Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Makan Siang Bersama Keluarga Northville


__ADS_3

Kedua anak perempuan wanita itu melihat Ken dengan sinis dan jijik.


"Jorok sekali, Mama. Tinggal di mana sih dia?" tanya anak perempuan wanita itu yang punya rambut panjang berwarna coklat keemasan.


"Entahlah, Annabelle. Mungkin tidak pernah diajari sopan santun oleh orang tuanya. Kok ke rumah orang pakai baju olahraga," sarkas wanita itu.


Chihiyo merengut karena sebal dan pemuda itu bersembunyi di belakang wanita Jepang itu karena merasa tak pantas berada di sana.


"Sudah, sudah, sudah!" Pria paruh baya itu menepuk-nepuk tangannya. "Chihiyo, tolong urus pakaiannya dan dandani ia dengan benar."


"Iya, baik, Sayang." Ken dibawa oleh wanita Jepang itu ke lantai dua dan masuk ke sebuah kamar. Kamar itu memang telah disiapkan untuk pemuda itu.


"Ini kamarmu, Kenzie."


"Ibu, bagaimana kalau aku pulang saja?" Dari awal, Ken sudah tak betah.


"Pulang ke mana? Ini rumahmu sekarang. Rumah Jack sudah dipasang garis polisi dan dia juga sudah masuk penjara. Apa yang kau pikirkan sih, Kenzie?" ketus Chihiyo.


Pemuda itu merengut.


"Sudah, pokoknya kau aman di sini. Jangan kau hiraukan si nenek sihir itu bicara, karena bila kau sudah diangkat menjadi ahli waris keluarga ini, dia takkan berani bicara sembarangan lagi padamu, sebab kaulah yang akan mengatur seluruh perusahaan milik keluarga Northville ini. Dia hanya numpang hidup di sini beserta kedua anak perempuannya sebagai salah satu pajangan hidup dari keluarga Northville yang terhormat ini."


"Tapi, Bu ...."


"Kamu istirahat dulu saja di sini. Sebentar lagi mereka datang."


"Mereka siapa, Bu?"


"Nyonya!" Seorang pria berpenampilan genit datang bersama rombongannya membawa beberapa pakaian yang digantung di sebuah rak gantung beroda, dan juga beberapa tas kotak.


"Oh, kalian sudah datang." Chihiyo menarik Ken masuk ke dalam ruangan. "Ayo, Kenzie."


Pemuda itu kemudian dicarikan pakaian yang sesuai, lalu model rambutnya pun dirubah. Kucing Gojo memperhatikan semua dari atas ranjang sambil berbaring dan menjilati bulu buntutnya.


"Ibu. Aku lapar, belum makan siang," gerutu Ken.


"Justru karena ingin makan siang bersama mereka, pakaianmu harus rapi."


"Ini terlalu berlebihan, Bu. Masa makan siang harus pakai jas?" Pemuda itu memperhatikan pakaiannya di depan cermin.


"Kamu tidak lihat bagaimana mereka berpakaian tadi?! Kalau kamu berpakaian biasa-biasa saja, itu namanya kau menjatuhkan harga diri ibu di depan mereka! Kau tak lihat bagaimana mereka meledek ibu dan kamu tadi, hah!" Netra wanita itu kembali melotot dengan tangan yang bertelak pinggang.


Walau merengut, Ken hanya bisa tertunduk.


Setelah merapikan rambut pemuda itu dan di semprotkan parfum ke tubuhnya, wanita itu mulai tersenyum senang. "Kalian tunggu di sini ya, aku makan siang dulu dengan keluargaku. Setelah ini, masih ada pekerjaan lain yang menunggu untuk kalian kerjakan," ucapnya pada pria kemayu itu dan rombongannya.

__ADS_1


"Baiklah, Nyonya Muda Northville. Kami akan menunggumu di sini," ujar pria itu gemulai.


Ken merasa aneh dengan orang-orang seperti ini, seakan tidak punya identitas yang pasti.


"Kenzie. Ayo, gandeng ibu." Wanita itu melirik Ken.


"Bagaimana dengan kucingku?"


Bola mata wanita itu kini berputar. "Kenzie!" teriaknya.


"E eh, iya." Segera lemuda itu memberikan sikutnya pada sang ibu.


Wanita itu mengaitkan tangannya di sana. "Ayo, kita turun."


Kucing itu melompat dan mengikuti keduanya dari belakang. Saat mereka menuruni tangga, banyak yang dibuat kagum akan penampilan baru Ken yang berubah drastis. Terutama Erick Northville, pria paruh baya pemilik beberapa perusahaan Northville di seluruh dunia itu, karena ia sempat kecewa melihat penampilan Ken pertama kali. Pria itu hampir percaya dengan omongan istri pertamanya bahwa pemuda itu kemungkinan idiot dan terbelakang.


Keduanya kemudian bergabung di meja makan. Ken meletakkan kucing itu di kursi di sampingnya agar bisa makan bersama.


