
Polisi itu kemudian undur diri setelah semua keterangan didapat.
"Nanti aku akan jemput Bapak lagi, jadi beristirahatlah. Mungkin sejam sebelum acara karena stasiun TV-nya cukup jauh dari sini." Beri tahu Asraf.
"Oya, terima kasih."
"Tidak apa-apa." Pria itu menepuk bahu Ken 2 kali lalu pergi.
Ken mendekati jendela kaca besar yang menghadap ke jalan. Tibet adalah tempat yang luar biasa indah, tapi ia ke sini bukan untuk liburan. Ada tugas menantinya dan setelah ini ia harus pergi entah ke mana. Selamat tinggal Tibet, entah kapan lagi aku bisa ke sini lagi.
Ken menikmati pemandangan suasana kota dari balik gorden tipis jendela itu. Melihat roda kehidupan orang-orang di kota sederhana ini.
Ia mendapat istirahat yang cukup. Bahkan melihat senja di kota itu yang cukup menenangkan, hingga ia siap pergi ke stasiun TV di mana ia akan diliput dan disaksikan seluruh kota, mungkin juga dunia.
Padahal sebenarnya saat itu, hati dan jantungnya tidak seirama. Jantungnya cukup berdebar mana kala ia sampai di stasiun TV bersama Asraf. "Pakaianku bagaimana?" Ia menghadap Asraf minta pendapatnya.
Pria setengah bule India itu mengacungkan ibu jarinya.
Tetap saja, Ken beberapa kali menghembuskan napas guna menenangkan hatinya. Asraf menyemangatinya dengan menepuk lengan pria itu.
Seorang pengarah gaya akhirnya datang memanggilnya. "Pak, silahkan duduk. Bapak Ken Tachibana 'kan, ya?"
"Ah, iya, benar." Ken menggunakan namanya waktu di Nagoya. Ia duduk di kursi yang disediakan di depan kamera. Tak lama setelah ia duduk, ia melihat rombongan orang yang datang ke tempat itu.
Seorang pria yang berada paling depan di dalam rombongan itu, dipersilahkan pria pengarah gaya tadi untuk duduk di depan kamera seperti dirinya, sepertinya adalah Bapak Walikota. Pria dengan perawakan sedikit gemuk dan kemeja mahal, menyisir klimis rambutnya kesamping dengan kulit sawo matang. Wajahnya sangat khas orang Tibet walaupun matanya sedikit lebih sipit dibanding kebanyakan orang Tibet. Pria itu menoleh ke arahnya saat sudah berada di samping.
Ken yang gugup langsung memberi hormat dan memperkenalkan diri. "Saya Ken Tachibana, dari Nagoya, Jepang, Pak."
"Oh, kau bisa bahasa Tibet rupanya. Syukurlah." Pria itu tersenyum datar. Senyum yang sedikit dipaksakan karena sepertinya ia tidak biasa tersenyum.
__ADS_1
Ken menunggu pria itu duduk hingga ia berani duduk.
"Mmh, terima kasih," ujar pria itu melihat sikap Ken.
"Tidak apa-apa, Pak."
"Mmh, saya ingin tahu, bagaimana hubunganmu dengan Raja Mongol itu?"
Oh, ia hanya ingin tahu tentang raja Mongol itu ya? "Oh, hanya kebetulan saja. Ia menemukanku pingsan setelah jatuh, saat badai reda. Setelah siuman, ia memberikanku pada petugas yang mencari korban pesawat. Itu saja."
"Jadi tidak mengobrol dengannya?"
"Eh, dia mengikat tanganku." Pria Jepang ini menyatukan tangannya di hadapan pria itu.
"Oh."
Setelah itu pria itu tidak lagi mengajak Ken bicara. Ken maklum karena dia bukan siapa-siapa.
Pembawa acara duduk di antara ia dan Pak Walikota. Awalnya ia bicara dengan Pak Walikota membuat Ken semakin tak tenang menunggunya.
Tiba-tiba tanpa disangka, di antara kerumunan para kru TV dan orang-orang yang dibawa Pak Walikota, ada seseorang gadis yang menyusup masuk. Mata Ken menangkap sosok yang ia kenal hingga membuyarkan konsentrasi. I-itu bukankah ....
Gadis itu merangsek masuk ke yang paling depan melihat Ken dan melambaikan tangan. Ia dengan pakaian yang sama.
Mira .... Tanpa sadar pria Jepang itu menjawab lambaian tangan itu sampai ia tersadar ia tengah berada di acara live(siaran langsung). Pembawa acara dan Pak Walikota menoleh ke arahnya. Tentu saja ia telah mengganggu konsentrasi Pak Walikota yang sedang bicara. Dengan serta merta Ken menurunkan tangannya karena malu.
