
"Sudah kau temukan tempat yang aku minta?" Pria itu mendengarkan sejenak dan kemudian menjawab kembali. "Ok. Kirim alamat dan petanya. Biar aku cari tempat itu." Ia menutup HP-nya.
Tak lama terdengar bunyi notifikasi di handphone pria itu. Ia segera mengeceknya.
"Ayah!" Pemuda itu datang menyambangi. "Aku lapar."
Jack tersenyum sambil mengusap kepala Ken. "Ya, kita makan." Mereka melangkah ke mobil.
"Kucingmu mana?" tanya pria itu.
"Itu, Yah." Ken menunjuk ke arah belakang. Seekor kucing jantan berwarna putih hitam mengikuti pemuda itu dari belakang.
"Ayo, kita makan dulu." Jack meraih bahu pemuda itu.
------------+++-----------
Ken melihat sekitar. Daerahnya berada di area padat penduduk, bukan komplek perumahan seperti sebelumnya, sehingga banyak yang ia bisa lihat. Rumah kecil, rumah besar, restoran, bengkel, laundry, toko dan lain sebagainya sehingga pemuda itu sibuk melihat-lihat sampai mobil berhenti di depan sebuah pagar rumah besar. Pria itu turun dan membuka pagar.
Ada seorang pria yang datang menyambut mereka karena ia duduk di beranda. Ia kemudian menyerahkan sebuah kunci pada Jack. Ken turun membawa kucingnya dan tanpa sengaja melihat ke belakang. Ia melihat seorang gadis yang wajahnya begitu familiar, tengah berjalan sendirian. Ia melirik Ken lalu pura-pura tidak tahu dan terus pergi.
"Mira ...," gumam pemuda itu.
Kucing itu menoleh karena ia mendengar apa yang dikatakan Ken. Ia tentu saja heran, bagaimana pemuda itu bisa mengenal gadis itu, sedang mereka baru pindah ke luar kota yang sudah sangat jauh dari tempat sebelumnya mereka tinggal. Apa pemuda ini sering berpindah rumah?
Ken langsung saja mengikuti gadis itu tanpa berpikir panjang. Ia menyentuh tangan gadis itu karena begitu yakin dengan apa yang dilihatnya.
"Kau tinggal di daerah ini?"
"Iya," jawab gadis itu tersenyum di kulum.
"Hei, lihat. Aku punya kucing lucu." Ken memperlihatkan kucingnya yang berbulu tebal.
"Iya, lucu. Eh, tapi maaf, aku kerja dulu ya?" Gadis berkepang dua itu berbelok di sebuah toko laundry.
Pemuda itu hanya diam dan memandangi toko itu. Jack tentu saja melihat Ken mengikuti gadis itu. Baru kali ini ia tidak menghardiknya, karena sorot mata pemuda itu pada gadis itu yang terlihat berbeda. Ia memanggilnya setelah Ken berdiri di sana sekian lama tanpa melakukan apa-apa. "Kenzie!"
Pemuda itu menoleh dan bergegas mendatangi. "Maaf, Yah."
"Mmh."
--------+++---------
"Ayah." Ken mendekati pria bule itu dengan mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia sedikit gelisah. "Apa aku boleh minta uang jajan?"
__ADS_1
"Apa?" Jack yang baru saja menyelesaikan makan malamnya, mengusap mulut dengan serbet, dan menyoroti wajah pemuda itu dengan teliti. Bukannya ia tidak ingin memberi, tapi Ken yang tidak pernah bermasalah karena tidak pernah memegang uang itu tiba-tiba meminta uang jajan, dan itu terdengar aneh. Ia segera tahu, untuk apa uang itu tapi pura-pura tidak tahu. "Untuk apa?"
"Yah, aku 'kan sudah dewasa. Aku ingin mencoba membeli apa-apa sendiri dan ingin punya teman di luar sana."
"Mmh."
"Yah ...."
"Apa gadis yang bekerja di laundry itu yang kau sebut teman?"
"Yah, aku 'kan manusia yang butuh teman."
"Kucingmu itu apa tidak cukup untuk menjadi teman?"
"Aku 'kan manusia, ya temannya manusia juga dong, Yah," ucap Ken mengingat kata-kata Gojo waktu itu.
"Jadi kamu sudah tidak membutuhkan kucing itu lagi?"
"Eh, bukan begitu, Yah." Ken segera meraih tangan pria itu. "Manusia itu mahluk sosial yang berteman dengan siapa saja." Ia berusaha meralat kalimatnya.
Pria itu tersenyum lebar. "Kau sudah mulai pintar bicara sekarang ya?"
