
Sarapan pagi itu, Ken sendirian di meja makan. Sejak dari ia usai mandi hingga berpakaian, tak sekalipun ia melihat sang istri, sampai ia kebingungan sendiri. Ia tak menyentuh sarapannya melainkan pergi ke kamar Miyuki. Kenapa lama sekali Miyuki bersiap untuk pergi sekolah ya?
Dibukanya pintu kamar anak satu-satunya itu dan ia terkejut. Ia melihat sang istri tengah melipat pakaian si kecil ke dalam tas kain. Wanita itu pun tidak seperti biasanya yang berpakaian cantik dengan gaun selutut yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Kini ia mengenakan celana jeans dan baju kaos berwarna putih dengan gambar kartun di depannya.
Miyuki pun sama. Ia yang biasanya menggunakan rok berwarna pink atau biru, warna kesukaannya, kini memakai celana jeans seperti sang ibu. Hanya ciri khasnya tak pernah ketinggalan, kuncir dua di kiri kanan kepalanya.
Ken terheran-heran melihat penampilan keduanya. "Kalian mau ke mana?"
Mira menoleh sebentar. "Oh, kami mau ke gunung." Tangannya tak berhenti melipat baju dan mencari lagi di rak baju yang tengah terbuka.
"Gunung?" Bola mata pria itu membulat sempurna.
"Iya. Miyuki bosan, jadi aku ajak dia ke sana."
"Mira, bukannya gunung bukan tempat yang nyaman untuk tinggal?"
Mira kembali menoleh. "Kata siapa? Aku pernah tinggal di hutan dan kamu pun pernah juga tinggal di sana. Aku rasa kau tahu tempat itu seperti apa. Malah aku lebih suka ke sana dibanding tinggal di sini tapi terasa sunyi." Ia kembali mencari pakaian untuk si kecil.
"Mira, bukannya anak kita perlu pergi sekolah? Bagaimana kalau ...."
"Dia masih kecil, Ken. Seminggu tidak masuk pun tidak akan membuat ia bodoh."
"Tapi Mira, aku pun juga sedang sibuk-sibuknya bekerja."
"Siapa yang mengajak kamu? Bukankah urusan kantor lebih penting dari pada kami?"
Mendengar itu, Ken langsung mendekati istrinya. Ia mendekapnya dari belakang. "Mira, jangan bicara begitu. Aku melakukan semua ini demi untukmu. Juga anak kita. Aku tidak ingin yang lain, hanya untuk bisa membahagiakanmu," ucapnya lembut di telinga sang istri.
Mira menoleh dan menatap kedua manik mata suaminya. Ia tahu, pria itu mencintainya dengan tulus hingga tak tahu harus bagaimana membahagiakan dirinya dan Miyuki. "Kalau kamu ingin membahagiakan seseorang kau harusnya bertanya. Bukankah itu yang dulu kau ajarkan padaku?"
"Mmh, benar," ujar pria itu dengan nada canggung. "Tapi bukankah hidup serba ada seperti ini yang diinginkan sebuah keluarga?"
"Umumnya iya, tapi aku tidak."
"Lalu kehidupan apalagi yang kau inginkan?" Ken melepas pelukan. Ia bingung harus bagaimana, tapi kemudian ia mendekap istrinya lagi dan mencoba menghentikan tangan wanita itu dengan lembut.
Mira berhenti sebentar lalu memutar tubuhnya ke belakang. "Kau tahu, aku sudah lama merasa ada yang hilang dalam diriku tapi aku tak tahu apa, sampai Miyuki protes padaku. Aku baru menyadarinya."
"Miyuki?" Pria tampan itu dengan pakaian jasnya menoleh pada sang anak yang sedang menonton kemesraan kedua orang tuanya dari atas ranjang.
Mulut gadis kecil itu merengut.
__ADS_1
"Miyuki, ada apa denganmu, Sayang." Ken mendekati ranjang dan mencoba merangkulnya.
Gadis kecil itu masih ngambek. "Papa sayang sama Mama aja, sama Miyuki enggak!"
Ken tersenyum lebar dan mendekap gadis itu erat. "Kata siapa? Papa sayang kok sama Miyuki."
"Tadi katanya semua buat Mama, buat Miyuki mana?"
"Semua buat Miyuki dan Mama. Tidak ada yang Papa beda-bedakan kok, mmh."
"Papa, kapan Papa punya waktu buat kami?"
"Jadi sekarang ini Papa lagi ada bisnis ...."
"Miyuki! Sini, kita pergi saja! Jangan ganggu Papa. Papa hidupnya hanya untuk kantor! Kamu benar!" Mira segera mengambil alih si kecil dengan mulut mengerucut.
"Lho, Mira. Jangan bilang begitu. Aku melakukan ini ...."
"Hanya untuk menyenangkan Kak Ejiro 'kan, bukan kami?" Sang wanita menggendong putrinya dengan mengesampingkan rambut panjangnya yang terurai.
"Tapi 'kan itu untuk ...."
