Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Keputusan


__ADS_3

Terdengar suara kucing mengeong. Ternyata Odagiri membawa kucingnya ke rumah itu.


"Eh, Suchan ...." Ken menyodorkan tangannya ke lantai dan kucing itu melompat ke dalam pelukan. "Suchan." Ia mengusap kepala kucing itu sambil memeluknya.


"Sudahlah, jangan dipikirkan hari ini. Kau betul-betul suka padanya ya?"


"Siapa?"


"Anak Menteri Pertahanan."


"Dia itu temanku, Sensei, bersama pengawalnya, Gojo. Kami sama-sama manusia setengah dewa."


"Mmh ... nah, tidurlah."


Ken meletakkan kucing itu di ranjang dan beranjak berdiri. Ia melangkah ke pintu dan membukanya. "Malam, Sensei." Pria itu kemudian menghilang di balik pintu.


Odagiri mengusap kepala kucing itu. Ia sebenarnya sudah membuat keputusan setelah mendengar seluruh cerita muridnya itu, tapi ia akan mengatakannya besok.


---------+++---------


Suasana sarapan terasa menyenangkan karena ada Ken di sana. Kedua gadis itu seperti biasa, sibuk mencari perhatian Ken. Istri Lian Luo sudah mulai makan seperti biasa dan Ejiro hanya melihat Ken yang terpaksa sibuk dengan kedua gadis itu, walaupun ia kadang-kadang mencoba ikut masuk dan mengajak bicara gadis-gadis itu.


Seusai sarapan, Odagiri membuat pernyataan bahwa mereka pamit pulang ke hutan, membuat seisi rumah terkejut termasuk Ken dan Ejiro. "Aku akan pulang kembali ke tempat asalku bersama kedua muridku."


"Oh, cepat sekali. Bukankah kalian harus mencari keberadaan Lucille dan drakula itu?" tanya Lian Luo.


"Semalam aku sudah berdiskusi lagi dengan Ken dan kemungkinan, mereka sudah pergi ke luar kota. Kalau keluar kota, sebenarnya itu sudah bukan tanggung jawab kami lagi, apalagi mereka mungkin mendatangi kota selain Cina, karena itu kami pamit."


"Tapi bagaimana dengan pengawal di luar sana yang menunggu Ken semalaman?"


"Nanti biar aku yang bilang pada mereka untuk kembali ke kediaman Menteri Pertahanan."


Lian Luo tak bisa berkata apa-apa lagi selain melepas ketiganya pergi. Mereka pergi dengan diantar oleh kereta kuda milik pria kaya itu setelah memberi tahu pengawal Menteri Pertahanan bahwa Ken tak bisa kembali karena telah memutuskan pulang ke hutan.


"Sensei, apa aku tak boleh menjadi anak buah Menteri Pertahanan?" tanya Ken sekali lagi dengan tubuh lemas. Ia berharap gurunya menjawab lain walau itu tak mungkin.


"Boleh, tapi bukan sekarang. Sekarang saatnya kamu meneruskan untuk menyelesaikan pelajaran ilmu bela diri itu, baru kamu boleh memilih apapun yang kamu mau."


"Sensei ...."


"Dasar cengeng!" ledek Ejiro.


"Gara-gara kamu tuh ...." Ken menyikut pria bercodet itu di sampingnya dan ia malah mendapatkan poninya diacak-acak pria itu. "Aku bukan anak kecil, tau!" tepisnya dengan kasar. Ia kesal, di saat-saat tertentu, pria itu sering menganggapnya anak kecil.

__ADS_1


Ejiro dan Odagiri malah tertawa.


-------+++--------


Kereta hanya mengantar sampai ke tepi hutan. Selanjutnya, ketiganya harus berjalan lagi ke dalam hutan. Di saat itulah, Ken mencari cara untuk menghindar. "Eh, Sensei, aku ingin ke kamar mandi dulu ya?"


"Eits." Odagiri sudah memegangi kerah kimono pria itu yang sudah berbalik hendak pergi. "Mau ke mana?"


"Ke kamar mandi, Sensei," ulang Ken.


"Tidak buru-buru 'kan? Ayo kita pulang. Kalau terdesak, kau bisa melakukannya di hutan."


"Di hutan tidak nyaman. Kebetulan di sini, kenapa tidak di sini saja, Sensei?" rayu pria berambut pendek itu.


"Di sini dan terus menghilang, mmh?" Odagiri melirik Ken yang masih mencari celah.


"Sensei ...." Akal bulus pria berambut pendek itu ternyata telah terbaca.


"Kalau kau berbohong dan coba kabur, latihan hari pertama, kau harus melakukan latihan 2 kali lebih lama."


