
"Aku? Aku menginap di dekat tempat sirkusmu, Kak Ken," sahut Mira dari belakang.
"Apa? Oh, di mana? Kenapa kamu gak bilang?"
"Ini aku bilang."
"Bukan begitu ... ah! Kemarin-kemarin 'kan aku bisa main ke tempatmu, kalau dekat," sesal pria itu.
"Ya sudah. Besok-besok juga bisa main ke penginapanku."
"Ok. Atau kau yang main ke tempat sirkusku, kalau tidak ada kerjaan. Aku pagi latihan, malam atraksi."
"Ya sudah."
Motor kemudian berhenti di sebuah penginapan sederhana sesuai petunjuk gadis itu.
"Oh, di sini."
"Mampir Kak Ken." Mira turun dari motor.
"Besok saja." Pria itu menghela napas pelan. "Aku mulai terbiasa dengan suasana sirkus. Apa aku jadi anak sirkus saja ya?" Ia tertawa.
"Entah besok. Dunia mana lagi yang akan kau datangi?" Mira menyerahkan helmnya.
Pria itu mengambilnya. "He, iya. Ya sudah. Aku pulang dulu." Ken menyalakan motor dan meninggalkan tempat itu. "Dah!"
"Dah!"
Baru beberapa saat motor melaju, ia mendengar suara tembakan beberapa kali secara beruntun. Walaupun tidak kencang, Ken yakin itu adalah suara tembakan. Ia kemudian mematikan mesin motornya dan mencoba menepi. Tempat itu sepi kembali. Ia berusaha memastikan apa yang didengarnya dengan mencari arah sumber suara.
Tak jauh dari situ ada mobil terparkir di pinggir jalan. Pelan-pelan ia mengendap-endap sambil mendorong motornya mendekati mobil itu. Terdengar suara seseorang yang sedang mengintimidasi orang lain dengan suara mengejek.
"Akhirnya, hidupmu hanya sampai di sini saja!"
"Ka-kau siapa sebenarnya? Kenapa kau ingin aku mati." Terdengar rintihan.
Ken mendekat dan mengintip. Seorang pria dengan penutup wajah sedang menodongkan pistolnya pada seorang pria paruh baya yang tergeletak di jalan aspal sebuah gang.
__ADS_1
"Mmh, apa kau ingat orang-orang yang telah kau hukum?"
Pria Jepang itu juga melihat semua orang yang berada di dalam mobil mati. Ada lobang bekas tembakan yang menembus mobil itu dibeberapa tempat.
Apa aku tolong saja orang ini?
"Sebenarnya kau siapa, katakan. Agar aku tak mati sia-sia," pinta pria paruh baya itu pada si penembak bertopeng.
"Aku adalah ...."
Terdengar suara mesin motor dan saat si penembakan menoleh ia ditabrak oleh motor itu hingga terjatuh. "Ah!"
Ken dengan motornya mendekati pria paruh baya itu yang terduduk di jalan, dan mengulurkan tangan. "Ayo, cepat naik, Pak!"
Pria itu menarik tangan Ken agar cepat naik dan berboncengan di belakang pria Jepang itu. Ketika motor berputar, si penembakan sudah tegak berdiri dan siap menembak mereka berdua. "Tinggalkan dia atau kau juga ikut mati!"
"Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi pria tua ini sudah terluka, apa kau masih ingin membunuhnya?" Ken sudah lihat, pria paruh baya itu terluka dibagian paha ketika menaiki motornya.
"Kau tidak tahu siapa dia jadi JANGAN HAKIMI AKU!" bentak pria bertopeng itu. "Turunkan dia!"
Ken terdiam. Ia memainkan pegangan motornya.
"Tinggalkan dia atau kau kutembak! Dengar! Aku tak segan-segan melakukannya kalau kau tak mau mendengarkan kata-kataku. Jangan menyesal, aku sudah memperingatkanmu!" teriak pria bertopeng itu. Ia kini mengarahkan moncong pistolnya ke arah dada Ken.
Pria paruh baya itu melirik pria di depannya dengan manik matanya. Ia kagum karena nyali besar pria Jepang itu.
Ken menyipitkan mata. Ia berkonsentrasi. Peluru, tolong jangan kenai kami. Segera ia menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi dan menabrak pria itu lalu langsung kabur meninggalkan tempat itu.
