
Tangan Ken diikat ke depan. Ia terpaksa mengikuti wanita itu dan rombongannya melangkah keluar istana. Di sana ternyata masih ada lagi rombongan pengawal yang menunggu dengan berkuda.
Wanita ini ... apa dia seorang raja?
Wanita itu meminta salah seorang pengawal menaikkan Ken ke atas seekor kuda. Kemudian wanita itu menyusul naik dan duduk dibelakangnya, membuat pria itu terkejut. Dengan mudahnya wanita itu naik kuda yang tak berpelana itu dan melingkarkan tangannya di pinggang pria itu.
Itu membuat Ken tak nyaman. "Eh, tunggu."
Namun wanita itu telah menghela sang kuda agar mulai melangkah keluar istana. "Hiah!" Ia berpegang pada rambut kuda itu sambil menghentakkan kakinya ke tubuh binatang itu lalu kuda pun mulai melangkah sedikit cepat mengikuti perintahnya.
"tunggu!" teriak Ken.
"Jangan berisik, aku tak tuli!" ucap wanita itu dengan sinis. "Kau itu sekarang adalah seorang tawanan, jadi permintaanmu kutolak," serunya dengan tegas.
Baru kali ini Ken bertemu dengan wanita yang bermulut pedas dan karena itu ia terpaksa diam.
Selama di perjalanan Ken berusaha berpikir, siapa wanita ini sebenarnya. Kenapa wanita ini tahu namanya, dan satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah, wanita ini memang wanita yang pernah ditemui sebelumnya, siapa pun namanya wanita itu.
Kuda itu kembali melangkah ke perbatasan di mana banyak padang rumput dan bukit-bukit kecil di sepanjang mata memandang. Lambat laun ia melihat sebuah perkampungan dengan bangunan yang terdiri dari tenda yang berbentuk bulat dengan ukuran yang lumayan besar.
Makin mendekati tempat itu, Ken mulai merasakan udara dingin karena di sana sini mulai terlihat kumpulan salju walau tidak banyak. Mereka mulai mendekati daerah pegunungan tempat pesawat jatuh.
Ada beberapa orang pria di tempat itu yang sedang mengurus kuda tapi tidak terlihat seorang pun wanita. Apakah ini tenda sementara yang bisa berpindah-pindah hingga lebih mirip tenda bagi orang yang mengurus perbatasan dibanding sebuah tempat tinggal? Entahlah.
Dibilang tenda tempat tinggal karena tenda itu berukuran cukup besar, tebal, dan terlihat seperti rumah. Ada beberapa tenda di tempat itu dan ada satu yang ukurannya lebih besar. Ken dibawa ke tenda itu oleh wanita itu sedang pengawal yang lainnya menepi ketika sampai.
Wanita itu segera turun sedang Ken dibantu turun oleh yang lainnya. Mereka membawa pria itu ke tenda besar tempat wanita itu masuk.
Ken kemudian didudukkan di lantai beralaskan sebuah permadani yang indah yang berisi bantal-bantal empuk. Pengawal-pengawal itu keluar menyisakan wanita itu dan dirinya di sana.
Wanita itu mulai duduk di hadapan Ken dan mencondongkan tubuh ke arahnya, membuat pria itu panik. Ia segera meraih wajah pria itu dengan tangkuban kedua tangannya.
"Ka-kau mau apa?" tanya Ken sedikit gugup. Matanya membulat dengan sendirinya.
Wanita cantik itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tersenyum lembut. "Kau benar-benar tak ingat padaku?"
"Eh ... apa ... kau orang yang sama yang aku lihat di Nagoya waktu itu?"
"Benar."
Ken terkejut. "Jadi kau sama sepertiku? Setengah dewa?"
"Tidak."
Ken menjadi bingung. "Lalu?"
Wanita itu menarik wajah pria itu dan mengecup keningnya. "Nakal!"
"Apa?" Pria itu kian tak mengerti.
Wanita itu mengerucutkan mulutnya. "Kalau aku bilang jangan, jangan ... ya?"
"Hah?" Ken masih melongo. Wanita ini salah orang atau ....
"Masa Ryu tidak memberitahumu?"
__ADS_1
"Ryu ...." Pria itu pikirannya masih meraba-raba. "Jadi kau ...."
"Siapa coba tebak."
"I-bu?" eja pria itu pelan karena ragu.
Wanita itu mencubit kedua pipi Ken dengan lembut. "Ping pong!"
"Eh, apa?" sahut Ken tak percaya dengan ucapannya sendiri.
Wanita itu kembali menangkup wajah Ken dan menggoyang-goyangkannya karena senang. Ia kembali mengecup dahi anaknya.
Ken masih melongo. Benarkah dia ibuku? Selama ini aku sudah bertemu dengannya, kenapa ia tidak tahu? Ia menelan ludah dengan susah payah.
Namun ia melihat wajah wanita itu yang tidak menua, sedang ia masuk jaman itu langsung berubah menjadi pria dewasa. Apa ini karena ibunya seorang dewi hingga wanita itu tidak kunjung menua? Atau karena dirinya bisa mati hingga wajahnya berubah dewasa? "Eh, kenapa aku jadi terlihat seumuran denganmu, eh, Ibu."
Untuk pertama kalinya, Ken mengakui wanita itu ibunya walaupun tak masuk akal, seperti saat ia berhadapan dengan Pak Ryu. Ia seperti belum bangun dari tidur panjangnya.
