
"Tapi bukannya Tuan takkan membayarku selama 6 bulan kerja?" Ken mengingatkan.
"Kau 'kan belum bekerja padaku, jadi tidak apa-apa 'kan kalau aku beri?"
"Eh ...." Sang pria Jepang terlihat bingung.
Ramires tersenyum di kulum. Sangat sulit melihatnya tersenyum walaupun ia tidak pernah begitu galak. Senyumnya, membuat pria itu makin terlihat tampan. "Sudah, tak perlu banyak dihitung. Anggap saja kau pinjam uang padaku."
"Baiklah. Aku pinjam uang padamu, Tuan."
"Hari ini sudah tidak ada apa-apa lagi, jadi kau bisa pulang setelah berbelanja. Sopirku akan mengantarmu ke asrama karyawan itu dan ingat, jangan lupa. Kursus masak mulai jam sembilan pagi. Jangan sampai telat."
"Eh, baik, Pak."
Seperti yang dikatakan pria itu, sopir orang kaya itu menunggunya di lobi lantai satu. Mereka kemudian pergi naik motor. Kebetulan ada pasar malam di kota Paris dan Ken akhirnya pergi berbelanja ke sana.
Setelah puas berbelanja, Ken pun diantar sopir itu ke asrama karyawan khusus laki-laki. Asrama itu adalah sebuah gedung besar berlantai tiga. Sopir itu pun tinggal di sana.
"Ladi, kau tinggal di sini juga?" Ken terkejut.
"Iya, karena rumahku sangat jauh. Kadang Tuan Ramires pulang malam, jadi terpaksa aku tinggal di asrama."
"Wah, kita bisa bertetangga ya?" Sang pria Jepang sangat senang karena ada teman yang bisa diajak bicara. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata beberapa karyawan lama restoran Ramires juga tinggal di situ.
"Oh, kau akan tinggal di sini juga? Wow!" Pria kurus tinggi itu berkomentar. Ia melihat Ken membawa beberapa plastik belanja di tangan.
"Kenapa?" Pria Jepang itu balik bertanya.
"Ah, tidak. Kenalkan, namaku Jean Pierre Bartolo." Pria bule itu menyodorkan tangannya.
"Ken Tachibana." Ken menyambut uluran tangan bule itu.
Kamar mereka berseberangan. Asrama itu adalah sebuah gedung tua yang telah direnovasi. Kamarnya sendiri cukup besar untuk satu orang tinggal di sana. Seluruh gedung itu tidak seluruhnya terisi, hanya sebagian saja. Ladi menempati kamar di lantai tiga sedang Ken di lantai dua.
Setelah mendapatkan kamar, Ken merapikan barang belanjaannya dan mulai membersihkan diri di kamar mandi. Ia melakukannya dengan cepat agar bisa beristirahat.
Sesudah mandi, ia kemudian bergeser ke tempat tidur. Banyak hal yang terjadi hari ini membuatnya lelah. Satu hal yang diingatnya adalah mimpi semalam. Mimpi tentang bertemu Mira. Ia bermimpi Mira membantunya kembali ke restoran setelah mabuk di bar.
Ah, itu pasti Min Shi. Min Shi yang menolongku sampai kembali ke restoran dan setelah itu ia pulang. Hah ... andai itu benar Mira, betapa menyenangkannya, tapi semua telah berakhir. Tugasku berakhir. Tidak ada lagi wajah manis itu yang akan menemaniku berpetualang.
Tanpa sadar Ken menyentuh leher. Biasanya ada kalung yang dulu tangannya selalu permainkan saat sedang berpikir atau mengingat sesuatu. Ya, kalung itu telah dibawa kabur Mira.
Saat itu, ia tak jadi mengejarnya karena dia ragu. Ragu, apa sebenarnya yang ingin dia kejar. Kalung itu atau Mira? Tak sadar air matanya menetes hingga melewati telinga.
__ADS_1
Tersadar Ken akan air mata yang mengalir, ia segera menghapusnya. Ada apa denganku? Apa aku rindu padanya? Ken menghela napas panjang dan sesak. Ya. Aku rindu padanya.
-----------+++----------
Di sebuah rumah dari bambu di tengah hutan, seorang gadis tengah duduk bersandar di atas pembaringan, dengan memandangi sesuatu di telapak tangannya. Sebuah kalung berbandul koin. Gadis itu menitikkan air mata.
