Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Kejutan


__ADS_3

Ken membawa piring kotor ke dapur. Saat ia meletakkan piring itu ke tempat cuci piring, Goras datang dan menyikutnya.


"Hei, enak betul jadi rebutan." Pria berwajah bulat itu terkekeh.


"Pusing."


Goras makin tergelak.


Tiba-tiba Lucille berdiri di pintu dapur membuat pria itu berhenti tertawa. "Ken!"


"Eh, apa, Nona?"


Semua orang di dapur menatap Lucille termasuk juga pria Jepang itu.


"Siapkan kereta! Aku mau keluar!" Dari wajahnya terlihat wanita itu sedang tidak senang. Ia tidak suka ada orang yang berebut perhatian dari Ken walaupun itu laki-laki dan saudaranya sendiri. Ia sudah lama menunggu pria itu turun dari mengurus ayahnya dan ia ingin keluar bersama pria Jepang itu.


Lucille berbalik meninggalkan dapur itu dan Ken menghela napas pelan karena tahu, hal ini pasti buntut dari kejadian di meja makan waktu sarapan tadi. Karena itu ia mengekor pasrah pada wanita itu.


"Ken!"


Lucille dan Ken menoleh.


Ivan datang dengan senyum nakalnya. "Tolong carikan kucingku di luar."


Bola mata wanita itu berputar karena kesal. "Bisa gak cari sendiri?"


"Aku punya pelayan, kenapa harus bersusah-payah?"


"'Kan bisa dengan orang lain?" Lucille mulai kesal.


"Papi memyuruhku memeriksa orang baru."


"'Kan bisa nanti saja?" Semakin panas.


"Kau yang seharusnya mengalah. Apa kamu pergi untuk urusan penting?"


"Hihh!" Lucille mengepal kedua tangannya karena geram tak bisa mencari alasan lagi.


Ivan makin tersenyum lebar. Ken yang mendengarkan hanya bisa terdiam karena bingung, kenapa kedua orang bersaudara ini tak bisa akur.


"Ken, carikan kucingku," ucap pria berwajah pucat itu mantap.


"Iya, Tuan." Pria berwajah oriental itu akhirnya keluar lewat dapur mencari Gojo.


Setelah kepergian Ken, Ivan dan Lucille masih bersitegang di tempat yang sama.


"Kenapa kau menggangguku sih?" ketus wanita itu kesal.


Pria itu pergi dengan tertawa. "Kau takkan bisa menang melawanku!" teriaknya tanpa menoleh. Ia melambaikan tangannya dengan santai.


Lucille semakin geram saja. Wanita itu akhirnya menunggu. Ia melihat Ken naik ke lantai dua dengan membawa kucing yang diminta, tapi setelah itu pria itu tak kunjung turun.


Di kamar Ivan, Ken hanya duduk di sofa dan tak melakukan apa-apa. "Apa tidak ada yang bisa aku lakukan, Tuan?"

__ADS_1


"Tidak ada," sahut pria berambut hitam kecoklatan itu sambil berbaring di atas ranjang dan bermain dengan kucing Gojo.


"Tuan, tidak keluar? Kenapa gorden kamar ini ditutup? Oh, apakah Tuan punya penyakit yang sama dengan ayah Tuan?" Pria Jepang itu teringat waktu di kamar Edmon.


"Sakit?" Pria itu menoleh pada Ken.


"Iya. Tak bisa terkena sinar matahari."


"Ohhh." Pria bule itu kembali bermain dengan kucing itu. "Iya."


"Kalau begitu, aku boleh numpang tidur gak di sini? Sebab, kalau aku tak punya sesuatu yang bisa dikerjakan, aku cenderung mengantuk." Ken menutup mulutnya yang menguap lebar. Ia memang kurang tidur sejak semalam.


"Tidurlah." Pria itu tersenyum melihat pria oriental ini dengan gayanya yang terkesan berani padahal itu hanya bagian dari keluguannya saja. "Aku juga mungkin sebentar lagi tidur."


Tak lama Ken terbaring di sofa itu dan benar-benar tertidur disusul oleh Ivan dan kucing Gojo.


-----------+++------------


Ken turun dengan tergesa-gesa, karena ia telat datang ke dapur. Semua orang melihat padanya ketika datang.


"Ken, kamu dari mana?" tegur Ibu Kepala.


"Eh, maaf, Bu. Aku telat bangun," ucap Ken sambil mengucek-ngucek matanya.


Terlihat banyak orang di dapur menoleh padanya.


"Apa? Ken, KAU TIDUR DI KAMAR SEMENTARA KITA BEKERJA KERAS DI SINI?!" Nada bicara Ibu Kepala terdengar naik satu oktaf.


