
Ken kembali saling pandang dengan kucing Gojo. Seketika ia teringat pesan Ibu Kepala, tidak boleh keluar apapun yang terjadi, tapi mendengar seseorang menjerit di lingkungan itu, tidakkah ia setidaknya ingin tahu, atau datang menolong? Sekiranya mungkin bisa memberi pertolongan ....
"Aku akan coba lihat keluar," sahut pria Jepang itu ketika tidak terdengar apa-apa lagi setelah itu.
"Tidak, biar aku saja. Kamu terlalu lamban karena harus lewat pintu. Aku bisa langsung keluar lewat jendela," ujar Gojo yang melompat turun. "Ayo, keluarkan aku lewat jendela."
Ken membuka jendela dan mengeluarkan kucing itu dari sana. Ia kemudian menutup jendela dan menunggu. Sepuluh menit kemudian kucing itu kembali. Pria itu membuka jendela dan membawanya masuk.
"Huh, dingin," ujar kucing itu sedikit kedinginan.
"Mmh." Pria itu menutup kembali jendela agar tak makin kedinginan. "Lama sekali, apa kau tak lihat apa-apa?"
"Tidak."
Ken melihat ada noda darah di tangan kucing itu. "Ini apa?"
"Oh, tapi ada noda darah di mana-mana. Aku sudah berusaha mencari tapi tak menemukan siapapun di luar. Baik di depan maupun di taman belakang."
"Mmh. Mungkin orang itu terluka oleh sesuatu tapi masih bisa keluar dari sini."
"Mungkin."
"Sebaiknya, bersihkan dulu ini noda lukamu." Pria itu membawa kucing itu ke kamar mandi.
Setengah jam kemudian, keduanya berbaring di atas ranjang. Keduanya netra mereka masih belum ingin terpejam.
"Berarti besok pagi kau harus membunuh orang itu?" tanya kucing itu sambil menoleh ke arah pria di sampingnya.
"Iya."
"Siapa?"
"Lucille."
Gojo langsung tertawa. "Kalau begitu, bagus dong!" Kucing itu bahkan terduduk karena penasaran.
"Tidak," jawab pria itu datar.
"Lho, kenapa? Kau sebal padanya 'kan? Bukannya malah bagus?"
Ken yang melipat tangannya di belakang Kepala menoleh pada kucing itu dan kemudian kembali melihat langit-langit. "Aku sudah sering melihat kematian. Yang terbunuh atau yang tidak sengaja terbunuh tapi ... aku bukan mesin pembunuh. Kalau tidak karena terpaksa aku tak ingin membunuh orang meskipun aku tidak menyukai orang itu."
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan Mira?"
Pria itu menghela napas pelan. "Itulah yang aku pikirkan."
Keduanya kembali terdiam untuk waktu yang lama.
----------+++-----------
Pagi itu, Ken kelihatan tak bersemangat bekerja. Bukan apa-apa, ia masih memikirkan soal amplop yang diterimanya kemarin malam. Orang-orang di dapur bisa melihat, pria itu banyak menunduk dan murung.
"Hei, kamu melamun apa?" Danzo menyenggol sikutnya.
"Eh, tidak apa-apa," kilah pria Jepang itu.
"Tidak apa-apa bagaimana? Semua bisa lihat, kau murung terus sedari tadi."
Ken mengangkat wajahnya dan melihat sekitar. Sebagian besar orang yang bekerja di dapur tengah meliriknya sambil bekerja. "Tidak apa-apa, maaf." Ken berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan agar tak terlihat murung.
Saat mengurus sarapan pagi, ia juga terlihat bingung. Ia bimbang, entah kapan ia harus mengerjakannya. Kenapa organisasi itu menginginkan kematian Lucille? Ada masalah apa mereka dengan wanita ini?
"Ken, ssst ...." Goras berbisik dengan sedikit keras.
"Kau dipanggil itu," bisik pria sedikit gempal itu pada Ken.
Ken menatap ke depan ketika wanita berambut merah itu memandanginya dengan heran. "Oh, maaf. Nona mau apa?"
"Aku minta jusku ditambah."
"Oh, baik, Nona."
"Aku juga minta jusku ditambah," sela Ivan.
"Oh, baiklah." Ken mengambil satu wadah jus yang terbuat dari kaca dan akan menuangkannya pada gelas Lucille tapi kemudian Ivan memanggilnya.
"Aku dulu, Ken. Aku pria. Aku harus didahulukan," titah pria Rusia itu.
Lucille menatap Ivan dengan merengut.
