Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Mayat


__ADS_3

"Kenapa, Kak?" tanya gadis itu bingung, sebab Ken tiba-tiba berdiri.


"Kita minta tolong mayat saja, agar membantu kita."


"Hah? Kak, Kakak tidak bisa menghidupkan orang mati. Kakak hanya bisa mengendalikan benda mati."


"Eh, benarkah?" Ken mengetahui fakta baru.


"Iya."


"Eh, tapi bukan itu maksudku. Tolong bantu aku." Pria itu mengajak gadis itu ke laut. "Aku akan menurunkan perahu karet dan kita bisa isi perahu itu dengan mayat secukupnya."


"Lalu?" Gadis itu mengerut dahi.


"Lalu kita hanyutkan ke laut. Semoga saja ada yang menemukan perahu itu dan mencari kita."


"Kenapa bukan kita saja?"


"Kalau berhari-hari bagaimana? Apa kamu sanggup tidak makan?"


"Oh, begitu maksudnya."


Keduanya mulai bergerak. Ken naik ke atas geladak kapal untuk menurunkan salah satu perahu karet. Setelah Mira ikut memegangi perahu karet, pria itu memasukkan beberapa mayat ke dalam perahu. Kemudian, mereka mendorongnya menjauh.


"Apa, kita buat dua ya?"


"Boleh, Kak. Aku tunggu." Mira menunggu di bawah dan Ken kembali ke atas. Pria itu menurunkan kembali perahu karet dan gadis itu mengambilnya. Setelah diisi mayat, mereka kembali melepas perahu itu ke laut lepas.


"Mudah-mudahan ada yang cepat menemukannya," sahut gadis itu.


"Mmh." Ken memperhatikan dua perahu karet yang bergerak mengikuti arus yang ada.


------------+++-----------


Beberapa hari berlalu tanpa tanda-tanda. Ken sibuk menjelajah bersama Mira di bukit pulau itu.


"Bagus juga pemandangan dari atas ini ya?" sahut pria itu melihat pemandangan di bawahnya. Pulau itu, kapal perompak yang sudah tua, kapal laut angkatan udara, semua terlihat kecil dari atas sana.


Beberapa mayat telah coba dikuburkan pria itu dengan membuat lubang yang besar dan kemudian menimbunnya. Sepertinya tidak semua karena ada sebagian mayat yang hilang terbawa arus air laut. Seperti misalnya, kapten kapal Higashi yang mayatnya tidak ditemukan Ken karena kemungkinan jatuh ke laut dan dibawa arus.


"Aku jadi ingat rumahku di panti asuhan. Kalau aku diselamatkan sekarang dan dikembalikan ke sana apa aku akan bertemu diriku sendiri?"

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Mira yang berdiri di sampingnya.


"Saat ini bukan tahun saat aku pergi tapi pasti tahun sebelumnya, karena aku lihat pakaian mereka modelnya sudah sangat ketinggalan dari jamanku."


"Mungkin saja, tapi rasanya Kakak tak mungkin bertemu diri sendiri karena pasti saat itu Kakak sudah pindah dimensi lagi."


"Memang aku tidak boleh bertemu diriku di masa lalu ya?"


"Aku tidak tahu, mmh?" Mira memperhatikan titik di depan mereka. "Kak, itu apa? Apa itu kapal laut?" Gadis itu menunjuk sebuah titik hitam yang bergerak ke arah mereka.


Ken memperhatikannya. "Sepertinya iya. Ayo kita berlomba ke bawah." Pria itu dengan senangnya berlari menuruni bukit itu diikuti gadis itu.


"Kak, tunggu!" teriak Mira. Tubuhnya yang kecil membuat ia kerepotan mengejar Ken padahal Ken untuk ukuran pria juga tidak tinggi.


Pria itu terpaksa berhenti dan mengulurkan tangan.


"Kakak sepertinya belum pernah jadi anak nakal di sekolah ya?" tanya Mira tiba-tiba.


"Anak nakal? Preman, maksudmu? Tidak pernah. Kalau pun aku jadi anak nakal ...." Pria itu bergeser mundur ketika gadis itu tiba, tapi ia tersandung sesuatu hingga jatuh tertelungkup. "Aduh!"


Saat itulah Mira melihat bagaimana Ken berpindah dimensi. Pria itu terjatuh ke tanah dan menghilang. "Kakak!" Kemudian ia terdiam. Segera ia mendekati sebuah pohon besar di dekat situ. Ia menggambar sebuah dinding di sebuah batang pohon dan dinding itu menghilang. Ia memasuki dinding itu dan juga menghilang. Kemudian batang pohon itu kembali ke bentuk semula.