Ken merengut. Tanpa sengaja ia melihat sebuah gerobak yang ditarik kuda yang berlari kencang lewat di sampingnya. Saat itulah ia menjadikan pedangnya tongkat untuk melambungkan tubuhnya dan masuk ke dalam gerobak itu, tapi di saat itu juga tanpa ia sadari, Odagiri meloncat tanpa bantuan apapun, meraih pria itu lalu membawanya lagi keluar gerobak. Ejiro tertawa melihatnya.


"Lain kali, kalau mau kabur lagi, pastikan ilmumu lebih tinggi dariku, baru kau coba lagi."


"Sensei ...," ucap Ken lemas.


"Ejiro, tolong aku," pinta Ken.


"Aku ingin belajar dari Sensei, jadi aku tidak ada niatan untuk kabur darinya," sahut pria bercodet itu dengan senyum lebar.


Ken hanya bisa menelan kecewa.


"Ejiro, nanti kau menyusul. Jangan lupa bawa Suchan. Aku harus segera sampai ke rumah karena Ken ingin mandi," canda Odagiri.


Ejiro terkekeh seraya membungkuk meraih Suchan.


---------+++----------


Tiada hari dilewati tanpa latihan. Odagiri mengajarkan jurus baru perpaduan antara gerakan jurus Jepang dan China. Juga dipadukan dengan tenaga dalam yang hampir sempurna yang dilakukan keduanya, Ken dan Ejiro. Ken sudah bisa melewati dinding hingga separuh tinggi gua, sedang Ejiro sudah mulai bisa bergerak melompati pohon.


Ken siang itu baru selesai latihan, sedang Ejiro tengah berlatih keras mengejar ketertinggalan dari pria berambut pendek itu. Pria bercodet itu merasa bodoh setiap kali melihat Ken dengan mudahnya mengerti apa yang dikatakan Sensei, sedang ia butuh usaha yang keras agar bisa menyamai pria berambut pendek itu.


Selain ia memang tertinggal banyak dari Ken, ia merasa malu karena ia lebih tua dari pria itu tapi tidak lebih cerdas. Ia iri dengan banyak pencapaian Ken yang ia tidak bisa lakukan.

__ADS_1


Sebuah anak panah tiba-tiba melesat dan menancap di tanah. Keduanya terkejut dan menengadah. Sensei pun ada di sana ikut menengadah.


"Kennn ... aku datang!" Mira melambaikan tangan dari atas. "Aku bawa makan siang."


Odagiri Sensei pun membantu kedua muridnya naik ke atas. Hanya butuh beberapa kali lompatan, ia sudah sampai ke atas, membawa Ken lalu Ejiro.


"Mira, kau bawa makanan untukku?" tanya Ken senang.


Iya, juga untuk Sensei dan Ejiro."


Pria berambut pendek itu cemberut, apalagi melihat Ejiro dan Sensei tersenyum senang. Mereka turun ke jurang itu dengan tali. Mira, Gojo dan para pengawal sambil membawakan makanan dari rumah Menteri Pertahanan.


"Kak Ken, kapan Kakak keluar dari sini?" tanya Mira pada Ken yang sedang menikmati makanannya dengan sumpit.


Pria berambut pendek itu melirik Odagiri sebentar lalu menatap gadis itu. "Maaf Mira, aku tidak tahu. Aku harus bisa menguasai semua jurus yang diajarkan Sensei baru aku bisa keluar dari sini."


Gadis itu terlihat sedikit kecewa, tapi Ejiro mengganggunya dengan mencolek pipinya. "Ihh ...."


Pria bercodet itu tertawa.


"Ejiro!" teriak Ken, kesal.


"Kamu kenapa usil sekali, Ejiro," tegur Odagiri.


Ketiganya malah melirik ke arah guru itu.


"Lho, kenapa?" Kini pria berambut kaku itu heran karena diperhatikan sedemikian rupa.


"Dia ternyata adikku, Sensei. Adik tiri," terang pria bercodet itu.


"Oh, benarkah?" Odagiri baru mengetahuinya. "Jadi kalian ... oh, mungkin begitu pertalian takdirnya," gumamnya.


"Apa, Sensei?" tanya Ken.


"Ah, tidak. Ayo, kita lanjutkan makannya."


Belum lama mereka makan, pria berambut kaku itu merasakan sesuatu. Ia menajamkan telinga. "Mira, apa saat kau ke sini, kau diikuti seseorang?"


"Tidak," jawab gadis itu singkat.


Odagiri masih menajamkan telinga, ia mendengar pergerakan yang mencurigakan. "Apa pengawalmu hanya segini?"


"Iya, Sensei."

__ADS_1


"Berarti kita kedatangan tamu."


Baru bicara begitu, sekelebat bayangan melewati tempat mereka makan. Satu, dua, tiga, hingga banyak dan kemudian mereka datang secara bersamaan.


__ADS_2