
Lucille masih ingat bagaimana ia teledor membunuh keluarga vampire itu. Ivan ternyata belum mati dan pria itu ikut besamanya melewati dimensi ke tempat Ken berada kini dan ketika sampai, drakula itu kabur menghilang entah ke mana.
"Nona," panggilan Ejiro menyadarkan Lucille bahwa ia menghentikan langkah kudanya secara tiba-tiba.
Lucille kesal pada Ken. Sangat marah. Segala usahanya ditepis pria itu tanpa mau mengerti betapa keras usahanya meluluhkan hati pria itu hingga menahan malu didengar Ejiro dan para pengawal itu.
Melihat Ken yang belum juga mengerti, ia kemudian melakukan siasat dengan menjadikan Ejiro tameng. Selagi kuda mereka bersebelahan, ia menarik tubuh pria bercodet itu dan memeluknya. Ia pura-pura menangis. Ejiro tentu saja terkejut ketika wanita itu memeluknya dari samping.
"Ken, kenapa kau jahat sekali. Kau jahat!" tangis Lucille.
Ken, ini tamu Menteri Pertahanan, lho!" tegas Ejiro.
Kata-kata Ejiro yang membela wanita itu membuat Lucille makin memeluk pria bercodet itu erat. Pria itu tentu saja senang.
Kuda Ken akhirnya mundur dan mendatangi Lucille. "Maafkan aku, maafkan aku ya?" ucapnya setengah hati. " Sudah tahu aku begitu menyebalkan, kenapa kau terus mencariku?"
Wanita itu langsung berpindah haluan. Ia menghapus air matanya sambil meraih tangan pria berambut pendek itu.Ken hanya melihat saja wanita itu menggenggam tangannya. Wajah wanita itu masih kelihatan ngambek.
"Sudah nangisnya?" tanya Ken lembut.
Wanita itu makin mengeratkan genggaman tangannya. Pria berambut pendek itu menghela napas kasar. Akhirnya kuda keduanya berjalan berdampingan dengan mereka berpegangan tangan. Ejiro hanya jadi penonton saja.
Kemudian mereka sampai ke tempat tujuan. Sebuah taman yang sangat besar. Karena masih pagi, pengunjung belumlah ramai. Para pengawal mengamankan tempat di mana mereka bergerak dengan jarak radius 200 meter, agar mereka tidak bertemu langsung dengan rakyat biasa.
Lucille minta dibantu turun sehingga Ken terpaksa memegangi tangannya waktu turun dari kuda. Apalagi saat melihat bunga-bungaan yang sedang mekar, wanita itu meminta ditemani berkeliling taman, hingga ketika lelah, mereka berhenti di sebuah kedai makanan.
"Menjelang siang, udara sudah mulai panas ya," ujar wanita itu sambil menyeka keringat di dahi. Ia juga melihat Ken dengan keringat mengalir deras di dahi, lalu mengambil sapu tangan dan menyeka dahi pria itu.
Ken terkejut dan menghindar.
"Aku hanya ingin me—"
"Tidak usah," sahut pria berambut pendek itu cepat.
Wanita itu merengut membuat Ejiro menyenggol lengan Ken. Pria berambut pendek itu terlihat kesal Dan menghela napas, tapi ia harus berusaha membuat nyaman wanita itu, walau hati kecil mengatakan sebaliknya. "Eh, nanti sapu tangannya kotor."
"Tidak kok, nanti 'kan dicuci."
Terpaksa Ken menyodorkan wajahnya karena Ejiro terus menyikutnya. Wanita itu dengan senangnya menyeka kening pria itu.
__ADS_1
Ejiro menyatukan tangannya. "Bagaimana kalau kita makan siang lebih cepat?Soalnya kalau pas makan siang, tempat ini seharusnya sangat ramai, tapi karena ada kita, terpaksa pengawal mengusir pengunjung yang lain. Kasihan, nanti rugi kedainya, bagaimana?"
"Sebenarnya kita.bisa mengganti kerugiannya tapi terserah saja." Ken mengiyakan, karena setelah ini ia ingin buru-buru pulang. Ia tidak ingin berlama-lama dengan Lucille. Ia bahkan memesan makanan yang porsinya paling sedikit. Setelah selesai makan, ia pamit ingin ke toilet, padahal ia berjalan-jalan di taman sendirian.
Ejiro demi mendapat kesempatan, ia tidak menyia-nyiakannya. "Eh, aku dengar, kau berbisnis dengan Menteri Pertahanan?"
"Eh, iya."
"Bisnis apa?"
"Bisnis penjualan senjata modern."
