Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Koin


__ADS_3

Ia meraih koin itu dan digigitnya. Wanita itu terbelalak karena koin itu masih utuh. "Ini asli emas ya?"


Ken tersenyum. "Ambillah."


Namun kemudian, wanita itu kembali cemberut. "Aku tak mau mengambil uang tanpa bekerja. Apa ada sesuatu yang bisa aku lakukan?" tanyanya pada Ken.


Pria itu berpikir sejenak. Ia tertawa pelan. "Aku belum makan dengan benar tadi. Apa kamu punya kue atau sesuatu untuk penutup mulut sambil minum teh hangat?"


"Ah, aku tahu!" Wanita itu meluncur turun dari ranjang itu dan tegap berdiri. "Serahkan saja padaku. Aku akan bawakan makanan yang paling enak di tempat ini. Tunggu ya?" Ia bergegas ke arah pintu.


Ken tersenyum melihat wanita itu kembali ceria. Melihat senyum yang terbit dibibir wanita itu menandakan masalahnya telah selesai.


Padahal, itu perkiraan meleset Ken. Ia lupa, koin itu masih dengan model aslinya.


Wanita itu menuruni tangga dengan wajah sumringah menuju dapur, membuat pemilik restoran yang sedang duduk-duduk di restorannya terperangah. Apa yang terjadi? Kenapa cepat sekali mereka 'melakukannya'? Jangan-jangan Me Hua mau berbohong bahwa mereka benar melakukannya?


Pria itu penasaran hingga menyusul ke dapur. Di sana ternyata wanita itu sedang menjerang air untuk membuat teh. Ia mengambil teh paling mahal dari rak dapur.


"Me Hua. Harga teh itu sangat mahal karena tanaman teh ini sangat langka. Aku tak yakin pria bodoh itu mampu membayarnya."


"Aku tidak tidur dengannya, tapi ia membayarku dengan ini untuk menemaninya minum teh." Wanita itu dengan riang memperlihatkan koin emas itu pada pria itu. "Juga aku pesan pada koki untuk membuatkannya kue manju(kue khas Jepang) karena aku ingin memberi kejutan padanya agar ia senang. Koin ini cukup 'kan untuk membayar itu semua?" tanya wanita lugu itu pada pria pemilik penginapan itu.


Pria itu meraih koin itu dan menggigitnya, persis seperti yang dilakukan Me Hua dan ternyata hasilnya, koin itu masih utuh.


"Asli 'kan Pak Ejiro?" tanya wanita itu memastikan dengan bola matanya.


"Mmh." Namun pria itu terkejut melihat koin itu tercetak gambar dan tahun. Setahunya, jaman itu belum tercipta mesin cetak, dan tahun yang disebut di koin itu juga masih beberapa ratus tahun ke depan. Pria itu, apa datang dari masa depan?


Ia menoleh pada Me Hua. Wanita itu tidak mengerti karena ia buta huruf. Ia sedang menanti air panas dan kue dari koki di dapur dengan riang.


Siapa nama pria itu ya? Akhirnya ... aku menemukannya.


Ken begitu senang ketika wanita itu kembali membawa makanan dan teh hangat. Lebih terkejut lagi ketika wanita itu membawakannya kue manju tapi dibuat dengan gaya Cina. Kue itu dibuat menjadi bentuk kelinci oleh koki restoran itu.


"Maaf, katanya tidak bisa seindah buatan orang Jepang," sahut Me Hua dengan senyum lebar.


"Memang tidak mirip dengan yang buatan Jepang, tapi buatannya juga tidak kalah cantik dari yang dibuat orang Jepang," kata pria itu yang terpesona dengan rupa kue itu.


"Benarkah?"

__ADS_1


Ken mengangguk.


"Aku akan mengatakan padanya agar dia senang."


Keduanya tertawa lepas. Wanita itu kemudian menuangkan pada cangkir kecil, teh yang sudah diseduhnya.


Pria itu mencicipinya. "Mmh, apa ini? Rasanya enak sekali." Ia terkejut.


"Iya, ini teh mahal. Sesuai dengan uang koin yang Tuan berikan."


"Tidak harus begitu, Nona."


"Kok Nona sih? Aku 'kan bukan Nona kaya." Wanita itu tersipu-sipu dengan pipi memerah.


"Oh, kalau begitu kita berkenalan saja." Ken menyodorkan tangannya. "Namaku Ken."


