
"Oh, Mira. Kita ke kafe yuk? Aku traktir."
"Mmh, ok!" Gadis itu mengambil tas kecil dari kamarnya. Ia mengikuti Ken keluar mengambil sepeda.
"Kamu gak papa 'kan kalau cuma naik sepeda?"
"Gak papa." Gadis itu menggeleng.
"Kak, Kak Ken!" Salah seorang anak panti baru pulang dari sekolah.
"Oh, Ryouta. Ada apa?"
"Aku ingin punya foto Kakak, boleh?"
"Oh, boleh."
Ryouta mengajak pemuda itu keluar halaman panti dan mengambil beberapa gambarnya sebelum ia sempat membonceng Mira. Setelah itu Ken pergi dengan gadis itu.
"Kenapa langit sedikit gelap ya, padahal belum sore," gumam Ken pelan.
Mira yang berpegangan pada pinggang pemuda itu mendengar gumamannya dan menatap langit. "Mungkin mau hujan."
"Mungkin."
Tak lama sampailah mereka di sebuah kafe kecil di sebuah pinggir jalan yang ramai. Setelah Ken memarkirkan sepedanya, keduanya masuk. Mira untuk pertama kalinya pergi ke sebuah kafe dan ia menyukai suasananya yang ramah dan tenang.
Ken memilih meja dekat jendela agar mereka bisa memandang langit di luar dengan hiruk-pikuk kendaraan yang lalu lalang. "Ada banyak pilihan cake lho, kamu mau coba?"
"Mau, Kak." Mira disodori buku menu. Ia melihat-lihat dengan wajah ceria. "Sepertinya enak-enak, Kak."
"Pilih saja, salah satunya."
"Mmh."
Mereka kemudian memesan makanan dan Mira sangat senang dengan bentuk cake potongnya yang cantik. Gadis itu makan pelan-pelan.
"Bagaimana? Enak?" tanya Ken memperhatikan gadis itu.
"Enak, Kak. Mmh." Senyum gadis itu terlihat indah saat senang. Mira mencoba lagi menyuapnya dengan garpu kecil dan itu menyisakan sedikit krim kue di sudut bibirnya.
__ADS_1
Pemuda itu segera mengambil tisu dan membersihkannya. "Maaf, sebentar ya?" Ia melakukannya agar lipstik gadis itu tidak rusak. "Dah." Ken memandang hasil usahanya tanpa tahu gadis itu tengah tersipu-sipu.
"A!" Ken memandang ke arah jendela diikuti gadis itu. Ternyata kini terlihat ada badai di kejauhan.
"Badai," ucap pemuda itu pelan.
Keduanya melongo. Ken hanya menatap badai itu yang kian lama kian besar dan kini kendaraan di jalan di hadapan mereka seperti panik tak tentu arah. Ada bunyi klakson mobil karena mulai ada kemacetan di sana sini dan yang pasti, badai sedang menuju desa mereka!
Pemuda itu menyentuh tangan Mira yang berada di atas meja dan gadis itu menoleh. "Ayo!"
Gadis itu mengangguk. Ken segera membayar makanan dan mereka menuju ke tempat sepeda dan segera naik. Ken menoleh ke belakang. "Apa kau ingat? Kita bertemu setelah badai tapi aku tak berharap kita berpisah setelah badai ini. Berjanjilah padaku, kau terus mencariku ya?"
Netra gadis itu berkaca-kaca. "Mmh." Ia mengangguk.
"Sepertinya aku harus memadamkan badai ini dan saat itulah aku pindah."
"Kakak bisa mempengaruhi benda mati, seharusnya Kakak bisa menaklukkan badai ini."
"Benar juga. Ayo kita datangi badai ini sebelum badai ini merusak desa dan menghancurkan segala sesuatunya yang sudah aku bangun di sini." Pemuda itu kini menjalankan sepedanya keluar dari perparkiran dan berbaur dengan keramaian kendaraan yang mulai macet di depan mereka.
Ken berusaha mencari cela menerobos kendaraan yang sedang macet hingga melewati gang sempit agar tidak bertemu kemacetan lagi, sebab waktu adalah uang. Ia harus menahan, setidaknya badai itu masuk ke desanya karena saat ini badai itu dengan cepat bergerak ke arah desa tempat mereka tinggal.
"Aku pun tak tahu, Kak!" jawab gadis itu yang memegang erat-erat pinggang Ken.
"Apa?" Seketika sepeda itu terhenti. "Jadi bagaima—"
"Aku ikut Kakak. Ke mana Kakak pergi."
