mira keluar. Ia membawa gadis itu ke kamarnya. "Kamu tunggu di kamarku saja ya?"


"Iya," jawab gadis itu seraya mengangguk dengan manis.


Ken membuka pintu kamarnya. "Ini kamarku. Kalau kamu bosan menunggu, kamu bisa tidur di tempat tidurku. Pokoknya bebas, kamu mau apa di kamarku."


Gadis itu terkekeh.


"Tapi tunggu aku di sini saja ya?"


"Mmh." Mira mengangguk ketika masuk.


Ken kemudian melambai sebelum menutup pintu. Ia melangkah ke kamar Freya.


Ternyata gadis itu sudah menyiapkan dua kursi di meja belajarnya. Sebuah buku cetak telah terbuka dan Freya sudah menunggunya di sana.


"Jadi tugas apalagi?" tanya Ken saat telah berdiri di samping meja.


"Bukan tugas. Tugas kemarin itu, aku masih belum mengerti. Tolong jelaskan, karena besok mau ujian."


"Matematika?"


"Iya," jawab gadis itu manja.


"Ya sudah." Ken pun duduk di samping gadis bule itu dan mulai memeriksa buku cetak.

__ADS_1


Ken kembali ke kamar beberapa jam kemudian. Gadis itu hampir tertidur di atas ranjang pria itu.


"Kak Ken. Kau sudah selesai?"


"Mmh. Kau sudah makan malam?"


"Aku 'kan jarang makan malam, apa Kak Ken lupa?" Mira terduduk di atas ranjang.


"Kalau begitu temani aku makan ya?"


"Ya sudah."


Ken menggandeng tangan gadis itu keluar kamar. "Di dapur banyak makanan. Kau tinggal pilih makanan yang kamu suka. Nanti kita makan di dekat kolam renang saja, bagaimana?"


"Mmh," angguk gadis itu.


Mira kemudian mengambil semangkuk kecil anggur sedang pria itu sepotong sandwich. Dengan membawa minuman, mereka makan di meja di tepi kolam renang.


"Enak, Kak Ken. Anggurnya manis. Mau coba gak?" Mira menyodorkan satu pada pria itu.


"Mmh, tidak usah. Aku sudah makan ini." Ken mengangkat Sandwich yang sudah ada di tangannya seraya mengunyah.


Gadis itu terlihat senang.


Namun tiba-tiba ketika mereka sedang makan, seorang wanita datang menyapa pria itu. "Ken, apa kabarmu?"


Mira menoleh. Seorang wanita cantik berambut merah berdiri dengan pakaian penyihir lengkap dengan topinya. Ia ingat, wanita itu ada di sirkus tempat kerja pria itu sebelumnya.


"Kenapa? Sepertinya kau kaget melihatku?" Wanita itu tersenyum.


"Eh, a-ada urusan apa kamu datang ke sini, Bos?" Ada perasaan aneh menyelimuti sebab sejak Don membayar denda itu, praktis Ken tidak lagi berhubungan dengan orang sirkus, bahkan keluar sendirian pun dibatasi.


Namun, kenapa tiba-tiba wanita itu muncul di sana? Apa wanita itu ingin bertemu dengan dirinya atau ingin bertemu dengan Don? Atau, apa mungkin Don sengaja mengundangnya ke sana?


"Aku ingin bertemu denganmu, Ken. Aku rindu."


Mendengar kalimat itu, pria itu kebingungan. Apa lagi ada Mira di sana. Ia tidak ingin gadis itu menilai dirinya buruk dan menganggap dirinya suka gonta-ganti pacar.


Di saat bersamaan, Freya mendatangi tempat itu. Ia melihat Ken berbicara dengan seorang wanita yang berpakaian penyihir dari kejauhan, membuat ia berhenti melangkah demi untuk tidak mencampuri urusan mereka.


"Lucille, maaf. Aku tidak bisa membalasnya," ucap pria itu sesopan mungkin. "Maaf." Pria itu kemudian meraih tangan Mira dan mau membawanya menjauh tapi wanita itu menghalanginya.


