Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Kecelakaan Beruntun


__ADS_3

Ken akhirnya mencari penginapan terdekat dan memesan makanan. Ia makan di dalam kamar. Mimi, kakak akan menolongmu. Hanya kamu yang bisa kakak tolong. Jadi tunggu kakak ya? Ken menyelesaikan makan malamnya dan pergi tidur.


Paginya, saat ingin keluar, ia baru ingat bahwa ia tak memiliki uang Jepang tapi uang Perancis. "Ah, apa bisa?"


Dan ternyata tidak bisa. "Maaf, tapi kami tak menerima uang asing. Bukankah Anda orang Jepang? Kenapa tidak punya Yen Jepang?"


"Aku baru pulang dari luar negeri jadi tidak punya uang Yen sama sekali."


"Maaf, tapi kami hanya menerima uang Yen. Sebaik Anda tukarkan dulu uang itu ke bank agar Anda bisa membayar kami," jawab pria di meja pendaftaran.


"Bagaimana kalau kubayar dengan koin emas?" Ken meletakkan sekeping koin emas di atas meja.


"Maaf, walaupun menggiurkan tapi kami tidak bisa. Anda harus membayarnya dengan uang Yen, karena begitu peraturannya."


Aduh ... padahal aku ingin menculik Mira pagi ini. Hah .... Pria itu terpaksa pergi ke bank. Di bank Ken tetap kesulitan menukar uang itu karena uang asing yang bisa ditukarkan di bank itu hanya Dolar. "Tolong aku, Pak. Aku sedang terburu-buru. Kalau aku tidak bisa menyelesaikan ini, nyawa orang sedang dalam taruhannya, Pak. Fleksibel sedikitlah, tolong."


Pegawai bank itu menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal. "Apa Anda tak punya alat tukar yang kita bisa pakai?"


"Koin emas?" ucap Ken, mencoba.


"Kenapa tidak pergi saja ke tukang emas?"


"Tukang emas?"


"Tukang pembuat perhiasan emas. Ah, aku punya saudara yang pekerjaannya membuat perhiasan emas. Kau bisa jual padanya."


"Astaga ... jam berapa lagi aku akan sampai di panti asuhan." Ken menggaruk-garuk pucuk kepalanya. Ia mendongak dan menatap jam di dinding. Sudah jam sembilan lewat. Pasangan suami istri itu pasti sudah sampai di panti asuhan. Aku harus mengejar waktu. "Eh, begini. Kau tulis saja alamatnya, nanti aku akan ke sana."

__ADS_1


Pegawai bank itu menuliskan alamatnya, setelah itu Ken bergegas pergi. Baru saja Ken sampai ke panti asuhan, mobil itu keluar dari halaman tempat itu. Ia bersembunyi agar orang-orang di panti tak melihatnya. Pria itu berpikir keras bagaimana mengejar mobil yang membawa Mimi.


Tak jauh dari situ, ia melihat ada sepeda yang terparkir ke dinding sebuah rumah. Sambil mengenakan tutup kepala, ia menghampiri sepeda itu dan memakainya.


"Hei, sepedaku!"


Mendengar itu, ia buru-buru pergi karena takut orang-orang di panti mengenalinya termasuk Ken di masa itu. Gegas ia mengejar mobil itu. Takut dikenali pemilik mobil, ia berjalan agak ke pinggir.


Mobil yang membawa Mimi memasuki jalan arah keluar kota. Ini membuat Ken bingung. Apa mereka dari kota sebelah? Bagaimana mereka bisa mengetahui tentang panti asuhanku?


Tentunya, bila mobil masuk ke jalan raya, jalannya akan lebih cepat membuat Ken kepayahan mengejar. Hingga pada suatu titik, ia kelelahan dan berhenti. Bagaimana caranya aku bisa mengejar mereka bila mobil itu berjalan sekencang itu? Ia mengatur napas sambil memandangi sepeda yang di kendarainya. Ini kan benda mati. Aku bisa ....


Ken berkonsentrasi. Tiba-tiba sepeda itu terkayuh sendiri, pedalnya. Sepeda berjalan sendiri sehingga pria itu tinggal mengangkat kaki dan menyetir ke mana sepeda itu pergi. Ah, kenapa tidak dari tadi aku memikirkan ini? Bodohnya aku ....


