
"Dia?" ucap Ken dan Freya bersamaan sambil saling tunjuk.
Don kembali terkekeh. "Sepertinya kalian akan cocok satu sama lain."
Pria Jepang itu hanya melirik gadis itu sekilas, tapi Freya melihat Ken dengan kening berkerut.
"Mana bisa dia jadi bodyguard? Ditangkap bodyguard Papa saja dia gak berkutik," ledek gadis itu. "Aku tadi malah berpikir, dia orang yang menembak Papa kemarin."
"Oh, tidak. Justru dialah yang menolong Papa kemarin dari anak nakal itu, karena dia berani menabrak orang payah itu dan membawa kabur Papa dengan motor."
Gadis itu melirik Ken dengan pandangan tak percaya. "Papa gak bohong, 'kan?"
"Papa selalu ingin memberikan yang terbaik untukmu, Sayang. Bukankah kamu tidak suka bodyguard yang bertubuh besar dan berwajah galak?"
Gadis itu kembali memperhatikan Ken walau pria Jepang itu sudah jengah diperhatikan seperti itu dari tadi.
Mmh, kau pikir aku mau jadi bodyguard gadis secerewet kamu, batin Ken.
"Tapi aku yakin, selain nyali, dia tak bisa apa-apa," ucap gadis itu meremehkannya.
"Justru, dia bekerja di sirkus. Pasti banyak bisanya."
Netra gadis bule berambut hitam itu kembali meliriknya, dan mendengus kesal. "Terserah Papa saja," putusnya kemudian. Gadis itu pun keluar dari ruangan itu.
"Nah, kau sudah dengar 'kan maksudku membawamu ke sini?" tanya Don pada pria Jepang itu.
"Tapi aku rasa, Bapak salah memilih orang. Aku hanya pekerja serabutan di sirkus itu, Pak. Kerjaku sekarang juga karena membantu menggantikan salah satu pemain akrobat yang cidera. Di luar itu, aku masih orang baru di sana."
"Memang kerjamu apa di sana?"
"Kadang bantu berjualan, tapi kemarin aku membantu tim akrobat di sana jadi badut."
Pria paruh baya itu menahan tertawa. "Oho. Badut ya? Sebenarnya tidak penting apa yang kamu kerjakan sebelumnya. Bukankah setiap orang ingin mempunyai pekerjaan yang bisa menaikkan derajatnya?"
"Iya, aku mengerti, Pak, tapi aku tidak bisa menerima tawaran Bapak."
"Kenapa? Gajinya bahkan lebih besar dari gaji kamu kerja di sana."
__ADS_1
"Aku masih berhutang pada mereka."
Don mengerut dahi. "Hutang apa?"
"Aku pernah melanggar peraturan mereka yang sebenarnya tidak aku perbuat, tapi karena mereka tidak percaya, terpaksa aku bekerja di sana supaya bisa membayar hutang agar tak di penjara."
"Membayar denda, maksudmu? Berapa jumlahnya?"
Ken menggeleng. "Aku tidak tahu."
"Memang kamu melanggar apa?"
"Aku sebenarnya mengusir anak kecil yang menonton acara di sirkus itu dengan mengintip, dan tak sengaja juga aku ikut melihat acara apa yang sebenarnya anak-anak itu lihat, tapi mereka tetap menganggap aku mengintip. Jadi aku terpaksa kerja di situ untuk membayar denda atau mereka akan memasukkan aku ke penjara."
Pria itu terdiam sesaat. Pria ini terlalu jujur, dia menghindari pengadilan padahal bisa saja ia lolos dan dinyatakan tidak bersalah karena sebenarnya kesalahan yang dilakukannya tidak berat. Mana ada pengadilan yang mau mengurusi hal-hal seperti ini. Ini hanya akal-akalan pihak sirkus saja yang mau mengambil keuntungan darinya. "Di mana orang tuamu?"
"Aku yatim-piatu, Pak."
"Oh." Ia melirik pria itu. "Apa kau tidak ingin bekerja padaku, karena kau bisa punya gaji yang lumayan."
"Sebenarnya kau itu dibohongi pihak sirkus. Tidak ada gara-gara menonton dengan gratis acara mereka, tiba-tiba kau masuk penjara."
Ken terperangah. Ia terlihat bingung.
"Aku bisa membantumu keluar dari mereka, tapi sebagai gantinya, apa kau mau membantu aku menjadi bodyguard anakku? Aku juga tidak membayarmu dengan murah."
