
"Apa? Irish? Irish adalah mentorku. Bagaimana mungkin aku bersikap manis, aku dari awal menolak bergabung di tim ini."
"Cih, jangan banyak alasan! Aku lihat kau selalu bersikap manis setiap berhadapan dengannya!"
Bersikap manis? Aku bersikap manis? Kapan dia lihat aku bersikap manis? Mungkin dia hanya melihat kami saat di luar saja, tapi apa dia tak mengingat aku saat lari kemarin itu? Apa dia buta? "Aku ...."
"Apa maksud perkataanmu, Vicky?" Irish masuk dari pintu di belakang, dan mendengar kalimat terakhir pria itu.
Vicky langsung panik. "A-aku hanya mengajak mengobrol saja," jawabnya gugup.
"APA yang kau katakan tadi dengannya, hah?" Nada suara meninggi wanita itu memperlihatkan wajah seramnya pada pria itu. Alisnya bertaut dengan mata menyorot tajam.
"Aku ...." Vicky menelan ludahnya karena ia tak mau terlihat payah pada wanita di hadapan pemuda itu.
Ken mencoba menengahi. "Dia hanya ...."
"Diam kau, Ken! Jangan coba ikut campur!" hardik wanita itu tanpa menoleh. Ia masih menyorot Vicky.
Pemuda itu jadi tak berani bicara. Wanita itu saat ini sedang menahan amarah, seperti singa yang sedang menggigit bom waktu di giginya. Tatapan matanya sangat mengerikan.
"Kau hampir menghancurkan semua latihanku yang sudah susah payah kutanamkan di otaknya!" Wanita itu menunjuk Ken. "Apa kau tahu, bagaimana kesalnya aku saat ini?!" terlihat sekali wanita itu menahan emosinya yang ingin meledak.
Pria itu seakan mati kutu. Ia tak sanggup membuat pengecualian.
Tiba-tiba Irish menarik lengan pria itu keluar dari kamar itu. "Kita bicara saja di luar." Namun kemudian kepalanya kembali masuk ke dalam kamar membuat pemuda itu terkejut. "Kau ... jangan berpikir yang aneh-aneh. Tetap fokus dengan pekerjaanmu."
"Eh, iya."
"Bagus." Dan wanita itu kini sepenuhnya keluar. Ia membawa pria itu ke depan pintu kamarnya. "Apa sih yang ada di otakmu? Aku sudah bilang, aku sedang fokus bekerja. Tidak bisakah kau tidak menggangguku?" Wanita itu bertelak pinggang di hadapan pria bule itu.
"Irish." Pria itu berusaha mencari kalimat yang tepat agar wanita itu mengerti. Ia menekan nada suaranya. "Kedekatan kita membuatku khawatir. KITA tiba-tiba kehilangan kontak satu sama lain dan ini ...."
"Apa maksudmu dengan 'kedekatan'?"
Vicky langsung kesal mendengarnya. Ia membuka pintu kamar wanita itu dan mempersilakan wanita itu masuk. Irish terpaksa masuk untuk mendengar keterangan pria itu lebih lanjut.
Namun saat ia masuk, pria itu langsung mendekapnya. vicky berusaha mencumbunya. Dengan cepat Irish mendorong dengan kasar pria itu agar menjauh. "Apa-apaan ini?"
Vicky terkejut.
"Oh, jadi ini masalahnya?" Wanita itu bicara seakan meremehkan pria itu. '"Kan sudah dibilang, di sini kau tak boleh bermain hati."
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu tahu tentang kita, iya 'kan? Lagipula kau menikmati malam itu bersamaku."
"Bodoh! Pasti ada yang tahu dan lagi pula, untuk hal-hal begitu, aku tak main hati," ucapnya tegas.
"Irish, yang benar saja ...." Pria itu membulatkan matanya tak percaya, tapi melihat wajah wanita itu yang serius, ia menelan ludah. "Kau sama sekali tidak merasa ...."
"Tidak, dan kau sangat mengusikku!"
Vicky menatap wanita itu kembali dengan terperangah. "Jangan-jangan kau jatuh cinta padanya, ya?"
"Siapa, Ken?" Alis wanita itu berkerut.
"Iya, anak ingusan itu."
"Ken?" Wanita itu memastikan sekali lagi. "Dia itu pancingan terbaikku. Kalau sampai anak itu kabur gara-gara kamu, aku takkan memaafkanmu!" Kembali Irish menatap pria itu tajam.