"Kenapa kucing itu harus duduk di sana?" tanya salah satu anak perempuan wanita paruh baya itu yang berambut hitam kecoklatan.


Chihiyo memiringkan kepala ke arah anaknya, dan berbisik sambil tersenyum. "Kenapa tidak kau turunkan saja kucing itu, Kenzie."


"Tidak bisa, dia temanku." Ken memeluk kucing itu.


"Kenzie ...."


"Sudah, biarkan saja. Selama kucing itu bisa duduk manis dan tidak naik ke atas meja, tidak apa-apa," sahut Erick bijak. "Semua dapat kesempatan asal bisa tertib di meja ini."


Chihiyo terpaksa tersenyum karena ia tidak bisa memaksa pemuda itu menurut. Seorang pelayan membawakan makanan untuk Ken dan Chihiyo. Wanita Jepang itu memasangkan serbet pada pangkuan anaknya, lalu ia menepikan rambut panjangnya ke samping.


"Tolong ambilkan makanan untuk kucingku ya?" pinta Ken pada pelayan itu.


"Eh, baik, Tuan."


Wanita itu merengut melihat Ken selalu mengurusi kucingnya. Kucing lagi, kucing lagi ... huh!


"Eh, kau boleh memperkenalkannya pada kami, anggota baru keluarga kita," tanya Erick pada Chihiyo. Ia menyatukan tangannya di depan wajah.


"Oh." Wanita Jepang itu memulainya dengan tersenyum. "Sebenarnya aku belum tahu banyak karena ia sempat sakit dan aku merawatnya. Dan baru hari ini aku bisa membawanya kemari. Apalagi masalah, polisi dan penculik itu."


Ken mengerut kening. Kenapa Jack disebut sebagai penculik? Namun ia tak mau buka suara. Selain tak berani, berkonfrontasi dengan ibunya di hadapan keluarga itu hanya akan mempermalukan ibunya walau ia tak setuju dengan apa yang dikatakan wanita itu.


"Oh, jadi ... namanya siapa?" tanya pria paruh baya itu.


"Kenzie. Itu namanya," sahut Chihiyo.

__ADS_1


"Kenzie, mmh. Ia terlihat masih sangat muda. Berapa umurnya?"


"Delapan belas."


Ken mendengarkan saja wanita itu bicara dengan suaminya sambil menyendok makanan. Tak lama makanan untuk kucing itu datang berupa potongan daging ayam panggang. Ken begitu senangnya.


"Kenzie." Wanita itu menyentuh lengan pemuda itu. Ken baru tahu kalau Erick tengah bicara padanya.


"Kau berarti baru lulus SMA ya?" Pria bule itu mengulang pertanyaannya.


"Eh, iya." Pemuda itu mengangguk.


"Kuliah?"


Ken menggeleng.


"Kau mau kuliah?"


"Aku ingin jadi dokter."


"Dokter?"


Wanita itu kembali menoleh dan mengerut kening. "Dokter? Untuk apa? Itu sama sekali tak berguna," bisiknya kesal.


Ken jadi serba salah.


"Bagaimana kalau kuliah di bagian yang mendukung perusahaan seperti 'manajemen', misalnya," bujuk pria itu.


Wanita Jepang itu kembali melotot dengan sembunyi-sembunyi membuat pemuda itu akhirnya menyerah.


"Eh, iya."


Pria itu terlihat senang. "Saat kau tidak kuliah, kau bisa ikut aku ke perusahaan untuk belajar mengurus perusahaan."


Ken hanya menunduk dan mulai makan. Seusai makan siang, Ken dan Chihiyo kembali ke kamar pemuda itu. Selagi melangkah, wanita itu tak habis-habisnya mewanti sana-sini agar tidak mengecewakan pria itu dan menjaga nama baiknya, tapi Ken merasa terbebani. Apalagi ia kini masuk jadi bagian dari keluarga itu yang notabene masih amatlah baru sehingga permintaan itu terasa sangat menyiksa. "... mengerti, Kenzie?"


"Ibu, aku masih baru. Ibu ajarkan lagi saja kalau aku salah," pinta pemuda itu kebingungan.


Wanita itu menghela napas pelan. "Baiklah." Saat pintu kamar Ken dibuka, ia segera menemui pria gemulai itu. "Oya, aku ingin lemari anakku terisi penuh dan dia terlihat menawan. Kau mengerti maksudku 'kan?"


"Oh, tentu saja, Nyonya." Jemari lentik pria itu mulai bergerak tak beraturan dan wajahnya begitu gembira. Ia dan rombongannya keluar bersama Chihiyo dengan membawa barang-barang bawaannya dan kemudian kamar itu menjadi sunyi.


Ken menoleh pada kucingnya yang sudah melompat naik ke atas ranjang. "Dunia apalagi yang aku masuki ini, serasa gila kepalaku mendengarnya."


Kucing itu tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


__________________________________________



__ADS_2