Pria bertopeng itu kaget dengan serangan yang tiba-tiba itu sehingga ia terjatuh. Ia tak mengira pria bermotor itu berani menyerang dengan motor setelah ia menggertaknya. Pria itu segera berdiri dan mengejar sambil menembakkan peluru ke arah motor itu beberapa kali, tapi sia-sia karena pria bermotor itu berhasil membawa mangsanya pergi jauh. "Sial!" Ia menghempas tangannya ke bawah.
Motor melaju dengan kecepatan tinggi hingga ke dalam area sirkus. Di situlah Ken memarkirkan motornya dan membawa pria itu ke meja makan. Dengan tertatih, pria paruh baya itu berjalan dibantu Ken dan didudukkan di kursi.
Pria paruh baya itu melihat keadaan sekeliling. "Kau bekerja di sirkus?"
"Mmh? Oh ya." Ken berjongkok dan melihat luka di paha pria itu. "Ini harus segera diobati. Bagaimana kalau ke rumah sakit?" Ia melihat pria itu cukup kaya karena mengenakan pakaian jas lengkap yang terlihat mahal. "Aku bisa membawamu naik motor ke sana."
"Oh, tidak usah. Aku akan menyuruh anak buahku untuk menjemputku sekarang. Terima kasih." Pria bule itu mengeluarkan HP-nya. Ia menelepon seseorang.
__ADS_1
"Tapi paling tidak diperban dulu agar tidak banyak darah yang terbuang." Ken kemudian mengambil bajunya yang ada di jemuran dan merobeknya. Ia mengikat sambil menutup bekas luka di kaki pria bule itu.
"Ah, pelan-pelan, sakit!" protes pria bule itu. Untung saja ia sudah selesai menelepon.
"Eh, maaf, Pak."
"Ya sudah, cepat saja."
Ken berusaha melakukannya dengan cepat. Saat itu di tempat sirkus itu, sudah tidak ada orang karena sudah larut malam. Semua orang telah berada di alam mimpi. Tiba-tiba saja pintu karavan Bill terbuka. Pria itu keluar karena mendengar suara orang di luar. Ia memang menantikan Ken yang belum pulang. "Ken, kau sudah pulang?"
Pria itu melihat Ken sedang berlutut pada seorang pria paruh baya. "Kau ada tamu?"
"Oh, dia hanya sebentar," sahut pria Jepang itu beranjak berdiri.
Namun alangkah kagetnya Bill saat melihat siapa pria itu. "Oh, kau?"
"Bapak kenal?" tanya Ken yang terkejut melihatnya.
"Kau mengenalku?" Pria paruh baya itu malah balik bertanya pada Bill.
Bill tersenyum mengejek. "Kau lupa padaku? Pria tua macam apa kau?"
Ken melongo. Ada apa ini?
"Oh ya, kau semakin tua, dan tak ingat kesalahanmu. Mmh! Tidak ingat bukan berarti dosamu bisa begitu saja terhapuskan!" ledek pelatih itu.
Ini ada apa sebenarnya? Kenapa begitu banyak orang yang membencinya, batin pria Jepang itu.
Pria paruh baya itu mencoba memperhatikan Bill dengan baik. Guratan-guratan wajah mereka mirip dan sama-sama bule. Ia mencoba memutar waktu hingga beberapa puluh tahun yang silam dan lalu sirkus. Ingatannya kembali pada sosok wanita cantik yang bekerja di sebuah sirkus. Ia tak ingat nama sirkus itu tapi ....
"Apa kau anak Magdalena yang pernah berusaha menerobos masuk ke dalam rumahku?"
"Cih!" Namun terlihat bola mata pelatih itu yang seketika basah karena sedang berkaca-kaca. "Untuk apa kau datang ke sini, mmh? Meminta perlindungankah?!" ejeknya pada pria paruh baya itu. "DON MILANO YANG TERHORMAT!"
Terdengar derap langkah beberapa orang yang datang ke tempat itu masuk tanpa izin. Pria-pria dengan berpakaian jas hitam.
Saat itu juga, keributan di meja makan telah membangunkan semua orang. Satu-satu para penghuni karavan keluar. Mereka melihat keramaian di area meja makan.
__ADS_1
"Tidak perlu karena saat ini juga aku akan angkat kaki dari sini," pria paruh baya itu beranjak berdiri dengan santai. Ia menoleh pada bawahannya. "Ayo, kita pergi. Oya, jangan lupa bawa dia!" Ia menunjuk ke arah Ken.
"Apa?" Pria Jepang itu terkejut.