"Tapi sebenarnya ini cukup berbahaya bagimu, Mira. Aku sebenarnya tak mau kamu ikut."
"Kita akan baik-baik saja, Kak." Gadis itu berusaha meyakinkan dengan menatap kedua bola mata abu-abu milik Ken.
"Mira ...." Ken terlihat ragu.
"Sudah tidak ada waktu lagi untuk berpikir, Kak. Ayo, kita hadapi sama-sama!" teriak Mira.
Suara badai semakin bising menandakan badai mulai mendekat. Pemuda itu menoleh. Ia bisa melihat bagaimana badai itu tengah mengamuk membawa apa saja yang dilewatinya. Ternak, mobil, rumah, semua diangkutnya.
Dulu ia mengalaminya karena berada di pusat badai tapi kali ini ia berada di luar badai, bisakah ia setidaknya mengendalikan badai yang yang tengah mengamuk di hadapannya?
__ADS_1
"Kakak!"
Ken menoleh pada gadis itu. Walaupun jarak masih jauh tapi efek badai membuat angin bertiup kencang di sekelilingnya. Rambut dan pakaian keduanya melambai-lambai ditiup angin.
"Ayo Kakak. Kalau aku tertarik, aku janji akan cari Kakak!" Gadis itu memberikan kelingkingnya.
Ken saling menautkan jari kelingking mereka. Kemudian ia menjalankan sepedanya kembali. Jalan berliku melewati gang memang melelahkan.
Bukan apa-apa karena pemuda itu tidak hapal gang-gang di sana yang sebagian ada yang buntu, membuat Ken harus memutar balik, untuk menemukan jalan lain hingga akhirnya pemuda itu menemukan lapangan rumput yang amat luas. Ia berhenti di situ untuk mencoba mengendalikan badai. "Mira, sebaiknya kau menepi."
"Tapi, Kak ...."
"Kau mundur. Ini berbahaya bagimu. Lihat saja aku dari jauh. Aku janji aku akan baik-baik saja," ucap pemuda itu dengan tegas.
Gadis itu mematuhi perintah Ken. Ia berusaha percaya apa yang dikatakan pemuda itu.
Badai yang menggulung di depan Ken sempat membuat ia ketar-ketir, tapi demi Mira ia memberanikan diri. Badai itu seperti gulungan awan abu-abu yang menggulung dari bumi ke langit. Bentuknya langsing tapi mengerikan. Juga disertai petir beberapa kali.
Mira sempat ragu melihat kilatan petir yang menyambar di tengah badai itu lebih dari satu, tapi ia berusaha menguatkan diri. Ia menyaksikan Ken mendatangi badai itu pelan-pelan.
Saat itu pemuda itu tengah berkonsentrasi. Ia berusaha membuat badai itu mendengar perintahnya. Badai pergilah, jangan ke sini. Ini bukan tempatmu, ucapnya dalam hati.
Badai itu sedikit goyah, tapi badai itu malah kemudian bergerak ke arah Ken. Mira panik, ia bergerak maju tapi tiba-tiba tangan seseorang meraih lengan gadis itu. "Mami ...."
"Kau tak boleh mengganggunya, ayo kita pulang."
"Tapi ...."
"Ken adalah anakku yang cerdas. Ayo!" Dewi Sri mengulurkan tangannya pada Mira.
Gadis itu menyambut tangan itu dan mereka kemudian menghilang di sebuah pintu yang terbuka. Lalu pintu itu juga menghilang.
Ken melihat badai itu seperti berbelok ke arahnya. Pemuda itu kembali berkonsentrasi. Badai, hancurlah kamu. Kau tak boleh ada. Namun karena pergerakan badai yang cepat, tahu-tahu badai itu sudah ada dihadapannya.
Ken pasrah bila harus tergulung badai itu, tapi anehnya, walaupun tubuh pemuda itu dilewati badai tapi ia tetap kokoh berdiri di tempatnya. Seakan badai itu tak bisa menyentuhnya. Dan ketika ia sudah berada di tengah badai, badai itu hilang dengan sendirinya tanpa bekas. Tinggal benda-benda yang dibawa badai itulah yang jatuh bergeletakkan di sekelilingnya.
Setelah semuanya jatuh, Ken tiba-tiba lemas. Tentu saja, karena ia tengah bertahan dalam ketakutan yang sangat. Apalagi sempat melihat petir itu menyambar beberapa kali dari atas sana. Ia jatuh tertelungkuk di atas rumput yang hijau dalam keadaan pingsan.
____________________________________________
__ADS_1