"Itu tergantung dengan apa yang kamu pikirkan saat kamu pindah dimensi. Itu pula yang menyebabkan tubuhmu berubah dan mempengaruhi ke arah mana kamu pindah."
"Maksudnya? Aku bisa mengarahkan ke mana aku akan pindah?"
"Benar sekali. Saat kamu akan pindah, kamu harus merubah pemikiranmu sesuai dengan yang diinginkan sehingga kamu bisa pindah ke tempat yang kamu tuju."
"Benarkah?"
"Benar, Sayang Ibu." Wanita itu mencubit dengan gemas pipi Ken. Sesuatu yang sering dilakukannya waktu Ken masih kecil. Ini sangat berbeda dengan sikapnya tadi di luar. Wanita ini tadi terlihat begitu galak. Apa ia sengaja melakukannya?
"Aduh, sakit," keluh pria itu memegang pipinya tapi sulit karena kedua tangannya masih terikat. "Eh ...."
"Kenapa ibu mengikatku?"
"Karena kau bisa saja berusaha kabur. Padahal banyak yang ibu ingin ceritakan. Kamu pasti punya banyak pertanyaan yang ayahmu tak bisa jawab 'kan?"
"Kenapa ibu tak bilang saja tadi itu di sana?"
"Karena tidak ada yang percaya dengan cerita ini tapi yang percaya sebagian besar adalah musuh, Ken."
"Mmh? Aku punya musuh? Aku tidak pernah buat masalah dengan orang lain. Bagaimana aku punya musuh?" Ken mengurut pergelangan tangannya bekas diikat tadi.
"Karena takdirmu. Kamu di masa depan akan jadi pemimpin para manusia setengah dewa."
"Bagaimana aku bisa jadi pemimpin? Aku saja tidak bisa apa-apa," keluh pria itu.
"Hidup itu berproses. Kadang ada orang yang berhasil melewati tantangan hidup dengan mengantisipasi kekurangan dirinya."
"Bagaimana caranya?"
"Pakai otakmu. Kamu 'kan tidak bodoh."
Ken merengut. Wanita itu tersenyum dan memeluk pria itu.
"Eh?" Walau mulut terucap percaya, tapi secara lahiriah ia masih bingung, apalagi disentuh oleh wanita itu, dipeluknya. Pelukannya terasa hangat. Perlahan tangan yang tadinya kaku mulai luruh jatuh ke bawah. Ia menikmati pelukan ibu yang sering ia impikan saat ia sedang sendirian.
Wanita itu tiba-tiba melepas pelukannya. "Nah, sekarang waktumu tak banyak. Kau harus bersiap-siap."
__ADS_1
"Apa? Aku memang mau ke mana?"
"Kau kembali ke tempat pesawat jatuh itu dan katakan pada mereka bahwa kau adalah satu-satunya penumpang yang selamat. Dengan begitu kau menyelamatkan Yeti milik Dalai Lama itu untuk sementara."
"Hanya itu?"
"Selamat tinggal."
"Apa? Apa maksud Ibu dengan selamat tinggal?" Ken kembali terkejut. Wanita yang menjadi ibunya itu kini akan meninggalkannya. "Ibu mau ke mana?" Kini Ken meraih tangan wanita itu. Ia takut, sendirian. Ia tak kenal siapa-siapa selain wanita itu dan wanita itu kini akan meninggalkannya lagi.
"Bukan aku yang pergi, Ken, tapi kamu."
"aku? Ke mana?"
"Lho, bukannya kamu akan mencari pacarmu itu?"
"Dia bukan pacarku, Yumi teman baikku."
Ibu mendekat dan mengalungkan tangannya di leher pria itu. "Siapapun itu. Bukannya kau mencarinya?"
"Eh, iya, tapi ke mana? Aku bingung ...." Ken tertunduk.
"Selesaikan saja tugasmu, nanti kau akan pindah dimensi." Ibu mengusap rambut anaknya dengan lembut.
"Bagaimana caranya?"
"'Kan tadi Ibu sudah bilang."
"Apa?"
"Coba ingat-ingat lagi."
Ken terdiam dan berpikir. "Tadi bicara pindah dimensi dengan apa yang dipikirkan, tapi bagaimana aku tahu aku akan pindah dimensi?"
Ibu melepas pelukan di leher dan menepuk-nepuk bahu Ken. "Pindah dimensi itu caranya macam-macam. Nanti juga kamu akan tahu sendiri." Wanita itu bergerak menjauh tapi Ken tiba-tiba meraih tangan wanita itu lalu memeluk tubuhnya. "Ken?"
"Aku takut, Bu. Sendirian." Pria itu mengeratkan pelukan.
"Kau akan jadi dewasa." Ibu mengusap-usap punggung anak satu-satunya itu.
"Aku akan kehilangan Ibu seperti aku akan kehilangan Ayah."
"Kata siapa? Ibu akan menengokmu sekali-sekali."
Pria itu melepas pelukan. "Benarkah? Bagaimana caranya?"
Wanita itu tertawa. "Aku 'kan seorang dewi. Masa aku tak mampu mencarimu?"
"Ibu!" Ken kembali memeluk ibunya. "Aku pasti akan merindukanmu."
Wanita itu menepuk-nepuk punggung anak lelakinya itu.
____________________________________________
__ADS_1