"Ken, tolong pikirkan lagi," pinta wanita itu.


"Lucille, ini soal perasaan. Perasaan tak bisa dipaksa. Aku hanya menganggapmu mantan bos, tidak lebih. Tolong mengertilah."


Ketika Ken hendak mencari jalan keluar lainnya, wanita itu tetap menghalangi. "Lucille, tolong."

__ADS_1


"Aku bilang, aku bersedia menunggu. Izinkan aku mengikutimu ke manapun kau pergi."


"Apa maksudmu? Tolong, Lucille. Perasaan ini takkan berubah sampai kapanpun itu, jadi tolong, jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk menungguku," terang Ken. Ia terpaksa bicara seperti itu walau hatinya tak tega karena takut menyakiti hati wanita itu, tapi karena wanita itu terus memaksa, ia terpaksa mengatakannya.


"Ken, akan kutunjukkan perasaanku takkan pernah berubah terhadapmu, jadi izinkan aku mengikutimu."


"Kau tak mengerti. Kau takkan bisa bersamaku."


"Bisa, aku akan buktikan kata-kataku." Wanita itu mengeluarkan pisau yang membuat Ken terkejut. Sebelum pria itu mengerti apa yang terjadi, Lucille melukai lengan Ken.


"Ah!" Pria itu kesakitan. Ada luka robek yang menganga di lengannya.


"Hei!" Mira terkejut dan marah. Ia makin terkejut melihat wanita itu langsung mengisap darah dari lengan Ken yang terluka.


"Ah! Lucille, apa yang kau lakukan!" teriak pria Jepang itu. Ia berusaha mendorong wanita itu menjauh tapi tak bisa. Wanita itu mencengkram kemejanya kuat-kuat.


Mira pun langsung menjambak rambut merah wanita itu. Pergumulan itu malah mengikat ketiganya satu sama lain.


Kesempatan itu juga dipakai Lucille untuk mencuri bola kristal dari tas Mira dan gadis itu melihatnya.


"Hei, bola kristalku! Kurang ajar kau, dasar maling!" Mira memukul wanita itu dengan tasnya. "Kembalikan pencuri!"


Lucille yang telah mendapatkan kedua-duanya terlihat puas. Bibirnya basah dengan darah Ken. Ia kemudian berusaha kabur.


"Hei, maling!" Gadis itu menoleh pada Ken. "Kak, bantu aku, Kak. Tanpa kristal itu, aku tak bisa menemukanmu," rengek gadis itu.


"Apa?" Ken yang masih kesakitan akibat dilukai dan dihisap darahnya oleh wanita itu terpaksa membantu Mira. Keduanya mengejar Lucille tapi di tengah jalan, 2 orang bodyguard menghentikan Ken dan menariknya ke mobil. "Hei, apa-apaan ini?"


"Kau terluka parah, Ken. Kau harus masuk rumah sakit," ucap Freya bertelak pinggang.


"Tidak, tunggu! Aku harus membantu adikku dulu!"


"Jangan takut. Bodyguard yang lain akan membantu adikmu," terang gadis bule itu.


"Bukan begitu. Kau tak mengerti. Tolong, lepaskan aku!"


Freya memberi kode kedua bodyguard itu untuk membawa Ken masuk ke dalam mobil. Ia pun naik mobil itu yang dibawa oleh seorang sopir.


Sementara itu Mira masih mengejar wanita itu. Lucille lari ke dalam kebun, menghampiri sebuah sapu kayu. Sapu kayu itu kemudian dimantrai olehnya sehingga bisa membawa wanita itu terbang ke langit.


Di saat itulah gadis itu sadar, ia telah kehilangan bola kristalnya yang selalu ia jaga dengan selalu membawanya ke mana-mana. Bola kristal itu telah dicuri oleh seorang penyihir.


Ken ikut melihatnya ketika mobil bergerak keluar pintu gerbang. Ia melihat gadis itu menangis. "Mira ...."


___________________________________________


__ADS_1


__ADS_2