
Ketiga orang itu kemudian meninggalkan Ken sendirian di ruangan itu. Saat tubuh pemuda itu terbalik dan baju kaos yang robek di bagian perut tersingkap, Irish tak sengaja melihat tubuh mulus Ken.
Wanita itu mengernyit alis, sebab setahunya, tubuh pemuda itu di bagian perut, ada lebam yang tak mungkin hilang dalam sehari. Atau memang obat salepnya itu sangat manjur? Entahlah, ia sendiri bingung.
Ken yang sendirian di dalam ruangan itu berusaha konsentrasi. Naik ke atas ya? Ia melirik ke arah kakinya yang ada di atas. Ok.
Pemuda itu membungkukkan tubuh ke atas dengan mudah hingga tangannya mencapai pergelangan kaki yang diikat. Tali itu ia raih untuk menaikkan tubuhnya. Setelah itu, ia bingung bagaimana cara memanjat tali itu karena ia belum pernah melakukan sebelumnya.
Saat mencoba, tubuhnya kembali meluncur turun ke tali paling bawah hingga telapak tangannya sedikit terluka. "Ah!"
Tali itu adalah tali tambang yang kasar. Seratnya merusak telapak tangan. Namun ia dengan gigih mencoba sekali lagi dengan mengakali, melilitkan tali itu di telapak tangan lalu naik.
Ia melakukannya setiap memanjat dan ternyata ia bisa naik ke atas walau sedikit rumit. Telapak tangannya sakit karena terlilit tali itu saat menaikkan tubuhnya, sampai akhirnya ia mencapai besi di atas.
Ia kemudian berpegangan pada besi itu dan
menaikkan tubuhnya hingga ke perut, lalu bergantung di atas besi. Dilihatnya tombol merah yang dipasang di atas besi itu. Setelah menghembuskan napas pelan, ia menekan tombol itu. Terdengar suara bel berbunyi yang menggema di seluruh ruangan.
Irish belum selesai menuruni tangga tapi sudah mendengar bel itu. Ia tersenyum karena puas. "Ayo!" ujarnya pada kedua pria tadi yang bersamanya.
Mereka kembali ke ruangan dan mendapati tubuh Ken bergelantungan pada besi di atas.
"Ayo turun," sahut Irish pada pemuda itu.
Kedua pria itu membantu menurunkannya dan melepas tali itu pada kaki Ken.
"Ok, latihan kedua," ujar wanita itu lagi.
"Apa? Masih ada?Aduhh ...."
Ken digiring ke ruang lain. Ruang itu cukup luas dan berisi pipa gantung yang berbentuk ular-ularan yang rumit. Juga disambung dengan saluran udara berbentuk kotak yang ukurannya cukup lebar.
"A-apa ini?" tanya Ken bingung.
"Oh, ini tidak susah kok. Kamu hanya diminta berjalan mengikuti perintah. Kalau kamu salah langkah, kamu harus kembali ke titik semula."
Terdengar mudah, tapi Ken tak mau terjebak. Tadi saja tangannya sempat cidera. Untung saja ia segera menyembuhkan luka agar wanita itu tidak memberinya obat lagi. Wanita itu memberi obat bukan menyembuhkan tapi malah menyiksanya.
Pemuda itu diberi sebuah alat mirip earphones untuk berkomunikasi yang diletakkan di telinga. Ia kemudian dimasukkan ke sebuah pipa yang berukuran cukup besar agar bisa memulai latihannya.
Irish kemudian mengambil sebuah tongkat dan memasang alat earphones itu di telinga. Ia memulai latihannya. "Ken, kau dengar?"
__ADS_1
Ken menyentuh alat di telinganya. "Ya, aku dengar."
Wanita itu mendongak ke atas dan mulai memberikan perintah. "Ayo, sekarang kau bergerak lurus."
Pemuda itu merangkak berjalan mengikuti pipa itu sampai ia menemukan jalan yang bercabang 3. "Eh, ini ada perempatan. Aku harus ke mana?"
"Belok kiri."
Ken menurut dan kembali merangkak. Ia terus merangkak hingga pipa itu berbelok ke kanan. Ia terus mengikuti. Dari bawah, wanita itu bisa mendengar suara langkah sepatu Ken yang bergesek pada pipa besi.
Pemuda itu kemudian bertemu jalan yang bercabang 2. "Ini ada pertigaan."
"Belok kanan."
Pemuda itu mengikuti perintah. Kemudian ia bertemu dengan lubang angin hingga ruangan terasa lega. Tiba-tiba di depannya ada banyak cabang di tiap setengah meter. "Di depan ada banyak cabang. Aku harus ke mana?"