Ken terdiam, masih syok. Melihat itu Don melirik tangan pria Jepang itu yang masih terikat. Ia menarik simpulnya. "Aku bisa percaya padamu 'kan, kau takkan pergi dariku?"
Tali itu pun terlepas.
"Hari ini aku akan mengurusnya, jadi tunggu aku. Kau bisa kembali ke kamarmu sekarang," usir pria itu dengan gerakan tangannya.
Ken tak bisa bicara apa-apa selain memberi hormat dengan sedikit membungkuk. Ia kemudian pergi dengan didampingi salah satu bodyguard yang menunggui mereka di sana.
---------+++---------
Don kini duduk berhadapan dengan Lucille dan Bill sementara ia membawa pengacaranya. Ia terlihat santai sementara Bill terlihat kesal pada wanita itu. "Aku tidak mengerti bagaimana cara kalian merekrut pegawai, tapi terus terang yang kau lakukan ini adalah kecurangan. Kau menipu seorang pria miskin dan yatim piatu hanya agar ia bisa bekerja denganmu. Apa itu tidak rendah? Mengancamnya bahwa ia akan masuk penjara? Mana ada peraturan semacam itu?"
__ADS_1
"Jadi apa yang kau inginkan dari kami?" tanya Lucille dengan wajah dingin.
"Lepaskan dia. Biarkan dia pergi."
"Yang menyarankan untuk bekerja di sirkus ini adalah dia sendiri."
"Karena kamu menipunya, iya 'kan? Bertahun-tahun aku diejek sebagai manusia rendah tapi ternyata ada orang yang terlihat baik juga usahanya, malah melakukan kejahatan di belakang. Lalu bedanya apa, kamu dan Saya?"
Bill berdehem membuat semua orang beralih padanya. "Boleh aku bertanya, apa Ken mau bekerja denganmu?"
"Oh, tentu saja. Aku menawarkan pekerjaan ini baik-baik padanya. Ia bahkan masih syok mengetahui dirinya ditipu oleh pemilik sirkus ini," ucap pria paruh baya itu sedikit menyindir wanita itu.
"Kalau memang Ken menyukai pekerjaannya, tidak apa-apa. Aku akan melepasnya."
"Bill!" teriak Lucille. Kini wanita itu yang kesal pada pria bule itu.
"Kenapa? Dia 'kan tidak terikat apa-apa dengan kita? Dia juga tidak berhutang."
Wajah Lucille terlihat masam.
"Mengenai kerugian yang ditimbulkan, pastinya tidak banyak, 'kan dia hanya bekerja sebagai badut." imbuh Don.
"Oh, jangan salah sangka. Memang Ken menggantikan salah satu pemain sirkus kami tapi posisinya tidak sembarangan. Badut itu posisi yang paling senior, sebenarnya di sirkus dan Ken baru menyerap sekitar 40% dari ilmu badut ini. Dia baru bisa mendalami akrobat udara dan itu tidak sembarang orang bisa dan dia bisa melakukannya dalam waktu 2 minggu saja. Padahal di umurnya, ia terlalu tua untuk mempelajari ini."
Don terkejut mendengarnya.
"Aku berambisi untuk mengajarinya sulap dan yang lainnya tapi mengingat gaji sirkus yang tidak jelas, aku pasrah saja kalau ia ingin bekerja denganmu. Ia memang pantas mendapatkan hidup yang lebih baik mengingat ia juga mengurus adiknya di tempat lain."
"Adiknya? Dia punya adik?" tanya Don kaget.
"Iya. Makanya kalau ia cari uang untuk adiknya, aku sangat, sangat maklum."
Don melirik Lucille yang terlihat cemberut saat ia mengobrol dengan Bill. Untuk pertama kalinya, ia dan Bill setuju tentang satu hal, yaitu Ken. "Eh, tapi tentu saja aku takkan merugikan kalian. Karena aku mengambil salah satu pegawaimu, aku akan membayar ganti ruginya." Ia melirik pria yang ada di sebelahnya.
Pria itu meletakkan tas persegi yang sedari tadi ia bawa, di atas meja. Ia membukanya. Isinya penuh dengan uang kertas yang masih disegel, membuat Bill dan Lucille terkejut.
"Ini uang ganti ruginya. Semuanya untuk kalian."
__ADS_1