
Ken masih bingung dengan apa yang keduanya bicarakan, hingga ia hanya mendengarkan saja.
"Apa dia bisa?" tanya Bing, ragu.
"Kita coba latih. Lagipula, ia meninggalkan kita tanpa pilihan."
Keduanya menatap Ken.
"Dengan sangat terpaksa, kamu harus bekerja di sirkus kami, membayar ganti rugi," sahut wanita berambut merah itu. "Apa yang kau bisa kerjakan?"
Ken menunjuk dirinya. "Aku? A-aku pernah bekerja sebagai office boy(OB)."
Wanita itu menghela napas panjang.
"A-aku bisa membantu memasak." Pria Jepang itu memberi penawaran lain.
"Masalahnya, pekerjaan yang ditawarkan bukan itu," ujar wanita itu pelan.
"Jadi?"
"Kau bisa bergelantungan di atas?"
"Bergelantungan?" Pria itu membulatkan matanya. "Mu-mungkin bisa."
Wanita itu menatap kedua bola mata abu-abu milik Ken. "Mmh, tapi bukan itu saja. Kau harus bisa melompat dan juga menangkap temanmu yang melompat ke arahmu saat berada di udara. Apa kau sanggup?"
"Apa?" Ken melongo. "Melompat di udara?"
"Kalau pun kau bilang tidak bisa, kau tidak bisa menolak. Hanya pekerjaan itu saja yang ada di sini. 2 hari yang lalu, salah satu tim akrobatik kami terjatuh saat latihan dan dia kini berada di rumah sakit karena kakinya patah. Karena itu kau akan menggantikan posisinya selama ia masih belum sembuh benar."
Ken menelan ludahnya. Yang profesional saja jatuh, bagaimana dengan dia yang baru akan mencobanya? "Tapi, patah kaki itu lama sembuhnya, bisa berbulan-bulan. Apalagi, pekerjaan ini butuh seorang profesional. Tak mungkin aku yang menggantikannya 'kan?" tanya pria Jepang itu tak percaya.
"Pilihanmu cuma dua. Mencobanya atau ke kantor polisi. Aku tidak apa-apa rugi, membawamu ke kantor polisi agar kau mendapat hukuman yang setimpal." Wanita itu mengucapkan dengan wajah menyebalkan, seakan-akan ia punya darah dingin yang mengalir di tubuhnya.
Ken membuka mulutnya tapi tak mampu bicara. Wanita itu benar-benar memakunya pada pilihan yang sulit. "Ba ... iklah. Akan kucoba."
"Bagus." Wanita itu tersenyum pada pria Jepang itu. Ia menyodorkan tangannya. "Siapa namamu?"
Bing melongo. Seumur hidup, Bosnya tak pernah berkenalan dengan pegawainya. Ia biasanya hanya menanyakan nama orang itu tanpa berjabat tangan.
Pria itu mengulurkan tangannya. "Ken."
"Lucille." Wanita itu menarik tangannya kembali. "Kau akan sekamar dengan Bill. Ia adalah seorang pawang binatang buas."
Berarti orang yang melakukan atraksi dengan macan itu tadi, teman sekamar Ken. Seorang pria berotot kekar yang bergaya bak seorang casanova karena ketampanannya itu.
__ADS_1
"Eh, iya." Ken mengangguk lemas.
"Ayo, Bing. Bawa ia ke belakang panggung agar ia mengenal tempat kerjanya."
"Oh, iya, Bos." Bing membawa Ken keluar. Ia membawa pria itu lewat pintu masuk lain khusus untuk pemain sirkus. Di sana banyak pemain sirkus yang sedang mengantri menunggu giliran.
Juga binatang-binatang yang jadi bintang utama sirkus itu. Ada sekumpulan gajah, anjing laut, kuda dan masih banyak lagi. Ia kemudian bertemu lagi dengan wanita yang membawa ular di lehernya. Ken begitu takut mendekatinya karena ular itu.
"Siapa dia, Bing?" tanya wanita itu.
Ken harus sedikit minggir karena takut berdekatan dengan ular itu.
"Oh, dia pengganti Alden."
"Oh, hebat. Pernah sirkus di mana?"
"Eh?" Bola mata pria Jepang itu berputar. "Belum pernah."
"Apa? Wow!" Wanita itu menyodorkan tangannya. "Namaku Anita."
"Ken," sahut pria Jepang itu pelan, menyambut tangan wanita itu.
Tiba-tiba ular yang ada di leher Anita maju, membuat Ken menarik tangannya lalu mundur.
