
"Kenapa kau bawa pegawaiku?" Bill mengerut dahi.
Ken telah dikepung dan kedua tangannya ditarik paksa oleh para bodyguard berjas hitam milik pria paruh baya itu. "Hei, aku mau dibawa ke mana?"
"Hei! Kau tak boleh membawa dia, tanpa izinku!" teriak Bill kesal.
Don Milano, pria paruh baya itu, mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. Sebuah pistol yang diarahkan pada Bill. "Dan kalau begitu, izinkan dia pergi!" gertaknya.
Ken sudah dibawa menjauh. "Pak Bill!" Ia tak punya kekuatan untuk melepaskan diri dari para pria berotot yang memakai jas itu. Ia tak sanggup.
"Kembalikan Ken padaku! Kenapa kau membawanya? Apa salahnya?"
"Bisa dibilang, aku membutuhkannya." Pria paruh baya itu tertawa dengan sangat mengerikan sambil tertatih berjalan menjauh.
"Pelatih, Ken bagaimana?" tanya Lisa pada Bill, khawatir.
"Mmh, kita lihat besok saja. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan dari Ken."
"Tapi apa Ken aman bersama mereka, Pak Bill?" tanya Sin Hye dengan rambut yang masih dikepang dua.
"Pak tua itu pasti menginginkan sesuatu. Paling tidak, Ken aman untuk sementara."
"Ada apa ini?" Karena karavan Lucille berada paling ujung, ia terlambat datang.
"Ken, Bos. Dia diculik mafia," teriak Lisa pada Lucille.
Wanita itu langsung melirik Bill dengan wajah kesal.
Sementara itu di mobil, tangan Ken diikat dan diapit oleh dua orang bodyguard di kanan kirinya. Pria paruh baya itu duduk di depan.
"Pak, aku mau dibawa ke mana?" tanya Ken kebingungan.
"Ke tempatku," sahut Don.
"Aku salah apa? Aku minta maaf kalau aku salah," ucap Ken dengan polosnya
Kata-kata Ken malah membuat Don tersenyum. "Tenang saja. Malam ini, kau tidurlah yang nyenyak."
__ADS_1
"Tapi, aku harus kembali ke tempat sirkus. Kalau kau ingin bertengkar dengan Pak Bill, tolong jangan bawa-bawa nama orang lain termasuk aku. Aku tidak tahu apa-apa."
Rupanya Ken salah sangka. Dikiranya, akibat pertengkaran Bill dan Don, ia kini dijadikan sandera. Begitu juga dengan Bill karena ia tidak tahu apa yang terjadi sehingga Ken bisa membawa Don ke dalam area sirkus.
"Sudah, lakukan saja apa yang aku minta. Tidak akan ada apa-apa yang akan terjadi malam ini, percayalah. Aku ini sudah tua dan tak akan mungkin berbohong padamu, iya 'kan?"
Pria Jepang itu akhirnya terdiam. Malam itu juga dipanggilkan seorang dokter untuk mengobati luka di kaki Don.
Dokter itu segera menjahit dengan bius lokal dan memberi perban paha pria kaya itu. "Sebaiknya Bapak minum obat dan segera beristirahat. Demi kesehatan Bapak." Pria muda itu sedikit menundukkan kepala. Ia terpaksa datang karena yang meminta adalah seorang mafia terkenal atau ia akan tinggal nama, keesokkan harinya.
"Ok, pergilah." Don mengusir dokter itu dengan tangannya. Dokter itu pun pergi dengan seorang bodyguard Don.
Tiba-tiba seorang gadis cantik menyerobot masuk. "Papa, kau tidak apa-apa?" Ia duduk di tepi ranjang ayahnya.
Pria itu segera duduk melihat putri semata wayangnya datang menyambangi. "Freiya, kenapa kamu belum tidur juga, Sayang. Mmh?" Ia mencium kening putri kesayangannya yang kelewat manja itu.
"Habis, Papa belum juga pulang sampai selarut ini. Pasti main ke bar lagi ya? Papa boleh gonta-ganti pacar ke sana ke sini, gak masalah. Asal Freya gak punya Mama baru, aja! Itu aja." rengut gadis itu.
"Iya, Papa hapal kok, maumu. Papa hanya ketemu anak nakal di jalan pulang, jadi sedikit telat. Lihat kaki Papa ditembaknya."
