Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Kacau


__ADS_3

Pikiran Lucille masih kacau. Antara percaya pada Ken atau tidak, karena Ejiro adalah teman Ken tapi menurut kata hatinya, Ken tak tahu menahu soal ini. Pria itu tidak terlibat. Sebenci apapun Ken padanya pasti pria itu hanya mampu sejauh untuk menghindar. Di matanya, Ken adalah pribadi yang lugu juga santun. Tak mungkin orang seperti itu melakukan hal serendah itu.


Ia menghapus air matanya yang mulai jatuh. Tak boleh ada orang berengsek manapun yang boleh menghancurkannya. Ia seorang penyihir dan ratu pembohong, dan takkan semudah itu dihancurkan oleh orang berengsek seperti Ejiro. Tidak akan pernah! Ia memang penyihir dan jadi pembohong sejak mengenal Ken, tapi ia bukan orang berengsek. Sejahat-jahat dirinya, ia bukan orang berengsek.


Padahal ia ingin menyerahkan kesuciannya hanya untuk Ken, pria baik dan ramah karena hanya itu satu-satunya yang terbaik dari dirinya yang ia ingin persembahkan pada pria itu, tapi malah direbut pria lain. Berengsek!


Pikirannya yang masih kalut membuat wanita itu beranjak dari tempat itu. Danau yang tenang dan tempat yang sunyi sama sekali tak membantu pikirannya menjadi tenang. Ia melangkah sekehendak hatinya ingin melangkah hingga ia menaiki anak tangga yang panjang sampai ke atas. Ia melihat tempat itu sebentar.


Seorang pengawal mendatanginya. "Nona, ada keperluan apa?" tanyanya.


"Mmh? Hanya jalan-jalan saja."


"Maaf, Nona. Ini sudah malam. Rumah utama sudah tutup, Nona."


"Oh." Hati wanita itu sedang kacau. Ia tidak mau ada orang yang menghentikan langkahnya saat ia sedang seperti ini. Wanita itu mengangkat tangannya dan mengarahkan pada orang itu. "Sazam!"


Pengawal itu tiba-tiba kaku. Ia telah membeku. Wanita itu kembali meneruskan langkahnya. Ia memasuki rumah itu. Dilihatnya sebuah lorong panjang dan ia melewatinya. Setelah berbelok beberapa kali, ia menemukan lorong yang memiliki banyak penjaga. Tempat siapa ini?


Penjaga itu seperti melindungi sebuah pintu. "Nona, ada keperluan apa malam-malam datang ke sini?" tanya salah satunya.


"Tempat siapa ini?"


Pria itu menoleh pada temannya lalu kembali lagi pada wanita itu. "Sebaiknya Nona kembali saja," katanya sambil menunjuk ke arah tempat wanita itu datang.


Namun Lucille menjawab dengan sihirnya. "Sazam! Sazam!"


----------+++---------


Kuda Ken akhirnya sampai di kediaman Menteri Pertahanan, tapi betapa terkejutnya ia ketika melihat penghuni rumah itu tengah berada di luar semua. Ia melompat turun dari kudanya. "Ada apa ini?"


"Kak Ken!" Mira berlari-lari datang dan memeluk tubuhnya. "Syukurlah."

__ADS_1


"Ada apa?" Pria berambut pendek itu bingung.


Gojo datang menghampiri." Sepertinya Lucille membawa kabur Ivan."


"Apa?"


Gadis itu melepas pelukan. "Dan orang-orang juga menuduhmu bersekongkol karena Kakak juga tak ada di tempat."


Ken masih terperangah dan mengarahkan pandangan ke arah rumah utama itu, di mana ada Menteri Pertahanan di beranda. Ia mendatangi pria itu. "Tuan, aku tak mungkin bersekongkol dengan wanita itu. Aku ada keperluan hingga harus pergi ke tempat temanku itu. Kalau Tuan tidak percaya, Tuan bisa tanyakan langsung pada para pengawalku."


"Maafkan aku, Ken telah mencurigaimu," sahut Menteri Pertahanan dengan nada menyesal.


"Aku bahkan sudah memperingatkan Tuan soal wanita ini, tapi Tuan tak percaya."


"Iya." Pria itu menunduk sambil merenung. "Sepertinya kita tidak bisa pergi ke tempat raja dan mendapatkan hadiah karena bukti penyebaran wabah itu tidak ada."


"Yang penting, wabah itu sudah tidak ada. Masalah hadiah, itu sudah tidak penting lagi bagiku."


