
Keduanya tidur di atas kasur sambil berpegangan tangan. Tiba-tiba gadis itu bergerak dan memeluk lengan Ken membuat pria itu terbangun. Namun hanya sebentar. Kemudian Ken meneruskan tidurnya lagi.
Paginya pria itu terbangun tanpa Mira. Ia kebingungan mencari. " Mira ...."
Ya, ia kembali ke dalam kapal dan tidur di dalam kamarnya karena kebetulan kamar itu tidak tenggelam. Bahkan lubang bekas peluru meriam memudahkan ia bolak-balik ke kamarnya dengan mudah karena dekat.
Seorang gadis keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang panjang membuat Ken terkekeh. Ternyata kemarin itu, gadis itu memakai wig rambut pendek jadi terkesan ia sudah potong rambut, padahal tidak. Itu hanya rambut palsu saja. Ia juga kini telah berganti dengan pakaian pria itu yang kebesaran. "Kak aku udah mandi."
"Mmh, haciuh!" Pria itu bersin. Karena semalam tubuhnya sempat basah kuyup hingga ia bersin-bersin keesokan harinya.
"Kakak sih, bukannya pulang dulu, ganti baju malah ngajak lari-larian di pulau."
Ken segera turun dan meraih lengan gadis itu. Kamu gak pergi ke mana-mana 'kan?"
"Masa aku tinggalkan Kakak sendirian di pulau?"
"Pokoknya, awas aja kalau tiba-tiba menghilang." Pria itu menunjuk-nunjuk wajah gadis itu.
Mira bertelak pinggang. "Lah, yang tiba-tiba menghilang itu siapa? Bukannya Kakak yang sering begitu? Udah janji tapi ternyata pindah dimensi."
Ken setengah tertawa. "Itu bukan niatku. Aku tak bermaksud begitu karena aku bukan orang seperti itu."
"Iya, deh!" Gadis itu memiringkan kepalanya.
"Ih, sumpah!" Ken mengangkat 2 jarinya.
"Aku 'kan gak ada pilihan selain percaya."
"Mira, aku ngak ada niatan untuk berbohong padamu."
"Kalau aku gak percaya, kamu pasti marah padaku 'kan?"
"Itu gak akan, tapi tolong percaya padaku." Pria itu menyatukan tangan di depan wajah, memohon.
"Apa aku bisa menolak? Aku hanya kerja pada ibumu."
Ken meraih tangan gadis itu. "Tapi kita 'kan teman. Aku ingin kita saling percaya bukan saling menyalahkan."
Kita hanya sebatas teman, aku harus meyakinkan diriku.
"Mira ...."
Gadis itu kembali sadar dari lamunannya.
"Haciuh!"
"Sudah, Kak, cepat mandi. Nanti aku buatkan teh hangat."
"Iya. Padahal rencananya aku ingin mengubur mayat-mayat itu, tapi kondisiku lagi begini." Ken menggosok-gosok hidungnya. Ia segera mandi.
__ADS_1
Seusai membersihkan diri, Mira memenuhi janjinya membuatkan teh hangat.
"Kak, di dapur adanya makanan kaleng. Aku gak tau cara masaknya."
"Tapi, kepala kakak pusing. Tunggu agak siang ya?" Namun kemudian pria itu berbalik. "Eh, tapi 'kan ada buah kaleng? Kau bisa makan itu."
"Oiya. Kakak mau juga?"
"Boleh. Bawakan saja untukku."
Setelah Mira pergi, Ken meminum teh hangatnya sedikit lalu pergi tidur. Gadis itu kembali dan mendapati pria itu telah tertidur, padahal ia sudah membawa kaleng buah dan mangkuk untuk makan bersama. Akhirnya ia mengambil bagiannya saja dan menyisakan untuk pria itu.
Sambil makan pada sebuah meja, ia memperhatikan Ken. Pria itu tidur dengan nyenyaknya. Selesai makan ia pergi ke pulau dan menjelajah. Sejauh ia melangkah memang tidak ada apa-apa selain hutan rimba. Ia melangkah sejauh yang ia bisa.
Beberapa jam kemudian, pria itu terbangun. Tubuhnya terasa lebih baik, tapi ia kembali sendirian. "Mira ...." Namun ia melihat kaleng buah di atas meja. Kemudian ia beranjak turun dan menghampiri.
Mmh, pasti dia tidak akan pergi ke mana-mana 'kan? Ia pun duduk dan memindahkan buah kaleng itu ke mangkuk. Ia melihat mangkuk bekas makan gadis itu masih di sana. Seraya makan, ia tersenyum melihat mangkuk gadis itu. Dasar anak-anak!