"Kucing?" Ken membulatkan matanya dan bergerak mundur ketika wanita itu menyodorkan kepala ular itu pada pria Jepang itu. "Ah, ma-maaf. Aku ...."
"Oh, tidak apa-apa. Banyak juga kok yang takut padanya di tempat sirkus." Ia menarik kepala ular itu dan mengusapnya.
Kalau banyak yang takut, kenapa dipelihara di dalam sirkus sih. Aneh!
"Oh, Kak Bing. Siapa dia?" Seorang gadis manis berkulit putih datang menghampiri. Ia mengenakan baju seperti penari balet dengan rambut digelung indah ke atas kepala.
"Oh, dia akan jadi patnermu nanti menggantikan Alden."
"Benarkah?" Gadis itu menatap wajah pria Jepang itu dengan seksama. "Apa dia tidak terlalu tua?"
Ken merengut mendengar komentarnya. Hanya Bing yang tertawa. "Ini pilihan Bos. Lagipula ia pemula."
"Masa?" Dahi gadis itu seketika mengerut. "Seumur ini. Apa bisa?"
Tentu saja pria Jepang itu kesal dihakimi gadis itu. "Katakan saja pada Bosmu kalau kau tak suka bekerja denganku."
Gadis itu bukannya marah, tapi malah memperhatikan wajah pria itu. "Manis juga," katanya sambil tersenyum.
Ken jadi salah tingkah. Ia saking bingungnya, melangkah sendiri ke arah lain. Namun sialnya, ia menabrak seekor gajah yang kemudian mengaung. "Eh, maaf, maaf."
__ADS_1
Orang-orang di sana tertawa melihat tingkah pria Jepang itu.
"Tuh 'kan, apa kubilang. Dia sangat manis," ucap gadis itu pada Bing.
"Tolong bimbing dia di arena ya?" pinta Bing.
"Baiklah, Kak Bing."
Praktis, Ken hanya menonton saja pertunjukan itu walau dengan perut lapar. Ia belum sarapan tapi hari sudah malam. Pria itu teringat kembali pada Mira.
Mira, maafkan aku. Aku pergi tanpa pamit padamu, tapi pasti kamu tahu 'kan kenapa? Ah, tapi aku tetap merasa bersalah padamu. Apa kau tahu, aku kini sudah pindah dimensi?
--------+++---------
Mira terbangun ketika waktu menunjukkan hampir pukul 11 siang di dinding warnet. Ia heran, Ken belum juga kembali. Sambil mengucek-ngucek mata ia meluruskan punggungnya. Warnet itu mulai terisi penuh dan ia tak melihat Ken di mana pun.
Apa dia sudah pindah dimensi? Gadis itu mengambil tas kain yang ia taruh dekat kaki. Ia mencari sesuatu dan mengeluarkannya. Sebuah bola kaca sebesar telapak tangan.
Dengan fokus, ia melihat bola kaca bening itu yang seketika buram dengan pasir yang beterbangan di dalamnya. Kemudian kembali jernih. Saat itulah ia melihat Ken yang sedang menonton pertunjukan sirkus dari dalam ruang tunggu pemain sirkus.
Gadis itu tersenyum. Kakak sudah pindah lagi ya? Tempat sirkus? Mmh ... Ya sudah, aku lapor dulu pada sang dewi. Seketika bola kaca itu kembali berpasir dan kemudian jernih kembali. Ia memasukkan bola itu ke dalam tas.
Mira kemudian pergi ke kamar mandi warnet itu. Di sana ia merapal doa menghadap sebuah dinding. Dengan menggambar kotak di dinding dengan jari, dinding itu langsung menghilang. Mira masuk ke dalam lobang itu dan juga menghilang. Seketika dinding itu kembali seperti semula.
-----------+++-----------
"Mau Popcorn?" Seseorang menawari Ken popcorn dari samping. Gadis itu lagi.
Namun pria itu tak bisa ngambek karena ... ia lapar. "Eh, tapi kalau makan ini ...."
"Mau kola?" Ternyata gadis itu membawakan, sekalian dengan minumannya.
"Eh, terima kasih," ucap pria itu kikuk. Ia mengambil potongan popcorn beserta gelas plastik berisi kola.
"Sama-sama." Gadis itu tersenyum manis.
Mau tak mau, pria Jepang itu harus tersenyum pada gadis yang selalu bicara blak-blakan itu.
"Kita belum kenalan." Gadis itu menyodorkan tangannya. "Lisa."
"Ken." Pria itu menyambut uluran tangan gadis itu.
__________________________________________
__ADS_1