"Aku Me Hua." Gadis itu menyambut tangan pria itu.


------------+++----------


Ken turun sendirian dengan ragu-ragu. Meja makan di restoran bawah mulai dipenuhi oleh pelanggan.


Pemilik penginapan menyadari kedatangan pria itu dan segera menghampirinya. "Oh, kau ingin makan malam?"


"Mungkin kau bisa duduk di sini." Pemilik restoran mengarahkannya ke sebuah meja yang lebih kecil di salah satu sudut seberang tangga.


"Ah, ta-tapi ... aku tak punya uang. Apa aku bisa makan tapi bosku yang membayar?" tanya pria itu dengan polosnya.


"O-oh, itu, tapi koin yang kau berikan pada wanita penghiburku lebih dari cukup untuk membayar makan malammu juga, jadi aku rasa kau tak perlu khawatirkan itu."


Ken membulatkan matanya karena senang. "Benarkah? Oh, baiklah. A-aku akan makan sekarang," ucap Ken begitu bersemangat. Ia duduk di tempat yang ditawar pria bercodet itu dan memesan makanan. Pria bercodet itu pun memberi tahu pelayannya akan pesanan Ken.


Setelah itu Ejiro berdiri sejenak di samping pria berambut pendek itu, lalu menarik kursi. "Boleh aku mengobrol denganmu sambil menunggu makanan datang?"


Saat itu juga, Ken merasa segan. Bukan apa-apa, dirinya harus sebisa mungkin tak terlihat agar jati dirinya tak terbongkar karena itu ia membatasi diri bergaul dengan orang yang terlihat lebih pintar darinya.


"Boleh aku berkenalan denganmu?" Pemilik penginapan itu menyodorkan tangannya. "Namaku Ejiro. Ejiro Watanabe. Namamu Ken 'kan? Aku mendengarnya dari Me Hua."


Ken menyambut tangan pria bercodet itu. "Oh, iya. Ken." Ia sedikit lega karena bila Me Hua bisa berbagi cerita dengan pria ini, pria ini bisa dipercaya walaupun ia ingat Me Hua pernah bercerita kalau bosnya ini juga tegas.

__ADS_1


"Ken apa?" Pria itu masih menggenggam tangannya.


"Ken Tachibana."


Ejiro akhirnya melepas tangan pria itu. "Eh, kau hebat sekali punya koin emas sebab tidak sembarang orang punya koin seperti itu. Apa itu benar milikmu?"


Tahulah Ken kenapa pria bercodet itu duduk di situ. Pria pemilik penginapan itu rupanya penasaran dengan koin itu. Ia padahal menggunakan koin itu untuk menuntaskan masalahnya tapi yang terjadi malah datang masalah baru. "Eh, itu diberikan oleh temanku." Kepalanya mengangguk-angguk.


"Benarkah? Darimana temanmu itu mendapatkan koin itu?"


"Ah, aku tidak tahu." Ken menunduk, ia memainkan jemarinya di bawah meja.


Melihat dari gayanya bicara membuat pemilik penginapan itu makin penasaran. "Di mana kamu tinggal?"


"Mmh?" Kebingungan tampak di wajah pria berambut pendek itu. "Eh, sebenarnya aku ... eh, lupa ingatan."


"Lupa ingatan?" Kebohongan klasik yang gampang dideteksi.


"Eh, iya, dan aku bertemu mereka." Ken menunjuk ke arah kamar para perampok itu menginap.


"Mereka?"


"Eh, iya, dan aku baru mengenal mereka."


"Begitu ...." Pria itu masih memperhatikan Ken.


"Kalau kau tak percaya, kau bisa tanya pada bosku. Kami belum sampai sehari ini kenalnya."


Dia tidak berbohong rupanya. Apa benar dia lupa ingatan? "Tapi kalian seperti tak sepaham. Kenapa kalian masih bersama?"


"Aku terpaksa. Aku berusaha menolong orang Cina yang menolongku di jalan. Kalau tidak, aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padanya. Aku diminta jadi anak buahnya ...."


"Oi, kau makan duluan ya?" Kepala perampok itu sudah keluar dari kamarnya. Jalannya masih sempoyongan dan menuruni tangga.


Ken berdiri dan mengejarnya. Ia membantu pria itu menuruni tangga.


Sepertinya dia tidak berbohong. Hilang ingatan ya ....


___________________________________________

__ADS_1




__ADS_2