Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Di Hantui Kenangan


__ADS_3

"Ngak ah. Aku mau menemani, Ken. Sebaiknya Min Shi pulang denganmu saja," tolak Irene.


Lucas makin mengerucutkan mulutnya. Kenapa kedua orang perempuan ini suka sekali dengan pria Jepang berwajah tolol ini? Apa istimewanya? Dia 'kan hanya bisa membuat kaldu kampung itu, selebihnya ia tidak ada apa-apanya!


Ia sangat gemas melihat kedua wanita itu seperti memuja Ken. Apalagi sejak kaldu buatan pria itu mulai disukai pelanggan. Ken menjadi bahan gosip oleh keduanya. "Oh, kemarin aku lihat toko kue dan roti yang ada di belokan itu diskon kalau malam. Apa kamu mau melihatnya?" ajaknya dengan siasat yang lain. Untung saja, ia sering menguping obrolan mereka jadi ia tahu apa yang mereka inginkan.


"Benarkah?" Irene dan Min Shi berucap bersamaan.


Nah, 'kan? "Ah, Min Shi. Kau antar Ken pulang saja. Aku dan Irene akan membelikannya untukmu. Kau mau apa? Aku akan membelikan untuk sarapan pagimu."


Min Shi malah ikut tergoda. "Aku mau lihat dulu ...," rajuknya.


Aduh, gimana ini ... kok jadi begini? Lucas menggaruk-garuk kepalanya.


"Bagaimana kalau kita ke toko kue dan roti dulu, setelah itu aku nanti kembali kemari. Aku tinggal menjemput Ken pulang." Min Shi memberi pilihan. "'Kan toko rotinya tidak jauh dari sini," terangnya.


"Kita bisa titipkan Ken pada pelayan agar ia tidak ke mana-mana." Kini Irene yang bicara.


"Ya sudah. Ayo, sekarang saja kita berangkat, sebelum terlanjur tutup tokonya." Pria bule itu akhirnya setuju.


Min Shi mendatangi Ken yang tertidur di meja. Ia membangunkannya. "Ken, aku belanja dulu ya? Nanti kujemput."


Pria itu membuka matanya dengan berat. "Apa? Mira, kau mau ke mana? Jangan tinggalkan aku di sini," pintanya. Ia sudah tak bisa mengenali dengan siapa ia bicara, dan apa yang dibicarakannya.


"Mira?" Wanita itu membulatkan matanya. "Aku Min Shi, Ken. Apa kau tidak ingat padaku? Aku teman kerjamu!"


"Jangan tinggalkan aku ...," rengek Ken.


"Tidak. Aku hanya pergi sebentar. Kau tidur saja, nanti aku bangunkan."


"Tapi janji, jangan tinggalkan aku." Pria itu mengiba. Ia menyentuh tangan sang wanita.


"Iya, iya. Kamu tidur dulu, nanti aku bangunkan." Wanita itu meletakkan kedua tangan pria itu di atas meja. "Tidur dulu ya?"


"Iya, iya," ucap Ken sedikit merajuk tapi ia kemudian dengan tertib tidur di atas lipatan tangannya kembali.


Wanita itu meninggalkannya dan pergi bersama Irene dan Lucas. Beberapa menit kemudian, seorang gadis mendatanginya. Ia menyentuh bahu pria itu. Perlahan pria itu membuka matanya. Ia melihat netra gadis itu berkaca-kaca. "Mira, kau telah kembali. Kau akan menemaniku di sini?"


"Kak, Ken ...."

__ADS_1


Ken segera memeluk pinggang gadis itu. "Kau jangan pergi lagi. Aku kesepian tanpamu."


"Kak Ken ...." Gadis itu menitikkan air mata. Mira mengusap kepala pria itu yang disandarkan ke perutnya. Ken memeluknya erat. "Mira, maafkan aku. Aku memang laki-laki tak berguna tapi jangan tinggalkan aku."


Mira mendekap kepala pria itu. Ia begitu menyayanginya. Ia rasanya tak bisa hidup tanpa pria itu.


" Mira ... Mira ...."


"Ayo, kuantar Kakak pulang," ucap gadis itu sambil menghapus air matanya.


Pria itu berdiri dengan sedikit terhuyung. Mira memapahnya hingga keluar. Mereka juga berjalan beriringan berdua. Tiba-tiba mereka berpapasan dengan Min Shi yang baru pulang membawa bungkusan belanja. Betapa kagetnya wanita itu ketika bertemu gadis itu. "Kau siapa?" tanyanya sambil menunjuk wajah Mira.


"Ayo, Mira ... aku sudah mengantuk ...," sahut Ken merengek tak sabar.


"Iya, Kak." Mira lalu terus melangkah dengan membawa pria itu sambil mengganggukkan kepala pada sang wanita.


