Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Terpisahkan?


__ADS_3

Beberapa bodyguard mendatangi Mira. "Terlambat, wanita itu sudah membawa bola kristalkuuu," tangisnya.


Ken yang melihat gadis itu menangis sendirian di sana, berontak. Ia berusaha kabur tapi tak bisa. Salah satu bodyguard di sampingnya, dengan cerdik mencengkram bekas luka di tangan pria itu yang telah dibalut kain sehingga Ken menghentikan perlawanan karena kesakitan.


"Agh!"


Freya menoleh ke belakang. "Ken, jangan macam-macam! Kau sudah kehilangan darah oleh wanita vampir itu, jangan bikin ulah!" Ia membalik lagi tubuhnya ke depan. "Entah bagaimana nenek sihir itu bisa masuk ke dalam rumahku," dengusnya kesal.


Ya, Freya tidak melihat wanita itu terbang karena gelapnya malam.


"Kau tidak tahu. Adikku butuh aku sekarang," pinta Ken.


"Berisik sekali sih kamu ini! Kalau aku bilang adikmu dijaga, itu pasti benar! Kau bisa bertemu lagi dengannya setelah tanganmu diobati. Atau mungkin juga dijahit, aku tidak tahu." Gadis itu bicara tanpa menoleh dengan melipat tangannya di dada.


Tidak ada yang mengerti masalah ini selain aku dan Mira. Ah, ada apa dengan Lucille? Kenapa dia tiba-tiba melukaiku dan menghisap darahku? Ini mengerikan. Apakah dia vampir seperti yang dikatakan Freya?


Kalau begitu, aku harus kembali ke tempat sirkus itu untuk meminta kembali bola kristal itu sebelum aku pindah dimensi lagi. Aku tak mau Mira tak bisa menemukanku, bila aku berpindah dimensi nanti. Apa ibu tidak punya bola kristal lain buat Mira? Ah .... Pikiran pria Jepang itu kusut dengan berbagai pertanyaan yang tidak bisa ia jawab sendiri.


Sementara itu, di rumah Don, Mira segera menghentikan tangisnya. Ia memutuskan pulang dan melaporkan hal ini pada Dewi Sri.


"Hei, kau mau ke mana?" tanya salah seorang bodyguard itu ketika melihat gadis itu melangkah ke luar pagar. Segera ia dan bodyguard lainnya menghalangi gadis itu untuk pergi. "Kau adik Ken. Kau diminta untuk kembali ke kamar Ken."


"Apa?" Namun Mira menurut saja. Ketika kembali ke kamar pria itu, ia tetap pergi. Ia membuat garis pada dinding dengan jarinya dan kemudian dinding itu menghilang. Gadis itu masuk ke dalam dinding itu dan dinding itu berubah kembali seperti semula. Ia telah pergi.

__ADS_1


Mobil Freya akhirnya sampai di rumah sakit. Ken langsung dibawa ke UGD untuk diperiksa, tapi saat dinaikkan di atas brankar pria itu berontak dan kabur.


"Ken!"


Tidak penting dengan lukaku ini. Aku bisa menyembuhkan diriku sendiri. Yang terpenting adalah Mira. Bagaimana agar aku bisa mendapatkan bola kristal itu kembali. Masalah lain, buang saja ke laut. Eh! Ken tersandung tali kabel sebuah mesin hingga terjatuh.


Aduhh, tertangkap sudah .... Pria itu pasrah karena terjatuh. Ia memejamkan mata, tapi lama ditunggu, tak ada yang menyentuh tubuhnya di lantai. Lantai bahkan terasa bergerak. Eh? Lantai bergerak?


Ken membuka mata dan mencoba duduk. Ia kini berada di sebuah ruangan tertutup dan sedikit gelap dan ... benar. Lantainya bergerak miring. A-apa ini? Gempa? Eh, tidak. Ini seperti ... di laut? Apa? Aku di laut? Ahhh ... aku sudah pindah dimensi lagi? Ken menjenggut rambutnya karena frustasi. Mira, bagaimana kau akan menemukanku? Hah ....


