
"Heh, aku tak mengganggumu, kenapa kau ingin ikut campur!" Seorang pria dengan kaos tanpa lengan dan bertato mengejeknya.
"Ya, kau benar. Kau tidak menggangguku tapi mengganggu hati nuraniku. Jadi sebaiknya hentikan tindakkan kalian atau aku akan benar-benar ikut campur!" ancam Ken.
Perkataannya benar-benar menyulutkan amarah pria-pria itu sehingga ketiga orang bertato itu mengelilinginya. Ken memasang kuda-kuda. Ketika salah satu menyerang, pria itu menangkis dengan keras dan membalikkan. Ia dengan cepat memiting tangan lawan.
"Ah!"
Yang lain kembali menyerang dengan bogem mentah yang pria Jepang itu putar ke belakang, lalu Ken menendang preman itu hingga jatuh tersungkur ke tanah. Lawan berikutnya dihalau Ken dengan cara berbeda.
"Sialan, berengsek!" Preman yang jatuh kembali bangkit. Ketiganya main curang dengan menyerang bersamaan tapi Ken bisa menangkisnya. Setelah lama berduel, mereka mulai tumbang satu per satu. Tubuh para preman itu mulai sakit-sakit di beberapa tempat.
"Aduh ...."
"Uh ...."
"...."
"Sebaiknya kalian pergi sebelum aku bertindak lebih jauh lagi." Ken memberi peringatan.
Ketiga preman itu akhirnya pergi dengan terbungkuk-bungkuk. Pria Jepang itu kini beralih pada gembel tua itu. Ia membantu nenek itu berdiri. Sang nenek yang bertubuh sintal itu hanya memandang ke arah Ken. Matanya tak berkedip.
"Nenek tak apa-apa?"
"Eh, tidak apa-apa, Nak."
Ken hendak merapikan pakaian nenek itu tapi tangannya segera ditahan oleh sang nenek.
"Tidak usah."
"Eh, maaf, Nek. Bukan maksudku ...."
"Iya, nenek tahu." Wanita tua itu mengangguk-angguk.
"Eh, tunggu." Ken mengeluarkan dompetnya dari saku celana. Ia memberikan beberapa lembar uang untuk nenek itu. "Jangan lupa makan ya, Nek. Sebentar lagi musim dingin tiba."
"Terima kasih."
Pria itu pun pergi. Nenek itu memandangi punggung Ken yang membelakangi sang nenek, semakin lama semakin jauh. Wanita tua itu terus memandangi hingga tak terlihat lagi.
Kenapa di saat aku sudah memulai hidup yang baru, kau datang. Kau mengingatkanku pada kenangan itu. Apakah itu kamu? Kamu yang aku cari dulu? Kalau benar ia masih hidup, ia pasti seumur kamu ....
__ADS_1
Netra wanita itu berkaca-kaca. Ada kenangan yang sulit terlupakan yang tadinya tersimpan lama, tiba-tiba menguar ke udara. Membuka luka lama.
Kamu mungkin bukan dia tapi telah masuk ke dalam ceritaku, batinnya pedih tertunduk lesu.
----------+++--------
Sore itu, sang pria Jepang kembali berjalan di jalan itu dan memeriksa tempat sang nenek tua kemarin berada. Tepatnya di depan bank di sebuah gang sempit. Ya, tempat itu gang sempit sehingga tak aneh ada preman berkeliaran di sana tapi saat ini sepi.
Tak ada terlihat nenek itu bahkan gerobaknya yang ia tarik seperti kemarin. Ke mana nenek itu? Semoga saja dia mendapat tempat yang aman untuk berteduh, batin Ken sambil berharap.
Setelah berjalan-jalan sebentar, ia kembali ke restoran tempatnya bekerja. Ia mendapati seorang wanita cantik bertubuh sintal tengah duduk di salah satu kursi meja tengah, tanpa ada apapun di atas meja. Ia berusia sekitar 40 tahun tapi tetap cantik di usianya yang paling dewasa.
"Eh, Nyonya sedang menunggu makanan atau belum pesan?" Ken berbaik hati bertanya.
"Mmh?" Netra wanita itu menangkap wajah Ken dan terkejut. Sebenarnya bukan kejutan tapi sesuatu yang membuatnya senang. "Oh, aku tidak tahu harus beli apa." Netra wanita bule berambut hitam itu tak lepas dari memandangi pria di depannya.
"Restoran kami baru, mungkin Nyonya tak familiar dengan makanan di sini. Nyonya suka makanan apa? Eropa? Itali?" Pria Jepang itu membuka menu untuk sang wanita.
"Kau Chef di sini ya?"
