Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Bersatu


__ADS_3

Ken kembali menundukkan pandangan. "Maafkan aku, Sensei ... karena Sensei tidak memberikan aku kebebasan, aku jadi nekat mencuri kepompong milikmu. Sebenarnya, apapun itu alasannya aku tetap salah. Aku salah karena mencuri. Maafkan aku, Sensei, aku memang bersalah padamu," ucapnya dengan nada menyesal. Ia sesak dan hampir menangis. Padahal ia benci mencuri dan berusaha menghindarinya, tapi kini ia melakukannya dengan sengaja.


Odagiri mendengarkan tapi hanya terdiam. Ia tengah mencerna ucapan keduanya. Kerendahhatian Ken membuat ia membuka mata bahwa selama ini ia egois terhadap pria itu hingga memicu pria itu berbuat nekat dengan mencuri. Seseorang mengajar dari tindak tanduk, bukan ucapan. Namun, biar bagaimana pun ia tetap gengsi mengakui kesalahannya. Ia berdehem sebentar. "Kau bisa menurunkan tali ulat sutra itu ke tanah?"


Ken melirik pohon itu, lalu tali yang berada di atasnya. Tak lama, tali itu turun ke tanah dengan tersusun rapi seakan ada yang merapikannya.


"Ulat sutranya?"


"Kalau ulat sutra, aku tidak bisa, Sensei. Ulat sutra mahkluk hidup."


"Oh, jadi kau bisa melakukannya hanya pada benda mati?"


"Iya, Sensei."


"Tapi kamu bisa 'kan, menyuruh benang itu mengambil ulat sutra dan memintal tubuhnya kembali jadi kepompong?" Kini Ejiro yang bicara. Ia memberi ide itu pada Ken.


"Eh, mungkin bisa." Kembali Ken melirik tali itu dan memberi perintah. Benang sutra, carilah ulatmu dan pintal kembali ke tubuhnya seperti semula, lalu berkumpullah di bawah pohon.


Lalu terjadilah hal yang menakjubkan. Tali itu naik dan terpecah menjadi benang-benang yang mencari tuannya di pohon itu. Setelah ketemu, benang itu mulai memintal di tubuh ulat itu dan menjadi kepompong.


Odagiri, Ejiro bahkan Ken melihat pemandangan yang tak biasa ini dengan melongo. Bagaimana benang itu sibuk mencari ulat sutra dan setelah itu memintalnya. Pemandangannya sungguh indah, bagaikan sihir yang membuai mata.


Pria berambut kaku itu sempat melirik Ken dan melihat mata polos pria itu memang tak bohong. Pria muda itu berkata jujur meski juga takjub dengan apa yang bisa dibuatnya sendiri, tapi tidak ada kepura-puraan di dalam netra itu. Seperti yang selalu ia perkiraan, Ken adalah pria yang jujur yang berbicara dari hatinya, walau ternyata pria itu lebih hebat lagi dari yang ia duga sebelumnya. Manusia dengan kelebihan yang tak biasa.


"Jadi kau ceritakan pada temanmu ini, kalau kau punya kemampuan ini?"


"Kami sama," sahut Ejiro mewakili.


"Maksudmu, kamu juga punya kemampuan seperti Ken?" tanya Odagiri memastikan.


"Aku punya kemampuan tapi tidak sama dengan Ken. Aku bisa mengeluarkan api dari tangan."


Kini pria berambut kaku itu bingung, bagaimana bisa ada dua orang berkemampuan khusus kecuali ada sebabnya. "Kenapa bisa ada orang-orang seperti kalian?"


Ken dan Ejiro saling lirik.


"Karena itu, aku sudah bilang, kami sama. Kau tidak mau mendengarkan omonganku sih," terang pria bercodet itu.


"Aku 'kan juga bilang, kalau Ejiro mungkin saja mau berguru dengan Sensei." Ken menambahkan.


Namun Odagiri masih tak mengerti. "Jadi kalian ini ... apa?"

__ADS_1


Ken dan Ejiro kembali saling lirik.


"Kau tak 'kan percaya bila aku bilang yang sebenarnya," imbuh pria bercodet itu.


"Coba saja," tantang Odagiri.


"Kau percaya dewa?"


Pria berambut kaku itu mengerut kening. "Tidak."


"Pantas!"


Odagiri mulai terlihat kesal.


"Eh, begini." Ejiro mulai meralat ucapannya. Ia tak ingin ada konflik lagi. "Kau percaya cerita Ken tentang drakula?"


Pria itu menoleh pada muridnya itu. "Sebenarnya tidak. Aku tidak percaya omong kosong tentang Tuhan atau hantu, atau semacamnya. Aku tidak percaya itu. Jadi aku masih berpikir apa yang dikerjakan Ken itu sihir sampai kau bercerita tentang perbedaan sihir dan kemampuan khusus. Kini, walau tak yakin tapi aku mulai percaya dengan apa yang kau katakan padaku."