"Ayah ...," rengek Ken.
Pemuda itu terlihat senang dengan tersenyum lebar.
----------+++----------
Ken mengintip dari jendela ditemani kucing itu. Kucing itu mengeong pada pemuda itu hingga pemuda itu sadar ia telah mengabaikannya. Ken berjongkok dan meraih kucing itu. "Maaf ya, tapi aku menunggu dia keluar. Ini penting."
Tak lama ia melihat gadis itu keluar dari toko itu. Buru-buru ia berlari ke arah tangga dan menuruninya, lalu membuka pintu dan bergegas keluar. Ia berusaha mendatangi gadis itu yang lewat depan rumahnya. "Mira ...."
Gadis itu memang sudah melihat Ken datang.
Pemuda itu berusaha mensejajari langkah gadis itu dari samping. "Kau mau pulang ya?"
"Iya."
Kucing hitam putih itu menatap dari seberang jalan yang tidak terlalu besar. Jadi benar gadis itu bernama Mira? Jadi dia bukan mirip seseorang tapi mereka memang sudah saling kenal. Teka teki ini semakin menyulitkanku karena Jack sepertinya tidak kenal Mira, jadi di mana sebenarnya Ken mengenalnya? Kenapa jadi tambah satu orang lagi yang juga mencurigakan? Kucing itu menggaruk-garuk telinganya.
"Sudah makan malam belum?" tanya Ken lagi.
"Belum."
__ADS_1
"Aku traktir, mau? Di depan ada restoran fastfood. Kita makan burger, yuk?"
"Boleh."
Kucing itu menyeberang dan mengikuti Ken. Pemuda itu langsung menggendongnya. Karena tidak boleh membawa binatang ke dalam restoran, Mira menunggui Ken memesan makanan di meja luar bersama kucing itu. Ia tak percaya Ken bisa memelihara kucing selucu itu bersamanya. Di gendongnya kucing itu karena senang.
Pemuda itu datang membawa pesanan mereka. "Ini, maaf lama."
"Kakak dapat kucing ini dari mana?"
"Hutan."
"Masa?"
"Tak ada yang percaya, bahkan orang yang tinggal di hutan itu juga bilang begitu tapi benar kok, kucing ini muncul dari hutan. Kurasa hanya Jack yang percaya itu karena dia melihatnya sendiri."
"Jack yang jadi ayahmu itu?"
"Iya." Pemuda itu duduk dan membagi makanan mereka.
Kucing itu tercengang mendengar percakapan keduanya. 'Yang jadi ayah?' Ia menyebut ayahnya 'Jack'? Apa maksudnya itu?
Seusai makan malam, Ken mengantar Mira yang tinggal di kos-kosan tak jauh dari situ kemudian pulang ke rumah. Jack yang menunggu di ruang tamu telah memastikan pemuda itu pulang ke rumah dengan selamat. Ia merasa lega.
"Malam, Ayah," ucap pemuda itu dengan riang.
"Malam."
Ken masuk ke kamar dan meletakkan kucing itu di atas ranjang. Ia kemudian ikut naik ke atas ranjang dan bermain sebentar dengan kucing itu. Namun kemudian ia berwajah muram. "Uangku yang diberi ayah sudah habis. Bagaimana caranya aku mentraktirnya besok ya." Ia bergumam sendiri dan menoleh pada kucing itu, kemudian mendekapnya.
"Apa aku harus bekerja? Tapi ayah pasti takkan mengijinkan." Pemuda itu menghela napas. "Apa aku harus membuka tabungan? Tapi pasti orang akan curiga. Bagaimana caranya aku bisa punya uang lebih?" Ia menoleh pada kucing itu. "Mmh?"
Ia menatap kucing itu dengan menata bulu yang ada di wajah binatang itu. Ia menakup wajah kucing itu. "Andai kamu bisa bicara ...." ucapnya dengan gemas dan memeluk kembali kucing itu, kini ia beralih menatap telapak tangannya.
Ia terdiam sejenak. Kemudian ia membalik tangannya itu dan menepuk tangan yang satu lagi. Ketika dibuka, ada sebuah koin di atas tangannya itu dan terbuat dari emas.
Kucing itu terkejut. Apa dia bisa sulap? Mata kucing itu tak berkedip dibuatnya.
Ken mengambil koin itu dan melihat sebentar kepingan itu. Ia kemudian kembali memasukkannya ke telapak tangan dengan menusukkannya seperti celengan. Koin itu menghilang. "Ah, belum perlu."
Kucing itu melongo!
____________________________________________
__ADS_1