
Ken membawa pria berikat kepala hitam itu ke mejanya tadi.
"Kenapa hanya kau saja di bawah, hah?" tanya Kepala Perampok itu pada pria berambut pendek itu.
Ejiro memberi jalan pria itu untuk duduk.
"Oh, aku tidak tahu," jawab Ken.
"Cepat kau bangunkan mereka!" titah pria berikat kepala hitam itu.
Ken bergegas menaiki tangga.
Ejiro yang masih penasaran soal Ken, bertanya pada pria berikat kepala itu. "Eh, boleh aku bertanya sesuatu soal Ken?"
Kepala Perampok yang belum sadar benar itu, meliriknya dengan memicingkan mata sebelah. "Siapa itu, Ken?"
Tahulah pemilik penginapan itu, pria berambut pendek itu tidak berbohong. Nama anak buahnya saja, Kepala Perampok itu tidak tahu berarti mereka memang baru saling kenal. "Eh, tidak. Tidak apa-apa." Ia pun melangkah meninggalkan pria itu.
Ken mengetuk pintu dan tak lama pintu terbuka. Ia sedikit terkejut melihat pria itu setengah berbusana sedang yang wanita di ranjang berpakaian sedikit seksi dengan bahu terbuka. Karuan saja Ken sedikit tidak nyaman melihatnya.
"Ada apa?" tanya pria itu yang rambut panjangnya berantakan dengan bau alkohol tercium dari mulutnya.
"Eh, disuruh turun untuk makan malam oleh Ketua. Apa kau bisa membangunkan yang lain?"
Pria itu mengerutkan kening.
Wajah yang tak terbaca tapi Ken tahu ini pasti masalah senioritas. "Eh, tapi tak apa-apa. Biar aku bangunkan saja."
Pria itu langsung menutup pintunya, membuat pria berambut pendek itu menghela napas berat. Masih ada 4 orang lagi yang harus ia bangunkan. Ia malas melihat pemandangan barusan bila harus membangunkan sisa orang-orang itu, tapi ia harus lakukan.
Seusai membangunkan kelima orang itu, pria berambut pendek itu pun turun, tapi lagi-lagi ia harus bersabar karena makanannya telah dimakan duluan oleh Kepala Perampok. Ia bahkan harus membantu pria itu untuk minum.
"Hei, cepat tuangkan minumku!"
"Eh, iya." Ken menuangkan teh ke cangkir pria itu. Ia kemudian memesan kembali makanannya dan kembali makanan itu direbut anak buah pria itu yang datang kemudian. Ia terpaksa memesan kembali makanannya.
Ejiro memperhatikan pria berambut pendek itu dari kejauhan. Ia bisa melihat Ken sangat sabar. Bagaimana kalau mereka tahu, Ken sangat kaya? Ia kemudian tertawa sendirian tanpa suara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
----------+++----------
"Pagi, Ken," sapa Me Hua saat melihat pria itu pagi-pagi telah memberi makan kuda dengan rumput kering.
"Oh, pagi, Me Hua."
"Rajin sekali memberi makan kuda. 'Kan nanti ada petugas kami yang akan mengurusnya."
__ADS_1
"Oh, tidak apa-apa. Aku sedang tidak ada kerjaan. Dari pada mau pergi keluar gak tau mau ke mana, lebih baik di sini saja mengurus kuda-kuda." Ken mengusap wajah kuda yang ada di depannya.
"Mmh ... kamu ingin jalan-jalan? Aku bisa membawamu jalan-jalan, Ken," bujuk wanita itu dengan ramah.
"Benarkah? Eh, tapi aku tidak mau kalau kau sedang bekerja." Pria itu sedikit meragukannya.
"Tidak. Kebanyakan aku kerja malam. Pagi ini aku baru saja absen. Mau pergi sekarang?"
"Kalau kamu tak keberatan ...." Ken mengangkat bahu.
"Sama sekali tidak. Ayo!" Mereka berjalan melewati pintu depan penginapan dan Kepala Perampok yang tengah mencari Ken, melihat mereka melintas di depan pintu, langsung memanggilnya.
"Hei, kau!"
Keduanya menoleh ke dalam penginapan. Ken melihat pria dengan ikat kepala itu melambaikan tangan memanggilnya. Ia terpaksa mendatangi.
"Kau mau ke mana?"
"Keluar sebentar."
Pria berikat kepala itu melirik Me Hua dengan sinis. "Kau sudah mulai pacaran dengannya?" Kalimat itu ditujukan untuk Ken.
