
"Ah, itu boleh juga," sahut Ken.
"Baik, akan aku siapkan air hangatnya, Tuan." Pelayan itu kemudian mundur.
"Eh, tunggu. Apa kau dapat pakaiannya?"
Wajah gadis itu seketika pucat pasi. "Oh, maaf, Tuan. Maafkan aku. Aku tidak bisa mendapatkannya, Tuan. Maaf." Ia bahkan bersimpuh di lantai menghadap pria itu sambil menunduk.
Ken yang terkejut akan reaksi pelayannya yang berlebihan itu, langsung menggoyang-goyangkan tangannya. "Oh ... oh, ya sudah, tak apa-apa. Aku tak marah."
Pelayan itu mengangkat wajahnya. "Oh, terima kasih, Tuan, terima kasih." Ia mengangguk-anggukkan kepala dengan wajah terharu.
Pria itu mengusap belakang lehernya. "Iya, tidak apa-apa sih." Ken melirik pelayannya. "Mmh, apa kau bisa tanyakan, kapan aku bisa bertemu dengan Menteri?"
"Oh, ini masih pagi, Tuan. Mungkin Tuan Menteri belum bangun atau sedang mengerjakan yang lain, aku tidak tahu, tapi sebaiknya nanti saja setelah Tuan selesai mandi."
"Oh, begitu ya? Baiklah." Ken beranjak ke meja untuk menikmati tehnya, sementara pelayannya menyiapkan air panas untuk mandi.
--------------+++-----------
Di meja makan, pagi itu nampak sunyi. Mungkin karena tidak ada Ken di rumah Lian Luo, tapi mungkin juga karena ada hati yang sedang berseberangan.
"Sepi ya, gak ada Kak Ken," sahut Chen Zen pada Cia.
Cia yang sejak tadi diam, hanya mendengus kesal setiap kali tak sengaja melihat Ejiro. Sedangkan pria bercodet itu terlihat bahagia, apalagi saat Cia tak sengaja bertatapan dengannya.
"Kak, kok Kakak susah makan, Kak? Jangan ikuti ibu, Kak. Cukup, bersedih karena Kak Zhi."
Istri Lian Luo menoleh kepada kedua putrinya, dan tersenyum. Cia pun tak ingin adiknya tahu apa yang sedang berkecamuk di hatinya. "Oh, aku hanya ingin diet. Belakangan ini pipiku agak tembam," kilahnya.
"Padahal, kau sudah cukup cantik seperti itu," sela Ejiro tiba-tiba.
Chen Zen mengerut kening. Ia melihat aneh pada keduanya yang terlihat saling mengenal. Cia yang merengut karena kesal dan sorot mata Ejiro yang seperti ingin menggoda kakaknya.
"Kak ...."
"Iya, iya, kakak makan," potong Cia pada adiknya, malas melihat tatapan mata elang pria itu, dan Ejiro masih saja tersenyum memandangi wajah gadis itu.
---------+++--------
Ken baru saja hendak turun dari bak mandi kayu, ketika pelayannya tiba-tiba masuk ke dalam kamar mandi. Ia panik hingga menenggelamkan tubuhnya hingga leher, di dalam bak. "Ka-ka-kamu kenapa masuk tanpa permisi?"
"Oh, maaf, Tuan. Mungkin tubuh Tuan perlu digosok?"
__ADS_1
"Eh, aku sudah selesai mandi."
"Oh, butuh handuk. Ini Saya pakaikan." Gadis itu membawakan handuk pada pria itu.
"Eh, eh, jangan mendekat. Jangan mendekat!" Ken mundur di dalam bak. "Biarkan saja di situ, biarkan saja." Ia menunjuk tempat handuk tadi.
Dibentak begitu, pelayan itu merasa bersalah. "Eh, maaf, Tuan. Maafkan aku. Aku tidak tahu, Tuan tidak mau dilayani olehku," sahutnya dengan wajah sedih.
"Eh, bukan begitu maksudku." Tanpa sadar ia berdiri dan memamerkan separuh tubuhnya, tapi kemudian ia sadar dan menenggelamkan lagi tubuhnya seperti tadi. "Eh, aku hanya terbiasa melakukan semuanya sendiri. Jadi aneh rasanya bila ada yang membantuku."
"Oh, tapi aku adalah pelayanmu, Tuan."
"Iya, aku tahu tapi aku sebenarnya 'malu'." Ken mengucap 'malu' dengan suara yang dikecilkan.
"Tak perlu malu, Tuan, aku 'kan pelayanmu."
"Aku tak nyaman, itu saja. Eh, biarkan aku melakukannya sendiri."
Pelayan itu terlihat bingung.
"Ini bukan berarti aku tidak suka akan pelayananmu, tapi karena aku ingin melakukannya sendiri. Kamu mengerti 'kan?"
Walau bingung, pelayan itu mengangguk.
Gadis itu akhirnya keluar tapi kemudian bertemu lagi dengan Ken ketika pria itu masuk ke kamarnya.