"Belokkan ke dua kiri."
Kembali pemuda itu menemukan banyak cabang. "Ada lagi, Nona. Aku harus ke mana?"
Irish sebenarnya ingin tertawa karena Ken memanggilnya 'Nona' tapi ia tahan. "Belokkan ke 5 kanan."
Ken menghitungnya lalu berbelok. Ia menyadari kemudian lubang angin di depannya disambungkan dengan pipa yang lebih kecil. "Ini ada pipa kecil di depan."
"Apa? Tapi lubang itu, aku tidak bisa merangkak disitu."
"Tapi kamu bisa lewat situ 'kan? Jadi, lewati."
"Kenapa tidak melewati jalan yang lebih mudah sih?" Pemuda itu mulai protes.
Irish memukul tempat pemuda itu berada dengan tongkat hingga terdengar suara besi yang sangat berisik. Pemuda itu sampai terkejut hingga hampir meloncat dari tempatnya.
"Ken. Lakukan perintahku atau kau harus mengulanginya dari awal lagi!" ucap wanita itu dengan emosi tak tertahankan.
Ken menghela napas pelan. "Iya, iya ...." Pemuda itu akhirnya harus merayap dalam pipa sempit di depannya. Ia benci ruang sempit sebenarnya karena mirip ruang hukuman. Untung saja pipa sempit itu tidak terlalu panjang hingga ia bertemu sebuah lubang. Ia menurunkan kepala. Terlihat wanita itu berdiri tak jauh dari lubang itu. "Sampai sini."
"Kau boleh turun," ucap wanita itu sambil tersenyum.
Kedua pria yang menunggu Ken di bawah, membantunya turun. Untung saja pipa itu tidak terlalu tinggi hingga ia bisa dengan mudah diturunkan tanpa menggunakan tangga.
"Sudah 'kan?" desah pemuda itu.
__ADS_1
"Belum."
"Apa? Sudah ah, aku tidak mau lagi!" Ken melangkah meninggalkan mereka.
Wanita itu memberi kode pada kedua pria itu hingga meringkus Ken.
"Hei, sudah. Aku tidak mau lagi!" Namun sia-sia saja Ken berontak karena ia tetap dibawa ke tempat lain.
Sebuah ruangan mirip yang pertama. Ada 2 tiang besi yang disambung di bagian atas. Kemudian sebuah tali di tengahnya. Namun bedanya, tali ini bukan tali biasa. Ia punya alat katrol dan tempat untuk mengikat tubuh agar mudah beraktivitas.
"Apa ini?" Ken kembali terheran-heran dengan alat canggih yang mereka punya.
Kedua pria itu kembali mengikat Ken dalam keadaan terbalik tapi kali ini pemuda itu tidak lagi diikat kedua tangan dan kakinya. Saat pemuda itu tergantung, ia mulai mencoba alat itu.
"Coba, di pinggangmu itu ada tombol untuk menarik turunkan badanmu. Coba kau pakai dulu," sahut Irish.
Pemuda itu mencoba mencarinya di pinggang dan lalu mencobanya. Sekali tekan, Ken naik ke atas. "Wah, keren." Ia mencoba lagi menekan yang lain, dan kemudian tubuhnya turun.
Wanita itu mendekat. "Coba kau naik dulu."
Pemuda itu menekan tombol yang satu lagi dan tubuhnya naik ke atas.
Irish berdiri di bawahnya dan mengeluarkan sesuatu di tangan berbentuk bulat. "Coba kamu ambil ini."
Ken turun masih dalam keadaan terbalik. Ia kemudian mengambil benda yang ada di telapak tangan wanita itu lalu kembali naik. "Ah, coklat!"
"Ya, itu untukmu."
"Ah, terima kasih." Pemuda itu memakannya.
Irish tersenyum melihat keluguan pemuda itu, tapi kemudian ia teringat harus melakukan latihan saat itu. "Ayo, sekarang kita mulai!" Wanita itu memukul tiang itu dengan tongkat yang masih dibawanya hingga menimbulkan bunyi melengking yang memekakkan telinga.
"Ah!" Ken menutup telinga, demikian juga Hugo dan Ben.
"Ah, sebaiknya kita tunggu di luar saja. Di sini berisik," ajak Ben pada Hugo. Kedua pria itu pun keluar.
"Dengar. Kali ini latihannya akan sulit, dan kalau kau tak konsentrasi, kau tak boleh turun dari situ. Kau mengerti?!" ucap wanita itu dengan tegas.
Pemuda itu melongo.
__________________________________________
__ADS_1
Yuk, kepoin yang satu ini.