Ken tak punya pilihan selain mengikuti Ivan. Ia menuangkan jus itu pada gelas pria muda itu kemudian gelas wanita itu.
Tampaknya persaingan tidak berhenti. Lucille mulai dengan yang lain. "Ken, tolong ganti serbetku kotor." Ia memberikan serbet yang ada di pangkuan.
__ADS_1
"Oh, sebentar, Nona."
"Oh, serbetku juga kotor, Ken," sahut Ivan.
Pria Jepang itu walaupun bingung, terpaksa mendahulukan Ivan. Pria berambut coklat gelap itu tersenyum penuh kemenangan. Lagi-lagi wanita itu cemberut.
"Tambahkan Cream soup-nya," perintah Ivan pada Ken membuat Lucille semakin panas.
"Aku juga tambahkan supnya," sela wanita yang berambut merah itu membeo ucapan saudara laki-lakinya itu.
"Mmh, tapi rasanya sudah cukup ya? Berikan saja cream soup-nya pada Lucille. Aku sudah kenyang," ucap pria Rusia itu dengan senyum terkembang.
Ternyata Lucille telah dijahili saudaranya sendiri. Ia tak bisa menolak karena sudah minta. Malu rasanya bila menolak yang berarti ia kalah dari Ivan. Wanita itu merengut, kesal. Padahal ia sudah kenyang.
Goras dan Danzo menahan tawa, tapi di sudut lain meja makan itu, ada yang bersitegang tanpa bicara. Tuan dan Nyonya besar. Mereka tak berani bicara karena ada ibu dan bapak dari Nyonya besar di sana, tapi tetap saja kedua orang yang dituakan itu curiga karena biasanya ada percakapan di antara keduanya. Keduanya sesekali melirik kepada anak dan menantunya.
Tentu saja lama-lama Edmon gerah. Ia menarik diri lebih cepat padahal sarapannya belum habis ia makan. Ia meletakkan serbet yang ada di pangkuan ke atas meja, lalu meninggalkannya. "Ken, ikut aku," ucapnya tanpa menoleh.
"Eh, aku?" Ken terkejut dan bergegas mengejarnya.
Semua orang menoleh ke arah mereka berdua. Tentu saja, karena pria itu bertindak di luar dari biasanya dan ia juga mengajak orang baru ikut bersama. Ken mengikuti pria itu menaiki tangga hingga ke kamar pria itu. Edmon masuk dan duduk di kursi yang menghadap meja sementara Ken yang mengikuti, hanya berdiri diam di samping pria paruh baya itu. Ia melirik ke pintu. "Ken tolong tutup pintunya."
"Oh, maaf." Saking bingungnya pria Jepang itu diajak ke sana, ia sampai lupa menutup pintu. Lama Edmon terdiam membuat ia buka suara. "Maaf, Tuan, ada yang bisa aku bantu?"
Pria bule berambut hitam itu tersadar dari lamunannya. "Eh, tolong rapikan ranjangku."
Ken kemudian merapikan ranjang pria itu yang berantakan. Lalu ketika ia mencoba membuka gorden, pria itu memicingkan mata dan berteriak kesakitan ketika sinar mentari menyentuh kulit wajahnya. "Aghh, Ken! Gordennya!" Pria itu menghindar ke samping.
"Oh, maaf, maaf." Pria Jepang itu segera menutup kembali gorden itu. "Maaf, Tuan." Ia tertunduk dengan sedikit gugup. "Aku pikir anda butuh sinar matahari, jadi aku buka."
"Kulitku tidak tahan sinar matahari jadi aku selalu berpergian di malam hari," terang pria berwajah pucat itu menyentuh wajahnya yang terasa pedih.
Dengan cepat Ken melangkah maju mendatangi pria itu sambil membungkuk. "Atau aku ambilkan sesuatu, obat atau air dingin mungkin untuk mengompresnya?" katanya mencari pengampunan dengan memperbaiki keadaan.
"Tidak usah." Pria paruh baya itu tidak lagi menyentuh wajahnya. Ia kini menoleh pada Ken dan berpikir sejenak. "Aku sebenarnya masih lapar. Apa kau bisa membawakan makan yang sama seperti yang tadi aku makan? Aku sedang banyak yang aku pikirkan. Bila aku banyak berpikir, biasanya makanku banyak."
Ken menatap pria kurus bertubuh atletis yang tidak lagi muda itu. Rasanya tak mungkin orang sekurus itu makan banyak, tapi ia memang bukan pada posisi yang bisa mengomentari sehingga permintaan Edmon dianggukinya dengan senang selama pria itu tak marah padanya. "Baik, Tuan."
__________________________________________
__ADS_1