Pria itu memandang ke arah sebuah dinding karena melihat ada cahaya yang bergerak dari sana. Ternyata setelah didekati, itu adalah pantulan air laut yang bergerak dari sebuah jendela kaca. Ia benar-benar berada di tengah laut sekarang.


Mira ... apa kau bisa menemukanku? Ken termenung di depan kaca jendela bulat itu, tapi kemudian ia beralih pada lengannya. Lengannya masih terluka jadi ia harus menyembuhkan tangannya dulu. Perkara bola kristal, pasti Mira bisa mencari solusinya. Pasti ibu masih punya bola kristal lain untuknya, iya 'kan? Entahlah. Ia sendiri tak yakin.


Setelah selesai, ia kemudian keluar. Sekarang ia harus mengetahui, jadi siapa dirinya kini. Ia saat ini mengenakan kaos biasa dengan tulisan sederhana dan sebuah celana bahan berwarna gelap. Apa aku turis yang melancong, tapi kenapa ruang kamarnya tidak seperti ruang untuk tamu kapal tapi lebih mirip seperti ... kamar staf? Apa aku kerja di kapal ini? Lalu jadi apa aku di sini?


Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Ken ragu untuk sesaat.


"Letnan, apa Anda sedang tidur, Pak?" Suara pria dari luar dalam bahasa Jepang.


Le-le-letnan? Aku seorang Letnan? Ini apakah kapal Jepang? Segera pria itu membuka pintu.


Seorang pria muda dengan pakaian dinas memberi hormat dengan meletakkan jari yang dirapatkan di dahi. "Bapak diminta ke anjungan. Kapten ingin bertemu. Ada rapat mendadak hari ini."

__ADS_1


"Oh, ok. Aku menyusul." Setelah pria itu pergi, Ken segera menutup pintu. Aku seorang Letnan dan ada rapat ... ah! Ken panik hingga bergerak mondar-mandir. Bajuku ... benar. Bajuku harus diganti.


Pria itu mendekati lemari pakaian dan membukanya. Ya, benar. Di situ ada baju dinas tergantung rapi. Pria itu segera memakainya. Ia bercermin pada pintu lemari. Ah, keren juga pakai baju angkatan laut ini. Ini milik angkatan laut Jepang. Lega rasanya bertemu dengan orang-orang Jepang, seperti kembali ke kampung halaman. Padahal aku tidak pernah bermimpi memakainya dan aku kini telah menjadi seorang Letnan. Letnan angkatan laut.


Namun khayalan itu hanya sebentar ketika ia ingat bahwa harus buru-buru pergi ke anjungan. Ia memakai topinya sebelum keluar.


Pria itu masih meraba-raba untuk pergi ke anjungan sampai bertemu beberapa anak buahnya yang lain. Ia tinggal mengikuti mereka yang kebetulan juga pergi ke anjungan.


Mereka akhirnya sampai di anjungan kapal. Saat itu ada seorang pria yang terlihat lebih senior memandang ke arah radar dan perangkat lain di monitor bersama anak buahnya dan melihat kedatangan Ken. "Oh, Ken. Akhirnya kau datang."


"Oh, iya, Kapten," sahut Ken yang mendatangi pria itu. Ini kapten kapal yang bilang orang itu 'kan ya? Ia masih bingung.


"Kita dapat tugas baru. Sejak kita memasuki perairan Indonesia, pihak Indonesia langsung meminta bantuan kita. Di depan sana ada kapal penumpang yang terbakar milik Indonesia yang butuh bantuan kita. Kau dan anak buahmu tolong bersiap untuk turun dan menyelamatkan mereka."


"Eh, turun?"


"Iya. Berenang seperti biasa, karena diperkirakan jumlahnya ratusan. Kita sudah menyetujui untuk membantu, jadi kau mulai bersiap saja."


"Eh, iya." Dalam hati, Ken gundah. Ia belum pernah mencoba berenang. Karena mengikuti aturan yang dibuat Ryu, sang ayah, hampir semua olahraga di sekolahnya tidak pernah ia ikuti sehingga di sekolah ia dicap sebagai anak bertubuh lemah.


____________________________________________


__ADS_1


__ADS_2