Ken akhirnya bisa menyusul mobil itu. Setelah menemukannya, ia menjaga jarak agar tak terlalu kelihatan dengan berkendara di pinggiran. "Sepeda, kau jangan terlalu dekat. Jangan sampai mereka curiga," perintahnya.


Jalanan kemudian mulai padat. Sempat macet tapi kemudian kembali lengang hingga sebuah bus pariwisata datang.


Bus ini ... apa bus ini yang akan mengalami kecelakaan dengan mobil orang yang mengadopsi Mimi? Aku harus berhati-hati sekarang dan membuka mata lebar-lebar mencari kemungkinan yang ada. Bagaimana caranya Lord Z bisa mencelakai kedua mobil ini?


Di dalam mobil, wanita yang mengadopsi Mimi, memangku gadis itu dan masih membujuknya. Gadis itu tengah bermain-main dengan kalung yang diberikan Ken. "Sayang, kalung itu kotor. Biar Mama ganti sama yang lebih bagus lagi."


"Gak mau!" Mimi mendekap kalung itu erat dengan wajah merengut menatap wanita cantik di hadapan.


Wanita itu tersenyum dengan lembut ke arah gadis kecil itu. "Sayang, nanti Mama belikan kamu kalung emas yang paling indah, bagaimana?"


"Gak mau!" Mini menautkan alisnya dengan mata menatap tajam pada wanita yang menggelung indah rambutnya ke atas.

__ADS_1


"Genzo, bagaimana ini? Dia keras kepala," tanya wanita itu pada sang suami yang duduk di depannya. "Kalungnya saja susah dibuka, apalagi, pakaiannya nanti."


"Sayang, nanti kita bujuk dengan membelikannya boneka-boneka lucu. Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita sampai."


Di persimpangan, ternyata telah menunggu sebuah truk dengan Lord Z di dalamnya. Ia disupiri seorang tentaranya. "Ah, itu pasti mobil yang mengangkut anak perempuan satu lagi yang dekat dengan Ken. Ha ha ha. Kalau aku melenyapkan yang ini, berarti Yumi adalah satu-satunya orang yang harus diselamatkan Ken.


Apalagi, ada sebuah bus yang akan memastikan semua orang di dalamnya mati. Bagus!" Lord Z yang melihat keberadaan bus itu, begitu senangnya sehingga menyuruh tentaranya yang berpakaian serba hitam, bersiap-siap menyusul mereka.


Mimi lengah dan wanita itu berhasil mendapatkan kalung itu. "Aha ...." Ia mulai menangis.


Wanita itu membuka kaca jendela dan hendak membuangnya keluar, tapi Mimi sempat meraih rantai kalung itu. Gadis kecil itu masih menangis karena ia dipaksa melepaskan kalung itu.


"Lepaskan Mimi, kalung ini kotor."


"Tidak mau, hu ...," ucap gadis kecil itu bersikukuh memegang kalung itu.


Sang suami sampai-sampai harus menoleh dan melihat istrinya dan Mimi saling bertahan dengan usaha masing-masing di kursi belakang. "Michiko, jangan sekarang. Nanti saja," pintanya.


Bersamaan dengan itu, Ken melihat sebuah truk masuk ke dalam iring-iringan kedua kendaraan di depannya. Ini truk siapa lagi ini? Apa jangan-jangan ini mobil Lord Z?


Baru saja Ken berpikir begitu, bus pariwisata itu mendahului mobil di depannya. Akan tetapi, truk itu juga ikut-ikutan mendahului membuat pria itu panik. Ia tak tahu bagaimana cara menghentikannya hingga truk itu berhenti mendadak di depan bus pariwisata itu, yang terpaksa mengerem secara tiba-tiba.


Di saat bersamaan. Sang gadis menangis kencang karena kalah dari wanita itu. Segera sang wanita membuang kalung itu keluar jendela. Di sampingnya kebetulan adalah jurang. Tepat setelah itulah, mobil yang membawa Mimi menabrak bus di depannya dengan keras. Gadis itu yang hendak berdiri menghadap jendela tertindih tubuh wanita itu yang tiba-tiba maju karena hempasan mobilnya yang menabrak bus.


Bus yang mengerem sambil berbelok menghindari jurang, sempat menabrak truk di depannya dan menyenggol mobil yang berada di belakang hingga jatuh ke jurang. Bus itu sempat berputar dan menyusul masuk jurang dengan bagian belakang bus mengarah ke bawah.


"Mimi ...!" teriak Ken menghentikan sepedanya.

__ADS_1


__ADS_2