Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Cemburu Salah Alamat


__ADS_3

Terdengar suara riuh di dalam ruangan itu ketika pintu diketuk. Semua orang menoleh ke arah pintu yang terbuka. Di sana hadir Ejiro dan Dewa Matahari.


"Oh, sudah selesai?" sahut Dewi Sri yang segera bangkit dari kursinya.


"Iya, kita harus segera pergi," ujar pria berbadan kekar itu.


"Ayolah. Aku sudah siap." Wanita itu menghampiri. Ia menjentikkan tangannya. "Waktu berjalanlah."


Angin bertiup lembut menggerakkan gorden tipis di jendela. Ia kemudian membuat kotak sebesar pintu dengan jarinya. Lalu kotak itu berubah menjadi pintu ke sebuah tempat yang tidak terlihat. "Kami pergi dulu ya?" Keduanya memasuki pintu itu dan menghilang seiring menghilangnya juga pintu itu.


Ejiro menatap Mira. Gadis itu menyadari dan merasa jengah.


"Apa kalian ingin main ke penginapanku?" tanya Ejiro pada ketiganya.


"Ayo, kenapa tidak," sahut Ken.


Ketiganya keluar mengikuti Ejiro. Pengawal yang berada di depan kamar Mira terkejut, sejak kapan Ejiro dan Ken masuk ke dalam kamar itu karena mereka tidak melihatnya. Begitu juga dengan pelayan Ken. Ia terkejut melihat Ken Dan Ejiro keluar dari kediaman Mira.


"Eh, sebentar. Aku tukar Baju dulu. Bajuku basah oleh keringat," sahut Ken yang langsung melangkah ke kediamannya.


"Aku boleh lihat kamarmu, Ken?" tanya Gojo pada pria berambut pendek itu.


"Oh, boleh saja. Mungkin Mira mau juga main ke kamarku?"


"Mira tidak boleh main ke kamar pria. Itu peraturan Menteri Pertahanan," tegas pria berambut berombak itu.


Pria berambut pendek itu terkejut. "Oh, ok." Ia menoleh pada Ejiro. "Titip Mira ya?" Kemudian ia melangkah ke kamarnya bersama Gojo.


"Ayo kita ke kursi itu," ajak pria bercodet itu pada Mira.


Dengan sedikit malu-malu gadis itu mengekor pria itu ke kursi panjang tempat Ejiro tadi duduk. Mereka duduk berdampingan sambil menunggu Ken.


Ejiro menoleh ke arah Mira yang hanya menatap ke arah kediaman Ken. "Aku baru tahu kita bersaudara."


"Aku juga," sahut gadis itu tanpa menoleh.


"Baru tadi."


"Aku juga." Gadis itu menoleh sekilas lalu kembali memandang ke depan.


"Aku punya penginapan yang aku buat bersama saudara perempuanku."

__ADS_1


Mira menoleh.


"Saudara tiriku, maksudnya." Namun, pria itu bercodet itu merasa salah bicara. "Eh, maksudku, waktu berlalu dan dia sudah tua. Kini aku mengurus penginapan itu bersama keponakanku."


"Mmh ...."


Pria bercodet itu menatap gadis itu dan tersenyum. Ia mencubit pipi gadis itu lembut. "Kau memang gadis kecil yang manis."


Mira mendelik marah. "Hei, aku sudah besar ya?" Ia segera berdiri.


Ejiro mengikutinya."Aku 'kan saudaramu. Aku senang melihat wajahmu," godanya."Ayo sini, aku peluk."


"Tidak mau!" Gadis itu menghindar.


Ken yang keluar bersama Gojo terkejut melihat Ejiro tengah mengejar Mira dan memeluknya.Ia pun berlari mengejar mereka berdua bersamaan dengan pengawal di depan kediaman Mira. Sebelum pengawal itu sampai, pria berambut pendek itu meninju wajah Ejiro hingga jatuh tersungkur ke tanah. Pengawal Mira pun mengepung mereka.


"Eh, ini hanya bercanda," terang Mira pada semuanya.


"Apa?" Ken dan Gojo melongo.


"Tidak apa-apa. Kembalilah ke tempat kalian," usir Mira pada pengawalnya.


"Kau tidak bohong 'kan, Mira?" tanya pria berambut pendek itu tak percaya.


"Iya, benar, Kak Ken. Aku tak bohong." Mira memastikan.


Gojo membantu Ejiro untuk berdiri tapi Ken masih kelihatan sangsi.


"Kalau bercanda jangan berlebihan, Ejiro," ucap pria berambut pendek itu mengingatkan.


