
Pria tua itu naik ke atas ranjang. Ken menutup tubuh sang pria dengan selimut. "Kakek istirahat dulu ya?"
"Nanti, jam makan malam, kau makan bersamaku ya?"
"Iya."
"Oh, ya. Aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Charles." Pria bule itu menyodorkan tangannya.
"Ken." Pria Jepang itu meraih tangannya.
"Dan kamarmu ada di sebelahku. Sebelah sana." Ia menunjuk ke salah satu dinding. "Ingat, kau harus makan malam denganku. Nah, sekarang istirahatlah." Pria itu menarik selimutnya ke atas.
Ken pun pamit. Ia kemudian memasuki kamar sebelahnya yang memang tidak dikunci. Kamar itu cukup besar tapi tidak penting baginya. Yang penting, ia kini bisa beristirahat. Ia berbaring di ranjang, melipat kedua tangan ke belakang kepala dan memejamkan mata.
-------+++-------
"Bagaimana, Ken? Kau suka makanan Amerika?" tanya pria tua itu memastikan tamunya puas dijamu olehnya.
"Mmh? Oh, ya. Enak kok. Aku suka. Makanannya sangat lezat." Pria Jepang itu memotong steak dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Maaf, aku tidak bisa menyediakan masakan Jepang karena aku tidak suka makanan itu."
Ken tertawa. "Oh, karena itukah, Kakek bertanya? Saya sudah lama tinggal di sini jadi sudah terbiasa dengan makanan Eropa. Apalagi burger dan kentang goreng. Di Jepang, makanan ini sangat disukai."
"Benarkah? Oh, aku tidak tahu itu. Sepertinya banyak yang aku lewati, kehidupan di dunia luar."
Sang pria Jepang menatap Charles sebentar dan melanjutkan makannya. Ia sebenarnya penasaran dengan kehidupan pria bule itu. "Boleh aku tanya, kenapa Kakek sepertinya tinggal di dalam kamar saja, tidak keluar rumah?"
"Mmh." Pria bule berambut coklat tua itu melirik Ken sambil mengunyah, pelan. "Sejak 8 tahun yang lalu tepatnya, aku sudah tak ingin keluar rumah karena dunia tak lagi menarik untukku sejak istriku meninggal dunia. Semua terlihat sama." Ia mengambil serbet dipangkuan dan menyeka mulutnya.
"Kehilangan orang yang membuat dirimu berpaling dari dunia itu sulit. Kau bahkan tak tahu caranya kembali ke duniamu dulu, karena yang terpenting, telah hilang."
Keduanya terdiam sesaat. Sedikit canggung.
Pria Jepang itu jadi merasa bersalah. "Aku tidak bermaksud membuat Kakek ...."
Charles menggoyang-goyangkan tangannya. "Tidak apa-apa."
__ADS_1
Terdengar suara dering telepon dari handphone Ken di atas meja. Sang pria muda itu mengangkatnya. "Halo, Pak ... iya ... iya. Iya, Pak. Ok." Ia mengakhiri sambungan teleponnya.
"Dosenmu?"
"Eh, iya, Kek."
"Apa ada tugas baru lagi dari dosenmu?"
"Eh, iya. Ada simposium. Aku diminta menemaninya, jadi pagi-pagi sekali aku harus berangkat ke kampus karena harus mengumpulkan data."
"Eh, ya sudah." Wajah pria bule itu nampak kecewa.
Tiba-tiba terdengar bunyi bel yang menggema sampai ke ruang makan. Seorang pelayan, berlari-lari ke arah pintu utama. Charles sedikit penasaran, karena anak laki-lakinya pergi untuk urusan pekerjaan, dan tak mungkin cepat kembali atau mengetahui musibah yang menimpanya. Lalu siapa yang datang kali ini?
"Daddy ...." Seorang wanita muda yang menggendong seorang bocah, berlari ke arah Charles.
Tentu saja pria tua itu terkejut. Ia tak menyangka, anak perempuannya yang tinggal di kota lain dan mengunjunginya, tapi ... dengan berubah air mata. "Suzanne?"
Wanita itu datang dan langsung memeluk Charles. Ia menangis terisak di dada laki-laki tua itu.
"Suzanne, ada apa?"
Sang pria tua itu, tentu saja terkejut. Seperti dugaannya, ia memang tak suka dengan menantunya yang bergaya sombong itu, tapi anak perempuannya selalu membela pria itu. "Tapi apa kau yakin?"
"Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, Daddy, ia selingkuh. Walaupun ia memohon, aku sudah tak mau kembali lagi padanya," Wajah wanita muda itu cemberut.
"Apa kau yakin ingin berpisah? Aku sudah bilang dari dulu, pria itu hanya mengincar uangmu tapi kau tak percaya. Kini setelah dia kaya raya, dia melupakanmu, bukankah begitu?" ledek Charles dengan pedas.
"Daddy, kenapa Daddy bicara begitu padaku?" Wanita itu kemudian menyadari kehadiran Ken yang berpenampilan biasa. "Siapa dia, Daddy?"
"Dia yang bahkan kehadirannya saja harus kubujuk agar bisa datang." Kakek itu menyatukan tangannya di atas meja.
"Beri dia uang. Suruh pulang. Aku ada di sini bersamamu, Daddy. Aku akan merawatmu."
Charles menatap anak perempuannya lekat. "Bahkan aku lebih mempercayai omongan orang lain dibanding putriku sendiri ...," ucapnya getir.
"Daddy ...." Wanita itu terkejut.
__ADS_1
"Ken, tolong bawa aku ke kamar. Tiba-tiba saja selera makanku hilang." Pria tua itu mengambil serbet dipangkuan dan meletakkannya di atas meja.
Ken yang sejak tadi tak tahu harus berbuat apa, terpaksa menuruti permintaan sang pria dengan mendorong kereta rodanya menjauh dari tempat itu. "Kek, Kakek benar mau ke kamar?"
"Iya," ucap pria bule itu dengan wajah sebal.
Suzanne menatap kepergian ayahnya dengan pandangan nanar.
"Mommy."
Panggilan anak laki-lakinya dipelukkan membuat wanita itu segera menghapus air mata yang hampir jatuh. "Ini rumahmu juga, Sayang. Kita naik ke atas ya? Kamar kita ada di atas."
Bocah bule itu menggeser kepalanya kembali ke dada ibunya. Wanita itu kemudian menaiki tangga.
Ken membawa masuk kursi roda itu hingga ke dalam kamar. Ia menghentikannya dekat ranjang dan membantu pria itu untuk keluar dari kursi roda.
"Kek, 'kan putri kakek sudah pulang. Apa tidak sebaiknya putri kakek yang mengurus Kakek, karena pekerjaanku banyak, Kek. Aku takut tak bisa mengurus Kakek dengan semestinya."
Sang pria bule yang baru saja duduk di tepi ranjang, terkejut dan kini menatap wajah pria Jepang itu. "Kau sudah berjanji padaku 'kan?"
"Iya benar, tapi ...."
"Aku ingin kau menepati janjimu," ucap kakek itu, berkeras.
Ken menatap sejenak sang pria di depannya. Ia tidak ingin terlibat konflik keduanya karena itu ia ingin menyudahi perjanjian ini, tapi sepertinya tidak bisa. Arus konflik akan menyeretnya semakin dalam pada masalah ini. Untung saja besok, ia ada tugas ikut simposium dengan dokter Barnes, sehingga ia bisa memberi kesempatan keduanya untuk saling bicara. Namun, tak ayal ia menghela napas pelan. "Mmh, baiklah."
-----------+++---------
Pria Jepang itu terkejut ketika diajak sarapan pagi di beranda belakang rumah oleh Charles. Walaupun pemandangannya lumayan sejuk, tapi sepertinya ada alasan lain kenapa harus sarapan pagi di sana. Ia menghindari bertemu dengan putrinya sendiri, pastinya. Namun, itu tak lama.
"Daddy, kenapa sarapan pagi di sini?" sahut Suzanne yang tiba-tiba muncul di sana.
Wajah pria bule itu langsung berkerut, karena merasa terganggu.
Namun wanita berambut pirang yang digelung asal, seperti tak peduli. Ia duduk di antara Ken dan Charles di meja yang tidak besar itu dengan mendudukkan anaknya, bocah laki-laki berumur 5 tahun di sampingnya.
"Wah, kalian makan roti bakar, bacon dan juga telur mata sapi. Aku juga mau ah!" ujarnya tanpa ditujukan untuk siapa-siapa. Ia kemudian mengambil piring. "Anthony, kamu mau makan apa? Roti mau? Dengan telur?"
__ADS_1
"Eh, mau kubantu, Nyonya?" Ken menawarkan bantuan. Ia hendak menarik letak piring telur mata sapi agar lebih dekat lagi.
"Ken! Jangan bantu mereka!" teriak Charles dengan mata berkilat.