Freya melihat kaki ayahnya yang diperban. "Makanya 'kan Freya bilang, jangan malam-malam pulangnya." Mulut gadis itu makin mengerucut.
Gadis itu membawakan bungkusan obat dengan segelas air. Don kemudian meminum obatnya.
-----------+++----------
Ken terbangun ketika seseorang masuk ke dalam kamar itu membawakan sarapan. Seorang pelayan dengan seorang bodyguard. Pria itu segera bangun walau dengan tangan terikat. Ia duduk di tepi ranjang. Setelah meletakkan baki di dekat ranjang, pelayan itu pergi.
"Tunggu dulu! Kapan aku bisa pulang?"
"Tunggu perintah dari Don. Sekarang dia masih tidur," kata bodyguard yang menemani pelayan itu. Setelah itu keduanya pergi.
"Hahh!" Ken menyugar rambutnya, kemudian melihat pada kedua tangannya. Mudah baginya untuk membuka ikatan tali di kedua tangan. Bisa dengan gigi atau langsung konsentrasi dan menyuruh benda itu membuka ikatannya sendiri tapi apa ia bisa lolos keluar dari tempat itu?
Ah, setidaknya patut dicoba. Ken kemudian konsentrasi pada kedua tangannya.
-----------+++------------
__ADS_1
Freya baru saja selesai menggunakan sebuah gaun ketika tiba-tiba seseorang menerobos masuk kamarnya. "Hei, siapa itu!" Gadis itu segera berlari ke ranjang. Ia menyelimuti dirinya hingga leher.
"Eh, maaf, Nona. Maaf. Aku cuma numpang pergi lewat jendela." Pria itu buru-buru pergi ke jendela.
Melihat gelagat pria itu ingin kabur lewat jendela, Freya berteriak. "Hei, pria ini mau kabur lewat jendela! Hei!"
Pria itu kaget dan langsung mendekati gadis itu dan membekapnya. "Hei, jangan bilang-bilang, aku mau pulang," protes pria itu.
Namun terlambat. Teriakan Freya terdengar hingga beberapa bodyguard masuk ke dalam kamar itu. Mereka segera menyergap Ken.
"Ah, lepaskan aku. Aku hanya ingin pulang!"
Namun ucapan pria Jepang itu tak didengar bahkan gadis itu memukulinya dengan bantal. Ken berusaha melindungi dirinya dari amukan Freya.
"Cepat bawa ia keluar, aku benci melihat orang ini ada di kamarku!" perintah gadis itu, dengan kesal.
Pria Jepang itu pun dibawa keluar dengan paksa. Setelah pintu tertutup, gadis itu melempar bantalnya ke atas ranjang.
Jantungnya masih berdetak cepat. Baru kali ini ada laki-laki yang membuat ia jantungan di saat pertemuan pertamanya dan itu membuat gadis itu harus mengurut-urut dada seraya duduk ditepi ranjang. Ya ampun, jantung ini.
Ken yang hendak dibawa lagi ke kamarnya dihentikan oleh seorang bodyguard. "Don ingin bertemu dengannya."
Pria Jepang itu kembali diikat tangannya dan dibawa ke kamar bos mereka.
"Mmh, kau sudah tidur dengan nyenyak?" tanya pria kaya itu di kamar mewahnya. Ia masih berpakaian piyama satin, duduk di tepi tempat tidur."
Belum juga pria Jepang itu sempat menjawab, gadis itu masuk ke dalam kamar itu dan melihat Ken dan ayahnya tengah bicara. Apalagi melihat pria asing itu terikat tangannya, gadis itu kembali bangkit amarahnya dan memukuli pria itu dengan bantal sang ayah.
"Ini, Pa, pria kurang ajar. Dia berani-beraninya masuk kamar Freya tadi, Pa!" Gadis itu memukul Ken bertubi-tubi dengan bantal.
Pria Jepang itu berusaha menghindar tapi tetap saja kena. "Aduh, aduhh ...."
"Sudah, sudah ...." Don berusaha memisahkan mereka, tapi kemudian ia tertawa terkekeh-kekeh.
Gadis itu berhenti memukul pria itu demi mendengar ayahnya tertawa. Ia bingung. "Kenapa Papa tertawa?"
"Karena pria ini akan Papa sewa untuk jadi bodyguard-mu."
__ADS_1
"Apa?" tanya Freya dan Ken bersamaan.