Pria berambut pendek itu menggoyang-goyangkan tangannya. "Oh, tidak. Aku hanya sekedar jalan-jalan saja."
"Eh, aku tidak ...."
"Maaf, Tuan. Maaf, aku tidak tahu kalau kalian banyak pekerjaan. Sekali lagi, maaf." Wanita itu membungkukkan tubuhnya berkali-kali meminta maaf demi Ken.
"Me Hua ...."
Wanita itu kemudian pamit dan buru-buru pergi. Pria berambut pendek itu tak menyangka wanita itu berusaha melindunginya.
"Ayo cepat duduk! Kita tunggu yang lainnya sambil sarapan. Kita harus bergerak hari ini."
Ken terpaksa menurut.
--------------+++------------
Pria itu tergopoh-gopoh turun melewati tangga dan mendatangi orang-orang itu yang telah menunggunya di bawah. Kepala Perampok itu melirik Ken yang sudah memakai Hakama(celana tradisional Jepang). "Kenapa kau lama sekali?"
"Oh, maaf." Pria berambut pendek itu menganggukkan kepala. Tentu saja lama, karena ia kesulitan memakai celana panjang yang tidak praktis itu.
"Ini pedangmu."
"Eh?" Ken menerima pedang panjang dari Kepala Perampok. "Aku tidak pernah menggunakannya."
__ADS_1
Pria berikat kepala hitam itu meliriknya tajam. "Jangan bodoh. Tinggal tebas, apa kamu tidak bisa?!"
"Eh, bisa." Kembali Ken mengangguk. Ia memegang dengan kedua tangan, pedang itu karena sedikit berat. Panjangnya lebih dari separuh tinggi tubuhnya. Ia mendirikan pedang itu di lantai tapi tak sengaja kepleset tangan hingga pedang itu jatuh sendiri, hingga mengganggu Kepala Perampok yang hendak mulai bicara itu.
Semua orang menoleh padanya ketika suara berisik dari pedang yang jatuh itu menggema di ruangan. Mereka menatap Ken dengan wajah kesal.
"Eh, maaf."
Malam sudah begitu larut dan Ejiro tidak sengaja melihat sekumpulan orang berkumpul di dekat pintu depan bersiap untuk keluar.
Bila semua pembeli di restoran itu sudah tak ada, pegawainya pulang semua kecuali dirinya yang memang tinggal di penginapan itu sambil memeriksa di waktu malam. Biasanya ada satu lagi pelayan pria yang menjaga untuk yang menginap tengah malam tapi saat itu entah sedang ke mana.
Ia curiga dengan pakaian yang dipakai sekumpulan orang itu yang seperti siap untuk berperang. Ia mengenali mereka ketika melihat Ken. Pria itu satu-satunya pria yang berambut pendek.
Kawanan itu kemudian keluar bersamaan membuat Ejiro ingin mengikutinya. Tepat pada saat itu, pelayan pria itu muncul.
"Dari mana saja kamu?" tegur pria bercodet itu.
"Ah, dari kamar mandi, Pak," terang pria itu.
"Jaga penginapan ya, Saya mau keluar sebentar."
Pria itu mengangguk.
-----------+++----------
Komplotan itu berkuda menyusuri pinggir hutan dengan kecepatan sedang.
"Ketua, apa kita benar-benar harus melakukan ini?" tanya Ken kembali memastikan pada pria berikat kepala itu.
Pria itu meliriknya dengan kesal. "Kau laki-laki jangan cengeng! Mengurus begini saja takut!" ledek pria itu.
Anak buahnya yang lain juga melirik Ken dengan sinis. Pria berambut pendek itu terpaksa diam.
Tak lama, mereka sampai di tempat itu. Di sebuah rumah megah yang amat besar. Pintu gerbangnya menyala karena dipasang obor di kedua sisinya. Mereka berada di samping rumah itu mengintai.
Salah satu dari mereka yang telah berpakaian ninja hitam, menutup wajahnya dengan kain hitam. Yang lain pun ikut menutup wajah mereka dengan kain hitam termasuk Ken.
Ninja itu bergerak lebih dulu. Ia menepikan kuda dan memanjat dinding pembatas lalu berjongkok melihat situasi. Ia memberi kode pada Kepala Perampok.
"Mmh, penjagaannya ketat di dalam, banyak penjaga. Kalau dia ketahuan lagi, kita akan serbu ke dalam dengan paksa."
___________________________________________
__ADS_1