
"Baik, Pak." Setelah tak ada pertanyaan lagi, keduanya pamit. Kepala perawat dan Ken keluar dari ruangan itu.
Kepala rumah sakit itu kemudian beralih pada putrinya. "Kau sudah dengar apa yang kau ingin dengar 'kan? Sekarang, kau akan memilih bekerja di bagian apa?"
"Administrasi, Papa, agar aku bisa tetap bertemu dengan temanku itu, setiap hari," ucap wanita itu dengan sedikit malu-malu.
"Ok." Membuat anak semata wayangnya itu akhirnya mau bekerja di perusahaan itu saja sudah berita gembira bagi pria itu. Selebihnya ia akan melihat keseriusan putrinya ini bekerja.
--------+++--------
Ken memandangi anak-anak kecil itu. Ingatannya kembali ke masa di mana ia tinggal di panti asuhan dulu. Ia teringat Mimi. Gadis kecil yang selalu memenuhi hari-harinya di panti asuhan bersama Yumi dan teman-teman yang lainnya. Hanya gadis kecil itu yang membuatnya selalu semangat pulang ke rumah. Gadis kecil yang selalu minta di gendong setiap ia sampai di panti asuhan, sehabis pulang dari mana saja.
Anak-anak kecil ini adalah anak-anak yang punya penyakit serius sehingga dimasukkan ke ruangan khusus agar bisa dirawat dengan perhatian lebih. Ken di sana dengan jas putihnya, menghibur anak-anak itu agar tetap ceria melewati hari-hari beratnya.
"Ini namanya Sely ya?" Pria itu memperlihatkan sebuah boneka tangan berkuncir dua pada anak-anak itu. Ia menunjuk lagi satu boneka tangan laki-laki, di tangan yang satunya. "Kalau ini Simon."
Ken kemudian memulai sandiwara bonekanya. "Halo Sely!" sapa boneka pria pada boneka wanita yang berambut kuning.
"Halo juga, Simon, " sahut boneka wanita.
Pria itu mulai bicara dengan berganti-ganti suara, dari suara wanita ke suara pria. Sesekali ia mengajak anak-anak itu berbicara dengan boneka itu dan mereka tertawa. Ada dari mereka yang bahkan penasaran dan menyentuh boneka tangan itu karena gemas.
"Oh ... ada yang suka sama Simon ya," ledek Ken pada seorang gadis kecil.
"Karena Simon sangat manis," sahut gadis kecil yang sudah botak rambutnya itu. Ia menutupi kepalanya itu dengan topi rajut.
Sang pria tertawa. "Ya, ya, kau benar sekali."
Ken tak sadar, seseorang tengah mengamatinya dari dinding kaca di ruangan itu. Seorang wanita masuk dan ternyata ibu dari gadis kecil itu. Tempat itu di dominasi anak laki-laki dan hanya anak itu saja yang perempuan.
"Mommy!" teriak gadis itu.
"Oh, Brigitta, ibumu datang ya?" sahut sang pria.
Wanita itu mengangguk ke arah Ken karena memakai jas putih yang biasa dipakai oleh seorang dokter. "Bagaimana kesehatannya, dok?"
"Mmh, syukurlah. Dia sangat menyukai Simon," ujar Ken dengan senyum di kulum.
"Simon?" tanya wanita itu kebingungan.
"Ini, Mommy! Simon." Gadis bule kecil itu membawa boneka tangan laki-laki yang dimainkan pria Jepang itu tadi.
__ADS_1
"Oh." Wanita itu tertawa.
Ken tersenyum lebar.
"Ken!"
Pria itu menoleh. Lucille berdiri di bingkai pintu seraya melambaikan tangan. Rupanya ia sejak tadi memperhatikan Ken dari balik dinding kaca, berbicara dengan sabar pada anak-anak berpenyakit serius itu. Ia menikmati menonton pria itu bermain dengan anak-anak.
Ken mau tak mau keluar dari sana, bermaksud membiarkan Briggita bersama ibunya. Di lain pihak, ia malah harus bertemu Lucille yang sudah menunggunya di pintu.
"Kamu sangat baik, Ken. Anak-anak itu jarang ada yang menjenguk kecuali orang tuanya," terang wanita berambut merah itu.
"Oya? Padahal ini rumah sakit mahal. Seharusnya ada relawan yang datang menghibur mereka."
"Itulah, Ken. Coba kau menetap dan jadi dokter. Kau mungkin bisa menarik orang untuk datang dan bisa terkenal."
