Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Buron


__ADS_3

Karena banyaknya mobil yang ingin keluar, membuat petugas sekuriti kelabakan. Apalagi mendengar permintaan bos mereka, pria pemilik rumah itu pada Kepala Sekuriti saat itu.


"Pastikan, tahan pria dengan baju jas biru dan garis-garis putih. Kau takkan mungkin melewatkannya 'kan!" teriak pemilik rumah itu dengan geram. Ia melirik wanitanya yang berhasil meringkus Irish.


"Eh, iya, Pak," sahut Kepala Sekuriti itu sebelum menutup teleponnya. Ia kemudian memberi tahu anak buahnya ciri-ciri orang yang dicari. Pintu gerbang belum dibuka demi mencari orang yang pemilik rumah inginkan.


Mereka kemudian memeriksa satu-satu penghuni mobil sebelum dilepas keluar. Pintu dibuka ketika 2 mobil paling depan selesai diperiksa, tapi ada yang kabur menggunakan motor saat itu juga.


"Eh, itu bukannya ...." Salah seorang petugas menunjuk ke arah motor yang kabur itu. Mereka baru saja melihat pria di boncengan motor itu berpakaian jas biru tua dengan garis-garis putih seperti yang diberi tahu bos mereka. Semua petugas melihatnya. Pria itu menoleh pada bos mereka yang terkejut melihatnya.


"Kejarrrr!" teriak Kepala Sekuriti itu panik.


Kebetulan saat itu ada 2 buah motor yang terparkir dekat pos penjaga. 2 orang anak buah Kepala Sekuriti itu segera menyambangi motor itu dan menghidupkannya.


"Siap!"


Begitu juga Vicky yang memarkir mobilnya sedikit jauh dari tempat itu. Ia melihat motor itu lewat di depannya dan Ken berboncengan dengan wanita itu. Pemuda itu juga sempat melihat ke arah mobil itu.


Ia menoleh pada Devan. "Ken sepertinya pergi dengan Mira!"


"Apa?"


Karena mereka berada dalam mobil van, Ben dan Devan tak bisa melihat ke arah luar.


Devan juga merasa aneh ketika mendengar kata-kata pemuda itu yang seperti sedang berbicara dengan seseorang. "Jadi?" tanyanya bingung.


"Tanyakan, dia mau ke mana? Bagaimana dengan Jack dan Irish?" tanya Vicky cemas karena melihat 2 buah motor petugas keamanan baru saja berangkat mengejarnya.


"Ken, kau mau ke mana? Bagaimana dengan Irish dan Jack?"


"Aku tidak tahu," jawab Ken di motor. "Aku diminta Irish membawa berkas ini keluar."


Devan memberitahukan itu pada Vicky. Namun kemudian Vicky melihat mobil yang disopiri Jack keluar. Ada Jack dan Hugo di dalamnya.


"Beri tahu Ken, kalau ia sedang dikejar petugas sekuriti," sahut Vicky lagi. Ia begitu khawatir melihat, tidak adanya Irish di dalam mobil yang dikendarai Hugo. Ketika mobil itu melewati mobil van, Jack memberi kode pada Vicky untuk mengikutinya. Pria bule itu mau tak mau menjalankan mobil itu.


Ken melepas earphone dan mengantonginya. Ia melihat pada cermin sen motor, 2 buah motor sedang mengikuti mereka. "Mira, mereka mengejar kita."


"Aku tahu!" teriak gadis itu. Ia kemudian mempercepat laju motor itu.

__ADS_1


Gadis itu ternyata lihai memainkan motornya. Tidak saja ngebut dengan kecepatan tinggi di jalan raya yang sepi, tapi lincah pula melewati jalan sempit atau tempat macet dan berliku. Sepertinya, Mira sudah terlatih memakai motor hingga sanggup melakukan apapun dengan motor itu.


Walau begitu, pemuda itu tetap saja khawatir karena Mira masih sangat muda dan juga seorang wanita. "Mira, hati-hati," ucapnya dekat di telinga gadis itu.


"Iya, Kak!" teriak gadis itu yang malah mempercepat laju motornya. Ia memainkan motornya dengan menggila, mempermainkan pengejarnya dengan menyalip mobil beberapa kali membuat pemuda itu harus mengelus dada. Bahkan sempat menaiki dinding sebuah gedung, sedikit, hanya untuk sekedar berbelok. Ken terpaksa harus memeluk gadis itu erat-erat agar tak terjatuh.