Sementara itu, Ken di kamar bimbang. Nanti malam ia akan melakukan pencurian pertamanya dan ia bingung. Ditambah, ada seseorang yang membenci keberadaannya di sana. Pemuda itu bisa merasakan aura kecemburuan dalam diri pria itu tadi.
Aku tak bisa begini terus. Saat aku punya kesempatan, aku harus pergi. Mungkin aku tak bisa mendapatkan kalung itu sekarang, tapi aku bisa kembali lagi mencarinya. Yang penting sekarang, aku harus menggagalkan misi pencurian permata itu. Kalau aku tak ada, mereka takkan bisa melakukan pencurian ini.
Ken melirik ke arah jendela. Selagi kesempatan itu ada, ia harus bergerak cepat karena permata itu pasti hanya akan dipamerkan dalam waktu singkat. Ia melangkah ke arah jendela.
Saat ia membuka jendela itu, Irish masuk. Ken terkejut dan buru-buru bergerak cepat. Ia menurunkan kaki kanannya.
"Ah!"
"Ken, apa yang kau lakukan?" tanya Irish kesal.
"Sudah, aku tidak mau teruskan. Bukankah dari awal aku tidak mau?" Ken mencoba berdiri tapi wanita itu menendang.
"Ah!"
"Jangan main-main denganku, Ken." Mata wanita itu berapi-api dengan geraham yang dirapatkan kencang.
Ken kembali berdiri dan tak menanggapi. Ia kembali melangkah ke arah jendela. Wanita itu menarik lengan pemuda itu dengan kasar tapi segera ditepis Ken dan saat itulah pemuda itu tahu, wanita itu bisa ilmu bela diri.
"Haiyah!" Dalam sekejap dan percepatan tangan, pemuda itu telah diringkusnya.
Tangan pemuda itu terjepit ke belakang sehingga ia tak bisa melepaskan diri. "Iris, lepaskan aku ...."
Wanita itu menjepitnya lebih keras hingga Ken kesakitan.
__ADS_1
"Ah, sakit ...," ucap pemuda itu menahan nyeri di lengannya. "Irish, aku mohon."
"Tidak ada seorang pun yang melanggar janji denganku. Ingat itu!"
"Irish ...." Pemuda itu mengiba.
Pemuda itu ditarik dan dijatuh di atas ranjang. Saat pemuda itu ingin kabur, wanita itu mendudukinya. Kembali Irish menangkap kedua tangan pemuda itu dan menariknya ke atas. Pemuda itu berontak dan berusaha melepaskan diri tapi percuma. Tangan wanita itu seperti besi kait yang keras.
Ken tak sanggup melepaskan diri. Apalagi melihat wanita itu mendekatkan wajahnya, pemuda itu ketakutan. "Irish, ka-kau mau apa?"
"Mau mengikatmu karena kau sangat susah dipercaya!" Irish mengeluarkan sebuah sapu tangan yang dilihatnya bisa jadi bahan untuk mengikat.
"Irish, aku mohon. Lepaskan aku."
Pemuda itu memohon tapi tak digubris. Wanita itu terus mengikat tangan pemuda itu dan lalu mengikatnya lagi ke kepala ranjang seperti sebelumnya.
Wanita itu kemudian beranjak berdiri. "Jangan coba-coba melarikan diri lagi atau aku akan menghajarmu!"
"Irish, Irish ... tolong."
Wanita itu melenggang pergi.
"Ck!" Ken kesal tapi tak bisa apa-apa.
Irish kemudian pergi dengan Jack ke Musium dan bersama Jack menyamar menjadi pengunjung Musium. Gunanya untuk mendapatkan posisi yang tepat dari permata itu dan melihat kondisi sekitarnya.
Kabarnya saat siang hari dijaga oleh pengawal kerajaan Arab, sedang malam dijaga oleh sinar laser yang bergerak-gerak di sekitar permata itu. Mereka juga berpura-pura mengambil foto koleksi Musium padahal untuk melihat peta ruang lebih jelas lagi.
-----------+++----------
Ken mulai kelaparan. Apa ini sudah jam makan siang? Ah ... Aku juga ingin ke kamar mandi. Aduh ....
Tiba-tiba pintu terbuka. Irish masuk dengan membawa sebuah bungkusan. "Kau sudah lapar? Aku membawa makan siangmu."
Ken diam tak mau bicara. Ia ngambek karena tadi diacuhkan.
"Jadi kau tak mau makan? Ya sudah." Wanita itu berpura-pura ingin pergi.
"Eh, aku ingin ke kamar mandi."
___________________________________________
__ADS_1
Yuk intip novel yang satu ini.