Tentu saja itu tak mungkin dan Lucille tahu itu. Ken hanya menatap wanita itu sejenak dan kemudian pergi.
"Kau mau ke mana? Sebentar lagi jam makan siang, Ken," sahut Lucille yang kemudian berusaha menyamai langkah sang pria.
"Aku mau ke ruang perawat, mau mengecek jadwal operasi."
Ken berhenti sebentar. Ia pusing memikirkan cara menjauh dari wanita ini. "Tolong, aku sedang bekerja. Tolong, jangan ganggu aku," ucapnya dengan menekan nada suaranya.
"Tapi ini sudah mau jam makan siang, Ken. Kenapa tidak makan dulu?" Lucille tak kalah gigih membujuk. Ia merasa tak salah karena sebentar lagi waktunya istirahat.
"Lucille, aku .... "
Wanita itu langsung memperlihatkan bungkusan plastik yang dibawanya. "Lihat, aku punya sandwich enak dan jus jeruk andalan dari kantin rumah sakit ini. Kau suka jus jeruk 'kan? Ayo, makan. Kamu 'kan sudah tidak ada pekerjaan lagi, iya 'kan?"
Ken ingin sekali menolak, tapi ia tak punya alasan yang kuat untuk itu. Terpaksa ia menghela napas pelan seraya menyeret kakinya pergi mengikuti wanita itu. Lucille mengajaknya makan siang di taman.
Wanita itu memilih tempat yang berpemandangan pohon-pohon dan sedikit agak jauh dari tempat orang berlalu lalang. Ada sebuah bangku panjang dan ia mengajak sang pria duduk di situ.
Lucille duduk lebih dulu kemudian Ken. Ia membagikan sandwich dan minumannya di kursi itu. "Aku tahu kau suka jus jeruk, karena itu aku belikan."
Pria itu mengambil bagiannya dan membuka bungkus sandwich itu. Ia mulai memakannya.
"Enak 'kan?"
Ken mengangguk. Ia kemudian mengarahkan pandangan pada pohon-pohon dan tanaman yang ada di depannya. Lucille tahu, sang pria selalu melihat ke arah lain bila bersamanya, karena itu, ia mencari pemandangan yang bagus agar pria itu bisa nyaman berdekatan dengannya. Ia membukakan tutup botol jus jeruk yang dibeli, dan memberikannya pada Ken.
__ADS_1
"Mmh, tidak usah," ujar sang pria saat tahu wanita itu membukakan tutup botol minumannya, tapi sudah terlanjur.
"Tidak apa-apa." Lucille kemudian menggigit sandwich-nya.
Keduanya memandang ke arah tanaman yang sama di depan. Wanita itu mengikuti ke arah mana pria itu memandang.
"Lucille, aku ...."
"Apa kau suka bekerja di sini?"
Ken berhenti mengunyah dan menoleh. Ia cepat-cepat menghabiskan makanan di mulutnya."
"Lucille, aku ...," ucap Ken cepat tapi kembali dipotong oleh wanita itu.
"Pertanyaanku 'kan tidak sulit Ken. Jawab saja."
"A-aku suka kerja di sini tentu saja, tapi bukan itu masalahnya. Aku ingin ...."
"Kamu terlalu serius, Ken. Cobalah sedikit rileks karena pekerjaanmu termasuk berat untuk kehidupan sehari-hari," terang wanita itu dengan santai.
"Lucille, kenapa kamu ...." Ken berusaha menerangkan berkali-kali tapi sang wanita selalu saja memotong ucapannya.
"Ken, biarkan segala sesuatu apa adanya. Aku menyukaimu walaupun kau tidak. 'Kan aku tidak melukaimu dengan ini," ujar Lucille enteng.
"Masalahnya ...."
Kali ini suara sirine panjanglah yang memotong ucapan pria itu. Keduanya menoleh ke arah bangunan rumah sakit.
"Apa itu?" tanya Ken bingung.
Wanita itu menoleh. "Oh, kau belum tahu ya? Itu tanda ada pekerjaan besar. Semua staf kesehatan harus bersiap-siap untuk kerja keras."
"Apa?" Pria itu menoleh pada Lucille.
"Mungkin ada kecelakaan besar atau kebakaran."
Mendengar itu, Ken bergegas berdiri. Ia menyudahi makannya dengan meneguk jus jeruk. Kemudian ia berlari ke dalam gedung.
___________________________________________
__ADS_1