Mereka juga melihat ke arah Mira dan terkejut, karena ada gadis dengan pakaian adat Tibet berada di dalam studio itu, tapi kemudian mereka tak peduli. Mereka meneruskan pembicaraan mereka.
Ken sangat senang gadis itu datang. Selain tidak merasa sendirian, gadis itu membawa keceriaan ke dalam ruang itu. Terus tersenyum dan memberikan semangat dari tempat gadis itu berdiri, pria itu sampai lupa kalau tadi ia begitu gugup membayangkan ia harus bicara di depan begitu banyak orang.
__ADS_1
"Ok, sekarang dengan Anda Pak Ken. Bagaimana Anda bisa selamat dalam badai besar itu dan juga bisa keluar dari pesawat tanpa luka yang cukup berarti di tubuh Anda? Bisakah Anda jelaskan mengenai hal itu?" tanya pembawa acara itu pada pria Jepang bertubuh kurus itu, langsung pada pokoknya.
"Aku tidak tahu bagaimana, tapi sepertinya tangan Tuhan telah ikut membantu selamatnya saya dalam kecelakaan pesawat ini. Kecelakaan ini ...." Dan Ken dengan lancar bicara di depan para kru TV dan orang-orang yang ada di studio. Keberadaan Mira membuat ia lebih percaya diri dan lebih fokus dalam berbicara. Ia memandangi gadis itu saat berbicara di depan semua orang.
Selesai bicara, gadis itu malah memilih pergi. Ken yang melihat itu merasa kehilangan tapi ia tidak bisa memanggil gadis itu karena saat itu acara live. Ia hanya bisa melihat gadis itu melangkah keluar ruangan.
Sedikit panik, ia menunggu waktu yang tepat untuk keluar. Ketika diumumkan iklan, pria itu segera berdiri dan pamit keluar ruangan. Namun terlambat, ia tidak menemukan Mira walaupun sudah mencarinya. Dengan terpaksa ia kembali sendiri.
Saat kembali, ia bertemu dengan segerombolan orang di depan ruang siaran itu dan mereka sepertinya segerombolan preman yang sedang menunggu seseorang. Salah seorang dari mereka melihat ke arah Ken dan seperti mengenalnya. "Hei kau!" tunjuknya pada pria Jepang itu. "Akhirnya kau datang. Bayar hutangmu atau mau aku masukkan kau ke penjara, heh?!"
Ken jelas syok. Ia melihat ke sekeliling tapi saat itu koridor sepi hingga bisa dipastikan preman itu sedang berbicara padanya. "Aku?" tanya Ken sambil menunjuk dirinya.
"Ya, pada siapa lagi?' Pria berwajah sangar itu menoleh pada rekan-rekannya. " Ayo tangkap dia sebelum dia kabur lagi."
"Apa? Kamu pasti salah orang, iya 'kan?" tanya Ken lagi tapi sepertinya mereka tak peduli karena mereka terus mendatangi pria Jepang itu, membuat Ken panik. Ia segera mengambil langkah seribu.
Melihat mangsanya kabur, mereka mengejar. "Hei, mau ke mana kau!"
Ken kebingungan. Ada cerita apalagi ini? Ini sebenarnya siapa sih orang yang tengah ia gantikan? Sepertinya orang ini juga punya banyak masalah di luar sana sehingga tak aneh ia naik pesawat. Mungkin saja pria itu adalah seorang pelarian. Ken benar-benar mengutuk dirinya sendiri karena tidak mempelajari, dengan siapa ia bertukar tubuh.
Ken sudah berusaha secepat kilat lari dari mereka, hanya tampaknya, salah satu dari mereka lari lebih kencang hingga pria itu tersusul.
Ha ... seandainya saja aku bisa lari lebih cepat. Hah, Mira. Kamu ke mana? Aku butuh pertolonganmu, jerih hati Ken.
Tiba-tiba Ken tersandung sesuatu hingga jatuh tersungkur. Sempat menutup mata karena pasrah, mereka pasti mendapatkan dirinya tapi kemudian tidak terjadi apa-apa. Pria itu menunggu.
Terdengar suara seperti besi yang dipukul dan menggema membuat Ken mengerut dahi. Seketika tempat ia tengkurap, bergerak menggelinding. Bahkan membuat ia berguling-guling seperti berada di sebuah lorong sempit atau semacam pipa besar dari besi. Pria itu membuka matanya. Di mana ini, aku di mana?
____________________________________________
__ADS_1
yuk intip novel bestieku yang satu ini.