Setelah mencuci piring, pria itu keluar dengan mengangkat celana panjangnya hingga selutut, agar tak basah saat harus menyebrang air laut yang dangkal karena mayat yang bertebaran. Ia terpaksa menginjak mayat-mayat itu untuk bisa sampai ke pantai. Untung tubuhnya sudah kembali sehat, sehingga ia bersemangat ingin menggali lubang untuk mengubur mayat-mayat itu.
"Kakak!" Ternyata Mira sedang berada di pulau dan melambai-lambaikan tangannya ke arah pria itu.
Ken bergegas datang dan heran melihat pakaian gadis itu basah. "Kamu habis dari mana? Kenapa pakaianmu basah? Kamu habis tercebur ya?"
"Sini, Kak, ada sesuatu."
"Ikut aku." Gadis itu menarik tangan pria itu.
"Tapi, bagaimana dengan mayat-mayat itu? Aku ...."
"Nanti saja, Kak," potong gadis itu.
Ken terpaksa mengikuti gadis itu. Tempatnya sepertinya agak jauh hingga kemudian mereka bertemu kembali dengan pantai. "Untuk apa kita kembali ke pantai lagi, Mira?"
"Itu" Gadis itu menunjuk ke sebuah batu karang besar.
"Maksudmu?"
"Itu ternyata goa, Kak."
"Oh, ya sudah," jawab Ken santai.
"Tapi ada sesuatu di dalamnya, Kak."
"Apa itu? Harta karun?"
Gadis itu menjentikkan jemarinya di depan wajah. "Tepat sekali."
Pria itu hanya menatap gadis itu datar. "Jangan bercanda ah! Sudah! Kita balik saja." Baru saja ia berbalik, Mira menarik tangannya.
__ADS_1
"Ih, beneran lho, Kak. Ayo lihat!"
Ken terpaksa mengikuti kemauan gadis itu. Ada sebuah celah sedikit di bawah batu karang itu dan gadis itu membawanya menyelam melewati celah itu. "Mira, aku baru sembuh ...."
Namun karena terus ditarik, pria itu terpaksa menyelam ke bawah celah karena bajunya terlanjur basah. Ia mengikuti gadis itu dan ketika naik, ia terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Memang benar ada harta karun. Sejauh mata memandang ada berpeti-peti koin emas dan perhiasan permata. "Wah ...."
"Benar 'kan Kak?"
Mereka naik ke daratan dan melihat sekeliling.
"Aku tadinya gak percaya, karena itu aku membawa Kakak ke sini."
Ken masih membuka matanya lebar-lebar melihat ini semua. "Ini harta rampasan dari perompak kapal yang kemarin itu mungkin, Mira."
"Mungkin."
"Wow, ini bisa bikin orang kaya," sahut Ken lagi masih melongo.
"Bagaimana kalau kita bawa semua, Kak?"
Pria itu menoleh pada gadis itu. "Untuk apa? Kita 'kan berada di pulau terpencil, Mira. Lagipula, aku 'kan tak bisa membawanya serta."
"Bisa."
Ken mengerut kening. "Caranya?"
"Pakai tangan, Kakak."
"Hah?" Pria itu tak kunjung mengerti.
Mira mengangkat tangan pria itu. "Lakukan seperti waktu tangan Kakak menarik gurita waktu itu."
Walau tak percaya, Ken mencobanya. Ia melebarkan tangan mengarah ke tumpukan harta karun itu. "Masuklah!" Dan benar saja, harta karun itu seperti tersedot ke dalam telapak tangan pria itu. Bahkan seperti mesin vacum Cleaner, Mira mengarahkan tangan itu ke semua sudut yang berisi harta karun itu. Bahkan harta karun itu masuk semua beserta peti-petinya hingga habis tak tersisa.
Ken kembali melongo melihat tempat itu bersih dari benda apapun. Ia menatap nanar tangannya yang tidak berubah bentuk maupun warna. Tangan ini telah menelan harta karun itu! Tangan ini ... makhluk apa tanganku ini sebenarnya?
Ia menoleh ke arah Mira yang tersenyum lebar, tapi dirinya masih belum tanggap. "Ini tadi, harta karun tadi masuk ke tanganku, 'kan ya?"
Gadis itu mengangguk.
"Tapi kenapa tanganku tidak berat?" tanya pria itu sedikit linglung.
Gadis itu malah melompat dan memeluknya. "Kakak sekarang jadi orang kaya, Kak! Kakak jadi orang kaya!" teriaknya kegirangan.
____________________________________________
__ADS_1