Sebenarnya jauh di lubuk hati, pemuda itu salut pada gadis itu. Di usia yang lebih muda darinya, gadis itu sudah jadi pelindung untuk orang lain. Sementara ia sendiri, orang yang dilindungi, bukanlah siapa-siapa baginya dan bukan orang penting juga. Bahkan hingga kini, tidak ada satupun yang bisa ia banggakan dari dirinya yang bukan siapa-siapa itu. Diam-diam, gadis itu kini menjadi panutannya.


Setelah pengejar mereka sudah tidak bisa mengejar mereka lagi, laju motor mulai diperlambat. Mereka memasuki tempat sepi di sebuah area perumahan. Motor itu akhirnya berhenti di depan sebuah bengkel yang tertutup. Keduanya turun. Gadis itu membuka pintu besi bengkel itu ke atas dan memasukkan motor itu ke dalam.


Ken bisa melihat aneka mobil terparkir di sana. Kebanyakan dari mobil-mobil itu ada yang mobil balap dan juga mobil mewah. Motor pun ada beberapa.


"Masuk, Kak," ajak gadis itu sambil mendorong motornya ke dalam.


"Ini bengkelmu?" tanya Ken ketika melangkah masuk.


"Bukan."


"Mmh?"


"Aku gak tau."


"Aku ada tugas dan aku bukan penghuni tempat ini. Menurutmu, aku harus minta tolong siapa? Presiden, begitu?" Gadis itu mengambil sebuah tas kain yang ada di kursi kayu.


"Tapi menggunakan barang orang lain ...."


"Aku 'kan sudah mengembalikannya. Bensin pun aku beli." Gadis itu membuka kursi belakang sebuah mobil.


"Kau mau ke mana lagi?"


"Tukar pakaian." Gadis itu masuk dan menutup pintu.


Walaupun tahu gadis itu bertukar pakaian di dalam mobil, Ken tetap membalik tubuhnya membelakangi mobil itu. "Mmh, apa kau bisa mengantarku ke tempat tinggalku? Aku harus menyerah berkas ini pada Jack."


"Ok," sahut gadis itu dari dalam mobil. Setelah gadis itu selesai, ia keluar. "Eh, Kakak gak ganti baju?" Gadis itu kini hanya mengenakan celana panjang jins dan kaos tangan panjang.


"Mmh?" Ken melihat dirinya. Ia segera melepas jasnya. "Aku 'kan gak bawa baju ganti." Ia menyerahkan jas itu beserta dasinya pada Mira. "Titip dulu."


Gadis itu mengambil dan memasukkannya ke dalam tas.

__ADS_1


"Jadi, bagaimana?"


"Ayo kita pergi." Mira menyandang tas kain itu dan mulai mendorong motor tadi.


"Eh, dengan motor itu?"


"Memangnya mau jalan kaki?"


"Tapi motor itu ...."


"Sudah, naik saja."


Pemuda itu masih terpaku. Mira membuka pintu garasi dan mengeluarkan motornya. Ia melirik ke arah Ken yang masih saja diam. "Cepat, Kak. Hari makin malam. Aku sudah lapar."


"Oh, iya, iya."


Ternyata tanpa diberi tahu, Mira bisa mengantar Ken ke tempat yang dituju.


"Kau sudah tahu aku tinggal di sini?" Ken menatap gedung bertingkat 2 itu.


Gadis itu hanya tersenyum lebar. "Karena aku adalah aku."


"Mmh, ya, ya."


Keduanya turun dan Ken membuka pintu. Saat itu ada Vicky, Devan dan Ben menunggu di ruang tengah.


Ken menyambangi mereka. "Ini berkas yang diminta." Ia melemparnya ke atas meja.


"Lalu bagaimana dengan Irish?!" ucapan bernada kasar itu keluar dari mulut Vicky. Wajahnya terlihat sangat marah. Ia melipat tangannya di depan dada.


Ben dan Devan melirik ke arah Mira, gadis yang selama ini menjadi tanda tanya besar bagi mereka. Bagaimana bisa, Ken dekat dengan gadis ajaib ini? Gadis yang saat dilihat setak meyakinkan itu. Gadis itu terlihat lemah dan lugu walaupun berusaha berdandan seperti orang dewasa, ia terlihat seperti manekin ketimbang wanita dewasa.


"Tanyakan saja pada Jack. Aku hanya mengikuti perintahnya."


Mendengar begitu, bukannya jadi reda, Vicky menyerang Ken dengan menarik kerah kemeja pemuda itu. "Apa katamu?!! Enak saja kamu melemparkan tanggung jawab. Bukankah kamu yang seharus mengambil alih menyelamatkan Irish?"


Ben berusaha memisahkan mereka berdua.


"Aku diminta Irish untuk menyelamatkan berkas itu," terang Ken.

__ADS_1


"Cih! Pengecut!"


__ADS_2