Min Shi melongo. Apa gadis itu yang bernama Mira? Benarkah? Wanita itu terus saja memperhatikan keduanya pergi dengan pria itu dipapah oleh sang gadis.


Bar itu memang tak jauh dari restoran. Hanya beberapa blok saja dari sana. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai ke restoran. Rupanya Mira sudah memata-matai Ken sejak berangkat dari restoran ke bar. Ia terus mengikuti. Begitu juga ketika pria itu ditinggal sendirian oleh teman-temannya. Butuh keberanian untuk datang dan menyapa Ken.


"Mana kuncinya, Kak?" Mira menyodorkan tangannya.


Pria itu merogoh kantong celana dan menyerahkan kunci itu pada sang gadis. Sebentar kemudian Mira telah membantunya


"Kamar Kakak yang mana?"


Pria itu menunjuk kamarnya. Sambil mendatangi kamar itu ia mulai bicara lagi. "Tapi kamu jangan tinggalkan aku, ya?" Ken yang mabuk masih belum juga sadar dengan apa yang dilakukannya.


Mira membawanya ke ranjang, tapi pria itu malah meraih tangan gadis itu.


"Aku bilang jangan pergi," pinta Ken dengan wajah memelas. Ia sudah duduk di tepi ranjang.


"Tidak, Kak. Aku tunggu sampai Kakak tertidur."


Pria itu menatap Mira tanpa berkedip. Matanya mulai terlihat nakal dengan senyum lebar. "Kau mau tidur denganku?"


Gadis itu bimbang. Ia menatap kedua mata pria itu dengan perasaan ragu. Ia begitu menginginkannya. Pria yang begitu dicintainya.


Pelan ia membungkuk. Mendekati wajah Ken. Ia ingin pastikan hatinya dengan mengecup bibir pria itu.

__ADS_1


"Mira!"


Gadis itu menoleh. Dilihatnya Ejiro telah berdiri di samping dengan bertelak pinggang. Disebelahnya ada pintu ajaib yang terbuka lebar. Mira terkejut hingga berdiri. "Kak Ejiro ...."


Pria bercodet itu meraih tangan adiknya dengan kasar. "Beraninya kamu kabur dari kayangan, mmh! Hanya demi mengejar bajingan ini?" Ia menunjuk dengan dagunya pada Ken.


"Kakak, dia bukan bajingan. Dia pemimpin kita!" Gadis itu membela pria pujaannya itu.


"Pemimpin apa? Misinya telah selesai dan kini ia hanya bajingan perayu wanita!" ejek Ejiro lagi.


"Kakak jangan sembarangan!" Mira berusaha melepaskan diri tapi pria berpakaian kimono itu malah menariknya lebih dekat lagi dengan kasar.


"Kau ini ... mulai berani menentangku ya?" Kilat di mata Ejiro menandakan bahwa ia marah besar.


Mira menarik tangannya dengan kasar pula. "Kak, aku sudah dewasa. Aku sudah bukan anak kecil lagi, jadi jangan ganggu aku lagi!" teriaknya lantang.


"Oh, ada Ejiro," gumam Ken pelan sambil tersenyum.


"Pria bajingan ini, kau percaya padanya?" ucap Ejiro yang masih panas saja sambil menunjuk wajah pria yang sedang tersenyum itu.


"Itu bukan urusanmu,Kak!" sarkas gadis itu.


"Lihat! Perhatikan wajah priamu ini!" Seketika, Ejiro menampar wajah Ken dengan kencang. Terdengar bunyi tepukan yang sedikit keras. Pria mabuk itu menyentuh pipinya.


"Kakak!" teriak Mira kesal.


"Kau bajingan, 'kan?" tanya Ejiro pada pria itu.


Ken mengangkat wajahnya dan tertawa terkekeh. "Kau benar, aku bajingan," ucapnya masih tertawa sambil memegangi pipinya yang memerah itu.


"Kak, dia mabuk!" terang gadis itu kesal.


"Tapi kalau sampai kamu tidur dengannya, ia pasti takkan mengakuinya."


"Kak, Kakak bicara apa?"


"Apa selama ini ia pernah bilang suka padamu, hah? Tidak pernah 'kan?"


Mira terlihat bingung dengan manik mata yang bergerak tak tentu arah. "Itu urusanku," gumamnya masih keras kepala.

__ADS_1


"Mira ...." Ejiro hampir tak percaya. Adiknya sepertinya telah dibutakan oleh cinta. Karena itu ia segera bertindak tegas. Dengan cepat ia menotok jalan darah di belakang leher adik perempuannya itu.


Gadis itu tak mengira Ejiro senekat itu hingga sudah terlambat untuknya menghindar lagi. "Kakak!" Mira tak bisa menggerakkan tubuhnya.


__ADS_2