"Bagaimana dengan manusia setengah dewa?"


Pria itu terdiam sejenak menatap Ejiro menahan amarah. "Aku tahu kau ingin aku mempercayai sesuatu yang berhubungan dengan tahyul dan agama, tapi tolong jangan berputar-putar sebab lama-lama aku bisa kehilangan kesabaranku karena kau tak kunjung menceritakan maksudmu yang sebenarnya padaku."


"Baiklah, tapi dengar baik-baik. KAMI ADALAH MANUSIA SETENGAH DEWA."


"Kami tidak berbohong, kami jujur. Karena itu dari awal aku sudah memperingatkanmu, agar jangan mengambil Ken menjadi muridmu atau kau yang akan menyesal."


"Apa ini ... dewa yang benar-benar dewa?" Pria itu masih gelisah tak percaya.


"Iya."


"Tapi kenapa kalian bisa aku totok?"


"Karena kami setengah manusia."


Pria itu merapikan duduknya karena masih gelisah. "Setengah dewa berarti setengah manusia?"


"Yaaa ... begitu."


"Yang berarti orang tua kalian eh, manusia dan dewa?"


"Ya, betul."

__ADS_1


Pria itu kehabisan pertanyaan tapi masih sulit mencerna. Ia terdiam seribu bahasa, hingga kalimat dari mulut Ken menyadarkannya.


"Sensei, apa bisa bebaskan aku? Aku kram."


"Oh, iya, iya." Odagiri menotok belakang leher kedua orang itu sehingga mereka bisa begerak lagi. Ken dan Ejiro segera menggerak-gerakkan tubuh agar tidak mati rasa karena sekian lama tidak bergerak dengan semestinya.


"Eih ... kakiku." Ken menepuk paha dan betisnya. "Hah ...." Ia menghela napas lega.


"Dan sekarang, kau akan melepaskan Ken?" tanya Ejiro pada pria berambut kaku itu.


Pria itu malah melirik pria berambut pendek itu. "Kalau aku terima temanmu jadi muridku, apa kau mau tinggal?"


Ken melirik Ejiro. Pria bercodet itu tahu kalau bagi Odagiri, Ken adalah prioritas. Ia tahu rasanya jadi yang kedua karena selalu merasakannya, tapi asalkan pria berambut kaku itu tidak mengabaikannya itu sudah lebih dari cukup baginya.


"Ejiro, kamu mau belajar juga?" tanya pria berambut pendek itu pada teman barunya.


"Kalau boleh, kenapa tidak?"


Ken melirik gurunya itu dengan senang. "Kalau dengannya aku mau, Sensei."


"Tapi selama belajar denganku kalian tak boleh keluar dari tempat ini sampai kalian dengan kemampuan meringankan tubuh kalian bisa keluar dari sini, baru aku izinkan."


"Yeiii!" Ken bersorak.


"Tapi tak boleh curang!" Sensei mengangkat jari telunjuknya.


"Iya, baik, Sensei. Aku janji."


"Terima kasih, Sensei," sahut pria bercodet itu.


"Tolong, tunggui pancingan itu untuk makan kita hari ini."


"Baik, Sensei."


"Siap, Sensei!" teriak Ken senang. Ia kemudian menunggui pancingan sambil mengobrol dengan Ejiro.


Odagiri bisa melihat bahwa teman teramat penting buat Ken karena ia bisa merasakan pria itu lebih semangat lagi belajar dan tinggal bersamanya.


Setiap hari keduanya selalu bersama-sama, bersemedi, latihan pedang, ilmu meringankan tubuh, sampai mengurus ulat sutra. Mereka tak terpisahkan meski sebenarnya, pria bercodet itulah yang sering mengekor Ken.


Mungkin karena Ejiro lebih tua, ia seperti menjaga adiknya sendiri, terlihat dari sehari-hari yang banyak mengurus pria berambut pendek itu. Memancing, latihan, atau berenang, pria itu selalu menanyakan lebih dulu keinginan Ken.

__ADS_1


Namun itu pula yang diinginkan Odagiri. Karena Ken prioritas, ia ingin pria bercodet itu mengurusi pria muda itu, dan ia senang segala sesuatu berjalan sesuai keinginannya hingga suatu hari ... kedamaiannya terganggu.


Seorang pria datang ke pinggir jurang. Dilihat dari pakaiannya yang mahal dan rapi, ia pasti penjabat negara. Sayang wajahnya terlihat redup. Ia melempar batu kecil ke sebuah lubang besar di tengah jurang. "Odagiri ... kau di mana?"


__ADS_2