"Aduh, kau ini. Gampang cemburuan sekali," Ejiro mengusap pipinya yang memerah seraya sengaja menggoda Ken.


"Kau ini ...." Ken maju dengan geram tapi Mira langsung memisahkan keduanya.


"Sudah, sudah, sudah."


Pria bercodet itu malah tersenyum di kulum, padahal Ken marah setengah mati karena merasa Ejiro melecehkan Mira.


"Ayo, sekarang kita ke penginapan," ajak Mira lagi, guna meredakan ketegangan.


Mereka tidak hanya berkuda berempat. Pengawal Mira ikut demi keselamatan gadis itu yang memang sudah semestinya. Mereka berjalan beriringan tapi Ken di depan sambil menarik kuda kekang Mira, sedang Ejiro dibelakang bersama Gojo. Pria berambut berombak itu menatap pria di samping yang tersenyum nakal pada kedua sejoli di depannya.

__ADS_1


Di penginapan, Ken bertemu Me Hua. Wanita itu sangat senang bertemu dengan Ken kembali dan mengajaknya ke dapur. Ken sebenarnya tak ingin pergi dengan wanita itu karena ada Mira, tapi ia tak sanggup mematahkan hati Me Hua yang begitu senang akan kehadirannya di sana. Apalagi Mira terlihat tak peduli.


Jadilah Ejiro menunjukkan penginapan itu pada Mira dan Gojo. Ia juga memperkenalkan mereka pada keponakannya, Erina, yang mengurus penginapan itu bila ia tak ada.


Di depan penginapan itu, masih dijaga oleh para pengawal Mira. Mereka menjaga ketat pintu penginapan itu hingga yang menginap di penginapan itu saja yang boleh masuk, sedang yang ingin makan di restoran, tidak diizinkan masuk. Itu karena ada anak Menteri Pertahanan yang berkunjung ke sana.


Ejiro mengajak Mira dan Gojo untuk makan siang di restorannya. Pria itu memilihkan meja dan menu untuk mereka lalu setelah itu mulai mengobrol. Ia duduk di samping gadis itu, lalu Gojo di sampingnya."Bagaimana, hebat 'kan aku?" tanyanya memuji diri sendiri.


"Ya, begitulah," jawab Mira seraya melihat sekitar. Bangunan itu terbilang bagus untuk daerah itu di jamannya. Dengan penginapan dan restoran, pria itu cukup pintar berbisnis.


Ejiro sangat senang melihat Mira. Satu-satunya gadis yang berdarah sama dengannya, setengah dewa. Ia berharap gadis itu menerima dirinya. Kembali ia mencolek pipi gadis itu.


"Hei!" teriak gadis itu marah.


Pria berambut berombak pun ikut bicara. " Hei, sudah, Kak!Aku pengawalnya ini!" Ia memperingatkan.


"Jangan panggil dia, 'Kakak'. Tak cocok untukmu," imbuh Mira pada Gojo.


Pria bercodet itu meraih lengan Mira."Tapi kau harus memanggilku 'Kakak'," titahnya.


Gojo langsung berdiri. "Tolong, jangan kasar ya!" Ia serba salah menghadapi pria itu karena tahu mereka masih bersaudara.


Tiba-tiba Ken datang dan langsung mendorong bahu Ejiro kasar. "Hei, kau masih juga menggodanya. Dasar cabul!"


Pria bercodet itu tersenyum lebar. Ia memang sedang ingin menggoda Ken yang menyatakan Mira hanya sekedar adik baginya, padahal jelas-jelas kemarahan pria berambut pendek itu beda dengan kemarahan seorang kakak karena adiknya diganggu, tapi lebih ke seorang pria yang pacarnya digoda.


"Eh, sudah Ken." Gojo dan Me Hua coba menahan pria berambut pendek itu yang kembali kesal dengan ulah Ejiro pada Mira.


"Kenapa? Kau cemburu?" tantang pria bercodet itu. Ia mengibas rambut panjangnya ke belakang.


Ken panas mendengarnya. Ia mendengus kesal.


"Kau tak bisa memisahkan kami. Kami ini keluarga."


Pria berambut pendek itu tercengang mendengarnya. Demikian juga yang lainnya selain Gojo. Me Hua Dan Erina.


"Apa maksudmu dengan keluarga?" Ken setengah melongo.


Ejiro memeluk leher Mira dari belakang. "Aku kakaknya."


Gadis itu menepuk tangan pria itu dengan keras karena terus menganggapnya anak kecil. Pria itu tertawa dan melepaskan pelukan. Ken, Me Hua dan Erina, melongo melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2