Pria berambut pendek itu termenung. Ia sebenarnya tidak berambisi untuk menjadi bagian dari kerajaan tapi bila ia kembali pada gurunya, ia akan kembali terisolasi di dalam lubang gua di dasar jurang. Namun itu bukan masalah intinya. Masalah sebenarnya, ia tidak mau berjauhan dengan Mira.


Mau tak mau ia harus memilih mengabdi pada kerajaan agar ia bisa sering bertemu dengan gadis itu. "Mmh, begini saja. Besok aku akan tanyakan tentang hal ini dulu pada guruku, baru setelah itu, aku putuskan."


"Tapi kita harus tetap mengejar Lucille dan Ivan." Menteri Pertahanan mengingatkan.


"Oh." Ken hampir lupa soal ini. "Mereka lari ke arah mana?"


"Itulah. Tidak ada yang melihat ke arah mana mereka pergi. Mereka berdua menguap seperti air."


Mendengar begitu, pria berambut pendek itu sudah tahu ke arah mana keduanya pergi. Mereka pasti sudah melewati dimensi lagi. Tak ada gunanya mencari mereka di manapun, mereka sudah menghilang, sudah tak ada di jaman itu lagi.


"Begini saja. Buat saja sayembara berhadiah, yang ditempel di banyak tempat agar lebih banyak lagi orang datang menolong mencari keduanya, sebab kedua orang itu sangat berbahaya. Sementara itu biar aku pergi ke kediaman Lian Luo untuk mencari bantuan."

__ADS_1


"Terima kasih, Ken." Menteri Pertahanan merasa sangat terbantu.


"Aku berangkat dulu." Ken terpaksa berangkat malam itu juga, demi agar terlihat berusaha mencari, padahal kesempatan untuk menemukan keduanya sudah tidak mungkin lagi.


Sesampainya di kediaman Lian Luo, ia terpaksa membangunkan seluruh penghuni karena melihat kedatangan dirinya. Ia akhirnya mengatakan apa yang terjadi pada gurunya, Odagiri Sensei di hadapan Lian Luo. Ejiro pun yang ternyata sudah pulang, ikut menyimak apa yang terjadi.


Pria berambut kaku itu terdiam sejenak. "Besok kita putuskan. Sekarang sebaiknya kau tidur saja."


"Baik Sensei."


Mereka kemudian masuk ke kamar masing-masing, tapi tak berapa lama, Ken keluar lagi mengendap-endap dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar sang guru. Pria itu membukakan pintu. "Ada apa lagi, Ken?"


Ken kemudian dipersilahkan masuk. Mereka duduk di tepi ranjang. Wajah pria berambut pendek itu seperti bimbang. "Aku ... Rasanya kita tidak perlu mencari mereka, Sensei. Mereka sudah pergi jauh."


"Setidaknya kita berusaha. Apa kau mau kita mencarinya sekarang?"


"Tidak akan ketemu, Sensei. Mereka sudah pindah dimensi."


"Dimensi? Apa itu dimensi?"


Akhirnya Ken menceritakan apa yang perlu pria itu tahu. "Sebenarnya aku bukan berasal dari jaman ini, Sensei. Aku berasal dari jaman beratus-ratus tahun kemudian di mana segalanya sudah maju. Di jaman itu, orang-orang mulai melupakan dewa. Karena itu dewa pun mulai menghilang. Demi untuk menjaga keberadaannya, mereka menikah dengan manusia dan salah satu anak keturunannya adalah aku."


Odagiri mendengarkan sambil melipat tangannya di dada.


"Dimensi itu adalah perpindahan dari jaman ke jaman dan itu bisa dilakukan oleh orang-orang yang berdarah setengah dewa sepertiku, dan Lucille, wanita itu telah meminum darahku hingga ia bisa mengejarku sampai ke sini. Dialah yang membawa Ivan dari jaman yang aku singgahi sebelumnya ke jaman sekarang ini. Karena itu, aku tahu bagaimana cara menangani drakula itu."


"Lucille, kenapa dia meminum darahmu?"


"Karena dia manusia biasa. Entah siapa yang memberitahunya, tapi karena minum darahkulah ia bisa mengejarku sampai melintasi jaman."


Odagiri terdiam sejenak. "Jadi sudah tak ada gunanya kau ada di sini ya?"

__ADS_1


"Sensei." Ken menyentuh tepi ranjang. "Bagaimana kalau aku bergabung jadi anak buah Menteri Pertahanan?" Ia menunduk, tak berani melihat wajah pria itu.


__ADS_2