
"Aku punya misi baru lagi, dan kamu harus ikut di dalamnya," terang Jack lagi.
"Bagaimana kalau aku menolak?"
"Kau punya bakat terpendam. Bukankah lebih baik mengembangkan kemampuan dirimu?"
"Tapi tidak dengan mencuri," sahut Ken.
"Apa di kehidupan nyata kamu bisa mengembangkan bakatmu? Tentu tidak. Tidak ada orang yang mau memberi orang miskin sepertimu kesempatan. Mereka hanya memberi kesempatan orang kaya dan orang mampu. Aku memberimu penghidupan. Bahkan lebih dari cukup, kenapa kau tak mau?"
"Dan setelah itu, kau akan melepaskanku?" Pertanyaan polos Ken.
"Mmh ... kenapa tidak sekalian menjadikannya sebuah profesi?"
"Tidak. Aku sama sekali tidak tertarik." Pemuda itu pun meninggalkan mereka dan melangkah ke arah pintu utama.
Jack memberi kode Hugo untuk menangkap Ken. Dengan cepat pria itu meringkus pemuda itu dan memanggulnya.
"Hei, lepaskan aku! Lepaskan!" Ken berontak dan memukul-mukul punggung pria itu.
"'Kan sudah kubilang. Kau tidak bisa keluar dari organisasi ini tanpa izinku," ucap Jack lantang.
Ia kemudian menghela napas dengan kasar. "Kenapa kita harus mempekerjakan anak remaja seusia dia, sih? Memusingkan," bisiknya pada Irish. "Padahal kalau benar dia cerdas dia bisa kaya." Ia lalu memasang kacamata hitamnya di wajah. "Oya, tolong buang mobil kita dan curi lagi yang baru," ucapnya sambil lalu.
"Ok, Jack." Irish melirik Ken yang kini dibawa menaiki tangga.
Pemuda itu masih memukuli Hugo agar mau melepaskannya. "Tolong, lepaskan aku! Lepaskan!"
"Dasar anak kecil!" ledek Jack tanpa menoleh membuat Irish tertawa cekikikan.
------------+++-----------
Melihat Irish datang, pemuda itu hanya meliriknya sekilas. Tangannya masih terikat ke kepala ranjang hingga ia makin mengerucutkan mulutnya karena kesal.
__ADS_1
"Hei, kau pikir kau bisa jadi orang baik-baik? Kau telah melakukan kejahatan. Kalau kau melapor ke polisi pun kau juga akan ikut masuk penjara, sama seperti kami."
"Kau bohong! Katamu, kalau aku sudah bisa menyelesaikan misi ini, kau akan kembalikan kalung itu padaku."
Wanita itu merogoh kantong celana jins-nya dan mengeluarkan sesuatu yang dilemparkan ke atas ranjang. "Tuh, aku kembalikan, tapi kau tetap akan mengerjakan misi berikutnya 'kan?" Wanita itu berbalik dan pergi.
"Sampai kapan?" tanya Ken kesal.
Sejenak langkah wanita itu terhenti. "Mungkin sampai ada yang bisa menghentikan kami," jawabnya tanpa menoleh. Wanita itu kemudian keluar dari kamar itu.
Ken mendesah geram. Kenapa aku harus terlibat dengan orang-orang ini? Mencuri? Aku bahkan bukan berasal dari jaman ini, jadi apa yang bisa aku pelajari di sini? Belajar mencuri? Hahh ... aku tak tahu.
Pemuda itu melirik ke samping. Dilihatnya lagi kalung itu. Kalau bukan karena kalung itu kemarin, aku takkan mencuri, tapi kalau kalung itu telah kembali ....
Pintu terbuka. Pria bule itu masuk. Siapa lagi kalau bukan Vicky. Pria itu menyeringai mengejek saat melihat Ken terikat di atas ranjang.
Ia melangkah pelan mendatangi ranjang pemuda itu dengan derap langkah pasti, membuat Ken bingung harus bersikap bagaimana? Namun akhirnya pemuda itu pasrah, karena ia tidak bisa menghindar sama sekali dari pria itu mengingat tangannya tengah terikat ke ranjang. Ia kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Pria itu duduk di tepi ranjang dengan congkaknya. "Lemah. Kau membuat semua orang memujamu dengan penampilanmu yang lemah. Sungguh hebat, sandiwaramu." Ia bertepuk tangan dengan pelan.