----------+++----------


Terdengar keramaian orang di sekitar. Ken mengerut dahi. Apa aku sudah pindah dimensi lagi? Kini pria itu mulai mengerti bagaimana ia berpindah dimensi. Saat ia coba berdiri, ia terkejut hingga mundur beberapa langkah. "Hah!"


Ada segerombolan anak SMA yang sebagian mewarnai rambut, mengelilingi dirinya. Wajahnya garang dan semuanya laki-laki. Mereka melihat heran pada Ken.


"Bos kenapa?" tanya salah satu dari mereka yang rambutnya berwarna pink.


"E ... bos?" tanya Ken bingung.


"Aduh, Bos, begitu saja tersandung. Malu, Bos, sama cewek-cewek di sana." Pemuda itu menunjuk gerombolan anak perempuan yang berpakaian sekolah yang hanya meliriknya dan tak berani berbuat apa-apa. Sepertinya mereka takut dengan orang-orang yang bersama Ken, tapi ia bingung kenapa pemuda-pemuda yang terlihat seperti anak nakal itu memanggilnya 'Bos'.


"Aku Bosmu ya?" tanya Ken lugu.


Bahu Ken langsung ditepuk pemuda itu. "Ya ampun, Bos. Baru jatuh gitu aja langsung lupa ingatan begitu. Bercandanya jangan keterlaluan ah, Bos!"


Ken hanya bisa memperlihatkan mimik tertawa dengan ******* kebingungan. Jadi aku ini anak nakal di sekolah? Ya ampun ....


Terdengar bel berbunyi.

__ADS_1


"Ayo masuk, Bos, ke kelas."


"Ah, kamu duluan." Aku bahkan tidak tahu kelasku ada di mana, astaga! Ken mengikuti pemuda itu. Saat ia melewati tangga, ia bertemu cermin besar di salah satu dinding belokan tangga dan ia melihat wajahnya di sana. Astaga! Rambutku! Kenapa berwarna pink seperti pemuda itu! Wajahku juga jadi lebih muda dari sebelumnya. Ah ... kenapa aku jadi orang yang aku benci!


---------------+++------------


Ken memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dengan pelan. Aduhh ... terus aku pulang ke mana? Apa aku punya orang tua?


Pemuda yang berambut pink sama dengannya itu kini menduduki mejanya. "Bos, kok tumben hari ini kamu pintar, Bos?"


"Eh?" Ken panik. "A-aku lagi malas berdebat sama guru, jadi aku isi saja soal yang di papan."


"Mmh." Pemuda itu mengangguk-angguk.


"Eh, kamu pulang antar aku dulu ya?"


Pemuda itu mengerut kening. "Lah, maksudnya gimana? 'Kan biasanya juga memang pulang sama-sama. Rumah kita 'kan cuma beda belokan."


"O-oh, iya." Berarti aku punya rumah. Lalu orang tuaku siapa? Haah ... pusing kepalakuuu. Kenapa aku tidak jadi anak pintar saja sih, tapi kok malah jadi anak nakal. Gara-gara Mira nih, aku jadi salah ngomong. Haaah ... Awas aja kau Mira, nanti kalau kita bertemu. Mmh! Ken begitu dongkol.


Mereka ke parkiran sekolah. Pemuda itu menaiki sepedanya dan melihat heran pada Ken. "Bos, kenapa bengong? Itu sepedanya ...." Ia menunjuk lewat dagunya.


Ken menoleh ke arah sebuah sepeda yang terparkir rapi bersandar ke dinding.


"Ayo, Bos!"


"Eh, iya." Untung aku punya sepeda, tidak jalan kaki pulang. Sepedanya masih baru lagi. Ken mengusap sepedanya.


"Hasil malak nenekmu 'kan?"


"Apa?" Ken terkejut.


"Lah, siapa lagi yang kau mintai uang selain nenekmu? Kakekmu sudah gak ada, orang tuamu juga ninggalin kamu karena cari uang ke kota. Paling nanti kalau kau pulang, nenekmu juga baru balik dari sawah."


Astaga ... jahat sekali diriku ya? Ken mengusap wajahnya. Cucu macam apa aku ini, benalu dalam keluarga tapi malah menyusahkan nenek tempat aku bergantung.


Ken mengayuh sepedanya bersama pemuda itu melewati toko-toko kelontong dan pasar sebelum kemudian berbelok ke sebuah area rumah-rumah sederhana di kota itu.


"Eh, stop. Kenapa kamu ikut aku?" tanya pemuda itu menghentikan Ken. "Itu lihat nenekmu jalan sendirian. Bonceng gih!" Ia menunjuk ke arah belokan di mana seorang wanita yang sudah sangat tua dan bongkok, berjalan sendirian.


____________________________________________

__ADS_1



__ADS_2