"Apa? Tuan Ivan?" Nada suara Ibu Kepala mulai merendah dan terlihat terkejut tapi kemudian mengerti. "Ah, perkara tadi pagi ya? Ya sudah, tidak apa-apa."


Kini Ken yang terkejut. "Eh ... Tidak apa-apa, Bu?"


"Iya. Sedari dulu mereka itu memang seperti kucing dan anjing karena tidak pernah bisa akur."


Ken melongo. "Oh, begitu."


"Hanya baru kali ini melibatkan seorang pelayan."


Pria itu masih tertegun.


"Ya sudah, ayo, kerja."


Ken kemudian menyiapkan makan siang hanya kali ini ia merogoh kantong celananya. Ada racun dalam botol kecil di dalam kantung itu. Apakah ia akan melakukan aksi itu sekarang?


Ia pergi ke sudut ruangan dan mengeluarkan botol itu sembunyi-sembunyi. Ia masih menimbang-nimbang ketika tangan seseorang menutup tangannya yang sedang memegang racun itu.


"Jangan, Kak."


Pria itu menoleh dan terkejut. "Mira?" gumamnya tak percaya.


Gadis itu meletakkan telunjuknya di depan mulut. Keduanya menoleh ke belakang. Semua sedang sibuk dan tak ada yang memperhatikan. Mereka kembali berpandangan. Pria itu begitu senang bertemu lagi dengan gadis itu walau dalam keadaan menyamar.


Gadis itu mengenakan baju pelayan seperti yang lainnya tapi dengan rambut yang berwarna putih. Ken tak peduli dengan warna rambut yang Mira kenakan, asal mengetahui gadis itu sehat tak kurang suatu apapun saja, sudah membuat dirinya bahagia. Ia ingin memeluk gadis itu tapi rasanya tak mungkin, karena itu bisa membongkar samaran yang sedang dilakukan gadis itu. "Ibu telah berhasil menolongmu," ujarnya hampir menangis.

__ADS_1


"Iya, Kak. Aku akan memantau Kakak. Semangat ya, Kak."


"Mmh, terima kasih, Mira." Netra pria itu berkaca-kaca.


Mira yang rambutnya digelung di kedua sisi, meninggalkan Ken dengan hati-hati. Ia melangkah ke pintu dapur yang mengarah ke taman belakang. Ken mulai bekerja dengan hati yang bahagia.


Seusai makan siang, Ken mencari Mira ke taman belakang tapi tak menemukannya. Ia malah bertemu kucing Gojo di sana. "Gojo, apa kau bertemu dengan Mira?"


"Sudah, Ken, kau jangan mencari Mira lagi. Yang penting ia sudah aman. Kerjakan saja tugasmu, karena sedari tadi Lucille selalu mencarimu. Jangan sampai ia tahu, Mira sudah bebas."


"Ok, ok, aku mengerti. Ok, aku kembali."


Benar saja, ketika Ken kembali ke dapur, ia bertemu dengan Lucille.


"Dari mana saja kamu dari tadi?" Wanita itu bertelak pinggang.


Ken terkejut karena begitu cepatnya wanita itu sudah ada di sana. "Eh, mencari udara segar."


Beberapa orang di dapur hanya menahan tawa.


"Ayo, siapkan kereta."


"Baik, Nona."


------------+++-----------


Ken gelisah, tak bisa tidur. Tentu saja karena ia sempat tidur siang lama sehingga ia susah tidur malam. Ia kehausan. Mau tak mau ia turun dari ranjang dan pergi ke dapur.


Baru saja ia meminum air seteguk, ia mendengar seseorang masuk ke dapur. Pria itu menoleh. Ada Tuan besar masuk dan melangkah ke arahnya.


"Eh, Tuan butuh sesuatu?"


"Kenapa kau masih berkeliaran di sini?" Bola matanya memerah dan tatapannya dingin.


"Oh, maaf tapi aku haus jadi terpaksa keluar."


Pria bule itu merapatkan giginya. Saat itu Ken melihat keanehan. Gigi pria itu ada yang bertaring panjang di depan.


"Tuan, ada apa dengan gigimu?" tanya pria Jepang itu lagi dengan polosnya.


Pria bule berambut hitam itu mendengus dan memperlihatkan giginya. "Hoaghh!" Dan wajahnya terlihat begitu mengerikan. Ia meraih lengan Ken dan menariknya keluar dari dapur.


"Tu-tuan, kau mau bawa aku ke mana?"


"Ikut aku, hoaghh ...!" Suara pria itu berubah menyeramkan dan sedikit serak. Ia menyeret pria Jepang itu menaiki tangga.


"Tuan ... Tuan ...."


___________________________________________



__ADS_1


__ADS_2