Namun yang lebih menyebalkan lagi adalah, bila setelah segala usaha untuk agar kata-katanya didengarkan orang, ada saja orang yang mengatakan ia sedang berpura-pura. Ingin rasanya ia mence*kik pria itu.
Vicky mendengus, meremehkannya. "Oya? Kamu itu bisa apa? Kau tak bisa apa-apa, tapi kenapa justru kami-kami ini yang lebih pintar darimu yang harus menjagamu, bergantung denganmu? Kau bahkan tidak bisa melakukan apa-apa selain merangkak. Menggunakan alat-alat canggih saja seperti katrol misalnya, kalau bukan kami yang mengajari, kau bahkan tidak tahu sama sekali bagaimana cara menggunakannya. Lalu apa yang bisa kau banggakan selain tubuh kurusmu itu, hah?" Pria itu mengejek sambil melipat tangannya di dada.
"Mana aku tahu. Tanyakan saja pada mereka yang mengerti, kenapa justru aku yang tak berguna ini masih mereka tahan di sini," ucap pemuda itu sedikit bingung dan lalu melengos ke samping.
"Mmh ...." Pria itu menatap Ken.
Pemuda itu menoleh dan mendapati pria itu masih menatap dirinya. "Sumpah! Aku tak tahu menahun dengan apa yang mereka pikirkan, kalau itu yang kau tanyakan!"
Pria itu tertawa dengan gaya bicara Ken yang masih anak-anak. Pemuda itu memang sehari-hari jarang bicara dan sedikit lugu. Karena itu ia sedikit kaget menghadapi dunia barunya.
"Kata Irish, kau pemuda yang cerdas."
__ADS_1
"Aku tak tahu apa maksudnya, tapi yang aku pelajari kemarin memang tidak terlalu susah," aku Ken tanpa bermaksud menyombongkan diri.
Pria itu masih menatap pemuda Jepang itu dengan penuh selidik. Ia mengusap rahangnya dengan satu tangan. "Setahuku, orang cerdas itu mampu melewati semua tantangan. Mampu mencari jalan keluar dari yang tersulit."
Ken hanya diam. Di dalam kepalanya penuh dengan tanda tanya. Pria ini, mau apa ....
Tiba-tiba Vicky mencondongkan tubuhnya ke depan membuat Ken terkejut.
"Ka-ka-kau ... mau apa?"
Pria itu tersenyum penuh teka-teki. Ia ternyata membuka ikatan tangan pemuda itu pada tempat tidur tapi membiarkan kedua tangan itu tetap terikat satu sama lain. "Kau ikut denganku sekarang. Kita buktikan saja."
"Apa? Buktikan apa?"
Pria itu menarik Ken turun dari ranjang dan membawanya keluar.
"Kita mau ke mana?" tanya Ken bingung. Yang ia tahu, pria itu membencinya. Apakah aman pergi dengannya? "I-ini sudah malam. Sebaiknya besok saja," bujuknya.
Namun ada sesuatu yang dingin menyentuh pinggangnya. Ken melirik ke bawah dan ternyata ada pisau belati milik pria itu yang siap melukai tubuhnya.
"Buat segala sesuatunya mudah bagiku, agar aku bisa melakukan itu juga padamu. Mmh?" Pria itu menyeringai dengan bengisnya.
Ken tak bisa berbuat apa-apa selain mengikutinya. Padahal saat itu sudah hampir pagi. Pemuda itu benar-benar pasrah.
Vicky ternyata mengajaknya naik motor. Pemuda itu berboncengan dengan tangan masih terikat ke depan. Pria itu mengalungkan tangan Ken ke lehernya, lalu mulai menjalankan motornya.
Ada rasa takut menyelinap di hati pemuda itu. Jangan-jangan ia ingin dibunuh, tapi kembali lagi ia teringat mungkin saja ia tidak mati karena ia manusia setengah dewa, hingga ia bisa keluar dengan mudah dari organisasi hitam ini.
Pria itu ternyata membawanya ke sebuah bar di daerah yang banyak kriminalitas dan penjualan narkoba. Terbukti karena di sepanjang jalan terlihat ada beberapa orang yang menyuntik dirinya sendiri dan terkapar di trotoar atau bahkan prostitusi. Gadis dan wanita dengan berpakaian seronok berdiri bergerombol di pinggir jalan.
"Ayo turun!" Pria itu melepas helmnya.
__________________________________________
__ADS_1