Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Nekat


__ADS_3

"Eh, apa ada kemungkinan lain, misalnya?" Hati Ken masih mencari kemungkinan Gojo salah menyimpulkan kejadian walau ia tak yakin.


Gojo diam. Ia membiarkan Ken berpikir sementara ia meneruskan makannya.


"Gojo?"


"Kau ingin aku berbohong atau bagaimana?"


Ken terlihat gelisah dengan menyugar rambutnya dan pada akhirnya ia menggebrak meja. "Kenapa wanita itu selalu membuat masalah?" ujarnya geram tapi kemudian menoleh pada pria Cina itu. "Bagaimana kalau dia menyangkalnya?"


"Tanyakan saja," jawab Gojo dengan tenang sambil menambahkan sayuran di atas mangkuk nasi. Ia kemudian memakannya dengan sumpit.


"Gila, kenapa wanita ini selalu saja membuatku kesal? Salah apa aku padanya?" Sang pria Jepang mengeratkan kepalan tangannya di atas meja. "Salah apa Yumi padanya?"


"Tidak tercapai keinginannya, mungkin." Pria berambut bergelombang itu kembali mengambil sayur dari sebuah mangkuk besar dengan tenang.


Ken kembali menyugar rambutnya dengan gusar. Ia merasa bersalah pada Yumi, Mira, dan semua usahanya menjadi sia-sia karena ia mengundang pembunuhnya itu sendiri ke dalam istana Lord Z.


Ia memang sudah merasa tak nyaman sejak awal membawa Lucille serta, tapi wanita itu adalah pemegang bola kristal yang satu lagi, hingga ia tak punya pilihan.


Semua sudah terbentang jalannya dan ia tak bisa menolak takdir. Setidaknya ia masih bisa mendengarkan kata-kata terakhir Yumi saat ia kembali ke waktu sebelum itu terjadi, dan itulah jawaban Yumi. Ken harus mengikhlaskan kepergiannya, sementara Lucille harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Tentu saja, mulai ada genangan air di sekitar kelopak mata di mana matanya mulai memerah. "Apa Mira tahu tentang ini?" tanya Ken dengan suara serak.


"Tidak."


"Jangan beritahukan ini padanya, kumohon." Ken hanya menatap ke arah mangkuk makannya di hadapan. Perasaannya hancur setelah mendengar kenyataan yang terjadi.


"Iya."


Setelah itu, acara sarapan berlanjut dengan sangat pelan. Tanpa suara, tanpa ekspresi dan keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Mengunyah nasi jadi terasa berat.


---------+++--------


"Gojo, aku pinjam pedang dan uangmu, sini!"

__ADS_1


Sang pria Cina itu terkejut melihat Ken yang sudah memakai topi caping gunung(topi anyaman bambu) di kepalanya siang itu. "Kau mau ke mana?"


"Aku mau bertemu dengan Mira. Katakan padaku, aku harus pergi ke mana?"


"Ken. Bukankah aku sudah katakan padamu, kau tak bisa ke sana. Memasuki daerahnya saja, banyak orang hilang atau kembali tinggal nyawa. Apa kamu masih mau berkeras ke sana? Tempat itu terlarang untuk umum."


"Asal bisa bertemu dengan Mira, kenapa tidak?" Ken segera masuk ke kamar Gojo tanpa permisi dan mengambil pedang yang masih di dalam sarungnya, serta. "Gojo, aku pinjam uangmu." Ia meletakkan sebuah koin emas di atas meja.


"Ken, ini bukan tentang uang, tapi tolong tunggu saja dengan sabar. Aku akan ...."


"Aku tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkannya salah jalan. Mau jadi apa dia nantinya? Aku ikut bertanggung jawab dengan kesalahan yang dipilihnya. Kalau dia begini akibat kematian Yumi, itu berarti masalahku juga." Ken menahan rasa sesak di dada, tapi yang terjadi sudah terjadi. Tinggal ia harus memperbaiki yang bisa ia perbaiki.


"Ken ...."


"Gojo!"


Melihat sang pria Jepang begitu berkeras, Gojo terpaksa memberikan uangnya pada Ken di dalam sebuah kantong.


"Terima kasih. Lalu tempatnya di mana?"


"Lembah perawan, atau lembah hantu. Disebut lembah hantu karena ...."


Udara siang sedikit terik. Karena itu ia membawa caping agar wajahnya tidak terkena sinar matahari langsung. Itu pun masih membuat dirinya berkeringat akibat udara panas dengan hembusan angin yang lemah. Ia bertanya ke sana kemari tentang lembah perawan hingga ia akhirnya bisa memasuki tempat itu.