"Bukan Chef, Nyonya. Hanya juru masak biasa." Ken membetulkan.
"Kau masak apa?" tanya wanita itu tersenyum pada Ken. Hidungnya yang bangir mempercantik wajah wanita cantik itu bak lukisan monalisa.
"Oh, boleh. Aku minumnya ice jasmine tea ya?"
"Baik, Nyonya." Ken kemudian pergi ke dapur.
Pelayan kemudian mengantarkan makanan pada tamu restoran. Tak lama ia kembali dan mencari sang pria Jepang. "Ken, pelanggan mencarimu."
"Kenapa? Apa tidak enak?" Ia melepas celemeknya.
Kembali para koki yang sedang beristirahat, melirik keduanya. Mereka segera memasang telinga, penasaran.
"Tidak tahu. Katanya mau bicara dengan pembuat makanan ini."
"Eh, baiklah." Ken keluar mendatangi wanita yang terlihat kaya itu. Wanita itu tengah merokok.
"Ada apa ya, Nyonya?" Terlihat makanan tak satu pun tersentuh. Apa wanita ini ingin mengajak ngobrol aku, seperti anak Tuan Ramires? Pikirannya kembali ke kejadian beberapa waktu lalu.
"Kau tidak sedang bekerja 'kan? Bisa temani aku mengobrol?"
__ADS_1
Pria itu sibuk menghalau asap rokok karena ia mulai terbatuk-batuk.
”Oh, maaf." Wanita itu segera mematikan rokoknya di sebuah piring kecil. "Bisa 'kan?"
"Eh, maaf, Nyonya. Aku malah takut mengganggu, Nyonya."
"Oh, tidak. Aku hanya kurang semangat saja bila harus makan sendiri."
"Tapi aku hanya seorang juru masak, Nyonya."
"Tidak apa-apa. Ayolah."
Dengan berat hati, pria itu duduk. Sebenarnya tak nyaman baginya untuk duduk dengan Nyonya kaya itu, tapi biar bagaimanapun pelanggan adalah raja. Selama wanita itu tak melakukan hal aneh, ia terpaksa harus menemani.
"Siapa namamu?" tanya wanita itu, lembut. Ia mulai memotong daging ayam di hadapan.
"Apa harus menyebut nama?"
"Harus dong. Masa aku tidak tahu dengan siapa aku bicara?" protes wanita itu dengan suara pelan. Bibirnya melengkung ke atas.
"Ken. Namaku, Ken."
"Namaku Magdalena. Kau bisa memanggilku Lena." Wanita itu menyuap daging yang dipotongnya. "Mmh, lezat. Kau pintar sekali memasak. Kau sekolah ini?"
"Oh, tidak, Nyonya. Hanya ikut kursus. Dulu sewaktu di panti asuhan aku suka bantu-bantu kepala panti."
"Panti asuhan?" Tiba-tiba wanita itu tersedak dan terbatuk-batuk.
Ken buru-buru mengambilkan gelas minum sang wanita. "Eh, ini, Nyonya."
Dengan menyematkan rambut hitam sebahunya ke belakang telinga terlebih dahulu, wanita itu mulai minum. Teh dingin itu menyelamatkan tenggorokannya.
"Nyonya sebaiknya jangan bicara kalau sedang makan." Pria itu menasehati. "Eh, maaf, Nyonya. Saya ke dapur dulu." Ia pun meninggalkan wanita itu dan pergi ke dapur.
"Eh, ya." Pelupuk mata sang wanita tiba-tiba terasa hangat dan tergenang. Apa kau yang selama ini aku cari Ken? Ia menghela napas berat untuk menghalau resah.
-----------+++---------
Saat hendak pulang, Ken penasaran dengan nenek tua itu hingga menyempatkan diri datang ke tempat itu lagi karena khawatir, tapi nenek tua itu dan gerobaknya seperti hilang ditelan bumi. Ia akhirnya pulang menggunakan bus.
-------------+++-----------
__ADS_1
Esoknya, entah kenapa Ken masih penasaran. Sekitar jam 10, di mana yang lain sibuk menyiapkan bumbu untuk dimasak, ia keluar mengaku ingin beli roti untuk sarapan. Sebenarnya ia kembali ke tempat di mana ia pernah bertemu dengan nenek itu, tapi hasilnya nol besar. Ia tetap tidak menemukan wanita tua itu.
Ken akhirnya membeli beberapa potong roti di toko roti dan kemudian kembali. Entah kenapa kakinya masih ingin mencoba memastikan kembali hingga akhirnya ia pergi kembali ke sana. Namun kali ini, ia melihat nenek itu dan gerobaknya. Nenek itu dikeroyok para preman!