Kenapa sulit sekali melupakanmu, Kak Ken. Sulit sekali. Bahkan aku berusaha pergi ke tempat terpencil seperti ini tapi bayanganmu tetap mengejarku. Mimpiku tetap hanya tentangmu, dan aku tetap tak bisa berhenti mengkhawatirkan sikap bodohmu setiap waktu. Sampai kapan kau bisa berhenti menyiksaku seperti ini, Kak Ken?
Padahal aku tahu, kau tak pernah mengatakan hal-hal manis padaku, tapi sikapmu itu membuatku ragu. Atau ... aku terlalu ingin percaya, sikap manismu itu hanya untukku. Katakan, Kak Ken agar aku percaya.
"Mi La! Mi La, kau di mana?" Teriakan seorang wanita membuyarkan lamunan sang gadis. Dengan cepat gadis itu menghapus air matanya, dan bergeser turun dari pembaringan.
------------+++-----------
Ken akhirnya selesai mengikuti kelas masak selama satu minggu. Ia kembali dipanggil oleh Ramires ke kantornya.
"Kau telah menyelesaikan kursusmu berarti kau sudah bisa masak 'kan?" tanya Ramires pada pria Jepang itu.
"Mudah-mudahan, Tuan."
Pria kaya itu mengerut kening. "Kenapa jawabannya seperti itu?"
"Aku kan baru belajar, belum benar-benar terjun langsung jadi aku tidak tahu bisa tidaknya."
"Eh, itu benar, tapi masakan di dunia ini sangat banyak dan beragama dan aku hanya mengetahui sebagian kecil saja dari masakan itu."
"Kau bisa masakan Eropa?"
"Eh, mungkin."
"Kalau begitu, masaklah untuk keluargaku malam ini."
"Apa?" Ken terkejut dengan permintaan pria itu.
"Kau boleh pergi berbelanja sekarang kalau kau mau." Pria itu mengeluarkan kartu hitam dari dompet dan menyodorkannya pada pria Jepang itu. "Jangan lupa dengan minuman anggurnya."
Ken terperangah. "Tapi, Tuan ...."
"Di rumah ada istri dan anak perempuanku dan aku tidak menerima penolakan. Kau bisa pergi dengan supirku, dengan minta tolong Jemima di depan, dan sebaiknya ... segera karena sebentar lagi malam." Pria itu tak henti-hentinya memberi perintah membuat Ken bingung mendengarnya.
"Eh, eh, baiklah." Pria Jepang itu nampak gugup dan segera beranjak dari sofa lalu pergi. Namun kemudian kembali. "Eh, permisi, Tuan." Lalu ia pergi lagi.
Ramires tersenyum lebar.
__ADS_1
----------+++----------
"Aduh, aku harus masak apa ya?" tanya Ken pada Ladi.
"Aku tak tahu. Ini bukan keahlianku." Pria bule itu mengangkat bahu.
"Maksudku, apa kau tahu kesukaan mereka apa?"
"Aku tak pernah melihat mereka makan. Bukankah kau kerja di restoran? Apa kau tak tak lihat apa yang dimakan Tuan Ramires?"
"Eh, lihat sih."
"Lalu?"
"Dia makan pasta kerang waktu itu dan di hotel dia makan steak."
"Ya sudah, buat saja."
"Waktu itu dia makan steak daging." Ken berpikir sebentar. "Ah, baiklah. Aku akan buat steak ayam."
Ladi mengerut kening. "Itu sama sekali berbeda, Ken!" protes pria bule berambut hitam itu.
"Tidak apa, 'kan aku yang masak," ujar pria Jepang itu sambil mulai mencari bahan di supermarket itu.
"Lalu kenapa kau bertanya? Aku pikir kau akan masak makanan yang sama dengan yang dimakannya."
"Aku 'kan tidak bilang seperti itu."
"Ah, Ken ...," sahut Ladi kesal.
Ken terkekeh.
--------+++---------
Pria Jepang itu masuk lewat pintu belakang rumah besar itu mengekor Ladi. "Eh, maaf. Permisi."
Beberapa pelayan memberi jalan ketika Ladi masuk lebih dulu. Mereka hanya memperhatikan bawaan Ladi dan Ken di dalam dus dan plastik belanja. Mereka juga memperhatikan sang pria Jepang. Sampai di dapur, Ladi berhadapan dengan koki rumah itu, Dante. "Eh, maaf. Sepertinya malam ini kamu harus beristirahat karena orang ini yang akan memasak untuk Tuan Ramires."
"Benarkah?" Pria tinggi besar bernama Dante itu menatap Ken. "Apa aku akan digantikan olehnya?"
"Aku tidak tahu."
Kini Dante dan Landi menatap Ken.
__ADS_1