"Oya? Seperti apa?"
"Pistol dan meriam."
"Wah, hebat juga. Kau wanita tapi berbisnis senjata, itu luar biasa."
"Ah, tidak juga. Senjata modern itu cepat ditembakkan dan langsung mengenai sasaran. Berbisnis itu pundi-pundinya juga lumayan. Lagipula tidak banyak yang berbisnis ini jadi hasilnya luar biasa."
"Bukan itu saja, anak buahmu pasti laki-laki 'kan? Tidak banyak pria yang mau punya bos wanita kecuali ia memang layak jadi pemimpin," puji Ejiro. Ia berusaha agar wanita itu fokus padanya. Setelah itu, ia menghipnotisnya.
"Ken lama ya?" Ejiro memancing wanita itu bicara.
"Mmh."
"Bagaimana kalau kita tinggalkan saja dia di sini, lalu kita pergi ke tempat lain?"
"Mmh."
"Bagaimana kalau pergi ke penginapanku?"
"Mmh."
Pria bercodet itu mencoba meraih tangan Lucille yang berada di atas meja. Wanita itu diam saja. Netranya tak menunjukkan reaksi apa-apa.
"Aku menyukaimu, Lucille. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Maukah kau tidur denganku?"
"Mmh."
__ADS_1
"Ayo, kita timggalkan Ken dan pergi denganku ke penginapan, bagaimana?"
"Mmh."
Ejiro membayar makanan, dan membawa wanita itu dengan para pengawalnya, sementara ketika keduanya naik kuda, pria berambut pendek itu melihatnya.
Ken berlari-lari mengejarnya. Setelah sampai, ia mengatur napas sambil bicara. "Kalian mau ke mana?"
"Oh, bilang saja, aku yang membawanya jalan-jalan. Sepertinya Lucille tak masalah. Iya 'kan, Lucille?"
"Mmh," sahut wanita itu tanpa ekspresi.
Ejiro bahkan memegangi tali kekang kuda wanita itu."Ya, begitu saja. Apa kau bisa pulang sendiri?"
Ken masih mengatur napasnya. "Bisa."
Pria bercodet itu pergi membawa Lucille dan beberapa pengawal Menteri Pertahanan, sedang Ken dan para pengawalnya berniat tinggal sebentar di tempat itu. Pria berambut pendek itu melihat tempat itu sangat bagus dan pasti Mira menyukainya. Ia berniat membawa gadis itu ke tempat itu besok, karena lusa, ia sudah harus menemani Menteri Pertahanan membawa drakula itu menghadap raja.
Ejiro sampai ke penginapan dan membantu menurunkan Lucille. Ia pura-pura menerangkan tentang penginapan itu, sementara para pengawal menunggu di luar. Mereka bertemu Erina.
"Paman, mau pakai kamar di atas ya?Jangan diganggu," ucap pria bercodet itu pelan.
Erina menoleh pada wanita itu yang diam sejak pertama datang. Ia tahu apa yang terjadi. Paman suka pada bule cantik berambut aneh ini? Boleh juga seleranya. "Iya, Paman."
Pria bercodet itu membawa wanita itu ke lantai 2.
------+++-----
Lucille membuka mata. Ia berada di tempat yang ia tidak kenali. Sebuah ruang kamar dan ... seorang pria. Ia mengerut kening karena pria itu berambut panjang dan rambutnya itu menutupi wajah, tapi melihat bentuk wajahnya ia tahu siapa pria itu. Seketika ia terkejut dan teduduk dari tidurnya.
Ternyata tubuhnya tak berpakaian dan selimut yang dipakaiannya melorot turun. Segera ia menarik selimut menutupi tubuh dan mencerna lagi apa yang terjadi. Namun ia tak ingat apapun. Bagaimana caranya ia berakhir di tempat tidur dengan teman Ken, sementara ia tidak ingat apapun? Di mana Ken? Apa ia mabuk? Dan sekarang, ia ada di mana?
Segera ia memunguti pakaiannya yang berjatuhan di lantai. Ia mencoba mengenakan satu-satu saat Ejiro terbangun.
"Oh, Sayang, kau mau ke mana?" tanya pria itu yang ikat rambutnya telah terlepas. Rambutnya tergerai sampai pinggang.
"Apa katamu? Jangan pikir karena kau telah tidur bersamaku, kau bisa memilikiku!" teriak wanita itu geram. "Jangan mimpi!"
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita tidur sekali lagi. Mmh?"
__ADS_1
"Laki-laki berengsek!" Lucille menendang ranjang itu karena kesal.