Daerah itu banyak ditumbuhi pohon bambu. Ada jalan setapak membuat siapapun yang berniat berkuda atau sekedar berjalan kaki merasa nyaman di sana. Tempatnya pun tidak seseram kabar yang berhembus. Bahkan sangat cocok untuk tempat jalan-jalan karena sangat asri dan rindang.


Apa mungkin saat malam terlihat mengerikan, batin Ken. Ia melepas capingnya dan mengipasi tubuh seraya berhenti sebentar. Ia melihat-lihat pepohonan bambu yang berayun-ayun ditiup angin. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang terbang di antara pepohonan bambu itu.


Apa itu? Ken bersiaga sambil mencari-cari benda apa tadi yang barusan lewat. Seperti ada kain yang terbang atau sesosok mahkluk. Kembali sesuatu itu lewat lagi di belakangnya dan ia menyadari saat sudah menjauh. Mmh, begitu ya? Karena itu lembah ini juga disebut lembah hantu.


Kali ini sesuatu itu makin sering berseliweran di depan dan di belakang, bahkan di sampingnya. Pada akhirnya ia bisa melihatnya saat sosok itu lewat di depan mata.


Seorang wanita berusia matang yang masih cantik dengan pakaian berwarna putih menoleh ke arahnya. Saat itu karena terkejut, Ken tidak sadar telah dilempar jarum ke pangkal leher membuat ia tiba-tiba tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya dan berbicara. Wanita itu kemudian turun tepat di hadapan Ken.


"Berani benar seorang Jepang masuk ke daerah kami ya!" ucap wanita itu menilik pakaian yang dikenakan oleh Ken.

__ADS_1


Ken tentu saja tak bisa menjawabnya karena ia tak bisa bergerak dan berbicara. Hanya bola matanya saja yang bergerak menandakan ia mengerti. Ia terlihat terkejut.


Apa maksud wanita ini membuatku seperti ini? Bagaimana caranya agar aku bisa mengatakan maksud kedatanganku bila aku tak bisa bicara? Apa ia takut aku akan berteriak minta tolong, hingga ia harus mengunci mulutku juga?


Wanita itu mendatangi sang pria sambil mengitari tubuhnya. "Mmh, pria sepertimu. Muda, tampan, menarik." Ia kembali berdiri di hadapan dan menaikkan dagu Ken dengan telunjuknya. "Apa kau siap melayani kami, wanita-wanita yang haus akan keindahan tubuh pria, mmh?"


Apa-apaan ini? Gila ... Mira kau di mana? Ken terlihat panik.


Terdengar tawa wanita itu yang mengerikan. Seakan ia adalah hantu penguasa tempat itu. Tiba-tiba sekelebat bayangan datang, membuat wanita itu menoleh.


"Maaf, Nyonya. Ampuni temanku. Biarkan dia pergi bersamaku." Pria itu membungkuk memberi hormat pada sang wanita yang memakai hanfu cantik dengan rambut yang digelung indah ke atas.


Ken membulatkan matanya. Gojo?


"Mmh, jadi dia temanmu?" Wanita itu menghampiri sang pria Cina dengan melipat tangannya di dada. Ia melirik pria Jepang yang tengah mematung itu.


"Baiklah, kali ini kuampuni, tapi ingat! Sekali lagi dia datang ke sini, takkan kuberi ampun. Tempat ini tertutup untuk siapapun kecuali orang yang memang aku undang datang ke sini!" ucapnya dengan tegas. Setelah itu, tanpa basa-basi lagi, sang wanita meloncat pergi meninggalkan tempat itu.


Gojo mendatangi Ken. Ia kemudian mencabut jarum yang menempel di leher pria Jepang itu. Seketika, Ken bisa bicara lagi dan mulai melemaskan tubuhnya. "Ah, Gojo. Terima kasih."


"Kau susah dibilangi!" omel pria Cina itu yang ternyata membuntuti Ken sejak tadi.


"Maaf, Gojo, tapi aku benar-benar ingin ketemu, Mira. Ada hal yang ingin kukatakan sebetulnya, padanya."


"Bilang saja kau rindu padanya." Gojo melirik pria itu.


"Eh, tidak aku ... Eh, ada benarnya sih." Ken akhirnya mengakui.


Pria Cina itu mendengus kesal.


"Apa kau bisa bantu, Gojo? Aku ingin bertemu dengannya."


"Bisa."


"Kenapa kau tak bilang dari tadi?"

__ADS_1


"Sudah kubilang, kau tak mau dengar!" Suara Gojo meninggi.


Ken menunduk. "Maaf, tapi kamu gak boleh galak begitu dong, padaku." Ia kini melirik sahabatnya itu sambil merengut.


__ADS_2