Pria berambut pendek itu kembali terkejut hingga hampir terjatuh. "Ah, Nona. Kau mengejutkanku ... hish, seperti hantu. Ada di mana-mana." Ia mengelus dada karena kaget.
"Aku bukan Nona kaya."
"Ma-ma-maksudku ...." Ken menggaruk-garuk dahinya. "Siapa namamu?"
"Bao Ki."
"Bao Ki, kau mau apa lagi?"
Wajah gadis itu menatap pria itu dengan pandangan aneh. "'Kan biasanya, dibantu berpakaiannya, Tuan."
"Oh, a-aku bisa sendiri." Ken selalu bingung menghadapi pelayan satu ini, karena mengurusi hampir semua urusannya di kamar itu. Bahkan pada hal-hal yang tidak perlu. Bukan apa-apa. Ada hal-hal yang ia risih, bila yang membantunya adalah wanita. Padahal di jaman itu, adalah hal yang biasa seorang pelayan wanita mengurusi semua keperluan Tuannya tanpa terkecuali.
"Eh, begini saja. Aku berpakaian dan kau tinggal merapikan saja. Sekarang aku akan berpakaian dan kamu menghadap ke tempat lain dulu."
Walau kelihatan kebingungan, pelayan itu akhirnya menurut juga. Tak berapa lama, gadis itu sedang merapikan pakaian yang dipakai Ken.
__ADS_1
"Apa kau sudah menanyakannya?" tanya pria itu yang masih berdiri menunggui pelayan itu merapikan pakaiannya.
"Tuan Menteri? Dia mengundangmu sarapan bersamanya pagi ini."
"Benarkah?" Ken membulatkan matanya dengan sempurna. "Kalau begitu, rapikan bajuku dengan benar ya?"
"Eh, iya, Tuan."
Sejurus kemudian, pria itu keluar. Ia baru menyadari kamarnya dijaga ketat oleh beberapa pengawal, tak jauh beda dengan kamar putri menteri itu. Hanya bedanya, kamar putri menteri itu punya pengawal 2 kali lebih banyak dari dirinya. Ia melihat sekilas kamar wanita itu yang terlihat sepi. Mungkin wanita itu belum bangun.
Setelah menaiki tangga, Ken diantar pelayannya memasuki rumah besar itu dan sebuah lorong. Tak jauh dari situ mereka berbelok dan berhenti di sebuah pintu. Pintu itu dijaga oleh 4 pengawal dan salah seorang pengawal membukakan pintu untuk pria berambut pendek itu.
"Tuan Ken datang, Tuan Menteri."
Pintu terbuka dan pria berambut pendek itu bisa melihat kamar yang cukup besar yang ternyata kamar Menteri Pertahanan itu sendiri. Ia diundang makan di kamarnya!
"Ah, Ken. Ayo masuk." Menteri itu melambai-lambaikan tangannya mengajak pria berambut pendek itu masuk. Pria berjanggut panjang itu tengah duduk di meja bundar yang berada tak jauh dari pintu masuk.
Ken duduk berseberangan. "Terima kasih diundang sarapan pagi bersama. Sebuah kehormatan." Ia memulai.
"Ah, hanya sebuah undangan makan. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?"
"Oh, sebuah kamar yang nyaman."
Menteri itu memperhatikan Ken yang mengenakan pakaian Cina. "Sebenarnya kau cocok juga jadi orang Cina. Apa kau berminat menikah dengan orang Cina?" Ia bercanda dan Ken pun tertawa.
"Apa Tuan ingin menikahkan putrimu dengan diriku?"
Namun pria itu menanggapinya dengan serius. "Apa kau sudah bertemu dengan putriku?"
Ken tertawa sambil menggoyang-goyangkan tangannya. "Maaf, tapi aku hanya bercanda. Melihat pun aku belum pernah."
"Oh, begitu." Pria itu pun lega.
Tak lama saat mereka mengobrol, makanan mulai datang ke meja. Pelayan menuangkan cangkir kecil mereka dengan teh hangat dan keduanya mulai makan. Setelah selesai sarapan, mereka mulai dengan pembicaraan serius.
"Aku dengar kau mencariku. Ada apa?" tanya menteri itu langsung ke intinya.
"Maaf, tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana dan bertanya pada siapa karena aku sendirian di sini."
"Apa rencanamu?"
"Kita terpaksa membunuh orang-orang yang sudah terjangkit racun dlakula ini. Karena itu aku butuh pasukan untuk memeriksa setiap rumah, agar bisa menemukan orang-orang itu dan mengeksekusinya.
__ADS_1
Juga aku butuh beberapa tabib akupunktur untuk pasukan yang terkena gigitan orang-orang yang terjangkit racun dlakula ini, dan aku butuh segera agar aku bisa mencegah wabah ini menular lebih jauh lagi. Mengenai kasus pembunuhan itu, sebaiknya ditunda dulu, sebab kalau kasus penyebaran wabah ini selesai, kasus itu akan hilang dengan sendirinya."