Sebelum wanita itu pergi, pria itu langsung meraih lengannya. "Maafkan aku, Mira. Maafkan aku. Aku ...." Suaranya seperti tercekat. Tiba-tiba pria itu berdiri dari duduknya dan memeluk keduanya. "Jangan tinggalkan aku, Mira, aku tak bisa kehilangan kalian berdua. Tolong."
Mira sudah berusaha menahan air matanya tapi tetap lolos juga sehingga pria itu mendekapnya erat. Ken paling takut melihat istrinya menangis, karena wanita itu walaupun sering bertingkah berani, tapi jarang mengutarakan perasaannya. Ia harus menebak-nebak kesalahannya bila itu terjadi.
"Ken, kamu 'kan ingin pergi kerja." Mira berusaha tegar saat bicara tapi masih terdengar suaranya yang bergetar.
"Tidak, aku ikut kamu. Aku ikut kamu ke mana pun kamu pergi." Pria itu menyentuh pipi wanitanya dan menghapus air matanya. "Aku juga tak butuh semua ini kalau kau tak membutuhkannya."
Mira menatap sang suami dengan pandangan nanar. Pria itu tetap seperti pria yang dulu dikenalnya. Kakak yang bersahaja yang selalu berjuang untuk dirinya. Wanita itu kini menemukan Ken yang hilang yang kini kembali ke pangkuan. Mira merebahkan kepalanya ke dada bidang sang suami yang begitu ia rindukan. Ia merasa damai.
"Jadi kalian naik gunung dengan apa?" tanya Ken dengan rencana mereka.
"Mmh." Sang wanita menegakkan kepalanya. "Naik bus, mungkin." Mira menghapus sisa air matanya, pelan.
"Oh, aku punya ide bagus."
"Mmh?"
-----------+++----------
__ADS_1
"Sayang, ini 'kan mobil buat jualan?" tanya Mira lagi, di dalam mobil.
Mobil itu dilengkapi dengan barang-barang untuk memasak. Ken yang sedang duduk menyetir, tersenyum lebar. Ia telah mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai seperti yang dipakai istrinya. Kaos dan celana jeans. "Ini sebenarnya barang yang ditawarkan ke perusahaan. Aku sedang bingung bagaimana menguji cobanya, tapi mendengar rencana kalian aku langsung punya ide ini."
"Tapi kita 'kan bukan mau jualan, kita mau jalan-jalan."
"Ya 'kan nanti bisa menginap di hotel atau di penginapan."
"Lalu untuk apa kita pakai mobil ini? 'Kan mobil yang biasa di rumah, bisa."
"Mobil mewah sangat mencolok. Lebih baik bawa mobil seperti ini, jadi saat kita beristirahat di jalan yang gak ada apa-apanya, kita bisa masak dan makan di tempat."
"Berarti kita harus belanja bahan makanan dulu dong!"
"Betul sekali." Ken memperlihatkan ibu jarinya.
"Ma, katanya Mama mau culik Papa?" Miyuki yang berada di pangkuan, tiba-tiba mulai bicara.
"Apa? Culik?" sahut pria itu kembali tersenyum lebar. "Mama mana berani culik Papa. Yang ada, Papa culik Mama."
Mira tersenyum simpul mendengarnya. Tak lama mobil sampai ke sebuah supermarket. Ken dan Mira berbelanja sambil membawa si kecil, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.
"Kita mau ke mana sekarang? Ke gunung Fuji?" tanya Ken lagi.
"Ke mana sebenarnya tidak penting. Asal bisa pergi bersamamu."
Ken terkejut mendengar pernyataan istrinya. "Baiklah, kalau begitu, aku akan memegang kendali. Kita jalan-jalan saja sampai lelah. Baru kita kembali. Bagaimana?"
Mira mengangguk, dan Miyuki terlihat senang. Maka di mulailah perjalanan mereka jalan-jalan mengelilingi kota-kota di Jepang di mulai dari Nagoya tempat tinggal mereka.
Terkadang mereka berhenti di jalan yang jauh dari apapun sehingga Ken masak dan mereka makan bersama. Kadang-kadang pula mereka bertemu dengan sesama pelancong yang menumpang makan di tempatnya. Karena banyak yang berminat, Mira menjual makanan yang dibuat Ken. Hingga lambat laun, saat mereka belanja di supermarket, mereka tidak lagi belanja untuk keperluan diri sendiri tapi juga buat kebutuhan jualan.
Ken menjual onigiri, nasi goreng dan takoyaki. Pembelinya biasanya banyak, padahal mereka berhenti di tempat berbeda. Banyak pelancong yang membawa mobil, berhenti dan membeli. Itu karena selain murah dan tidak ada yang jualan selain mereka, Miyuki juga membantu melayani pembeli. Gadis kecil ini menjadi kesayangan para pembeli.
Namun ada pekerjaan baru dari kayangan menantinya. Sanggupkah Ken meninggalkan keluarga demi pekerjaan barunya ini?
_________________________________________
Visual Ken dan Miyuki di depan mobil jualan mereka. Salam, ingflora💋
__ADS_1